AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
TIBA-TIBA CINTA DATANG KEPADAKU


__ADS_3

Musim hujan membuatku mengurangi orderan karena lebih banyak merugi ketimbang untungnya. Tapi tak mengapa. Namanya usaha, harus siap untung juga ruginya.


"Hari ini kita cuma balik modal, bang!" kata Hana dengan bibir manyun sibuk dengan kalkulator dan setumpukan lembar uang kertas ribuan.


"Alhamdulillah... Masih mending khan daripada ga balik modal. Ya mau gimana lagi, Han! Emang beginilah nasib pedagang dibulan musim hujan begini. Apalagi tukang es tuh....siapa juga yang mau beli es pas hujan dingin begini!" Aku berusaha memberikan semangat buat Hana, adiknya Mul yang memang sehari-hari jadi asistenku bisnis sempol ayam. Cuma Hana hanya mengurus dagangan dikontrakanku saja. Sekalian urus rumah dan pakaianku juga.


"Hana pikir abang lagi kejar target! Minggu-minggu ini abang bikin sempol sampe ga inget waktu. Belom lagi muka abang yang ditekuk tuh...bete banget kayanye, bang!"


"Hahahaha.... masa bikin sempol senyum-senyum sendiri gitu, tar disangka kurang sehat lagi!"


"Itu, bang Mul.... nonton tv senyum, makan senyum, mau mandi juga senyum-senyum...kaga jelas gitu!"


"Itu karena Mul lagi jatuh cinta, Han! Makanya kayak gitu itu!"


"Kalo abang? Lagi putus cinta?"


Aku hanya tersenyum getir mendengar celotehan Hana. Ada benarnya juga memang. Aku memang sengaja buat kesibukan untuk bisa menjalani hidupku kedepannya dengan perlahan melupakan kisah cintaku yang menyedihkan.


"Abang.... Kalo seandainya abang mau cari istri lagi, Hana mau koq jadi istri abang Dika!" Aku terperangah.


"Husss.. ngomong apaan kamu, Han! Jangan ngomong gitu ah, merinding tau! Udah, udah... coba diperiksa lagi bahan-bahan yang udah mulai menipis. Biar kalo ujan agak reda, aku bisa langsung kepasar, belanja."


"Abang emang ga da niatan kawin lagi gitu?" Hana dengan polosnya memberondongku pertanyaan menggelitik.


Siapa bilang, Hana! Ya maulah aku nikah lagi, kawin lagi. Ada yang mendampingi. Mengurusku, segalanya keperluanku. Seperti dulu. Tapi entah kapan dan dengan siapa aku tak tahu. Aku normal. Butuh cinta dan kehangatan. Butuh tempat mencurahkan kasih sayang. Terlebih dikala saat begini. Hujan turun membuat dingin sekujur tubuh hingga relung hati.


"Bang Dika?"


"Ya??" Aku kaget mendengar suara Hana lagi. Hana tertawa. Bocah ini, berani ya mempermainkan aku.


"Berapa umurmu, Hana?"


"Dua bulan lagi 20 tahun, bang!"


"Ya Allah....masih bau kencur!"


"Kata siapa bau kencur? Kata nenek, Hana ude pantes dinikahin. Kata nenek juga, bang Dika orang baik."


"Hahahaha...nenekmu yang terlalu baik menilaiku. Kalau aku baik, mana mungkin istriku minta cerai padaku."


"Itu karena jodohnya sudah selesai. Itu kata nenek juga, bang!"


"Dengar ya Hana! Andai aku dulu nikah muda, pasti anakku sekarang seusiamu. Dan kamu itu lebih pantas jadi anakku, paham? Udah ah, becandanya ga asik ah! Males..."


"Abang Dika sukanya sama yang dewasa ya?"

__ADS_1


"Hahahaha.. Hana! Kalo Mul denger kamu bilang gitu ke aku, bisa-bisa Mul benci aku. Aku ntar dibilang godain adeknya yang baru 20 tahun. Belom lagi kalo orang atau tetangga yang denger,... bisa jadi gosip murahan tuh! Jangan ngomong gitu lagi! Kalo engga' tar abang Dika marah nih!"


"Maaf bang! Hana khan cuma ngomong apa adanya!"


"Hahahaha....Hana, Hana! Udah! Anggap kamu ga pernah ngomong gitu. Bang Dika sayang banget sama kamu. Sama Ida, sama Yani, Mulia juga Ibam. Sayang seperti adek kandung sendiri. Jadi kalo Hana butuh apapun, ngomong aja ke abang. InsyaAllah kalo abang bisa bantu, abang bantuin. Oke?"


Hana menunduk. Tersenyum malu sendiri. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Anak ini sepertinya sedang dalam pubersitas. Terlihat terlambat untuk usianya yang sudah akan 20 tahun. Aku lagi-lagi tersenyum menggodanya.


Ya. Mereka sudah kuanggap keluargaku sendiri. Mereka semua sudah seperti adik bagiku. Kesedihan mereka adalah kesedihanku. Kebahagiaan mereka juga kebahagiaanku.


Aku memang butuh cinta dan kasih sayang. Semua yang telah mereka berikan padaku, ketulusan dan kebaikan hati mereka, sudah cukup bagiku. Untuk cinta istimewa disudut hatiku, saat ini biarlah kutunggu mengering lukaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain selalu berdoa untuk kebahagiaanku nantinya.


Minggu-minggu ini sepertinya puncaknya musim hujan. Intensitasnya terus menerus hingga Jakarta nyaris tenggelam bahkan disetiap sudut sekalipun.


Aku pun untuk sementara waktu meliburkan usahaku itu. Tapi tetap, kontrakanku full anak-anak muda dari pagi hingga malam hari. Kadang risih tapi cukup menghangatkan suasana hati. Mau kuusir tapi tak tega. Selain kontrakanku agak lebih kokoh dan tinggi sehingga bisa jadi tempat pengungsian sementara untuk mereka yang rumahnya kebanjiran. Bahkan neneknya Mul dan adik-adiknya sempat 2 hari menginap disini karena rumahnya pun kemasukan air.


Ya. Cinta itu memang universal. Bukan hanya spesifik untuk dua pasangan insani yang tengah dimabuk asmara saja. Tapi cinta dan mencintai sesama manusia, saling bantu dan memiliki rasa persaudaraan juga memakai cinta dari hati. Aku merasakan itu kini.


Alhamdulillah... Masa-masa sulit berangsur lewat dan membaik. Hujan yang nyaris tiada henti juga mulai bosan dan matahari malu-malu menampakkan batang hidungnya.


Aku kembali berdagang di Jembatan Merah didepan parkiran toko sablon bos Akung. Memulai lagi mencoba mengumpulkan pundi-pundi uangku karena sebentar lagi waktuku untuk memberi kewajiban pada anak semata wayangku. Entah sepertinya hanya separuh dari bulan-bulan yang lalu aku mampu berikan untuk Jingga. Hhh....


Sebuah mobil sedan corolla altis berhenti tepat didepan gerobakku. Seorang wanita berpakaian putih dengan rok span panjang warna krem menyandang blazer senada rok spannya.


Wanita itu melotot memandangku. Aku hanya bisa tersenyum meringis. Rosa, teman sejawatku yang juga se-almamater kampus mengejar strata dua denganku.


Aku tertawa mendengar omelannya. Jadi kangen masa-masa dahulu.


"Ayo ikut! Tutup daganganmu dulu. Nih, ganti pakaianmu di toilet umum sana! Aku dapet mandat dari pak Anjar, untuk membawamu hidup atau mati."


"Waduh??? Penculikan ini!" jawabku dengan bercanda.


"Cepetan! Ga pake lama! Karena kita harus ke Rancamaya!" perintah Rosa membuatku kebingungan sendiri. Matanya kembali membesar melihatku yang celingak-celinguk linglung.


Aku terpaksa menuruti perintahnya. Mengganti pakaianku dengan pakaian yang ada didalam bagpaper pemberiannya.


Aku berbincang sebentar dengan Jabrik dan Mul. Memberitahukan kalau sempol yang ada digerobak dibagi-bagi saja. Dan juga aku beritahukan kalau-kalau aku pulang telat hari ini karena ada janji. Mul dan Japri terpukau melihat pakaianku. Stelan kemeja lengkap dengan jas membuatku terlihat lain dimata mereka.


"Bang, gila penampilan lu, bang! Anjiirrr! Kek direktur di felm!" tutur Mul dengan tangan sibuk menepuk-nepuk bahuku. Aku hanya tersenyum kecil. Terburu-buru hingga tak sempat menjelaskan.


Kami meluncur meninggalkan Jakarta lewat tol menuju Rancamaya Bogor.


"Bilang-bilang dulu napa Ros, biar gue ga nervous nih! Gila banget, gue sama sekali ga da persiapan buat ketemu pak Anjar!" gerutuku lupa sampai logat Betawiku tertular Mul keluar.


"Siapa suruh kamu nyuekin perkataanku tempo hari!" balasnya tak kalah tegas. Akupun tersenyum malu.

__ADS_1


Rosa menyodorkan dus sepatu. Masih baru dan sesuai nomor kakiku. Aku tersenyum, mengucapkan terima kasih dan mengganti sandal kulitku yang terlihat lusuh.


Dulu kami partner diperusahaan. Kadang juga musuh untuk saling mengajukan ide-ide demi kemajuan perusahaan untuk sekedar kenaikan gaji maupun jabatan. Begitulah hubunganku dan Rosa.


"By the way, gimana keadaanmu sekarang? Better then?" tanyanya setelah lama kami terdiam menikmati perjalanan.


"Beginilah, seperti yang kamu lihat, Ros!"


"Kudengar kalian bercerai? Benar?"


"Waah...! Tak kusangka ternyata meskipun aku sekarang seperti ini, ternyata kabar beritaku cukup populer diluaran sana!"


"Aku tahu dari Cecil! Hei, kamu ga datang diacara pernikahannya, Dik? Cecil baru 2 bulan ini menikah."


"Hehehehe....! Kamu khan tahu sendiri, aku lost contac dari semua orang. Beginilah jadi orang yang terbuang!"


"Itu karena sikapmu sendiri yang membuang diri, Dik! Pada dasarnya kamu orang baik. Cumaa....yaa...kadang gitu juga sih! Hahahaha....mungkin karena kamu telat puber ya, jadi salah langkah aja!"


"Hahahaha.... ampun deh! Nasibku ditertawakan istri pengusaha batik! Iya sih, mungkin!"


"Malu sama umurlah! Dan anggaplah hidup seperti bidak catur. Kalau kau kalah, susun lagi semua dari awal, fighting lagi, ambil pelajaran kekalahan yang lalu untuk melangkah menjadi pemenang!Itulah petarung sejati! Bukannya kau mundur dari dunia yang sebenarnya." Aku mengangguk membenarkan ucapan Rosa dengan senyum ketir.


Aku tahu itu Rosa! Dan aku bukanlah pribadi yang percaya diri. Bahkan sejak kukecil dan dewasa kini. Dulu aku terlihat gagah dan berani melangkah karena ada Ranti disampingku. Yang selalu standbye dengan motivasi dan doa-doanya untuk kesuksesanku. Dan kini barulah aku menyadari setelah Ranti berlalu meninggalkanku yang angkuh dengan semua kesuksesan dan kerja kerasku. Yang padahal itu semua kudapatkan juga berkah Ranti sepenuhnya. Hhhhh.... Penyesalan selalu datang terakhir.


"Kenapa kamu ga ambil hati Ranti lagi, Dik? Kurasa Ranti juga masih menunggumu melangkah memulai mendekatkan diri. Biasanya wanita malu dan gengsi untuk memulai lebih dulu."


"Sepertinya aku sudah tak ada harapan, Ros!"


"Hadeeeuh,...lagi-lagi orangtua ini patah semangat sebelum memulai!" Rosa merutukku lagi. Ia menarik nafas kecewa membuatku tertawa miris.


"Bulan lalu ada pemuda datang menemuiku meminta izin untuk melamar Ranti. Katanya Ranti yang memintanya menemuiku!"


"Waaah.... sial sekali nasibmu, orang tua! Kamu itu ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, terjebur juga!"


"Tenggelam pula!"


Aku dan Rosa tertawa. Menertawakan nasibku yang mengenaskan. Miris memang. Dan aku seperti sudah kebal muka dan telinga. Tak bisa marah kecuali tertawa dan mengiyakan. Karena begitulah kenyataannya.


Rancamaya menyambut kami dengan hujan gerimis.


"Lagi apa pak Anjar di Rancamaya? Bukannya rumahnya di Serpong ya?"


"Biasalah.... Para pengusaha kalo lagi kebanyakan duit suka pusing! Cari kesibukan buat mengehamburkan uangnya!... Beliau lagi main golf sama beberapa koleganya!" kata Rosa bercanda. Dan aku tertawa menyetujuinya.


Hatiku cukup bergetar mengingat ini akan jadi pertemuan kami setelah kehancuranku. Sungguh aku tak bermuka bertemu beliau. Direktur Utama perusahaanku dahulu yang begitu baik dan selalu memberiku kesempatan untuk selangkah lebih maju dibanding rekan sejawat lainnya termasuk Rosa. Bahkan dulu Rosa pun sempat iri hati, marah dan menjauhiku karena kharismaku lebih menawan hati pak Anjar ketimbang dia. Hhh... Itu dulu, dimasa kejayaanku.

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2