
Jum'at malam aku baru bisa pulang ke Bojong. Hampir seminggu kurang aku tidak tidur disini. Aku pulang pukul 9 malam lewat. Hhh...
Depan rumahku terlihat sepi. Tidak ada orang lalu lalang apalagi tenda tanda akan digelar hajatan. Apa mungkin besok ya, semuanya baru akan dipasang. Hhhh.... Aku hanya menarik nafas panjang dan masuk kedalam rumah setelah membuka pintu rumah yang terkunci lalu kembali menguncinya dari dalam.
Malam telah larut. Aku lelah sekali dan ingin cepat tidur.
Pukul 3 alarm hapeku berbunyi. Waktunya bangun sahur.
Ya Allah! Aku lupa masak nasi sebelum tidur tadi karena saking capeknya. Hhh... Terpaksa hari ini hanya sahur ditemani mi instant dan telur rebus saja. InsyaAllah bisa mengenyangkan dan membuatku kuat hingga magrib tiba esok hari.
Seperti biasa setiap habis Subuh aku tak tidur lagi. Pakaian kotorku menumpuk membuatku sibuk dengan beberapa ember penuh air. Aku harus mencuci pakaianku yang sudah seminggu tak kucuci. Ayo, semangat!
Tak terasa baru selesai mencuci jam 6 pagi. Langsung kujemur dijemuran aluminium kecil diteras rumah. Tak cukup rupanya karena pakaianku yang membludak. Aku berinisiatif mencari tali tambang plastik bekas mengikat kulkas ketika pindahan.
Aku membuka kaos oblongku yang basah dan hanya mengenakan celana pendek selutut saja. Setelah mencari kesana kemari akhirnya tali itu pun kutemukan dan siap kurentangkan untuk membuat tali jemuran disamping rumah.
Dengan bantuan kursi plastik yang kumiliki, aku berhasil mengikat ujung tali disalah satu dahan pohon rambutan disamping rumah. Tinggal satu ujung lagi yang harus kuikat ditiang kanopi teras rumah.
Tiba-tiba mataku tertumbu disepasang mata seseorang. Ranti! Kami bertatapan lama. Dan aku baru sadar kalau pakaianku tidak terlihat sopan membuatku lompat turun dari kursi segera berlari masuk rumah. Nyaris terjungkal didepan pintu kalau saja tanganku tidak sigap memegang daun pintu segera.
Hadeeuh..! Kenapa harus ada insiden memalukan dengan Ranti yang notebene nya adalah tetanggaku. Wajahku merah seketika seraya membenahi diri memakai kaos oblong yang kuambil dari lemari. Kuganti juga celana pendekku dengan celana training panjang. Hhh... Setelah agak lama menunggu, aku baru keluar lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku menjemur pakaian.
Untunglah! Sepertinya Ranti sudah masuk kedalam rumahnya. Aku pura-pura celingukan. Mengamati sekeliling. Alhamdulillah sepi, tak ada orang yang melihat tingkah anehku.
Lagi-lagi aku termenung merasa kalau suasana terlihat sepi. Biasanya orang akan menikah, seminggu lagi rumahnya pasti sudah ramai orang hilir mudik sibuk mengadakan persiapan. Belum lagi para ibu yang membantu yang hajatan membuat berbagai kue makanan untuk nanti hari H. Tapi kenapa rumah Ranti terlihat sepi-sepi saja. Apa acaranya akan digelar dirumah Hardi? Aku hanya mengira-ngira saja.
Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku. Menyapu lantai dan mengepelnya. Meski tanganku sibuk, tapi otakku juga tak kalah sibuk. Mereka baru akan menikah? Dibulan Ramadhan pula? Sedang mereka sudah bersama kurang lebih 6 atau 7 bulan? Kenapa harus menunggu selama itu? Padahal selama aku tidak ada dan tak datang mengganggu, mereka bisa saja melangsungkan pernikahan segera bukan? Hhh....
Stop, stop berfikir ngawur, Dika! Itu bukan urusanmu! Itu urusan mereka, ga ada sangkut pautnya denganmu! Aissssh....! Pergilah kau setan, yang mengacaukan fikiranku!
"Papaaaa....!" Jingga berdiri didepan pintu rumahku.
"Hati-hati sayang, lantainya licin. Papa baru saja selesai ngepel! Tunggu dulu, papa ambil lap kering dulu!" kataku segera, khawatir anakku terjatuh.
"Papa koq baru pulang? Lama banget sih kerjanya!" ucap Jingga langsung dengan protesnya.
"Hayo, ini hari apa! Kenapa Jingga ga ke sekolah?" aku pura-pura marah mengalihkan pertanyaan Jingga.
"Iiih....hari sabtu khan emangnya libur." Anakku memang pintar sekali. Membuatku tertawa melihat gayanya ketika menjawab pertanyaanku.
"Jingga memangnya hari ini ga pergi kerumah om Hardi?"
"Engga!"
__ADS_1
"Kerumah Abi?"
"Engga!"
"Jingga ga pergi sama mama?"
"Engga!"
Aku termenung sebentar. Berarti anakku dan Ranti hari ini memang akan stay dirumah. Mungkin sore atau malam mereka baru pergi. Besok khan waktunya Ranti ijab kabul dengan Sofyan Ali.
Hari ini Jingga mau main boneka sama Elin disini. Boleh ya, pa?" tanya Jingga manis sekali. Aku tersenyum sambil mengangguk. Rupanya Jingga sudah buat janji dengan temannya yang rumahnya hanya berjarak 3 rumah dari sini.
"Eliiiiin... siniiiii! Kata papa aku, boleh main disiniiii!" Jingga teriak keras membuatku menutup telinga karena suaranya. Hehehe...dasar, Jingga!
Jingga dan Elin membawa plastik besar masing-masing yang ternyata isinya mainan boneka dan pernak-perniknya.
Mereka menggelar mainannya diteras rumahku hingga mirip lapak dipasar membuatku tertawa kecil seraya menepuk dahi. Begini ya, permainan anak-anak perempuan!
Aku duduk didalam dengan sengaja membuka pintu rumah. Jadi apabila Jingga butuh sesuatu, tidak perlu buka tutup pintu. Aku ingat aquarium yang kubeli bersama Jingga tempo hari. Lalu memeriksa ikan-ikan hias yang masih ada didalam kantung plastik.
Waaah, ikan-ikannya sudah mati semua. Satu minggu mereka didalam plastik. Meski diisi air, tapi tanpa udara dan tanpa diberi makan. Otimatis ikan-ikan itu tak bertahan hidup. Aku tak berani mengganggu Jingga yang asik bermain bersama temannya.
Aku langsung membuangnya kesaluran air dikamar mandi. Besok aku berniat membeli lagi ikan untuk isi aquarium yang masih kosong.
"Terima kasih, papa!"
"Sama-sama, Jingga!"jawabku sambil tersenyum.
"Elin, bilang terima kasih dong sama papa Jingga!" tegur Jingga pada temannya membuatku tertawa ngakak melihat gayanya.
"Terima kasih, papanya Jingga!"
"Sama-sama, Elin!"
Aku benar-benar terhibur dengan tingkah laku anakku yang lucu itu. Hhhh.... Ya Allah, bibir ini tak henti-henti tersenyum memperhatikan Jingga yang kembali asyik bermain bersama temannya. Aku hanya mengintip dibalik kaca jendela. Tak ingin mengusiknya.
Aku mengambil bantal dikamar. Rebahan diruang tamu dengan beralaskan karpet saja. Hhh.. Mataku mengantuk membuatku tertidur dengan cepat. Hingga aku dikejutkan suara adzan Zuhur yang terdengar lewat pengeras suara di masjid.
Ya Allah!... Aku tertidur pulas sekali. Kulihat anakku sudah tidak ada. Begitu juga temannya dan mainannya. Rupanya mereka sudah pulang.
Aku mandi secepat kilat dan berwudhu, lalu bergegas menuju masjid yang tak terlalu jauh dari rumahku.
"Papaaaa!" suara Jingga memanggilku. Ternyata ia tengah berdiri didepan rumahnya sambil membawa piring lengkap dengan nasi dan lauk pauknya.
__ADS_1
"Papa kemasjid dulu yaa...!!" aku melambaikan tangan dengan senyuman pada Jingga yang termangu memandangku.
Hari Sabtu dan Minggu memang hari yang paling kutunggu-tunggu. Selain aku bisa santai istirahat tanpa harus memikirkan pekerjaan, aku juga jadi punya waktu bersama putriku Jingga. Alhamdulillah! Aku sangat bersyukur karena Allah kini benar-benar memberikan aku waktu untuk membayar semua yang hilang dahulu bersama Jingga.
"Papa beli TV dong!" kata Jingga setelah aku pulang sholat dan dia kembali main kerumahku.
"Nanti ya, kalau papa udah gajihan, sayang!"
"Jingga pulang deh ya, pa! Mau nonton si Tayo sama si Lani!"
"Film apa itu, nak? Papa koq baru denger, ya? Kalo upin ipin papa tau!"
"Itu pah, kartun bis kecil Tayo. Warnanya biru. Temennya ada Gayo, ada Lani, ada Cito ada Nuri..."
"Papa ga tau, belum pernah liat!"
"Jingga punya bonekanya Tayo, boneka Lani juga. Sebentar ya pah, Jingga ambil dulu!" Jingga melesat berlari pulang kerumahnya membuatku teriak menasehatinya.
"Jangan lari-lari, Jingga! Nanti jatuh! Papa ga akan pergi koq, papa tunggu disini!"
"Iyaaa!" Anak itu, membuatku tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
Tak lama kemudian Jingga membali membawa dua buah boneka berbentuk bis. Yang satu berwarna biru yang satu berwarna kuning.
"Ini Tayo, ini Lani!"
"Hai Tayo, hai Lani! Saya papanya Jingga. Kita kenalan yaaa!"
"Hahahaha... Papa lucu!" Jingga tertawa terbahak-bahak melihatku memperkenalkan diri pada kedua bonekanya.
"Jingga! Tidur siang dulu, ya? Sudah jam satu siang, sayang!" tiba-tiba suara Ranti terdengar membuatku dan Jingga menatap kearah yang sama. Ranti berdiri didepan teras rumahku. Sepertinya ia canggung untuk masuk terasku dan menemuiku.
"Jingga bobo siang dulu, ya? Nanti bangun bobo, bisa main lagi!" bujukku pelan. Bibir Jingga cemberut lucu sekali.
"Ayooo...Apa perjanjian kita minggu lalu! Jangan buat mama sedih. Iya khan?" bisikku pada Jingga mengingatkan perjanjian kami. Jingga diam tak menjawab. Tapi kakinya melangkah keluar tanpa semangat. Memakai sandalnya dengan malas-malasan.
"Jingga bobo siang dulu ya, pa!?"
"Anak pintar! Jangan lupa doa tidur ya!" Jingga pergi tanpa menjawab ucapanku lagi. Ranti berjalan mengikutinya dari belakang.
"Ranti! Selamat ya untuk pernikahannya besok. Maaf, aku sepertinya tidak bisa hadir dipernikahan kalian!" kataku sebelum Ranti jauh. Ranti hanya memandangku sambil tersenyum. Aku merasa ada yang aneh dengan senyuman Ranti. Tapi tak tahu dan tak bisa menebak. Apa karena Ranti ingat kejadian tadi pagi ketika aku hampir terpeleset jatuh dari kursi plastik ketika hendak berlari masuk rumah karena malu? Mungkin juga. Aku jadi tersipu sendiri mengingat kejadian itu. Malu.
Bersambung-
__ADS_1