
"Mas, aku harus bagaimana?" tanya Vika lagi. Masih dalam dekapanku yang mulai menjalankan kendaraan.
"Aku juga harus bagaimana, Vika? Aku ga tau. Harum bunga cintamu membuatku gila. Membuat fikiranku penuh dengan dirimu. Aku beneran gila kali ini. Gila! Padahal umurku sudah 39 tahun. Bukan usia remaja. Tapi bisa tergila-gila karena cinta!'
"Sungguh, mas? Sungguhkah ucapanmu itu? Berarti bukan aku saja yang merasakan kegilaan itu? Kamu juga? Sungguh?" Vika mencium pipiku. Membuat merah wajahku.
"Hei, aku sedang nyetir. Jangan kau ganggu dengan bibir bawelmu itu!" kataku kasar tapi dengan bibir tersenyum.
"Tuh, khan.... Galak bener sih kalo sama aku!" gumam Vika merengut.
"Itu karena aku benci kamu! Benar-benar cinta!"
"Idiiiih, mas.... Kamu ngomong gitu kayak anak SD banget! Hahahaha....bucin?"
"Berarti aku unyu banget dong dimata kamu?"
"Bukan lagi. Kamu tuh gemesin, manis-manis gimana gitu! Bikin aku ketagihan gangguin kamu, godain kamu. Kamu kasar, tapi kalo udah becanda...bikin melelehkan hatiku. Menceriakan hariku!"
"Cinta kita ini cinta gila, Vika! Kamu perempuan gila, yang jatuh cinta pada aku, lelaki biasa yang sudah punya istri dan anak. Dan istriku itu adalah sahabatmu. Dan aku lebih gila! Bisa jatuh cinta padamu yang begitu menyebalkan dan punya karakter bertolak belakang dari aku. Tak peduli lagi perasaan anak istriku sendiri!"
"Iya. Kita ini dua orang gila yang mabuk cinta!"
"Kamu tau?... Beberapa hari ini kamu menghilang dari mataku. Fikiranku kacau. Aku merasa seperti seorang gadis muda yang telah begitu bodoh menyerahkan keperawanannya pada lelaki tampan yang begitu pengalaman. Aku hanya menangis sendirian. Menyesali kebodohanku yang dengan mudah tergoda oleh rayuan mautnya. Dan aku berusaha mencari-cari kamu, untuk meminta pertanggungjawabanmu padaku, Seorang gadis lugu ini!"
Lagi-lagi Vika tertawa. Mengecup pipiku lagi. Menggoyang-goyangkan tanganku dengan gemasnya.
"Mas Dikaaa.... kamu tuh yaaa?! Kamu fikir kamu lugu gitu? Aku yang dibuat K.O terus kamu tinggalin begitu saja ketika sedang tidur. Hanya dikirimi pesan, maaf. Kekhilafan kita cukup ini yang pertama dan terakhir. Lupakan semuanya, aku tak ingin melukai Ranti. Titik. Sudah, begitu saja!"
"Aku tak tahu harus berbuat apa sama kamu dan Ranti. Kamu tau, Vika. Sebelum kamu...hanya Ranti seorang yang mencintaiku dengan tulus. Menerima segala kekuranganku. Memulai semua dari nol. Dan kamu datang, memberiku cinta lain. Yang membuat hariku berwarna baru. Aku terpukau, tapi sadar diri. Hingga ternyata cintamu terlalu memabukkanku. Membuatku hilang akal dan gila."
"Aku cinta kamu mas! Aku tulus mencintaimu. Menerima segala kekuranganmu. Seperti Ranti tapi cintaku berbeda dengan cinta Ranti. Aku akan selalu memahamiku. Mungkin gila kalau aku tidak peduli status. Yang penting, kamu selalu ada untukku. Menjagaku dan menyayangiku. Itu saja mas! Aku tau aku wanita tak tau diri. Terlebih pada Ranti. Tapi ada dayaku mas! Aku hanya ingin dirimu. Bukan lelaki lain. Hanya ingin kamu saja!"
Aku terharu. Mata kami basah dengan airmata. Aku tau kedalaman hatinya. Lukanya. Juga keadaannya. Akupun tak bisa menjanjikan apa-apa. Bahkan kenyamananpun tak sanggup kuberikan. Aku terlalu takut kehilangan Ranti. Ranti ibarat sebelah kakiku yang menopangku dari ketimpangan. Dan Vika adalah penghias hari-hariku yang kini indah bertabur cinta.
Aku memang serakah. Aku tak sanggup memilih. Aku ingin keduanya menjadi milikku. Berdiri disampingku mendampingiku dalam suka maupun duka. Salahkah aku berfikir seperti itu?
Vika menyuruhku pulang cepat karena keluarga besar kami berkumpul dirumah. Mereka menginap untuk 2 malam sampai keberangkatan Ayah dan bapak ke tanah suci.
Aku cium kening Vika. Sebenarnya aku ingin lebih lama lagi bermanja dengannya. Tapi apa daya. Saat ini tentu aku harus ada dirumah. Membantu Ranti mengurus keperluan kedua orangtua kami.
Setiba dirumah, Ranti langsung memelukku. Mengatakan maaf kalau aku jadi harus mengantar Vika pulang.
Aku hanya senyum menanggapinya. Berkata dalam hati andai Ranti tau intimnya hubungan kami. Entah bagaimana reaksinya. Hhhh....
Aku kembali menjadi suami yang baik dan ayah yang sempurna. Kami adalah pasangan ideal, begitu Gina adik iparku bilang. Ia sangat mengidolakan kami dan berusaha mencontoh kami sebagai panutan.
Dulu aku selalu bangga ketika Gina membicarakannya didepan keluarga terlebih Hardi, adik Ranti. Tapi kini aku malu, karena aku kini tak sebaik dulu. Aku memendam rasa kepada wanita lain. Dan membaginya dengan sembunyi tanpa sepengetahuan Ranti. Aku kini adalah suami biadab yang tak berperasaan. Hhh... Padahal usia rumah tangga kami baru 5 tahun saja. Hhh... Aku tak henti menarik nafas. Mengutuk diriku sendiri yang sekarang.
Vika dan Ranti benar-benar berdiri disampingku. Kami berjalan beriringan mengantar ayah dan bapak berangkat kebandara menuju tanah suci bersama rombongan travel umroh yang membawanya.
Aku tersenyum bangga.
Andaikan saja kedua wanita ini adalah istri-istriku. Sungguh sempurna hidupku, gumam hati kecilku jumawa. Tapi belum. Allah belum menjadikannya kenyataan. Dan aku berharap semua khayalanku itu terkabul. Aamiin...
"Pleaseee... ayolaaah! Antar aku ke showroom mobil. Aku udah buat janji sama orang dealer-nya. Ya? Ya?" Vika menarik-narik tangan Ranti dengan manja.
__ADS_1
"Gimana mas Dika?" tanya Ranti agak takut akan reaksiku.
"Kami ga apa koq mas pulang lebih dulu. Kami juga mau kemas-kemas sebelum sore pulang kerumah Depok!" celetuk Hardi seolah mengisyaratkan agar kami mengantar Vika.
"Ya udah! Hayo!" kataku membuat Vika bersorak. Memeluk Ranti dan Jingga yang juga tertawa kegirangan.
"Ada yang nawarin oper alih kredit. Barangnya juga masih mulus, mas! Tapi aku pikir mending cash aja deh... soalnya aku kuatir ga bisa bayar bulanannya. Aku orangnya lupaan sama utang. Hehehe!"
"Kita liat aja dulu kondisinya. Sambil liat-liat yang lain!" Ranti dan Vika berpandangan dengan senyum penuh arti. Mereka nampak senang dengan responku yang lebih santai. Aku hanya senyum dalam hati. Aku hanya ingin yang terbaik juga untuk Vika. Walaupun itu murni uangnya, tapi kalau ia bertransaksi sendiri, takutnya orang showroom justru memanfaatkan kepolosannya.
Akhirnya kami tiba di tempat yang kami tuju. Showroom mobil. Seperti kata Vika tadi, ia langsung bertemu dengan supervisor showroomnya dan langsung klik membicarakan yang telah mereka obrolkan. Aku tidak ikut nimbrung. Aku menggendong Jingga. Hanya melihat-lihat berbagai kendaraan bermacam jenis dan merk. Biarlah Vika ditemani Ranti untuk berdiskusi.
"Mas Dika!" Vika memanggilku seraya tersenyum manis.
"Kamu suka yang ini?"
"Iya, mas. Bagus khan? Ranti juga suka."
"Liat dulu mesinnya. Kalo bodi mah bisa menipu!" Aku mengambil alih pertanyaan-pertanyaan kepada sang supervisor. Bertanya perihal kondisi mobil yang ditaksir Vika.
Obrolan yang lumayan alot karena aku tak ingin Vika seperti membeli kucing dalam karung. Setelah mencoba menyetir mobil hingga radius beberapa ratus meter, kurasa kondisinya cukup stabil. Tinggal nego harganya.
"Harus kebengkel dulu nih, mas guna memperhalus suara mesinnya." kataku agak sedikit mempermasalahkan suara mobil.
"Yaa... untuk kenyamanan pribadi pak, bolehlah servis sedikit. Namanya mobil second, tapi kalo kami boleh sedikit sombong. Ini mobil mesinnya masih oke lho, pak! masih ori semua. Belum turun mesin, karena pemilik terdahulunya adalah orang yang apik. Silahkan bapak periksa lagi kalo mau! Dibanding barang lain. Ini saya rekomendasikan banget lho!"
"Harganya cincailah, mas! Seperti yang saya bilang tadi. Langsung deal, okey?"
"Aduh, pak...maaf! Segitu belumlah. Ga berani saya! Bisa-bisa saya di-PHK atasan saya. Hehehe...!"
"Jadi berapa pastinya deh mas! Kami ga punya waktu lagi nih, kami pingin kata sepakat, deal cash. Gimana?"
"Gini deh, udah 83 deal. Sepakat, okey?" Aku masih berusaha negosiasi. Tarik ulur dengan supervisor itu.
Ia nampak ragu menimbang-nimbang penawaranku. Akhirnya ia menerima jabatan tanganku.
"Aku antar Ranti pulang dulu, gimana Vik?" tanyaku pada Vika. Vika mengangguk setuju.
Ranti membisikkan sesuatu ke Vika. Mereka berdua begitu antusias karena proses pembelian mobil berjalan lancar.
Setelah aku mengantar Ranti kerumah, aku kembali bergegas ke showroom dengan taxi. Karena nanti aku yang akan membawa mobil Vika setelah transaksi selesai.
"Terima kasih ya mas! Akhirnya aku punya mobil impianku sejak muda dulu. Keren khan pilihanku? Toyota sedan camry. Walau second tapi masih keren buat gaya! Aku beruntung banget sejak ketemu mas! Muacht!" Vika yang bersender manja dibahuku mengecup pipiku. Menggenggam erat satu jemariku.
"Kamu beli pakai uangmu koq, bukan aku yang beliin!" jawabku pelan dengan wajah sumringah.
"Tapi kalo bukan tangan hebat kamu yang bimbing aku, mana bisa aku punya segalanya sekarang. Rumah atas nama aku, mobil atas nama aku. Nanti insyaAllah perusahaan juga atas nama aku. Papa mama pasti bangga sama aku, mas!"
"Kamu suka kirim doa ga, ke mereka?"
"Hanya doa sedikit sebelum tidur, mas!"
"Kapan-kapan kita ke panti asuhan sama panti jompo ya, sodakoh atas nama kedua orangtuamu. Mereka pasti senang dapat kiriman doa!"
"Mau, mas! Iya! Makasih banyak mas udah ngingetin aku. Nanti aku ajak mas sowan kemakam mereka. Mas mau khan?"
__ADS_1
"Boleh. Kita cari waktunya yang pas nanti!"
Vika lagi-lagi menciumku dan memeluk pinggangku erat.
"Geli, ah! Jangan becanda deh, lagi nyetir niih! Oiya, kata kamu tempo hari...kamu udah punya kandidat sopir. Gimana, bener?"
"Iya, mas. Orangnya ganteng. Baik hati, tanggung jawab juga sayang keluarga. Mirip mas!" kata Vika membuatku berdegub keras.
"Gitu ya? Ganteng banget ya?"
"Dia juga baik banget mas! Sopan juga jujur. Pokonya tipeku banget deh!"
"Gitu ya? Tipe kamu banget. Hebat dong!"
"Kamu koq ga ngegas mas? Biasanya langsung keluar asap dari kepala, hidung, telinga. Hihihi....!"
"Kamu lagi godain aku ya??"
"Hahaha.... mas, mas! Namanya pak Iksan. Umurnya 54 tahun. Dia supir setia papa dulu, mas! Alhamdulillah kami ketemu lagi waktu aku pulang seminar tempo hari."
Aku mencubit pipi Vika pelan. Vika tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku yang mulai tak karuan ketika ia menjelaskan profil supir yang sudah ia pilih.
"Nakal, yaa....! Seneng bener liat aku senewen yaaa...!" kataku gemas pada Vika.
Aku mengantar Vika dengan hati riang.
"Aku ga bisa lama-lama, ya? Aku harus cepat pulang. Bantu Ranti beres-beres. Ga apa ya?"
"Padahal aku masih kangen banget, mas!"
"Maaf, honey! Aku juga masih pingin ngobrol. Tapi apa daya!" Kami saling bertatapan. Ada rindu dan kesedihan dibola mata kami.
"Aku suka panggilan kamu. Honey, artinya madu. Pinter banget sih masku ini! Aku madunya Ranti, ya?"
"Aku biasa panggil Ranti sayang. Dan aku ingin panggil kamu honey. Aku ingin berusaha membahagiakan kalian berdua. Orang-orang yang sangat berharga dikehidupanku. Ga apa khan, kalau aku serakah?"
Vika memelukku erat. Ia mengangguk meski matanya berkaca-kaca.
"Kuharap Ranti bisa menerima hubungan kita ya, mas suatu hari nanti!"
"Aamiin!"
Kukecup kening Vika dengan lembut. Menggenggam kedua jemarinya lalu kucium mesra. Kutatap wajah cantiknya dengan penuh cinta.
"Kamu pulang naik apa?"
"Ga usah mikirin aku. Aku bisa naik ojek koq dari depan perumahan sana!"
"Ga apa kah, mas? Andai aku bisa nyetir, aku antar!"
"Hehehehe... Aku ga izinin kamu bawa mobil. Aku lebih setuju kamu duduk manis dibelakang pak Iksan. Okey?"
"Okey, boss!"
"Bye honeyku! Jangan lupa kunci mobil, rumah juga jendela. Kompor periksa sebelum tidur. Dan doa selalu untuk kebahagiaan kita! Sweet dream, honey!"
__ADS_1
Aku berjalan meninggalkan Vika yang terus memandangku. Hatiku penuh dengan cinta. Membuat pipiku terasa panas memerah. Hhh.... begitu dahsyatnya cinta ini. Aku benar-benar hanyut didalamnya.
Bersambung-