
Aku hanya menatap miris kegubug bilik kecil yang mungkin hanya berukuran 4x5 meter itu. Apakah mbah Kardi hanya tinggal berdua saja dengan istrinya? Dimana keluarga ataupun anak-anaknya? Bagaimana kehidupan keduanya disini yang jauh dari lingkungan tetangga sekitar? Sedang dikiri kanan, depan belakang hanyalah rumah-rumah dingin tanpa suara yakni makam-makam. Hhhh... Menerka-nerka saja sudah membuatku kesulitan bernafas.
Bang Sobri... Bagaimana aku bisa ikut tinggal disini? Dirumah bilik kecil milik sepasang suami istri yang bisa dibilang sudah sepuh ini? Hhhh.... Bang! Aku suka hutan, aku suka gunung, aku juga suka lautan. Tapi untuk tinggal dirumah ini....., nyaliku mengecil seketika. Hhhh...
Ini sih bukan rumah yang dekat dengan pemakaman. Tapi ini mah asli tidur dimakam. Kenapa ga sekalian bang Sobri nyuruh aku gali kuburku sendiri, urug tubuhku sendiri! gerutu hatiku agak kesal.
Ataukah si mbah Kardi ini punya segudang ilmu yang bisa kupelajari agar bisa menjadi lelaki hebat disegala bidang terutama masalah percintaan? Aisssh!!! Dilihat dari sudut manapun aku tidak percaya. Kalau benar si mbah orang hebat, sudah pasti tak mungkin tinggal digubug butut ini. Istrinya pun tidak hanya satu. Bisa dua, tiga atau mungkin lima.
Mbah Kardi datang bersama mbok Sartijah. Aku berdiri menghampiri sambil mencium lengan si mbok. Jalan si mbok terlihat sudah tertatih tapi masih begitu semangat. Lagi-lagi kulihat senyum lebar bibir mereka yang lucu 'tanpa jendela'. Mereka sudah ompong semua. Aku ikut tersenyum lebar sedikit sombong mentertawakan kedua orangtua itu. Mungkin usia mereka sudah berkepala 7 atau 8 sepertinya. Karena terpancar dari keriput dan juga fisik mereka yang agak bongkok. Aku jadi ingat ayah. Tapi ayahku masih lengkap semua gigi depannya meskipun umurnya sudah 68 tahun.
"Bikinkan minum, mbo'!" perintah si mbah pada mbok Sartijah.
Aku duduk ditepas bambu setelah si mbah Kardi duduk lebih dulu. Mataku tak lepas dari mbok Sartijah yang berjalan 'tidak biasa'.
"Si mbok memang jalannya seperti itu sejak lahir." Ternyata mbah Kardi bisa menebak jalan fikiranku. Membuatku malu tertunduk seraya tersenyum kecil.
"Si mbah tinggal disini hanya berdua saja? Anak-anak si mbah merantau semua sepertinya ya?" tanyaku lagi-lagi dibalas senyuman lebar khas si mbah.
"Kami tidak dikaruniai anak didunia ini, mas! Allah menyimpannya insyaAllah diakhirat nanti."
__ADS_1
"Aamiin... maaf mbah, saya tidak tahu!"
"Hehehehe...!"
Di mbok keluar dari belakang gubug dengan tangan membawa nampan berisi dua gelas air teh dan sepisin bongkahan gula aren. Aku bergegas membantunya mengambil nampan dari tangan si mbah tapi langsung dibalas candaan lucu si mbok.
"Sepertinya sudah haus sekali ya, mas?!"
Kudengar tawa renyah keduanya begitu enak didengar. Sungguh suami istri yang kompak, bahkan hanya sekedar candaan receh pun mereka terlihat begitu menikmati hidup. Sedangkan usia mereka sudah tidak muda lagi. Tapi mereka terlihat saling melengkapi. Aku iri dibuatnya.
"Mbah sama mbok sudah nikah berapa lama?" Lagi-lagi mereka tertawa. Kali ini makin membuatku iri karena mbok Sartijah duduk mendekat dan tangannya menepuk paha suaminya yang tinggal tulang tapi secara pelan.
"Lali aku, mas!... Waktu nikah mbok umurnya 15 tahun, si mbah 19 tahun."
"Mbah sama si mbok tidak takut tinggal disini? Sudah lama ya, memangnya tinggal disini?"
"Disini kita sudah 30 tahunan, mas! Sejak rumah kami hangus terbakar dimusim kemarau, karena tak punya uang buat bangun rumah lagi ya terpaksa si mbah bawa si mbok bikin saung disini!" cerita si mbok.
"Awalnya ya takut, mas! Tapi sekarang kita semua sudah berteman koq, hehehe....!"
__ADS_1
"Berteman? Sama siapa, mbok?"
"Ya penghuni sini.. hehehehe...!" jawab si mbah membuat bulu kudukku merinding. Hadeeuh, cerita cintaku koq tiba-tiba jadi horor begini, ya? hati kecilku bergidik.
"Hahahaha....takut ya si masnya?" Aku dijadikan bahan candaan pasutri abadi ini. Tak apalah, aku memang takut mbah! Walau tak terlalu penakut, tapi... lebih baik tidak berurusan dengan hal-hal gaib maupun mistis. Itu prinsipku.
"Makhluk gaib itu sama koq seperti kita. Sama-sama ciptaan Allah. Sama-sama punya pasangan, menikah, punya anak, beranak pinak. Tapi ada banyak jenisnya mas!"
"Maksudnya mbah?"
"Ada jin...makhluk paling pintar. jin itu bentuknya bisa seperti manusia. Ada yang cantik, ganteng, ada yang besar, tinggi sekali atau kecil sekali juga ada. Ada iblis. Itu yang paling jahat dan licik. Selalu menggoda mempengaruhi manusia. Terus ada setan. Setan ini biasanya punya komunitas. Dia bergerombol menempati suatu tempat meski juga banyak jenisnya, setan alas, setan tuyul, setan kuntilanak. Mereka bisa jadi pengganggu kalau lagi kesal atau terusik. Yang terakhir hantu. Hantu tidak lama hidupnya didunia. Hantu adalah nafsu tinggi dari manusia yang sudah meninggal. Makanya kadang orang yang sudah mati seperti datang menghantui, itu karena masih punya keinginan ataupun masalah yang belum terselesaikan."
"Aduh mbah, koq jadi cerita horor ya!?!" aku segera memotong cerita si mbah karena takut.
"Hahahaha... Itu yang si mbah tahu, mas! Hehehehehe.... kalau takut justru setan iblis makin suka. Takut itu hanyalah pada Allah, mas... Pencipta kita. Bahkan sebenarnya makhluk yang paling menyeramkan didunia ini adalah manusia, mas! Manusia Allah ciptakan lengkap ditambah akal. Makanya kalo nafsu sudah bersekongkol dengan akal, segala tindak laku manusia bisa lebih jahat dari setan. Makanya Allah suruh kita sholat dan puasa, agar kita selalu bisa mengontrol hawa nafsu kita untuk tidak lepas kontrol keluar batas. Berapa banyak manusia didunia ini yang berhasil karena bisa mengekang hawa nafsunya dan selalu berfokus pada Penciptanya. Juga berapa banyak manusia hebat itu tiba-tiba hancur jadi debu tak ada lagi pandangan kebaikan kepadanya hanya karena terjelembab oleh hawa nafsu yang tak mampu ia kendalikan. Kita ini manusia, tak ubahnya tumpukan kepiting didalam ember besar. Saling berlomba mencapai puncak ember untuk keluar. Meskipun harus saling menyakiti, menginjak bahkan menaiki punggung sesamanya. Itulah manusia!"
Subhanallah..... Si mbah benar-benar orang berilmu ternyata. Dan tak salah bang Sobri menyuruhku kemari. Aku banyak belajar dari si mbah meskipun hanya baru beberapa jam bertemu.
Kami pergi kesurau dipinggir sawah tak jauh dari gubug si mbah untuk sholat Ashar. Kami tidak saling bicara, hanya duduk tafakur sambil mendengarkan belasan bocah-bocah lelaki sholawatan di mic surau menunggu adzan maghrib. Sungguh suasana kampung yang menyenangkan. Yang tak pernah kudapati dikota tempatku dilahirkan dan dibesarkan.
__ADS_1
Mbah...! Aku akan belajar darimu disini. Tentang artinya kebahagiaan. Tentang artinya kedamaian. Tentang cinta dan keikhlasan pastinya. Karena ternyata, dibalik semua penderitaan yang Allah beri padaku sejak kukecil, aku melihat begitu banyak juga kebahagiaan yang juga Allah kasih. Intinya tidak ada kesedihan yang berkepanjangan maupun kebahagiaan yang selamanya. Jadi sebagai manusia, kita dituntut fleksible dengan keadaan yang Allah berikan. Tak boleh sedih dan diam kelamaan. Tak boleh terpuruk terus dalam penderitaan. Terlebih tak boleh putus asa didalam kesusahan. Tetap meminta dan berdoa kepada si Empunya kebahagiaan. Kembali bangun dan berjalan ketika kita jatuh tergelincir bahkan meskipun kaki kita terkilir. Karena hidup dan kehidupan terus berjalan. Dunia pun masih terus berputar pada porosnya.
Bersambung-