AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
TERBUKALAH MATAKU


__ADS_3

Aku menuruti perkataan bang Sobri. Pergi ke kantor menemui Rosa yang langsung menyerangku dengan makian dan amarahnya. Sampai-sampai mas Anang ikut turun tangan mengendalikan emosi Rosa yang meledak.


Intinya Rosa kecewa atas apa yang kulakukan beberapa hari bahkan setelah launching pembukaan perusahaan kami. Dimana awal-awal sudah sangat banyak peminat yang tertarik bergabung bekerja sama dan membeli produk kami.


Aku hanya duduk termenung mendengar perkataan pedas Rosa. Tak sepatah katapun keluar dari bibirku karena perkataannya benar. Kalaupun Rosa marah, itu adalah hal yang wajar. Delapan hari aku menghilang. Bahkan telponnya pun tak sekalipun ku angkat. Karena aku tengah mengalami guncangan.


Setelah membiarkan Rosa mengeluarkan emosinya, mas Anang menerangkan beberapa kabar baik padaku soal perusahaan kami. Aku tahu, mereka bekerja keras meng-handle semuanya dengan mengambil cuti ditempat kerjaannya masing-masing karena aku lepas tangan begitu saja. Aku memang ceroboh. Terlebih uang modal semua ini bukanlah pakai daun yang tinggal petik, tetapi pemberian pak Anjar sipaman berkaki panjang. Meski baik hati tapi tetap harus aku pertanggungjawabkan.


Akhirnya aku buka suara. Meminta maaf pada Rosa dan mas Anang atas sikapku yang kekanak-kanakan. Aku lalu memohon agar mereka melanjutkan perusahaan ini dan mengganti nama kepemilikannya menjadi milik mereka.


Sudah pasti Rosa semakin kalang kabut dengan keputusanku yang sangat tiba-tiba ini. Ia lagi-lagi memarahiku dan memberiku semangat agar fight kembali.


Aku mengatakan kalau aku akan pergi dari sini untuk beberapa waktu. Aku tak bisa memastikan kapan aku akan kembali. Bisa bulan depan, atau mungkin tahun depan. Jadi aku memasrahkannya pada mereka yang pastinya sangat berpengalaman.


Aku hanya meminta Rosa mengirimkan uang untuk Jingga dan ayahku saja masing-masing 2 juta rupiah perbulannya selama aku tak ada.


Rosa dan mas Anang berusaha menahanku agar tidak pergi dan memintaku mempertimbangkan semuanya sebelum menyesal. Mereka juga bertanya kemana tujuanku.


Aku tidak memberitahukan pasti kemana aku pergi. Aku hanya minta doa mereka untuk kebaikanku. Aku menyerahkan hp pemberian pak Anjar kepada Rosa untuk dia pegang. Rosa menangis melihat kepergianku. Ini pertama kalinya dalam hidupku melihat wanita super itu berlinang airmata.


Aku pergi kebagian lain perusahaan. Menemui Mul dan Jabrik juga dengan maksud mengutarakan keinginanku untuk pergi besok subuh. Tak berbeda dengan Rosa dan Mas Anang. Mul juga Jabrik hanya bengong tak percaya ucapanku. Berkali-kali mereka memintaku memikirkan lagi semua maksudku pergi meninggalkan mereka. Aku bilang pada Jabrik dan Mul, semuanya kini sudah kupasrahkan pada bu Rosa dan pak Anang. Jadi mereka harus lebih patuh menuruti bos mereka. Kontrakan sepenuhnya kuserahkan pada Jabrik. Aku sudah membayar full hingga akhir tahun, jadi Jabrik tak perlu kuatir untuk biaya sewanya.


Aku pulang kekontrakan. Merapikan semua pakaian dan surat-surat pentingku. Aku lalu menyimpan surat dan dokumen seperti ijazah-ijazah dan surat berharga lainnya didalam koper kecil. Kumasukkan kedalam lemari kayu dengan menempelkan memo diatasnya untuk Jabrik atau Mul karena suatu saat nanti aku pulang lagi kerumah kontrakan ini, jadi aku menitip surat pentingku pada mereka. Sengaja tak kubawa karena tujuanku adalah kampung kecil yang ada dipelosok perbatasan Purwakarta, Cikampek dan Cirebon. Kemungkinan besar aku tidak memerlukan surat-surat itu selain kartu identitas diri, kartu rekening dan kartu ATM.


Dengan niat bulat dalam hati ingin mengistirahatkan diri dan hati ini, aku mengemas beberapa stel pakaian lengkap dengan kaos kutang dan celana dalam. Hanya pakaian sederhana saja yang kubawa mengingat aku hanya akan ada diarea pekuburan yang jauh dari keramaian. Bahkan sepatu yang sempat kumasukkan kembali kukeluarkan berganti dengan memasukkan sandal kulitku.


Aku akan pergi besok subuh kestasiun Kota untuk naik kereta jurusan Cikampek. Aku telah bersiap untuk semuanya.


Sebelum Isya, Mul dan Jabrik pulang kekontrakan. Mereka menyembunyikan ransel berisi pakaianku yang akan kubawa esok hari. Mereka menangis memelukku bersamaan seperti teletubbies, kartun anak zamanku muda dulu.


"Aku pasti pulang, Mul, Jabrik! Kalian jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Lihat! Koper surat-suratku juga ada dilemari. Nih kuncinya, awas jangan sampai hilang! Aku pasti kembali pada kalian! Kalian adalah keluargaku. Ga mungkin aku tinggalkan begitu saja! Aku ga akan lama, koq!"

__ADS_1


"Abang mau kemana, sih? Abang mau kita antar sampe tujuan? Kita ikut abang! Ya?" Jabrik menggelendot ditanganku. Persis bocah yang tengah merajuk minta jajan.


Aku tertawa geli melihat tingkahnya yang jarang sekali seperti itu. Mul kegirangan melihatku tertawa. Dia juga bilang, kalau aku tertawa, indahlah dunia.


"Kalian jangan seperti bayi. Aku baik-baik saja! Dan akan pergi sendiri. Aku dapat amanah dari sahabatku untuk sowan melihat orangtuanya di Cikampek. Dia sudah 6 tahun ga pulang, jadi minta tolong padaku untuk melihat kondisinya. Aku juga mau cari cewek disana. Siapa tahu, aku pulang bawa istri. Kalau kalian ikut aku, gimana aku bisa dapetin istri....yang ada pasti ditikung kalian berdua!" Mul dan Jabrik tertawa mendengar penjelasanku.


Akhirnya mereka melepaskanku walau berat hati. Mereka setuju aku harus move on dan semangat kembali. Aku meyakinkan mereka kalau aku akan lebih baik lagi jika pulang nanti. Aku menitipkan motorku agar dirawat dan diurus baik-baik.


Hhhhh..... Aku lega menarik nafas panjang. Aku tak ingin memberitahukan kepergianku pada ayah, Hera adikku juga pada Ranti mantan istriku. Aku telah menitipkan amanat pada Rosa. Setidaknya aku tidak terlalu kuatir karena uang saku 2 juta kurasa cukup untuk perbulannya bagi mereka. Aku tak berani meminta lebih pada Rosa. Meskipun ada juga aset-aset dan uangku diperusahaan itu, tapi perusahaan itu masih baru dan belum jelas keuntungannya.


Sebelum adzan Subuh aku sudah bangun dan bersiap pergi. Aku akan sholat Subuh nanti dimasjid sekitar stasiun Kramat Senen Jakarta.


Beberapa pedagang kaki lima sudah berjejer bersiap-siap dengan barang dagangannya. Suasana pukul 6 kurang disana masih menampakkan geliat ngantuknya. Aku sudah membeli tiket komuter jurusan Cikampek yang akan berangkat 25 menit lagi.


Kereta api listrik pagi ini belum begitu banyak penumpang. Hanya setelah stasiun berikutnya terus dan terus bertambah karena waktu jua yang semakin siang. Semakin membludak ketika berhenti di stasiun Cikarang.


Hampir 2 jam lebih akhirnya tiba juga stasiun yang kutuju. Dengan petunjuk seadanya aku celingak-celinguk mencari kendaraan yang bisa membawaku ke kampung Cilempung. Ternyata aku harus naik bus metromini dulu dan turun di kampung Kecepet baru bisa melanjutkan lagi dengan coltmini arah Cilempung Cilamaya.


Aku berangkat subuh dan baru turun dikampung cilempung jam setengah dua siang. Setelah mampir dulu dimasjid dan melaksanakan kewajiban, aku kembali melanjutkan perjalanan sambil sesekali bertanya dimana area pemakaman yang ditunjukkan bang Sobri. Ternyata lokasinya masih jauh lagi dari situ. Harus naik ojek karena jalannya masih berbatu dan tak ada angkutan umum juga. Akhirnya aku naik ojek penduduk sekitar minta diantar ketempat tujuan.


Gila, setengah jam naik motor baru tiba. Waaaah.... ini sih ujung berung! gumam hati kecilku. Tapi sungguh pemandangan yang sulit kutemui dikota Jakarta. Sejauh mata memandang, nyaris sawah terhampar. Indah sekali karena masih hijau dan segar. Galengan-galengan kecilnya terkadang dilewati beberapa petani yang terlihat semangat diatas sepeda ontel mereka. Subhanallah!!!


Aku terkesiap diturunkan tepat digerbang area pemakaman. Sunyi dan sepi. Bahkan tak terlihat ada orang melintas.


Agak ngeri untuk memberanikan diri memasuki kedalam pemakaman umum itu. Aku hanya berjongkok sambil menghela nafas panjang berharap ada orang yang lewat dan bisa kutanyakan dimana rumah pak Kardi dan mbok Sartijah.


Cukup lama aku jongkok hingga baru kusadari kakiku yang kesemutan hingga kesulitan berdiri.


Untunglah ada beberapa anak lelaki lewat dengan masing-masing membawa joran pancingan.


"De' maaf, numpang tanya... Rumah pak Kardi mbok Sartijah dimana ya?" tanyaku dengan cepat sebelum anak-anak itu berlalu dan menghilang.

__ADS_1


"Mas bukan orang sini yah? Masuk saja kedalam, mas! Si mbah rumahnya disitu!"


"Oh iya, terimakasih ya dek!"


"Iya, sama-sama!"


Aku berjalan masuk kedalam area pekuburan. Aura gelap seketika meliputi seluruh pandangan dan persendianku. Sepi sekali. Makam-makam berjejer rapi meskipun berbeda bentuk dan bahannya. Bisa kutebak, bila makamnya bagus bermarmer atau berkeramik, pasti keluarganya cukup berada. Berbeda dengan makam keluarga sederhana, makamnya hanya bertembok semen saja bahkan ada yang hanya gundukan tanah tanpa nisan. Hhhh.... Bahkan orang matipun punya kelas dirumah terakhirnya bersemayam.


Aku hampir jatuh terantup batu. Jika tidak seorang kakek berambut putih semua menyanggaku dengan memegang bahuku kuat.


"Terima kasih, mbah!"


"Mas mau kemana? Cari makam namanya siapa?" tanya kakek tua itu. Ini kesempatanku bertanya pada beliau.


"Saya cari rumah pak Kardi mbok Sartijah, mbah! Bisa minta tolong diantar, mbah?"


"Saya, Kardi, mas!"


"Oalaa...si mbah! Saya Dika, teman bang Sobri. Katanya saya boleh berkunjung tetirah kerumah si mbah. Boleh mbah?"


Kakek itu tersenyum. Wajahnya jadi lucu ketika mulutnya tersenyum lebar karena nyaris tak ada gigi menempel digusinya. Aura seram yang tadi kurasakan tiba-tiba berubah menjadi hangat dan menyenangkan. Ternyata si mbah Kardi orang yang jenaka.


Mataku terbelalak melihat saung butut yang nyaris rubuh ketika si mbah menunjukkan rumahnya. Bahkan anyaman bambu yang menempel sebagai dindingnya terlihat bolong-bolong besar.


Si mbah berteriak keras menyebutkan sebuah nama," Sartijaaaaah! Sartijaaaaah....! Mbo'eeee....!"


"Maaf, mas...Mbo'e udah agak buruk pendengarannya. Hehehe...! Panggilnya harus keras! Sepertinya masih dikebon sana, mas! Si mbah kesana dulu ya? Tunggu saja dulu disini, pasti si masnya cape karena perjalanan jauh dari Jakarta!"


"Iya, mbah... Nonsewu, boten nopo-nopo! Hehehehe...." Aku berusaha akrab dengan sedikit berbahasa Jawa meskipun tak fasih banyak. Karena disini meskipun kampung Cilamaya Cikampek ternyata mayoritas penduduknya berbahasa Jawa. Aku mendengarnya sejak turun dikampung Cilempung tadi.


Aku terkesiap kembali fokus dengan gubug si mbah setelah si mbah pergi mencari istrinya. Terbukalah mataku. Ini sungguh rumah tak layak huni. Bahkan tanpa angin kencangpun gubug ini bisa saja rubuh seketika. Bisa kubayangkan bila musim penghujan tiba. Ya Allaah....!! Pantas bang Sobri menyuruhku kesini. Untuk melihat betapa Allah menyayangiku katanya. Dan benar. Aku sangat bersyukur betapa Allah menyayangiku.

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2