AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
HARI BERKABUNG


__ADS_3

Hariku sibuk wara-wiri untuk hunting semua tempat yang pastinya berkesinambungan dengan usahaku. Ternyata sangatlah tidak mudah. Selain harus benar-benar memahami seluk-beluk dunia bisnis, juga harus pandai dan jeli dengan siapa kita bisa bekerja sama untuk mendapatkan hasil terbaik.


Aku sendiri sangat berhati-hati dan teliti mengingat uang yang akan kugelontorkan bukanlah uangku pribadi, tapi adalah uang modal pak Anjar mantan Dirutku dulu diperusahaan tempatku bekerja.


Sudah barang tentu aku takut mengecewakannya dan tidak bisa sembarangan mengelolanya.


Seminggu lebih tapi sudah begitu menguras tenaga dan fikiranku. Sesekali aku berdiskusi dengan Rosa via smartphone dan memintanya mengobservasi dan merekomendasikan perusahaan-perusahaan kecil yang membuat alat dan mesin untuk membuka kerjasamaku dengan mereka.


Aku tahu Rosa juga sibuk ditempat kerjanya sebagai Manager Pemasaran, ditambah lagi ia juga seorang istri dan ibu 2 orang anak kembar. Untuk itu aku hanya meminta waktunya dimalam hari saja. Dan hanya sekedar mencek, mericek serta memberiku masukan agar bisa mendapatkan rekanan yang berdedikasi tinggi untuk kujadikan partner kerjaku nantinya.


Malam ini hawanya terasa lain. Cuaca agak panas padahal masih sering hujan walaupun hanya gerimis sesaat.


Selepas sholat Isya tiba-tiba hpku berdering beberapa kali. Ketika kuangkat, terdengar suara isak tangis disana.


"Ranti???"


"Mas...., bapak sudah tiada mas!"


"Bapak???"


"Iya, tadi sebelum adzan Isya. Tepatnya jam 7 kurang 15 menit."


"Sekarang ada dimana, Ranti?"


"Di Bojong, mas! Dirumahku. Memang bapak sudah seminggu sakit dan lagi tetirah ditempatku."


"Innalillahi wa inna illaihi rojiuun.. Aku akan kesana sekarang! Ya sabar, ya.... Disana ada siapa yang mendampingimu?"


"Ada banyak tetangga mas, mereka semua baik padaku. Hardi dan Gina juga sedang diperjalanan kemari."


"Ya udah, kututup telfonmu ya! Tegar ya, Ranti.... aku tau ini berat sekali... aku segera berangkat!"

__ADS_1


Tuut tuuut tuuut.


Bapak mertuaku telah berpulang kepangkuan Illahi. Dan Ranti sendirian menangis tiada yang mendampingi. Aku bergegas mengganti pakaianku. Mengambil dompet dan kunci kontak motorku.


Jabrik belum pulang dari kerja. Aku hanya meninggalkan pesan pada Hana yang belum pulang kerumahnya karena masih asyik menonton sinetron favoritnya ditelevisi. Ia memang lebih suka nonton disini karena tak ada gangguan dari adik-adiknya.


"Hana, tolong bilangin ke Jabrik ya..., malam ini abang pulang ke Bojong Gede. Bapak mertuaku meninggal dunia. Mungkin besok atau lusa abang baru pulang!"


"Innalillahi.... Iye bang! Tiati dijalan ya!"


Aku melesat secepat kilat. Mengejar waktu mengukur jalan agar cepat sampai tujuan.


Memeluk Ranti yang begitu rapuh membuat jiwa lelaki sejatiku keluar dengan sendirinya. Ia seperti terlupa status kami saat ini yang hanya mantan suami istri. Aku menepuk-nepuk pundaknya pelan. Memberinya pandangan kesejukan agar Ranti tidak semakin terpuruk dalam kesedihan.


Aku bergegas menghampiri jasad kaku yang terbujur dihadapanku. Seperti mimpi rasanya melihat ini. Begitu banyak momenku bersama beliau, ayah mertuaku. Baik itu peristiwa bahagia maupun kejadian menyedihkan. Aku menitikkan airmata tapi masih bisa mengontrol emosi.


Aku membisikkan banyak kata maaf ditelinganya. Meski raga itu sudah tak lagi ber-ruh, tapi aku yakin...bapak masih bisa melihatku. Mendengar permintaan maafku. Karena telah menyakitinya dengan menyia-nyiakan anak perempuannya.


Aku menggendong Jingga yang menangis karena tidak nyaman dengan keadaan ini. Dimana banyak orang berta'ziah mendoakan bapak. Ranti masih duduk lemas dihadapan bapak sembari sesekali mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang mengucapkan bela sungkawa padanya.


Sesayang apapun kami padanya, hanya Allah-lah yang berhak sepenuhnya atas dirinya dan diri kami semua hamba-hamba-Nya. Umur adalah kuasa mutlak-Nya. Sebesar dan sekeras apapun kami meminta, tiada seorang hamba pun mampu mengelak dari Kehendak-Nya atas umur yang Dia beri dan seberapa banyak kami ingin miliki. Bila sudah waktunya tiba, setinggi dan sekuat apapun, tak kan mampu menolak dari kematian. Itulah takdir Allah.


Malam kian larut seiring bertambahnya kehadiran kerabat dan sahabat yang turut berduka cita kepada kami terutama Ranti sekeluarga.


Sofyan Ali salah satunya. Pemuda dewasa itu menempel terus pada Ranti seperti kutil. Ia memperlihatkan semua sisi baiknya dihadapan Ranti dan keluarganya. Memberi begitu banyak support dan semangat secara pribadi pada Ranti. Antara senang, sedih dan cemburu. Apalah dayaku kini. Aku hanyalah mantan suami Ranti. Tak bisa berkata apa-apa selain risih melihat kebersamaan dan kedekatan mereka. Mungkin aku hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menyaksikan keduanya ijab kabul menjadi suami istri.


Bahkan keluarganya pun berdatangan memberi perhatian khusus pada Ranti. Aku pun semakin tersisihkan. Seperti orang bodoh ditengah-tengah keluarga mereka, tapi tetap kutekan perasaanku sebagai penghormatan terakhirku pada bapak mertuaku. Itu tekadku.


Aku akan tetap bertahan disini hingga besok proses pemakaman bapak selesai. Aku akan berpura-pura saja melihat kemesraan mereka karena aku bukanlah siapa-siapa. Kecuali papa dari Jingga. Anakku dengan Ranti Mulia. Cucu dari almarhum bapak Sadeli bin Hanafi.


Hardi mengajakku rembukan untuk menentukan prosesi pemakaman bapak. Akhirnya kami sepakat menguburkan jasad bapak dipemakaman umum Bojong Gede tak jauh dari perumahan Ranti.

__ADS_1


Aku sigap memback up semuanya. Berbincang serius dengan Ketua Rukun Tetangga dan Rukun Warga setempat. Mencoba meminta tolong untuk menyambung lidah keluarga Ranti dalam mengurus jenazah bapak dan pemakamannya.


Alhamdulillah, warga disini begitu empati dan banyak membantu. Aku memberitahukan pada Hardi untuk tak hkhawatir. InsyaAllah besok bapak bisa disemayamkan dengan baik dan selayaknya.


Aku tidak terfokus pada Ranti. Aku lebih memfokuskan pada warga dan tetangga yang banyak membantu. Membelikan kopi dan rokok serta sedikit cemilan untuk mereka yang bergadang menemani kami dari kesedihan.


Kami semua bekerjasama mengurus hal-hal yang akan dilakukan esok pagi setelah sholat subuh. Yakni memandikan jenazah dan mengkafaninya. Aku juga tak segan bertanya pada tokoh setempat seperti kiyai dan ustad yang ikut hadir melayat meminta saran dan nasehat apa saja yang harus kami siapkan untuk besok.


Aku biarkan Ranti yang tenggelam dengan tangis kesedihannya ditemani Sofyan yang duduk setia menemani. Saat ini cemburu bukanlah hal yang penting lagi bagiku. Bagiku mengurus bapak mertuaku dengan baik dan layak serta seluruh doa didalam hati yang tercurah untuknya itu lebih utama.


Walau aku pun lelaki biasa yang jauh dari kata sempurna. Aku terbakar api padahal hujan sedang begitu derasnya. Aku tersayat padahal pisau dan pedang jauh dari jangkauanku. Aku hampir sedikit lagi mengeluarkan emosi karena lelaki yang nantinya akan menjadi suami Ranti hanya bisa duduk manis bersuara indah tanpa banyak membantu melakukan apapun yang kami para lelaki pejantan tangguh lakukan.


Aku bahkan sibuk menyiapkan terpal dan memasang tirai untuk esok prosesi pemandian jenazah. Juga Hardi dan beberapa warga menyiapkan gentong dan ember besar untuk diisi air sehingga besok tinggal dipakai.


Andai tak kulihat suasana sekitar yang ramai dan kompak membantu keluarga Ranti, sudah kutegur si Sofyan Ali.


Aku lagi-lagi hanya bisa menelan ludah. Aku hanya cemburu. Tak bolehkah aku cemburu? Tak pantaskah rasa itu hadir dihatiku? Siapa aku? Aku bukan siapa-siapamu lagi, Ranti! Hanya orang luar yang selalu mendoakan kebahagiaanmu.


Malam bergulir perlahan berganti. Adzan Subuh telah berkumandang. Aku meluruskan kakiku yang kesemutan karena duduk sepanjang malam dengan buku Yasin ditangan. Kembali bergegas menuju masjid terdekat, melaksanakan sholat.


Tubuh bapak sudah bersih dari hadas. Kain kafan kini sudah membalutnya. Wajahnya yang kuning bercahaya membuatku kembali menitikkan airmata. Semoga bapak bahagia hingga akhir hayatnya. Semoga Allah menempatkan bapak ditempat yang terbaik disisi-Nya. Semoga kita bisa bertemu lagi di jannah-Nya.


Ayahku dan Hera juga terlihat hadir berta'ziah pagi ini. Ayah tak banyak bicara padaku. Tapi matanya menyiratkan pertanda bahwa aku adalah lelaki satu-satunya yang diandalkan dikeluarga mereka. Aku siap, ayah! jawabku dalam hati dengan penuh ketegasan.


Aku lagi-lagi mewakili keluarga Ranti mengucapkan kata perpisahan dan ucapan terima kasih kepada para kerabat dan pelayat yang mengikuti hingga proses pemakaman beliau. Aku yang menggotong tubuh bapak masuk keliang lahat, membacakan adzan dengan suara bergetar dan mengi'komatkannya. Aku lakukan dengan hati tulus karena selain Hardi, aku adalah satu-satunya lelaki dewasa yang ada dikeluarga Ranti.


Bapak,... andai saja bisa kuputar kembali waktu. Aku ingin memutarnya lagi kembali kemasa-masa kebahagiaanku bersama kalian. Masa dimana aku masih menjadi anak menantu kebanggaanmu! Masa dimana aku belum bertemu dan mengenal Vika. Aku ingin sekali memutar langkahku. Menghindari bencana yang membuatku terperosok dan jatuh.... Hhhh.... Tapi aku juga tak ingin melawan takdir Allah. Mungkin ini sudah suratan tanganku. Perjanjian tertulisku dengan Sang Maha Pencipta. Semuanya telah terjadi. Dan semuanya telah seperti ini. Aku telah menerima takdir ini dengan lapang dada meski terluka.


Bapak!... Aku akan selalu menjaga Ranti dan Hardi meski dari kejauhan. Aku tidak akan membiarkan mereka dalam kesusahan. Meski kini aku dan Ranti tak lagi memiliki ikatan, tapi aku berjanji dalam hati.... Meski Ranti suatu saat ada yang memiliki dan lebih berhak atas dirinya nanti, aku akan selalu ada untuk menjaganya. Bapak jangan khawatir! Cukuplah bapak sampaikan pada sang Pencipta, agar kami yang bapak tinggalkan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan selalu ingat untuk mengirimkan doa padamu! Aamiin ya Allah!


Aku membasuh wajahku dengan kedua tanganku. Mengambil wudhu setelah selesai pemakaman. Satu persatu orang mulai pergi setelah pamit dan mengucapkan kata penghiburan kepada Ranti dan keluarganya. Aku telah mengurusnya dengan meminta tolong pak RW mengatur semua termasuk memberikan sedikit tanda mata rasa terima kasih kami karena membantu hingga semua selesai. Beliau juga bertanya tentang tata cara kami selanjutnya. Apakah akan mengadakan tahlilan atau tidak. Aku pastikan kami akan melanjutkannya dengan tahlilan paling sedikit hingga 40 hari kematian bapak. Walaupun dengan yasinan sederhana saja.

__ADS_1


Aku meminta izin Hardi untuk tetap dirumah Ranti hingga 3 hari tahlilan bapak. Hardi menyetujuinya. Karena biar bagaimanapun statusku kini hanyalah orang luar dimata orang sekitar. Aku tak ingin orang berbisik, berghibah yang tak baik tentang kami. Apalagi bila bergosip menjelekkan Ranti. Aku tak ingin itu terjadi.


Bersambung-


__ADS_2