AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
JANGAN TINGGALKAN AKU, RANTI!


__ADS_3

"Maaaas.....! Kamu tau ga, kalau Ranti mau pergi ke Selangor?"


Suara Hera langsung menyembur dari balik handphoneku dengan kabar berita yang mengagetkanku. Sontak aku terkejut. Jantungku serasa berhenti berdetak dalam sekejap.


"Selangor??? Malaysia??? Kapan, Hera???"


"Jadi mas sama sekali ga tau???? Ya Allaah.... Hari ini Ranti berangkat, mas!"


"Haah????"


Aku langsung mematikan hubungan teleponku dengan Hera dan langsung mencari nama Hardi dikontak hpku.


"Hardi, Assalamualaikuum... Ini mas Dika! Ranti ada disitu??"


"Ka Ranti baru saja berangkat naik taxi online, mas!"


"Kemana, Hardi??"


"Bandara Soetta, mas! Memang ka Ranti ga cerita ke mas Dika??"


"Baiklah, aku tutup telponnya ya?"


Aku kembali mencari nama Ranti di ruang kontak.


Tuuut tuuuut tuuuut tuuuuut tuuuuut....


Tuuut tuuuut tuuuut tuuuuut tuuuuut....


Tidak diangkat. Hhhhh....


Aku kembali menelpon Hera.


"Hera! Ranti ke Selangor mau apa? Kenapa ke Selangor??"


"Apa mungkin Ranti menjadi TKI disana, mas?? Aku kurang tau. Aku liat akhir-akhir ini dia murung terus. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya mas! Mas menyakitinya lagi, ya?"


"Siapa yang membawanya, Hera?"


"Aku ga tau, mas! Aku juga ga berani tanya banyak secara kami bukan lagi adik dan kakak ipar. Sungkan kalau terlalu jauh tanya-tanya masalah pribadinya."


"Telponku ga diangkatnya, Hera! Mungkinkah ada ditas sampai tak terdengar deringnya? Hhh.. Coba kamu yang telepon. Please!"

__ADS_1


Hera menunda teleponku.


"Teleponku juga ga diangkat, mas!"


"Ya Allaah.... Rantiiiii..... hhhh mau kemana kamu, Ran...?!?!... Hera, bagaimana Jingga? Apa Ranti bawa juga???"


"Jingga??? Aku dengar samar-samar, sepertinya dititip sama Gina. Jadi mas tetap bisa menengok Jingga!"


"Ya Allah, Rantiiiiii!!! Apa kamu fikir, anakku itu barang? Bisa dititip sembarangan begitu!?!... Hhhhhhh.... Heraaaa....aku harus gimana, Heraaaaa!!!"


"Mas, koq tanya aku sih? Ranti khan statusnya bukan lagi istrimu. Bebaslah mau kemanapun dia pergi. Lagipula mas sendiri yang bilang, ga terfikir untuk memulai hidup baru. Iya khan???"


Hhhh.... Seketika aku menyesali ucapanku tempo hari pada Hera. Hhhh... Ya Allah!! Aku harus bagaimana??? Harus berbuat apa????


Aku senewen dengan diriku sendiri. Aku mondar-mandir kanan kiri, duduk berdiri lagi seperti orang yang tak jelas maunya.


Aaarrrgh!


Aku harus bagaimana ini??


Bandara Soetta! Ranti masih dijalan menuju bandara Soekarno Hatta dari arah Bojong Gede. Posisiku sekarang ada di Cikini. Sepertinya aku bisa menggagalkan kepergiannya untuk pergi ke Selangor. Apalagi untuk menjadi TKI dinegeri orang. Hhhh... Ranti! Kenapa kamu sampai berfikir sejauh itu hanya untuk menghindariku. Hhhh..


Maaf, bila fikiran buruk kini tengah menghantuiku. Menyelimuti otakku yang jadi beku hingga berfikir buruk tentang orang lain dinegeri lain. Padahal tak semuanya seperti itu. Majikan dinegeri sendiri pun banyak yang lebih kejam dari itu. Tapi saat ini aku sedang memikirkan Ranti. Mencemaskan keadaannya nanti bila sampai Ranti bekerja keluar negeri.


Aku meminjam mobil mas Anang. Mengejarnya hingga bandara Siekarno Hatta. Semoga masih bisa mengejar dan menahan kepergiannya. Aku berharap bisa mengubah keputusannya untuk pergi bekerja di negeri orang.


Airmataku menetes. Mungkinkah Ranti kecewa padaku karena aku yang pasif meskipun dia telah memberiku banyak kode? Apakah aku terlalu gede rasa bila berfikir Ranti ingin rujuk denganku sedang tak pernah ada kata itu keluar dari bibirnya meski perlakuannya begitu manis padaku? Apakah aku harus memulainya lebih dulu untuk kembali melontarkan keinginan rujuk pada Ranti? Tidakkah aku ini seperti lelaki yang tak tahu malu dan tak tahu diri jika mengatakannya lagi sedang dia pernah menolakku? Apakah aku egois menginginkan rujuk sedang masa hidupku saja masih tak jelas karena menyandang penyakit mematikan? Untuk apa aku rujuk jika aku hanya memanfaatkan dirinya jika suatu saat tubuh ini melemah dan butuh seseorang yang merawatku? Hhhh....


Begitu banyak pertanyaan dikepalaku. Begitu penuh hingga akhirnya aku kembali menanyakan hatiku... Cintakah aku pada Ranti???


Ya. Aku cinta Ranti. Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku. Bukan karena rasa peduliku karena ia adalah ibu dari anakku. Bukan karena aku kasihan dengannya yang kini berstatus janda hingga sering dilecehkan orang dan dipandang sebelah mata orang.


Aku mencintainya. Baik wajah terlebih hatinya. Aku mencintai kesederhanaannya yang tidak pernah neko-neko dan egois hanya memikirkan dirinya saja. Aku mencintai kelemahlembutannya dalam bersikap dan bertutur sapa. Aku mencintainya karena ketegaran dan ketegasannya mendidik anakku buah hati cintaku dengannya. Aku mencintainya yang apa adanya. Aku mencintai keluguannya yang masih menjunjung tinggi menutupi rasa malunya dan tabu mengungkapkan rasa suka lebih dulu karena gender perempuannya.


Aku mencintainya lebih besar dari rasa cintaku yang dulu kepadanya. Aku ingin mencintainya dengan segenap rasa dan seluruh jiwa dihatiku. Aku ingin memberinya kebahagiaan hingga batas kemampuanku menyanjung dan memujanya sebagai sesama manusia ciptaan-Nya. Cintaku pada Allah Sang Pencipta dan Sang Pemilik jiwa raga ini tidak boleh ada yang melebihinya. Tapi habbluminan-Nas-ku adalah cintaku pada Ranti!


Aku berlarian kesana kemari di hall aula bandara Soetta. Sempat dicegat security yang menjaga pintu keberangkatan karena tingkahku yang mencurigakan dan tak ada tiket ataupun keterangan lain yang bisa kutunjukkan.


"Pak, tolong saya! Calon istri saya hendak pergi ke Selangor! Ini kartu pengenal dan dompet saya bisa bapak pegang sebagai jaminan! Saya harus segera menemukannya sebelum ia check in ke pintu boarding dan masuk pesawat! Tolong, pak!!"


Lama beliau berfikir. Akhirnya senyum mengembang dibibirnya dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Semangat, pak!!" Ia mempersilahkan aku masuk. Alhamdulillaah!... Aku memegang erat genggamannya. Mengucapkan banyak terima kasih lalu berlari secepatnya mencari Ranti.


Kucoba menelpon tapi hapnya kini mati. Membuat lututku lemas menipiskan harapanku.


Ranti!!! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku, Ranti!! Mari kita kembali seperti dulu. Aku kini akan mempercayaimu lagi. Mari diskusi lagi bersamaku seperti dulu.


Ranti! Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Aku ingin rujuk kembali denganmu. Ranti, kumohon! Dengarkan kata hatiku!


Ya Allah! Izinkan aku bertemu dengannya lagi sebelum ia benar-benar meninggalkan negeri ini. Ya Allah! Aku ingin melihat wajahnya lagi. Aku ingin menyaksikan senyum manisnya lagi. Tolonglah hambamu ini ya Allah!!


Aku mencari papan display informasi penerbangan dan memperhatikan schedule pemberangkatan untuk Jakarta- Kuala Lumpur. Masih ada waktu setengah jam lagi. Berarti aku masih bisa mencari Ranti lagi. Berharap Ranti belum masuk pesawat. Bismillah! Ya Allah, kumohon izinmu ya Allah!


"Mas Dika?"


Aku merasakan tubuhku lemas. Jantungku seperti berhenti. Tubuh ramping Ranti berdiri tepat dihadapanku.


"Ranti!!!!!!"


Aku menghambur memeluknya. Lalu segera tersadar dan melepas pelukanku karena takut Ranti tidak nyaman.


"Jangan pergi, Ranti! Kumohon! Jangan tinggalkan aku......juga Jingga!" Ranti masih menatapku dengan wajah polos seakan tak percaya.


"Siapa yang memberitahu mas?"


"Hera yang mengabariku!... Aku tidak ingin kamu pergi. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi! Kamu harus tetap disampingku! Kamu harus mengurus dan merawat anak kita, Ranti! Bukankah Jingga adalah amanat yang Allah titipkan pada kita? Kenapa kita menyia-nyiakannya? Bagaimana nanti kita harus bertanggung jawab diakhirat, Ranti? Bagaimana kalau Jingga kecewa pada kita hingga ia dewasa?... Ranti, pleasee...! Kumohon batalkan kepergianmu ya?"


Ranti menengok kanan dan kiri.


"Kita ngobrol dikursi itu yuk, mas!" sarannya mengajakku duduk. Aku masih gemetar setelah hampir satu jam berlarian dihall bandara yang luas mencari Ranti.


"Tangan mas basah dan dingin! Aku bawa teh manis hangat dibotol termos ini. Minum dulu, ya?" katanya dengan lembut sembari menuangkan teh hangat kedalam tutup termos kecil yang dibawanya. Aku minum sampai tandas.


"Mas, sebentar lagi pesawatku berangkat!"


"Jangan pergi! Kumohon, Ranti! Izinkan aku egois hanya untuk kali ini! Aku melarangmu pergi meski kamu bukan siapa-siapaku lagi!"


"Mas!"


"Izinkan aku menyampaikan sesuatu keinginanku, Ranti! Maukah kamu rujuk kembali denganku? Maukah kamu kembali menjadi istriku? Maukah kamu menikah lagi denganku?" Aku turun dari kursi tunggu. Berlutut dengan kedua tangan memohon pada Ranti. Sayangnya disaat momen begini aku tidak membawa satu properti pun yang menunjang kesungguhan perkataanku seperti cincin maupun bunga. Tapi kuharap Ranti bisa mendengar suara hatiku yang paling dalam. Betapa aku mencintainya.


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2