AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
HARI YANG PANJANG


__ADS_3

Aku berharap perasaan tulus pertemananku dengan Arif akan sama juga kebalikannya. Aku coba husnuzon saja. Terlalu curiga dengan sesuatu yang belum tentu terjadi juga tak baik. Aku hanya memohon pada Allah, Arif Borne bisa menjadi teman yang baik. Meski kami pernah berada diposisi saling serang karena hubungan gelapku dengan Vika. Tapi sejujurnya, aku menerima sikap Aris padaku dulu. Memang akulah yang salah. Masalah dia dan Vika seharusnya aku tidak ikut campur terlalu dalam yang justru menjadi batu sandungan kehidupanku kini.


Hhhh.... Lembaran kotor itu tak ingin kubuka lagi.Mungkin sebagian besar orang memandangku aneh. Terlebih kini bisa berteman bahkan berjalan seiring dengan Arif. Sedang dialah orang yang telah menjebloskanku ke penjara dan membuatku hancur berkeping-keping.


Tapi kini hatiku tidak lagi sakit dan terluka. Semua seperti sirna, menguap entah kemana. Kulihat Arif Borne juga kini menjadi berbeda. Ia terlihat begitu welcome membuka diri memulai lebih dulu beramah tamah denganku. Apa karena kita pernah menangis berdua, dikursi taman kompleks perumahan pak Anjar disiang hari bolong. Entahlah! Seolah akupun merasakan dan melihat sendiri hatinya yang kosong, karena kesedihan yang mendalam ketika menceritakan kisah keluarganya.


Aku tiba di stasiun Gondangdia pukul 9 lewat. Ternyata Arif sudah lebih dulu tiba disana. Ia melambaikan tangannya padaku dari kejauhan sekitar 10 meter dariku.


Aku tersenyum menghampirinya.


"Sori, telat! Nunggu lama ya?"


"Ga koq, aku juga baru datang seperempat jam yang lalu!" Ia menyerahkan satu kartu commuter line padaku.


"Udah beli tiket rupanya! Thanks!"


"It's okay! Yuk, lanjut!"


"Berangkaaat!" Aku dan Arif tertawa berbarengan. Kami naik eskalator menuju atas menunggu kereta arah Bogor datang dan membawa kami.


Diperjalanan aku menceritakan kronologisnya bu Hafsah menjual rumah. Kemungkinan sertifikat rumahnya masih dipegang si rentenir yang meminjamkan uang pada anaknya. Jadi aku memberitahu Arif agar tidak terlalu percaya dan menyerahkan uang begitu saja pada orang lain selain bu Hafsah. Arif bilang dia tidak membawa uang tunai dulu saat ini, dan aku menyukai caranya berbisnis. Ia ingin melihat dan mendengar lebih dulu secara langsung, rumah dan sertifikatnya. Baru setelah itu ia akan mencairkan uangnya. Aku tenang, ternyata Arif bukan orang yang mudah mengucapkan kata-kata picisan. Sepertinya sekian lama diangkat anak pak Anjar, ia telah banyak belajar dari beliau.


Seperti biasa, kompleks perumahan tempat tinggal Ranti terlihat adem dan hening meskipun posisinya tak jauh dari jalan raya dan juga stasiun kereta.


Aku mengajak Arif langsung mengetuk pintu rumah bu Hafsah. Tak lama bu Hafsah keluar karena sebelumnya aku sudah mengabari kalau akan datang siang ini. Kami dipersilahkan masuk kedalam dan ternyata dua anak lelaki bu Hafsah pun sudah ada didalam.


Setelah mengobrol serius panjang lebar, Arif meminta izin melihat kondisi rumah bu Hafsah. Memang sudah cukup tua. Masih terlihat baik hanya ada beberapa bagian yang sudah agak lapuk. Arif mengangguk.


Mereka mengobrol lagi serius perihal sertifikat rumahnya. Seperti dugaanku, memang sertifikatnya masih ada ditangan rentenir. Kami sepakat untuk mendatangi rumah orang itu untuk membereskan hutang piutang bu Hafsah dan mengambil sertifikatnya.


Jam 1 siang kami masih berada dirumah pria paruh baya yang telah memberi pinjaman pada anak bu Hafsah dengan bunga tinggi itu. Semua sudah sepakat. Arif menelfon seseorang untuk membawa uangnya kesini. Ternyata anak ini punya banyak anak buah juga rupanya. Aku baru ingat, dengan mudahnya ia menjebloskanku kepenjara dengan barang bukti yang banyak sekali.


Ada satu jam kurang, kami menunggu orang kepercayaan Arif datang. Akhirnya bu Hafsah dan kedua anaknya menandatangani surat perjanjian bahwa hutang piutang mereka telah lunas dan tidak ada lagi sangkut paut atau sengketa dengan rentenir itu. Dan sertifikat berpindah tangan kembali ke bu Hafsah.


Hampir setengah dua siang. Kami pun mampir singgah dimasjid sebelum pulang kembali ke rumah bu Hafsah.


"Maaf, jadwalmu ketemu anak jadi terganggu gara-gara aku!" bisik Arif membuatku tersenyum tipis.


"Rumah Ranti juga sepertinya sepi. Mungkin mereka masih di Depok dan belum pulang! Mungkin menunggu suaminya jemput dari pulang kerja!" kataku pelan.


"Maksudnya? Mantan istrimu sudah menikah lagi?"

__ADS_1


"Kemungkinan besar. Soalnya setengah tahun yang lalu ada pria muda datang padaku meminta izin untuk mendekati istriku."


"Beneran??" Aku mengangkat bahu tersenyum kecut. Arif menghela nafas seraya menepuk bahuku beberapa kali. Sepertinya itu kode agar aku tabah menghadapinya.


Kami kembali kerumah bu Hafsah. Aku menengok pintu rumah Ranti yang sedikit terbuka. Sepertinya mereka sudah dirumah.


Arif seperti tahu apa yang ingin kusampaikan. Ia mengangguk mengedipkan matanya seolah menyuruhku pergi meninggalkannya yang masih ada urusan dengan bu Hafsah.


"Bu, saya mau pamit duluan. Sepertinya Jingga sudah pulang. Saya mau nengok anak saya dulu! Teman saya saya tinggal dulu disini!"


"Oh iya, mas! Iya ya...sepertinya mereka sudah pulang tadi! Ibu lupa beritahu papanya Jingga."


"Tidak apa-apa, bu!" Aku pamit dengan bersalaman kepada bu Hafsah dan kedua anaknya serta orang yang membawa uang Arif.


Aku degdegan berjalan menuju pintu rumah Ranti yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah bu Hafsah. Hhhh.. Bismillah, moga Ranti menerimaku bertamu kerumahnya hanya untuk sekedar menengok Jingga.


"Assalamualaikum!"


"Alaikum salaaam..." Ranti berdiri didepan pintu dengan termangu. Aku gugup dipandanginya seperti itu.


"Mas Dika?.... Jinggaaa, papa datang, nak!" Ranti masuk kedalam rumah berteriak memanggil Jingga. Tanganku basah berkeringat. Lidahku kelu tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menunduk menatap keramik lantai teras rumah Ranti.


"Papaaaa....!" Aku tak bisa menahan airmata. Tetesan-tetesan itu mengalir tanpa kuminta.


Anakku sayang! Jingga-ku tersayang! Aku memeluknya erat sekali hingga tersadar kalau pelukanku bisa saja menyakitinya. Segera kulepas dekapanku padanya.


"Papa kenapa baru main kemari lagi?" tanyanya dengan polos. Tangannya merangkul leherku erat. Bergelayut manja padahal hampir setengah tahun kami tak berjumpa. Ternyata anakku tetap merindukanku sebagai ayahnya.


Aku tersenyum dengan lelehan airmata. Tak bisa menjawabnya hanya terdiam memandangi wajah imutnya. Kutatap mata beningnya dalam-dalam. Anakku terlihat sehat dan ceria seperti biasa. Ranti memang ibu yang hebat! Aku senang melihat anakku tumbuh besar dan tambah tinggi.


"Papa ga kangen Jingga ya?"


"Papa kangen sayang! Kangeeeeen banget!"


"Papa sibuk ya? Kerjanya jauh ya?"


"Iya, nak!"


"Jingga khan sudah sekolah. TK nol kecil."


"Alhamdulillah... Anak papa sudah besar ya?"

__ADS_1


Ranti masuk kedalam membiarkan aku dan Jingga dengan segala rasa dihati kami.


"Papa sakit ya? Papa kurus. Ini rambutnya koq diikat. Kaya kangkung hahahaha...!" Jingga tertawa terbahak-bahak menertawakanku sambil terus menggelayut dibahuku. Tangan mungilnya memainkan kunciran rambutku.


"Besok papa potong rambut deh, Jingga ga suka rambut papa ya?"


"Jingga suka. Jingga bisa kepang-kepang dong kaya boneka berbi punya Jingga! Boleh, pah?"


"Boleh! Terserah Jingga, papa nurut deh!"


Ranti keluar dengan membawa secangkir teh dan sepiring kue-kue. Ia terlihat kikuk. Aku tahu, pertemuan kali ini membuatnya lebih canggung setelah terakhir kali aku berulah dan bertingkah sangat menyebalkan.


"Apa kabar, mas?" tanyanya agak ragu. Aku tersenyum memandangnya sekilas. Lalu kembali fokus pada Jingga. Aku juga gugup. Khawatir ia salah faham apalagi mungkin kini statusnya telah menjadi istri orang. Aku tidak boleh lagi terbawa perasaan. Aku harus bisa menjaga pandanganku dari omongan orang sekitar.


"Kamu selama ini kemana, mas?" tanyanya lagi agak lama. Aku duduk diteras menghadap jalan.


"Aku tinggal dirumah kerabat seorang teman, Ranti!"


"Kukira mas membenciku hingga tak mau melihatku lagi juga Jingga."


"Aku justru yang takut kamu membenciku. Maaf, aku sudah lama tak menengok Jingga! Aku tak ingin....hhhhh... maaf, nomor handphoneku yang dulu terblokir. Jadi aku ganti kartu. Aku juga ga bisa menelponmu lebih dulu kalau mau kesini untuk nengok Jingga. Tolong sampaikan maafku pada Sofyan Ali! Maafkan semua kesalahanku, Ranti! Terakhir kita ketemu, aku membuatmu menangis lagi. Maaf!" Aku menunduk memainkan cangkir berisi teh karena gugup.


Ranti diam tak menjawab. Ikut duduk dan akhirnya memperhatikan Jingga yang senang bermain-main dengan rambutku.


Kurang satu jam aku bermain dan bercanda dengan Jingga. Aku memeluk anakku bahagia. Mencium pipinya pelan.


"Papa pamit ya nak!"


"Papa mau kemana? Papa khan baru datang, masa mau pergi lagi?" Jingga sudah bisa memprotesku membuatku bingung menjawabnya.


"Nanti papa kemari lagi, nengok Jingga! Maaf, ya sayang? Papa ga bisa lama-lama disini. Jingga anak pintar, pasti mengerti maksud papa! Oiya, salam ya sama abi!"


Jingga masuk kedalam rumah. Ia ngambek padaku. Terdengar suara tangisnya yang keras membuatku serba salah.


"Jingga, jangan nangis sayang! Papa akan kesini lagi. Papa janji, kalo papa libur kerja, papa kesini lagi buat main sama Jingga. Yaa??" Aku sedih anakku menangisiku yang hanya sebentar mengunjunginya. Aku juga sedih, tapi harus tahu diri dan batasanku kini.


Ranti terlihat menyeka airmatanya cepat-cepat. Aku hanya bisa mengucapkan salam. Aku pamit dengan langkah gontai. Dengan hati sedih mendengar tangisan Jingga dari kejauhan.


Hhhh.... Mau bagaimana lagi. Aku tak bisa bertindak lebih jauh. Membawa Jingga menginap ditempatku rasanya belum memungkinkan. Selain usianya yang masih kecil, Jingga juga tak bisa jauh dari Ranti begitupun sebaliknya. Makanya awalnya aku begitu tertarik untuk membeli rumah bu Hafsah agar aku bisa berdekatan dengan anakku Jingga. Tapi apa mau dikata. Kini rumah bu Hafsah telah jadi hak milik Arif. Allah telah memiliki rencana lain untukku, juga Jingga. Hanya saat ini aku tak tega mendengar tangisan Jingga karena aku. Ya Allah.... tolonglah hamba-Mu ini!


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2