AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
LEMBAR SURAM


__ADS_3

Aku diopname dirumah sakit selama 11 hari. Dengan berbagai pemeriksaan kesehatan, cek dan ricek hingga test sitologi dahak juga bronkoskopi. Akhirnya dokter memberitahukan kalau aku terindivikasi mengidap kanker paru stadium satu.


Ya Allah! Seperti dugaanku. Ada yang salah dengan pernafasanku akhir-akhir ini. Dan inilah azab terakhirku, mungkin karena semua dosa yang telah kulakukan.


Aku bersyukur,... itu pertanda Allah sayang aku. Allah ingin membersihkan jiwa dan hatiku agar semakin mendekat pada-Nya setidaknya sedikit menghapus dosa-dosaku dimasa lalu. Alhamdulillah!


Dokter memberiku semangat. Karena katanya kankerku masih bisa diobati dan 70 % kemungkinan sembuh total bisa kudapatkan dengan menjalani semua treatment pengobatan. Tapi kita manusia hanya bisa berencana, Tuhan jualah yang menentukan.


Aku ingin mampir dulu ke Salemba untuk sekedar curhat pada bang Sobri. Lebaran tinggal menghitung hari. Aku pernah berjanji akan menengoknya lagi sebelum hari raya tiba. Aku ingin menepatinya.


Kami berbincang hangat dan cukup lama karena mendapatkan bonus tambahan di jam kunjungan. Aku senang melihatnya selalu fight dan sehat seperti biasa.


"Bang, kapan kau keluar? Mintalah remisi karena kamu selalu berkelakuan baik. Aku kuatir tidak bisa menepati janjiku untuk bisa bersamamu setelah abang keluar nanti!"


"Apa maksudmu, Dika? Kamu udah bosan ya sama aku? Mau rubah janjimu dulu akan mengurusku setelah aku keluar dari sini!"


"Aku sakit, bang! Kanker paru stadium 1! Aku takut malaikat Izroil menjemputku lebih dulu sebelum abang menikmati dunia kebebasan!"


"Hei, anak bodoh! Bukan kau yang lebih dulu mati, tapi aku! Umurku udah 60 tahun lebih, otomatis giliranku dipanggil Yang Kuasa lebih dulu lah!" Aku tertawa mendengar kata-kata bang Sobri. Aku tahu, itu adalah kalimat semangat darinya untukku.


"Kamu sekarang banyak uang! Berobatlah yang benar! Kamu pasti bisa sembuh! Kamu bisa terus mendampingi putrimu, menjaga dan mendidiknya hingga ia remaja. Kamu juga harus mengantarkannya kepada pria yang tepat yang akan menggantikanmu menjaganya. Baru setelah itu, matilah kau!"


Aku tersenyum menunduk. Hatiku mengamininya. Tapi aku pesimis. Ibuku juga meninggal diusianya yang baru 42 tahun karena leukimia. Saat itu usiaku baru 17 tahun dan masih sekolah kelas 2 SMA. Hhh....


Aku bersyukur kanker paru bukan penyakit menular. Aku tidak harus menjaga jarak dengan putriku satu-satunya yang sangat kusayang.


Setelah menjenguk bang Sobri, aku pulang ke Bojong. Aku senang melihat Jingga yang sudah kembali lagi ceria seperti sediakala. Anak itu mempunyai kepribadian yang luar biasa. Jingga ternyata anak yang lebih kuat dan tahan banting melebihi ekspektasiku. Jingga sepertinya sudah bisa melupakan kejadian mengerikan yang dialaminya beberapa minggu lalu.


Aku sengaja mampir mengambil uang di ATM sebelum pulang. Kumasukkan 30 lembar uang seratus ribuan kedalam amplop. Aku ingin memberikannya kepada Ranti untuk digunakan membeli beberapa stel pakaian lebaran Jingga. Sedikit memang, tapi apa mau dikata. Aku juga masih harus mengurus beberapa keperluan lain selain tahlilan ayah dan juga uang saku Hera.

__ADS_1


"Jangan, mas! Mbak Rosa setiap bulan mengirimiku uang 3 juta lewat kurirnya. Katanya itu dari kamu, mas! Itu lebih dari cukup untuk Jingga."


"Ambillah, Ranti! Kumohon! Sudah berapa tahun aku tidak melakukan kewajibanku membelikan baju lebaran untuk Jingga. Pergilah ke pasar bersama Jingga! Belikanlah pakaian yang bagus, supaya anakku semakin terlihat cantik dihari Raya nanti! Kumohon Ranti! Aku tidak bisa membelikannya sendiri! Aku minta tolong kamu yang belikan!"


Akhirnya Ranti menerima amplop dariku. Aku minta izin untuk masuk kerumahku karena ingin beristirahat pasca keluar dari rumah sakit.


Mulai hari ini obat-obatan menjadi penyokong hidupku. Dokter memberikannya padaku untuk dikonsumsi setiap hari agar aku sembuh dari penyakitku. Hhhh....


Rosa dan mas Anang memberiku cuti hingga seminggu hari Lebaran. Mereka terlalu baik padaku, membuatku semakin malu hati. Aku selalu menyusahkan mereka, ya Allah! Engkaulah Allah Yang Maha Pemberi yang hanya bisa membalas kebaikan mereka!


Hari-hariku dirumah sudah seperti tuan besar. Hanya makan, tidur dan bermain dengan Jingga.


Jingga kini sedang terobsesi dengan alat make up mainan. Jadilah aku modelnya yang siap untuk didandaninya sesuka hati. Aku hanya pasrah saja. Tapi aku bahagia ya Allah! Aku bisa bersama Jingga melewati hari-hari sepiku dengan canda tawanya yang kini sudah menjadi candu.


Hari Raya tiba. Kami bertiga berbahagia bersama. Walau hanya sekedar tetangga, dan meminta maaf satu sama lain dengan hati tulus dan niat melupakan masa lalu. Kami bisa melewatinya dengan cukup tenang dan damai. Kami saling interopeksi dan menjaga jarak satu sama lain karena kami kini hanyalah sekedar tetangga dan tak ingin pula orang menilai kami dengan fikiran buruk dan omongan yang jahat.


...


Hari minggu ini hari terakhir liburku. Senin besok aku sudah harus kembali kerja membantu Rosa dan mas Anang. Aku ingin kepasar membeli beberapa kebutuhan sembako yang sudah habis didapur dan juga lemari esku. Minggu ini aku sendirian karena Jingga tengah menginap dirumah Hardi adiknya Ranti.


Ditengah jalan aku melihat Ranti sedang berbincang dengan dua orang lelaki. Tapi dari gelagatnya aku melihat seperti ada yang tidak beres. Terlebih setelah menyaksikan Ranti menepis tangan satu pria yang lebih mirip preman.


"Mbak Ranti! Aku tau kamu janda, jadi jangan sok jual mahal!" kata lelaki itu membuatku marah dan berlari menjambak rambut kucelnya. Kujotos muka jongosnya yang menjijikkan berkali-kali hingga darah mengucur keluar dari lubang hidungnya.


"*******!!! ******** tengik!! Kau pikir karena dia janda, kau bisa seenak udelmu melecehkannya? Bagaimana kalau ibumu yang janda? Bagaimana kalau adik atau kakak perempuanmu yang menjadi janda? Kau akan melecehkannya juga seperti kau melecehkan Ranti?? Sialan kau!!!!"


"Ampun, bang, ampun!! Maaf bang!"


Kedua pria tengik itu lari tunggang langgang setelah mendapat bogem mentahku. Bahkan yang satunya hingga mengucurkan banyak darah berceceran. Hatiku sakit seperti teriris . Rantiku dilecehkan pria-pria kurang ajar karena aku! Karena akulah yang menjadikannya janda!!!

__ADS_1


Airmataku jatuh dan segera kuhapus karena malu dilihat orang. Kutuntun tangan Ranti menjauh dari kerumunan orang ditengah pasar sebelum kami semakin tenar menjadi tontonan orang.


"Terima kasih, mas!" kata Ranti pelan membuatku semakin tenggelam dalam penyesalan.


"Harusnya kamu marah padaku! Harusnya kamu melampiaskan emosimu padaku Ranti, karena akulah kamu menjadi janda! Status yang sangat tidak enak dipandang orang!"


Kami hanya duduk diam dengan wajah menunduk diteras depan rumah Ranti.


"Kenapa kamu tidak jadi menikah dengan Abi, Ranti? Dia lelaki baik. Dia juga kulihat sangat menyayangi Jingga! Aku pikir kalian telah melangsungkan pernikahan ketika ayahku tiada."


"Aku menolak Abi 5 bulan yang lalu. Aku merasa tidak pantas untuknya. Pria itu terlalu baik untukku, mas! Abi berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku!"


"Dia mencintaimu. Aku tahu sejak ia menghubungi dan mengajakku bertemu 10 bulan lalu. Itu sudah membuktikan bahwa ia cinta dan serius menjalani hubungan denganmu."


"Abi masih bujangan. Sedang aku, hanya seorang janda dengan satu anak!"


"Jangan rendahkan dirimu seperti itu, Ranti! Kamu adalah wanita yang istimewa. Banyak pria yang tertarik padamu. Kamu cantik luar dalam. Kamu indah sekali ditengah kesederhanaanmu."


"Aku tahu saat ini mungkin ia mencintaiku. Satu, dua hingga tiga tahun kedepan ia pasti akan selalu ada disampingku. Tapi empat, lima atau enam tahun kemudian, siapa yang tahu... Bagaimana kalau rasa penasarannya timbul ingin mencoba gadis yang belum pernah ia rasakan. Dan siapa yang bisa menjamin cintanya takkan berubah bila ada seorang gadis terpukau dan mengejar-ngejar dia. Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama. Aku takut gagal lagi, mas!"


Aku hanya terdiam merenungi ucapannya. Ternyata perceraian juga membuat dampak yang sangat besar untuk dua insan yang pernah mengalaminya. Selain ketakutan memulai hidup baru, juga trauma dan tekanan yang membuat psikologi seseorang yang mengalaminya menjadi luka permanen yang tak kunjung sembuh.


Ranti! Maafkan aku, Ranti! Aku hanya bisa merutuki diriku yang kadung membuat luka di hatimu.


Ya Allah! Berilah kebahagiaan pada Rantiku! Mantan istriku! Sembuhkanlah lukanya hingga ia bisa melangkah maju menjalani kehidupannya. Usianya masih 35 tahun. Masih banyak waktu untuknya menjalani hidup. Tidak seperti aku, calon mayat yang sudah menerima sertifikat dari-Mu untuk segera get out dari muka bumi ini entah satu atau dua tahun lagi.


Ya Allah! Jangan berikan Rantiku kesedihan lagi! Kumohon, ya Allah! Berilah ia kebahagiaan! Agar ia bisa melupakan semua kenangan buruk dan masa lalu yang pahit ketika bersamaku. Aku hanya bisa memohon kebaikan untuknya pada-Mu! Kabulkan doaku ya Allah!


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2