
Hari-hariku bersama dua bidadari duniaku begitu indah. Walaupun harus bermain petak umpet, aku merasakan kebahagiaan luar biasa.
Entah bagaimana kini hatiku. Lelaki yang baik atau lelaki yang jahat. Aku tak bisa menilai diriku lagi. Aku baik, karena memberi dua wanita terhebat dalam hidupku cinta yang nyata. Kulimpahkan kasih sayang semampuku untuk mereka. Tapi aku jahat, membagi cinta dan diriku kepada mereka. Bahkan aku terlalu jahat dengan tindakan kejamku membohongi Ranti dan menghujam cintanya dari belakang.
Sejujurnya akupun merasakan sakit dan kelelahan memainkan peranku saat ini. Tapi apa daya, Ranti bukanlah wanita yang mudah membagi. Ia bukan wanita yang plin plan yang bisa mengganti prinsipnya dengan sembarang.
Aku beruntung, Vika tidak pernah menekanku untuk statusnya. Ia tak pernah sekalipun membuatku merasa semakin bersalah menempatkan keduanya disisi kiri dan kananku.
Tapi aku takut dan malu pada Penciptaku karena kelakuanku yang dajal. Aku semakin takut jatuh terperosok dengan zinah yang berkepanjangan. Ibuku pasti akan selalu menangis dialam kuburnya melihat tingkah polahku yang menjijikkan. Belum lagi ayah dan juga saudara-saudaraku. Akankah mereka tetap berdiri membelaku bila kelakuan bejadku sampai terbongkar dan diketahui mereka.
Belum lagi Ranti yang pasti akan mengusirku mentah-mentah bila ia mengetahui hubungan terlarangku dengan Vika.
Vika ternyata cukup pintar mengendalikan situasi. Ia semakin merapat Ranti dengan bekerja sama membuka butik dan perusahaan konfeksi dengan nama mereka berdua dan juga jingga. Vika Ranti Jingga. Aku sengaja tidak terlalu ikut andil dalam pekerjaan mereka. Aku hanya menjadi Dirut formalitas karena belum pernah sekalipun melihat apalagi bekerja di perusahaan kecil mereka. Aku hanya memeriksa buku keuangan pengeluaran mereka diawal-awal. Menyetujui segala pembelian mesin jahit dan peralatan konveksi lainnya sebagai modal awal.
Ranti mengurus pemasaran melalui online hingga tetap tidak mengurangi tugasnya mengurus Jingga. Sementara Vika mengurus semua keadaan di butik dan di tempat konveksi. Aku bangga dengan kedua wanitaku.
Tanpa terasa semua bergulir dengan begitu cepat. Hampir 4 bulan sudah hubungan cintaku dengan Vika tanpa diketahui Ranti dan keluarga besar kami.
Walau kadang kudengar celetukan Vika kalau ia bagai istri keduaku setelah Ranti yang istri pertama. Reaksi Ranti hanya cuek bahkan tertawa lepas seolah itu hanyalah gurauan Vika saja.
Hari ini hari minggu, seperti biasa aku libur dan beristirahat dirumah. Kadang kami pergi piknik bersama Vika juga. Atau tak jarang Vika yang lebih sering menyambangi rumah kami untuk bersantai bersama mulai dari makan siang hingga makan malam. Pak Iksan supir pribadi Vika juga sudah seperti keluarga kami. Karena kami juga selalu melibatkan beliau dalam segala hal. Bahkan aku dan pak Iksan membuat perjanjian tak tertulis untuk selalu menjaga dan mendampingi Vika dimanapun dan kapanpun selama aku tidak bersamanya.
Sepertinya beliau sudah bisa mengendus perihal hubungan rahasiaku dengan Vika. Tapi seperti kata Vika, beliau adalah orang kepercayaan orangtuanya dulu karena dedikasi dan loyalitasnya pada keluarga Vika. Dan tak pernah pak Iksan ikut campur terlalu dalam pada urusan kami. Ia mengurus keluarga Vika sejak Vika masih kanak-kanak. Kini ia kembali menjadi supir pribadi Vika dan tinggal dirumah Vika. Sesekali pak Iksan pulang kerumah anaknya yang tinggal diBojong Gede. Ia dan istrinya telah bercerai 4 tahun lalu dan tidak punya keinginan menikah lagi katanya.
Pintu rumah kami diketuk beberapa kali. Kubuka dan terlihat Vika menghambur kepelukanku berurai airmata membuatku begitu terkejut. Vika memelukku erat.
Ranti yang kebetulan ada dibelakangku dengan menggendong Jingga ikut kaget melihat tingkah Vika.
"Kenapa Vika?" tanyaku merespon pelukannya.
"Orang itu mas.... orang gila itu ada disini mas! Dijakarta ini. Dia hampir saja menangkapku, maaas!" teriak Vika histeris ditengah isaknya yang keras.
Ranti seperti bisa menebak ucapan Vika. Ia memberikan Jingga padaku dan merangkul Vika serta membimbingnya ke sofa. Vika menangis keras dipelukan Ranti. Aku menatapnya lama. Masih belum bisa mencerna arah pembicaraan Vika.
__ADS_1
Ranti mengambil segelas air putih hangat dan memberikannya pada Vika.
"Pak Iksan mana?" tanyaku setelah tangis Vika mereda.
"Masih di supermarket. Aku lari kesini naik taxi. Tanganku sempat ditarik Arif, mas!" katanya memperlihatkan lengannya. Benar saja, merah dan ada goresan panjang sedikit berdarah. Ranti memekik lalu memeluk Vika lagi berusaha menenangkannya.
Kuberikan Jingga pada mbok Sur. Mengambil kotak obat dan segera memberinya obat antibiotik.
"Orang itu ikutin kamu ga?" tanyaku geram. Vika hanya menggeleng masih dengan lelehan airmata dipipinya.
"Tutup semua sosmed kamu, Vika! Sudah kuingatkan, jangan terlalu sering memposting apalagi pamer semua kegiatanmu disitu."
"Aku pikir orang gila itu ga akan mencariku lagi, mas! Aku sudah ibarat sampah buatnya!"
"Kita harus siap. Suatu saat pasti dia bakalan menemukanmu lagi!"
"Maaas! Aku takuuuut...! Aku gak mau liat mukanya lagi. Aku takut ketemu dia lagi!"
Aku menarik nafas. Berlalu meninggalkan Vika dan Ranti agar mereka bisa saling berbagi ruang untuk kesedihan Vika.
"Memang urusanmu dengan Arif harus diselesaikan, Vika!"
"Apalagi yang harus diselesaikan. Semuanya sudah selesai. Rumah tangga kami bahkan sudah 7 hampir 8 bulan usai. Menurut hukum agama dan negara semuanya sudah tak ada lagi!"
"Sebentar! Aku telfon dulu pak Iksan. Sepertinya beliau ga tau kejadian yang menimpamu di supermarket."
"Pak Iksan masih diparkiran, mas! Tadinya dia mau ikut aku, tapi aku bilang ga usah...cuma sebentar. Aku panik sampe langsung masuk taxi tancap gas kemari, mas!"
"Mas! Gimana kalo malam ini Vika nginap dirumah kita aja dulu. Biar tenang juga, Vikanya. Boleh ya mas?" Ranti membujukku membuatku menelan ludah. Mengangguk.
Kutelfon Pak Iksan menyuruhnya kembali kerumah Griya. Kukatakan kalau malam ini Vika menginap dirumah kami. Dan memintanya menjaga rumah kalau-kalau ada orang tak dikenal dan mencurigakan mengawasi rumah Vika. Kuceritakan kalau Arif sudah menemukan Vika. Kata Vika, Pak Iksan mengenal Arif sebelumnya. Jadi pasti beliau masih ingat dengan wajah Arif.
Sudah pasti pak Iksan terkejut bukan kepalang. Ia menyesal telah meninggalkan Vika sendirian ke dalam supermarket.
__ADS_1
"Lain kali kalo kamu ketemu Arif, jangan menghindar ketempat sepi. Cari tempat keramaian dan juga sekuriti! Kalau perlu, lari kekantor polisi, ya?"
"Makan dulu, yuk Vik?" ajak Ranti pada Vika.
"Maaf, Ran... Kalian makan aja duluan. Aku masih belum lapar. Biar aku duduk disini dulu ditemani mbok Sur sama Jingga!"
"Makanlah dulu, Vika! Biarpun cuma beberapa suap. Kamu harus makan, kamu harus kuat. Kalau nanti kamu ga makan, kamu sakit. Buat apa mikirin lelaki gila yang suka mukulin kamu itu! Rugi! Ayo makan! Kami ada disini buat jaga kamu!" aku memaksanya dengan tegas. Vika akhirnya menurut. Ikut makan bersama kami. Dan ternyata justru makan banyak karena Ranti masak sayur asem kesukaannya. Aku tersenyum melihatnya perlahan lupa dengan kejadian yang menimpanya.
Aku senang dan sedih melihat Vika. Tapi tak bisa berbuat banyak. Aku harus menahan diri untuk tidak menyentuhnya apalagi mengucapkan kata mesra padanya. Padahal saat ini Vika butuh sekali perhatianku. Butuh perlindunganku. Tapi apalah dayaku.
Vika mengetuk pintu kamar kami.
"Maaf,.. boleh aku tidur bareng kalian? Aku takut.... kalau ada orang tiba-tiba masuk kamar," Vika terbata-bata membuatku iba melihatnya. Ingin sekali memeluknya. Memberinya kehangatan dan kenyamanan disaat seperti ini.
"Masuklah! Kamu tidur disini bareng Ranti. Aku tidur disofa depan."
"Mas," Vika memandangku dengan perasaan tak enak.
"Ga apa. Aku ngerti koq, jangan kuatir! Masuklah sini!" aku memegang kepalanya sebentar ketika berpapasan dengannya dipintu kamar. Hhh... aku sungguh tak kuat menahan diri.
"Makasih ya mas!" suara Vika dan Ranti bersamaan membuat jantungku berdegub kencang.
Aku duduk disofa sendiri. Menela'ah apa yang telah terjadi pada Vika hari ini. Arif kembali. Sepertinya orang itu memang sengaja mencari Vika. Entah kali ini apakah ia bermaksud baik atau masih seperti dulu belum puas menyiksa tubuh dan hati Vika. Aku geram sendiri.
Mengingat cerita Vika yang menceritakan kalau lelaki itu adalah iblis yang kejam padanya dan kedua orangtuanya. Lelaki yang bermulut manis diawal dan berakhir sadis dengan mengeruk habis semua harta kekayaan Vika dan keluarganya. Berarti aku harus bersiap juga dengan segala hal yang terburuk nanti. Aku harus bersiap menjadi tameng Vika. Apapun yang terjadi.
Aku ingat beberapa teman diperguruan silat Badak Putih. Mungkin aku bisa meminta bantuan mereka menjaga Vika. Aku kuatir Vika mendapat kekerasan lagi dari Arif nanti. Apalagi aku tidak mungkin menjaganya selalu disaat ini.
Aku meminta beberapa orang kerabat atau anak buah temanku yang mengajar silat di Badak Putih, untuk menjadi bodyguard Vika dalam sebulan. Aku berani kasih bayaran 10 juta per orang dan aku minta 2 orang untuk menjaga Vika 24 jam selama 1 bulan. Syukurlah temanku menyanggupinya.
Dan semuanya akan siap menjaga Vika terhitung besok pukul 7 pagi.
Bersambung-
__ADS_1