AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
RANTI MEMBUKA KARTUKU


__ADS_3

"Ranti...., Rantiiii! Aku, aku minta maaf Ranti! Kumohon....mari kita bicara baik-baik! Bukan maksudku menyakiti hatimu Ranti. Demi Allah, aku tidak ada niatan untuk menyakitimu!"


Aku hanya bisa berkeluh kesah didepan pintu rumah Ranti yang tertutup. Tak ada suara jawaban Ranti kudengar.


Aku menyesal. Sangat menyesal Ranti. Maafkan aku! Tolong maafkan aku! Lelaki bila bertindak memang tak pakai hati. Logikaku yang berkata bahwa aku cemburu dan harus bergerak cepat sebelum kamu diambil lelaki itu. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaanmu.


Aku juga tak ada maksud merendahkanmu. Sungguh! Kau begitu bernilai tinggi dimataku. Untuk itu aku berjuang kembali apapun caranya untuk mendapatkanmu. Bahkan dengan jalan yang salah sekalipun menurutmu. Ranti! Aku kini menyadari, aku mencintaimu! Buka hatimu untukku lagi, Ranti! Kumohon....


Ya Allah Sang Penguasa seluruh isi alam, pembolak-balikkan hati, pemegang semua rahasia duniawi.... tolong bukakan hati Ranti padaku, ya Allah! Kau Maha Tahu maksud hatiku. Kau Maha mengerti perasaanku. Meski seluruh isi dunia menghujatku lelaki kasar, jahat, karena pernah menyakiti hatinya,...tapi aku sungguh menyesal dengan perbuatanku. Aku sungguh menyesali kebodohanku. Tak adakah sedikit rasa iba-Mu untukku dengan mengembalikan Ranti lagi padaku ya Allah!?!....


Aku hanya bisa melamun dengan tetesan airmata penyesalan. Kuhapus segera bergegas mengejar Sofyan Ali. Aku rasa lelaki itu belum jauh pergi. Karena tadi kulihat ia enggan meninggalkan kami yang saling berargumen dengan pendapat kami.


Aku berlari kencang keluar jalan raya. Benar saja dugaanku. Sofyan Ali masih terlihat berjalan pelan menyusuri jalan perumahan yang cukup sepi ditengah hari ini.


"Sofyan, tunggu!" Ia menoleh kepadaku dan berhenti menungguku yang berlari ke arahnya.


Tanganku menjambret kerah kemejanya membuatnya terkejut seketika.


"Mas...! Kalau mas buat keributan disini, mas justru akan mempermalukan Ranti dan Jingga. Kumohon, tahan emosimu, mas!" katanya dengan suara pelan tapi jelas.


Sialan anak ini! Padahal usianya lebih muda dariku 10 tahun, tapi kedewasaannya mengalahkanku.


Aku melepaskan tanganku dengan kesal. Menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Kenapa mas seperti ini? Ingat khan mas akan mendukung hubungan saya dengan Ranti sewaktu kita pertama bertemu?"


"Maaf, aku menarik ucapanku yang waktu itu. Aku baru menyadari, aku masih sangat mencintai Ranti. Dan aku tak ingin ia jadi milik orang lain termasuk kamu. Mari kita bersaing secara sehat! Biar Ranti yang memutuskan, aku..atau kamu yang dipilihnya!" aku mengajaknya bertaruh.


"Mas.... Sudah jelas Ranti memilihku mas! Maafkan saya kalau lancang! Kalian sudah berpisah. Sudah lewat masa iddah. Dan kini hubungan kalian hanyalah sebagai mama dan papanya Jingga. Saya benar khan?"


Lelaki itu berbicara santai sekali. Rupanya ia berani karena seluruh kartu matiku ada digenggamannya. Sial!


"Jangan sombong dulu anak muda! Sebelum janur kuning melengkung, dan sebelum kalian ijab kabul disahkan oleh penghulu, Ranti belum jadi hakmu. Kamu tahu apa tentang itu? Jadi..., jangan sampai kamu patah hati kalau Ranti kembali lagi padaku."


"Mas Dika! Selama Ranti bahagia, masalah ia memilih siapa dan menikah dengan siapa.... Saya hanya akan selalu mendoakannya! Mas, seperti yang mas bilang tadi.... Mari kita atur waktu agar kita tidak bentrok saling bertemu. Karena saya khawatir, mas sepertinya sangat bernafsu ketika melihat saya.Saya tidak ingin kita berakhir dengan keributan yang justru imbasnya pada Ranti dan Jingga. Dan maaf saya ingin utarakan beberapa kalimat penting lagi pada mas! Ternyata sejak saya menyaksikan sendiri bagaimana mas memperlakukan Ranti, saya semakin respek sama dia.Saya semakin jatuh cinta padanya. Saya sepertinya harus mempercepat niatan saya melamar dia. Karena saya tidak ingin lebih lama lagi melihat penderitaannya." Shit!!!!


Sofyan Ali dengan santainya melangkah pergi meninggalkanku yang tergelepar, terbakar api yang sangat besar. Ya Allah ya Tuhanku!


Kenapa bisa, aku kalah telak dari pemuda itu? Kenapa aku harus bisa begitu kalap dengan tutur katanya yang santai tapi menyesakkan dada. Dan dia, ....dia begitu percaya diri bahkan seperti sengaja menyiramkan minyak panas keseluruh jiwa ragaku. Hhhhhh.... Otakku tiba-tiba tumpul dan jiwaku kosong.


Aku sungguh menjadi butiran debu kini. Bila angin topan datang menerjang, hilanglah seluruh hidup dan jiwaku terhempas tak karuan. Aku hanya menangis sesegukan dipinggir jalan. Duduk ditrotoar sembari menekuk kepalaku kelutut dengan tangisan tertahan.


Tuhan! Kenapa aku ini? Apa salahku hingga Kau tak mau berbelas kasih sedikitpun padaku. Aku bukan lelaki mata keranjang. Aku bukan playboy yang suka gonta-ganti pasangan. Aku hanyalah lelaki biasa yang sejak kecil haus akan cinta dan kasih sayang. Padahal aku hanya sekali saja salah jalan, tanpa sengaja membagi hati dengan wanita yang tiba-tiba menempelku dengan sangat ambisi dan penuh perjuangan.


Aku hanya ingin cinta ya Allah! Kenapa begitu sulit untukku mendapatkannya. Aku merasakan kebahagiaan cinta hanya kurun waktu tak lebih dari 9 tahun saja. Padahal umurku kini sudah 42 tahun. Aku selalu berjalan sendirian. Menangis sendirian. Meratapi nasib sendirian. Ya Allah.... Tolong hamba-Mu ini ya Allah!...


Aku berjalan tak tentu arah. Fikiranku kacau otakku semrawut. Sulit rasanya berfikir secara jernih, membuatku limpung akhirnya menyimpang dikedai minuman. Memesan beberapa botol minuman keras yang tak jelas. Hanya untuk meringankan bebanku. Itu saja yang bisa kulakukan. Hhhh.....

__ADS_1


Aku mabuk hingga semakin kacau dan nyaris tak sadarkan diri. Entah habis berapa botol kutenggak diiringi bujukan rayu setan. Para iblis dan setan alas menari-nari menyorakiku yang kalah tak berdaya. Para manusia hanya menoleh lalu membuang muka dengan mimik menyebalkan. Hhhhh.... sungguh tak punya harga diri lagi.


Aku mengetuk-ngetuk lagi pintu rumah Ranti. Memanggil namanya beberapa kali mencoba ingin menjelaskan lagi kesalahanku yang tadi siang. Aku sendiri tak sadar kenapa aku bisa kembali kerumah Ranti.


Perutku mual dan kepalaku pusing. Tapi aku masih punya tenaga untuk mengetuk pintunya cukup keras agar Ranti dengar.


Hampir setengah jam aku duduk terkapar dipintu rumah Ranti. Seperti ada yang mengocok perutku hingga seluruh isinya tumpah dipintu rumah Ranti. Aku masih memanggil-manggil namanya. Meski tubuhku sudah menggigil karena kena hembusan angin malam, tapi Ranti tak jua membukakan pintu untukku. Aku sampai menggelosor lemas terkapar tapi masih setengah sadar.


"Rantiiii....! Rantiiiii.....! Sayangkuuu!"


Tiba-tiba pintunya terbuka dan Ranti berdiri dengan wajah datar memandangku. Aku berusaha meraih kakinya untuk kepeluk dan kucium. Aku ingin minta maaf darinya karena menyakiti hatinya lagi. Dan lagi. Tapi tangan Ranti lebih dulu menepisnya.


Aku kaget sekali karena Ranti menyeretku seperti anjing jalanan yang dibuang karena penyakitan. Aku tak sangka tubuh mungilnya mampu menjinjing kerah leher kaosku hingga masuk kedalam rumahnya dan berakhir dikamar mandi yang dingin.


Ranti mengguyurku dengan air bak mandi. Berkali-kali tanpa ampun membuatku gelagapan susah bernafas.


Seperti ada asap keluar dari tubuhku yang terasa dingin tapi dadaku panas mendidih. Ranti terus melempar air dari gayung dengan kerasnya bak lemparan pasir yang perih dikepala dan wajahku. Sepertinya satu bak kamar mandi ia habiskan untuk memandikanku.


Lalu ia pergi meninggalkanku yang jongkok tak berdaya dipojok bak kamar mandi dengan tubuh lepek basah semua. Persis anjing yang penuh najis.


Ternyata Ranti datang lagi dengan melempar handuk ke wajahku. Ia juga menggantung pakaian dihanger kamar mandi.


"Ganti bajumu cepat sebelum aku panggil polisi!" Kata-katanya terdengar sangat menggelegar membuatku ciut dan segera menurut.


Aku mengganti pakaian tanpa pikir panjang dan mengkunci kamar mandi membuat Ranti membuang muka pergi keruang tamu.


Ranti yang duduk diruang tamu menyodorkan gelas besar padaku. Aku tersentak kaget karena agak panas.


"Minum! Biar otakmu ga sengklek kayak tadi, mas! Ga tau malu! Ga punya otak.... Seenaknya mabuk dan muntah didepan rumah orang! Aku sangat kecewa sekali denganmu hari ini. Dan ini semoga puncak kekesalanku sehingga aku tidak harus melihat lagi kegilaanmu lebih dari ini! Jingga pasti malu sekali kalau mengetahui kelakuan hina papanya. Beruntung anakku itu belum cukup umur dan belum paham, hingga tak mengerti apa yang kau lakukan ini!"


Aku berdiri mematung memegang gelas berisi cairan asam jawa dan gula jawa yang diseduh air panas.


Aku jongkok diatas lantai dengan mata menatap ubin keramik. Aku malu! Aku tak bisa berkata-kata selainmeneguk minuman yang Ranti berikan.


Kami lama terdiam. Hingga kesadaranku benar-benar pulih, aku menyusun kata-kataku didalam hati.


"Maafin aku, Ranti! Sungguh aku ga ada niat untuk menyakiti perasaanmu. Aku tidak pernah memandang rendah dirimu. Itu,...hanyalah dorongan hatiku karena cemburu pada Sofyan Ali.... Ranti...! Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu." aku menarik nafas sejenak mengatur udara yang masuk ke paru-paruku agar otakku berfikir dengan benar.


"Masih adakah kesempatan bagiku, Ranti? Aku benar-benar mencintaimu!"


"Kamu? Sungguh mencintaiku?...Itu bohong, mas! Itu hanya sekedar kata yang keluar dari bibirmu saja!"


"Sungguh, Ranti! Aku cinta kamu! Aku sayang kamu! Aku ingin kamu jadi istriku lagi." Ranti tertawa pelan. Wajahnya begitu datar meski ia tengah tertawa.


"Kamu tidak pernah mencintaiku, mas!"


"Kenapa kamu bilang begitu Ranti? Kamu meragukan cinta suciku?"

__ADS_1


"Cinta suci? Padaku? ....Tidak! Kamu hanya mencintai dirimu sendiri, mas! Dan baru sekarang aku sadari kalau kau itu hanya mencintai dirimu saja."


"Tidakkah kamu lihat, betapa besar cintaku padamu...bahkan dari sebelum kita bercerai, dari sebelum ada Vika diantara kita. Aku sangat mencintaimu, sayang!"


"Justru sejak kita menikah bahkan sebelum Vika datangpun kamu tidak mencintaiku sepenuh hatimu. Kamu hanyalah pria yang cinta pada diri sendiri dan selebihnya kamu cinta pada dunia ini!"


Aku diam mencerna perkataan Ranti. Aku masih tak mengerti.


"Kamu sama sekali tak tahu arti cinta yang sebenarnya, mas!"


"Kenapa perkataanmu begitu, Ranti? Kamu tahu aku sudah lama sekali. Kamu juga bisa merasakan besarnya cintaku selama aku menjadi suamimu.... Kita bersama berjuang untuk hidup yang lebih baik. Kita berhasil karena kita saling cinta, saling dukung. Benar khan, Ranti?"


"Itu benar. Karena dulu aku begitu memujamu, mas! Kamu ibarat matahari disiangku dan rembulan dimalam hariku. Kamu itu seperti setengah malaikat untukku. Yang selalu membimbingku dan menuntunku. Walau terkadang kurasakan kekasaranmu, tapi aku percaya penuh padamu. Dan kamu mampu buktikan semua ucapanmu. Tapi itu dulu, sebelum aku sadar sepenuhnya siapa dirimu."


"Setelah Allah membuka mataku dan mata hatiku, mas! Allah tunjukkan siapa sebenarnya suamiku ini. Ternyata lelaki sakit yang mendamba cinta dan haus uang serta kejayaan hanya untuk memenuhi hasrat cintanya yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri!"


"Ranti? Seperti itukah aku dimatamu?"


"Ya, mas!"


"Apa aku salah bila menginginkan cinta?... Sejak kecil memang aku kekurangan cinta dan kasih sayang. Karena tidak ada bahu tempatku menangis dan tangan yang menepuk hangat ketika kumenangis. Kamu tahu cerita hidupku, Ranti!"


"Cukup, mas! Jualan cerita sedihmu kini tak lagi mempan untukku. Maaf!.. Ya, dulu aku sangat terhanyut oleh cerita sedihmu. Ya, aku ikut bersedih akan penderitaanmu. Aku juga kagum pada ketegaranmu, mas! Tapi itu dulu. Dan sekarang aku tidak lagi terhanyut oleh cerita kisah sedih hidupmu lagi."


"Karena lelaki yang lebih muda itu kini lebih memikat hatimu, Ranti?"


"Bukan. Tapi karena dirimu sendiri yang menampakkan wujud aslimu padaku, mas! Membuat aku takut. Membuat respekku hilang menguap entah kemana!"


Aku terduduk dilantai tanpa bersuara.


"Kamu marah sekali padaku karena aku selingkuh dengan Vika. Aku sadar kesalahanku padamu sulit kamu maafkan! Maaf, Ranti...! Pukul aku, tampar aku, caci maki aku, kalau itu bisa membuat hilang sakit hatimu, aku rela, Ranti!" Ranti tertawa sinis.


"Itu hanya salah satu kesalahan kecilmu, mas!"


"Andai Vika tidak ada, aku tidak akan selingkuh, Ranti. Tak ada wanita lain yang bisa menyaingimu dihatiku, sungguh! Dan aku terjebak Vika juga karena keteledoranmu. Aku sudah sering memintamu memutuskan hubungan pertemanan kita dengan Vika, tapi kamu seolah cuek tak peduli kata-kataku."


"Iya memang, aku juga berperan atas tingkahmu dan Vika, mas! Memang aku teledor meskipun firasat dan feelingku cukup besar terasa sejak Vika hadir diantara kita. Tapi itu bukan poinnya, mas!"


"Maksudmu?"


"Poinnya adalah, kamu hanya mencintai dirimu sendiri!" Aku termenung sekali lagi.


"Aku tahu, sifat, karakter dan tingkah laku seseorang terbentuk dari lingkungan dan jalan kehidupan yang ia lewati. Tanpa sadar, karena keadaanmu, yang kau simpan lebih banyak kesedihannya dimemori ingatanmu ketimbang kebahagiaan yang pernah kau dapati membuatmu menjadi pribadi yang rapuh dan haus cinta. Kamu jadi lebih memikirkan dirimu sendiri, mas! Kamu jadi ingin sekali diperhatikan orang. Kamu berusaha keras menjadi anak baik dan menarik perhatian orang. Kamu tekun berusaha agar orang tidak lagi mengecilkanmu. Kamu menikah denganku juga dengan kadar cinta yang setengah hati. Lalu kamu membentukku, kita berpartner dengan argumen-argumen untuk rumah tangga yang baik dengan kehidupan yang lebih baik bahkan kalau bisa melampau kehidupan orang lain, terlebih orang-orang yang dulu menghinamu, membulimu dan melecehkanmu. Betul khan perkataanku, mas?"


Aku menarik nafasku yang terasa sesak. Seperti godam menghantam keras. Bugg!!!


"Tapi aku menikah denganmu sepenuh hati! Aku bukan orang yang suka bermain-main. Apalagi mempermainkan perasaan orang terlebih perempuan, Ranti!"

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2