
Vika menatapku tak percaya. Bola matanya yang coklat kekuningan berbinar terang dengan senyum tipis masih dengan ragu seolah menembus hatiku.
"Beneran!"
Lagi-lagi ia mengerjap. Menengok kiri kanan seolah merasa ada mata lain yang mengawasi. Kali ini senyumnya melebar.
"8 miliar??" bisiknya lagi-lagi berusaha mengendalikan dirinya dari emosi kegirangan yang langsung menyeruak.
Vika memelukku erat. Tertawa dalam dekapanku yang tak bisa berbuat apa-apa. Bahunya sesekali berguncang karena tawanya yang berubah menjadi tangis. Entah bahagia entah sedih. Aku tak bertanya. Hanya membiarkan ia sesaat hanyut dengan tangisnya dalam dadaku.
"Padahal belum sebulan ya, mas! Ini sih rezeki nomplok banget!" serunya disela tangis bahagianya.
Aku tersenyum mengiyakan. Memang benar rezeki nomplok.
Delapan miliyar rumah itu dibeli seorang aktor terkenal yang sangat menyukai model dan juga lokasi rumah itu. Ini benar-benar diluar dugaanku juga.
Doa Ranti benar diijabah. Sepertinya aku harus segera mengurus surat-surat ayah dan juga bapak mertuaku untuk berangkat umroh.
"Artis itu akan mengurus ke notaris akhir bulan ini. Jadi untuk beberapa minggu ini kamu harus segera beberes mengurus kepindahanmu."
"Pindah kemana, mas? Aku ga tau dan ga ada gambaran juga." Vika termenung lagi.
"Kamu ini alien atau apa sih? Ga punya teman atau relasi sama sekali? Apa temanmu hanya istriku seorang? Paling engga', pasti ada lah beberapa kolega keluargamu yang kamu bisa mintai tolong. Sebentar lagi kamu banyak uang lho! Kamu bisa ambil apartemen dimanapun sesuka kamu."
Vika diam saja membuatku geregetan. Ia menunduk melihatku yang kesal padanya.
__ADS_1
"Aku jadi trauma minta tolong. Aku takut banyak orang yang hanya memanfaatkan kekayaanku nanti, mas!"
"Ya Tuhan! Kamu fikir semua orang itu akan tertarik uangmu saja seperti suamimu itu? Atau memang mungkin masa lalumu yang kelewat sombong hingga disaat susah ga banyak orang mau menolongmu?" Aku memakinya. Kesal. Vika mengangguk pelan.
"Kata-kata mas Dika benar dua-duanya," jawabnya lirih. Aku menghembuskan nafas panjang. Tak bisa lagi berkata-kata.
"Sekarang maumu gimana?" tanyaku agak merendahkan nada bicaraku. Tidak ada gunanya memarahi Vika terus menerus karena semua itu tak berpengaruh padanya. Dan pasti ujung-ujungnya, aku lagi yang harus mengurusnya.
"Aku terserah mas saja, mas pasti lebih tahu caranya bertahan hidup!"
Aku termangu melihat Vika yang masih menunduk lesu. Ia seperti lelah dengan kehidupannya bahkan disaat ia akan memiliki banyak uang sebentar lagi.
"Aku hanya akan mengurus sampai uang itu cair ke rekeningmu. Dan sesuai perjanjian, aku hanya akan ambil 5% dari hasil penjualannya. Dan setelah itu, kamu bisa sesukamu berbuat apa."
"Aku ingin minta tolong kamu lagi, mas!..."
"Tolong urus aku dan juga uangku. Kumohon mas! Aku ga ngerti dan ga faham dengan semua itu. Biar kamu simpan direkeningmu saja. Karena aku kuatir, Arif tau lalu dia bisa seenak udelnya nyairin uangku. Secara ia tau nomor PIN ku."
Aku hampir tersedak. Dengan enaknya ia menunjukku mengurus keuangannya.
"Kamu bisa buka rekening baru. Bisa nyewa pengacara. Bisa konsultasi dengan orang-orang pintar yang bisa mengurus uangmu, Vika! Kamu bisa buka perusahaan kecil. Apapun impianmu dulu, bisa kamu wujudkan. Asal kamu gigih, tekun dan ulet menjalani semuanya."
Vika menarik tanganku. Menggenggamnya erat membuatku risih. Untung resto yang kami tempati saat ini sedang sepi pengunjung. Hanya beberapa orang saja yang mungkin telat makan siang atau sedang kongkow bersama dijam pulang kantor ini.
Aku menepis halus tangan Vika.
__ADS_1
"Kita urus nanti. Aku coba cari jalan keluarnya!" Vika tersenyum lega. Mengucapkan kata terima kasih beberapa kali.
Kami diam menikmati secangkir kopi dan beberapa potong keik keju. Aku menarik nafas senang mengingat akan rencanaku memberangkatkan ayah dan bapak mertuaku umroh. Aku juga ingin mengajak Ranti dan Jingga liburan keluar kota. Menikmati kebersamaan keluarga kecil kami yang nyaris tak berwaktu beberapa saat belakangan ini. Mungkin merenov beberapa bagian rumah kami seperti kamar Jingga dan juga taman kecil berikut gazebo keinginan Ranti dihalaman belakang yang memang masih luas berupa tanah.
Vika terlihat tak terlalu antusias. Ia hanya mengaduk-ngaduk cangkir kopinya tanpa selera. Diam memandangi piring keiknya yang masih utuh belum dimakan.
"Kamu ga da rencana apapun, Vik?" tanyaku tiba-tiba membuatnya tersentak kaget. Ia menggelengkan kepala. Kembali mengaduk sendok dicangkir kopinya.
"Kamu mau buka restoran atau rumah makan ga?"
"Aku ga da bakat juga minat, mas!"
"Bukannya kamu suka masak? Masakanmu lumayan enak!"
"Aku masak hanya disaat aku senang aja. Kata orang, senang saja berbeda dengan menekuni. Aku ga berani ambil resiko restoku bangkrut atau masakanku meracuni pelanggan yang makan nanti."
"Pikiranmu terlalu sempit."
"Dulu pikiranku terlalu luas. Tiada yang ditakutkan. Semuanya bebas-bebas aja tuk dilakukan. Kalau aku buat salah, papa-mama paati memback-up aku. Kalau aku mau, pasti mereka turuti. Bahkan semuanya yang bukan milikku bisa jadi milikku. Banyak orang sayang padaku. Banyak orang ingin dekat denganku. Bahkan usia remajaku aku bisa tunjuk apa saja dan siapa saja untuk jadi milikku. Dunia begitu indah bagiku. Bahkan ketika papa meninggalpun, aku masih bisa gonta-ganti apapun yang aku mau tanpa harus pusing mikirin apa-apa. Hingga aku diajak nikah seorang pria tampan mapan yang memang saat itu incaranku. Dia mengurusku bak putri raja. Memberiku segalanya membuat duniaku semakin sempurna. Hingga tanpa kutahu motif sebenarnya. Ternyata ia menggerogoti perusahaan warisan almarhum papa yang sebenarnya lebih dari cukup untuk menghidupi 3 generasi setelah aku jika bisa mengurusnya karena perusahaan itu memiliki prospek cerah untuk beberapa puluh tahun kedepan. Mama meninggal setelah sempat stroke 4 bulan karena shock ketika orang bank datang menjelaskan kalau perusahaan itu pailit dan akan dilikuid jika tak segera mendapat kucuran dana segar dari kolega-kolega. Beberapa aset rumah pribadi peninggalan papa juga villa dan perusahaan kecil minimarket mama raib sekejap disita bank. Surat-surat penting obligasi, deposito hingga kendaraan semua habis satu persatu habis tak bersisa digerogoti iblis jahanam itu yang dengan mulut manisnya mengajakku pindah ke Batam. Katanya Batam bisa mengubah hidup kami lagi seperti semula. Ia makin gila dan terbuka dalam berjudi. Hingga suatu hari ia menjadikanku jaminan atas hutang-hutangnya. Ia juga menjualku ketemannya yang mempunyai cafe. Tiap malam sabtu dan minggu aku harus bernyanyi dicafe tersebut yang bayarannya sudah diambilnya untuk berjudi. Bahkan bila ada pria hidung belang yang berani booking aku menemaninya tidur, maka iblis itu menyetujuinya asalkan bayarannya bagus. Aku berharap kehidupanku kembali normal seperti dulu. Makanya aku rela diperlakukan seperti itu walau hatiku luka berdarah-darah. Tapi nyatanya,... ia bukan hanya penjudi. Tapi juga pemain perempuan. Ada banyak perempuan disekitarnya. Bukan hanya aku. Dan aku bukan juga yang pertama. Bisa kamu bayangkan bagaimana hidupku setelah mengetahui itu? Aku yang dulu ceria, tak pernah merasa sedih, bingung dan linglung... Seperti jasad tanpa ruh, tubuh tanpa nyawa. Aku limpung. Hingga saat ini aku sudah tidak lagi berambisi kembali dikehidupanku dulu. Bisa melewati hari tanpa airmata sudah kusyukuri. Bisa bertahan didunia yang kejam ini termasuk prestasi bagiku..." Vika bercerita banyak membuatku terdiam mendengarnya.
Aku sebenarnya ingin menceritakan diriku. Siapa aku, bagaimana aku bisa bertahan dari gerusan kejamnya dunia. Tapi urung kulakukan karena percuma. Vika saat ini hanya sedang merutuki dirinya. Nasib sedih dan juga derita hidupnya yang padahal bila dihitung tak sebanding dengan kepedihan hidupku sejak aku kecil.
Aku ingin memperlihatkan betapa harus bersyukurnya ia karena terlahir kaya raya, hingga dewasa bahagia. Menikah masih dengan kemewahan. Sedang aku,... sejak kecil kami miskin. Harus mau berbagi segalanya sesama keluarga. Bahkan sepatuku juga tas sekolah pun harus berbagi dengan kak Dian, kakak perempuanku. Belum lagi makanan, pakaian. Bahkan sejak SMP aku sudah harus mencari uang sendiri untuk keperluan sekolahku dengan bekerja sebagai tukang kuli panggul dipasar sepulang sekolah.
Belum lagi pembullyan yang kualami ketika masuk SMA. Teman-teman sekolah yang menyeramkan yang harus kuhadapi selama 3 tahun, setiap hari. Hhh....
__ADS_1
Alangkah mirisnya kehidupan susahku dibandingkan kesusahan Vika saat ini.
Bersambung-