AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
MENITI HARI LAGI


__ADS_3

Hari-hariku masih sama seperti yang lalu-lalu. Menyibukkan diri dengan semua pekerjaan yang menyita waktuku hingga nyaris tak ada waktu berfikir sedih apalagi menangis memikirkan batas waktu yang telah Allah tentukan lewat penyakitku.


Aku tidak terlalu memusingkan lagi masalah hidup atau mati. Aku hanya pasrahkan pada Sang Illahi Robbi.


Suatu ketika aku menginap dirumah almarhum ayah yang kini ditempati Hera, Hera mendapati obat-obatku ditas ranselku. Ia terkejut dan bertanya mengenai macam dan jenis obat yang banyak itu. Aku hanya bilang kalau itu hanya vitamin penambah berat badan dan juga obat penafsu makan.


Awalnya Hera percaya, tapi setelah seharian ia memikirkannya, ia menekanku untuk jujur bercerita padanya sebelum ia marah karena aku menyimpan rahasia.


Akhirnya dengan terpaksa kukatakan pada Hera tentang penyakitku ini. Adikku langsung menangis memelukku. Ia tidak ingin aku cepat meninggal membuatku tersenyum melihat tingkahnya seperti bocah seusia Jingga.


Aku berjanji akan mengikuti treatment dan berbagai pengobatan atas saran dokter agar sel kankerku bisa diobati sebelum menyebar ke kelenjar getah bening dan alat vital lainnya.


Aku juga ingin hidup. Ingin terus melihat Jingga tumbuh kembang dan dewasa. Ingin memberinya lebih banyak cinta pada Jingga terus, terus dan terus. Untuk itu aku harus sabar dan tidak boleh bosan mengkonsumsi obat setiap harinya.


Kanker adalah penyakit mematikan nomor satu didunia. Kanker juga masih belum ada obatnya sampai saat ini. Tapi tak sedikit orang yang menjadi survivor karena berhasil fight dan melepaskan diri dari penyakit yang menakutkan. Itu semua tak lepas dari keberhasilan tim medis dan juga keinginan yang kuat dari si pasien untuk sembuh. Dan yang pasti karena ridho dan izin Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa tentunya.


Hera memintaku untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dirumah sakit Darmais di Palmerah agar penyakitku segera ditangani secepatnya. Ia sungguh tidak sabaran membuatku jadi pusing kepala karena terus-terusan didesaknya.


"Aku masih sibuk, Hera! Lagipula obat-obatanku masih banyak. Nantilah aku ambil cuti sehari untuk berobat kesana!"


"Mas! Ini khan untuk kesembuhan mas Dika juga! Ayolah, mas!... Aku antar mas sekarang juga ya?!"

__ADS_1


"Hera!... Aku juga ingin sembuh! Pasti aku akan berobat. Tapi ga bisa sekarang juga! Lagipula aku juga sudah punya dokter spesialis yang menanganiku disini. Aku sedang menunggu jadwal skrining sebelum menjalani operasi pengangkatan sel tumornya. Please, jangan bikin aku jadi senewen karena kekhawatiranmu, Hera!"


Hera hanya bisa menangis mendengar penjelasanku. Aku tahu Hera sangat cemas dengan penyakit yang kuidap. Aku pun merasakan hal yang sama. Tapi aku juga punya target dalam hidupku. Ibarat kata, saat ini aku sedang berlomba dengan waktu. Aku berharap pabrik baru kami bisa berjalan dengan baik. Dengan grafik penjualan perlahan meningkat dan stabil. Setelah semua itu aman terkendali, aku bisa memohon Rosa dan mas Anang untuk balik nama perusahaannya kenama mereka. Dan aku hanya minta sepertiga bagianku untuk kuhibahkan kepada Ranti dan Jingga. Merekalah yang akan menjadi penerusku bersama Rosa dan mas Anang. Itu wasiat terakhirku. Setidaknya sebelum aku mati dan aku belum bisa memastikan kebahagiaan Ranti dan Jingga, aku bisa mempersembahkan harta peninggalanku untuk masa depan mereka. Sehingga aku tenang dan tak terlalu khawatir dengan kehidupan Ranti dan Jingga dimasa depan. Cukuplah untuk biaya sekolah Jingga sampai besar nanti.


Hari ini hari Sabtu. Aku bisa bersantai dirumah menikmati liburku bersama Jingga pastinya. Aku sudah berjanji akan membawanya naik keatas monas hari Minggu besok. Ia sangat antusias dengan rencanaku ini. Semoga Ranti bisa ikut kami juga besok, tapi aku sedikit malu untuk mengajaknya serta. Kalau memang ia tak bisa, tak mengapa. Aku bisa memaksimalkan kuality time-ku dengan Jingga sehingga bounding kami menjadi semakin erat.


"Mamaaaa... kata papa, besok pagi kita ke Monas!! Ikut juga ya, maaaa??!?" Jingga setengah berteriak ketika melihat Ranti yang sedang menjemur pakaian.


Ranti tersenyum pada Jingga. Berkedip dan mengangguk membuat Jingga bersorak kegirangan.


"Yeeeeeeyyy... kita ke Monas! Besok, ya pa? Naik kereta? Asiiiiik.....!" Anakku berjingkrak kegirangan. Ia begitu senang karena memang jarang aku ajak jalan-jalan kecuali keliling kompleks dan pasar sekitar stasiun saja.


Aku agak grogi karena kami pergi bertiga. Ketika ziarah kubur sehabis lebaran waktu itu ada Hera ikut serta yang mencairkan suasana kecanggungan kami. Aku berinisiatif mengajak Hera juga kali ini. Tapi Hera ada acara lain katanya. Aku tak bisa memaksa. Karena biar bagaimanapun adikku itu punya kehidupannya sendiri.


"Jingga mau permen?" tanyaku pada Jingga dibalas anggukan manisnya. Aku sibuk mengambil permen didalam ranselku. Penumpang yang akan ke Jakarta semakin membludak ketika berhenti distasiun Depok Baru membuatku kesulitan mengambil permen yang ada di ransel yang kupegang.


Ranti membantuku tanpa kusuruh. Aku tersenyum dengan inisiatifnya yang cepat tanggap. Kami sudah seperti layaknya pasutri yang sedang menikmati liburan dengan buah hati kami.


"Mas ini surat apa?" kata Ranti membuatku terkesiap.


"Jangan dibaca, Ranti!" perintahku tapi sayangnya telat. Ranti sudah terlanjur membacanya. Surat keterangan hasil lab dari dokter spesialis onkologi tentang penyakit yang kuidap dari rumah sakit tempatku dirawat. Aku lupa menyimpannya dirumah. Itu masih tercecer disaku depan tas ranselku.

__ADS_1


Ranti seperti terpaku melihat apa yang tertulis disitu. Aku segera mengambil lembaran kertas itu dan memasukkannya kembali kedalam ranselku. Pura-pura tersenyum dan kembali bercanda dengan Jingga putriku yang duduk dipangkuan Ranti.


Jantungku berdebar halus melihat Ranti yang berubah jadi lebih pendiam.Ia hanya tersenyum dan tersenyum ketika Jingga ikut melibatkannya bercakap-cakap ringan denganku. Wajahnya sedikit lebih muram. Aku jadi tidak enak hati turut serta mengajaknya. Hhhh....


Kami berjalan-jalan disepanjang jalan taman sekitar monas. Meski Jakarta begitu menyengat siang itu, tapi terlihat teduh dimataku karena ada Ranti dan Jingga bersamaku. Aku merasa bahagia sekali. Aku ingin menikmati masa-masa ini dengan keceriaan Jingga dan tatapan lembut serta senyum manis Ranti.


Aku menelpon Arif memberitahukan kalau kami sedang ada di Monas. Dan ternyata dia meluncur cepat dengan istrinya, Nana menemui kami dan hang out bersama-sama.


Alhamdulillah, berkat Arif dan Nana suasana hangat kembali mengalir. Ranti dan Nana juga terlihat cepat akrab. Begitu juga Jingga yang sepertinya bisa melihat ketulusan Nana dengan jiwa polosnya. Meski diawali tatapan bingung Ranti padaku dan Arif. Hehehe...aku mengerti kebingungannya. Yaaa...., orang akan memandang aneh kami karena pertemanan yang tak biasa setelah permusuhan. Itulah kuasa Allah, yang membuat kami seperti ini. Subhanallah!


Aku juga mengatakan pada Ranti, kalau rumah bu Hafsah yang kini kutempati adalah rumah Arif dan Nana. Aku menumpang selama setahun disitu sampai Nana melahirkan dan baru bisa pindah menjadi tetangga Ranti nantinya. Semua karena kebaikan hati Arif. Ranti senang sekali mendengar ceritaku kalau Nana akan menjadi tetangganya nanti.


Maaf, meskipun Nana memiliki kelebihan dan terkendala dengan indera pendengaran dan pengucapannya, tapi Ranti juga Jingga ternyata tidak kesulitan berkomunikasi dengannya. Karena Nana adalah pribadi yang hangat dan mudah tertawa. Pantas Arif begitu mencintai istrinya itu. Masya Allah!


Kami pun menikmati hari itu bersama-sama dengan suka cita dan canda tawa. Dari wisata kuliner sampai wisata rohani menunaikan sholat 5 waktu di masjid Istiqlal, mesjid kebanggaan orang Jakarta yang letaknya persis didepan gereja Katedral. Subhanallah! Arif menceritakan kalau ada air mancur joget dan lampu warna-warni di Monas jika malam hari membuat Jingga merengek kepingin menyaksikannya. Aku bingung, kalau kami sampai malam disini, kuatir ketinggalan kereta arah bogor dan kemalaman pulang kerumah di Bojong.


Arif dan Nana meminta kami menginap dirumahnya di Bungur. Aku malu. Aku tak ingin merepotkan keluarga besar mereka. Arif dan Nana sudah sangat baik kepada kami terutama kepadaku. Belum pagi posisi aku dan Ranti yang kini tidak ada hubungan apa-apa hanya karena ada Jingga yang membuat kami harus bersama memberi Jingga kebahagiaan.


Jingga menangis membuatku dan Ranti mengalah menuruti kemauannya. Jadilah kami menikmati momen manis hari itu hingga malam menjelang dan menyaksikan air mancur joget serta lampu hias berwarna-warni ditengah alunan musik yang romantis.


Arif dan Nana pasangan suami istri. Wajar saja jika mereka bermesraan saling rangkul dan bergandengan menikmati suasana yang indah. Sedangkan kami, menjadi sangat canggung dan kikuk sementara Jingga tertidur manis dipangkuanku. Belum lagi depan belakang samping kanan kiri kami rata-rata berpasangan menikmati indahnya pesona wisata malam diarea Monas yang temaram membangkitkan suasana romantis. Hhhh..

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2