AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
GENDERANG PERANG


__ADS_3

Aku hanya bisa menahan amarahku. Aku harus bisa! Biar bagaimana pun aku akan meraih kembali Ranti dan Jingga menjadi milikku. Persetan dengan abi atau siapa itu, Sofyan Ali. Aku akan berjuang lebih keras dan lebih semangat lagi.


"Ranti! Bisakah aku meminta sesuatu darimu?" tanyaku ketika ada kesempatan mencurahkan isi hatiku pada Ranti disaat Jingga sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


Ranti menatapku. Menunggu perkataanku selanjutnya. Saat itu ia habis menerima telpon dari pacar sialannya itu.


"Aku tidak ingin Sofyan datang kesini walau niatnya hanya menjenguk Jingga! Aku tidak ingin membuat Jingga tidak nyaman dengan keadaan ini. Bagaimana kalau ia menanyakan hal-hal yang tak terduga." Ranti menunduk memainkan hpnya. Aku sedikit kesal dibuatnya. Tapi tak berani menegurnya.


"Jingga kita begitu pintar, Ranti! Aku takut tiba-tiba ia menanyakan status kita, statusmu dengan Sofyan. Sedang usianya belumlah cukup untuk menela'ah semuanya. Kuharap kamu mengerti maksudku, Ranti! Biarlah Jingga senang bahagia dengan kebersamaan kita selama dirawat dirumah sakit. Bolehkah aku meminta itu darimu?" aku menekan nada bicaraku agak rendah. Berusaha meyakinkan Ranti agar menuruti perkataanku. Padahal selain itu, aku juga tak ingin lebih lanjut menyaksikan kedekatan mereka terlebih Jingga bila si Sofyan Ali datang berkunjung kerumah sakit ini.


Ranti sepertinya tak berniat menjawab ucapanku. Tangannya sibuk menyentuh keypad layar hpnya.


"Sudah kujapri dia, untuk tak datang kesini!" jawaban singkatnya membuat hatiku berbunga-bunga. Wooow..... mantan istriku yang manis dan baik hati ini masih menurut padaku. Angin segar perlahan melingkupi seluruh jiwa dan perasaanku. Kepalaku membesar dan hidungku kembang kempis, bertambah percaya diri. Berarti Ranti masih ada rasa padaku. Alhamdulillaah....terima kasih ya Allah!


Jabrik menelponku. Menanyakan kapan aku pulang karena sudah dua hari sempol ayam tak berproduksi. Aku hanya bisa menjawab agar Jabrik menghandle dulu para pelanggan. Mengatakan kalau aku kemungkinan bisa semingguan libur. Secara aku masih intens merawat dan mengurus Jingga dirumah sakit menemani Ranti.


Rosa juga menelponku. Ia menanyakan kabar Jingga dan mengatakan kalau sore nanti ia dan suaminya akan berkunjung menjenguk Jingga. Aku senang sekali mendengarnya.


Sore hari dijam besuk suasana kamar Jingga ramai orang. Ada Rosa dan mas Anang, Hardi juga Gina, juga Hera. Ayahku tidak bisa ikut karena asam uratnya kambuh, kata Hera.


Sungguh suasana hangat yang telah lama kurindukan kini kualami menjadi kenyataan. Gina juga kini mau menjawab pertanyaanku meski dengan wajah datar. Agak lebih baik daripada sebelumnya yang bahkan selalu menampakkan wajah sangar dan mata judesnya padaku karena kecewa sekali pada diriku yang hampir 5 tahun jadi idolanya.


Aku dan Rosa juga mas Anang berbicara tentang langkah kedepan perusahaan yang akan kami bangun bersama. Rosa mengatakan kalau ia tak jadi resign dari perusahaan tempatnya bekerja dan hanya mendukung dan memonitorku dari belakang. Tapi ia akan menjadi penasehatku dibelakang layar agar jalanku tak melenceng kiri kanan, itu katanya membuatku tertawa lebar. Aku sebenarnya sedikit kecewa karena Rosa tidak bisa sepenuhnya bekerjasama denganku. Karena kepercayaan pak Anjar bukan hanya kepadaku seorang. Rosa juga mendapatkan perhatian itu. Dan aku ingat kata-kata pak Anjar dengan jelas sampai hari ini.


Aku meminta waktu pada Rosa dan mas Anang untuk rehat sejenak demi membantu Ranti menjaga Jingga selama dirumah sakit. Aku tak ingin meninggalkan mereka barang sekejap pun dan ini adalah kesempatanku mendekat lagi pada mereka. Syukurlah Rosa mengerti. Ia membiarkanku mendapati lagi waktuku yang sempat hilang bersama Ranti dan Jingga.


Alhamdulillah, keadaan Jingga semakin membaik. Anakku memang anak hebat! Jingga anak kuat dan tidak cengeng sama sekali. Hanya sesekali ia menangis itupun bila perban diperutnya sedang diganti suster perawat dan hanya menangis sebentar.


Ini sudah hari keenam Jingga dirawat dirumah sakit. Dokter bedah yang menanganinya mengatakan kalau Jingga sudah boleh pulang kerumah. Alhamdulillaah..! Terima kasih ya Allah!


Ranti kembali sumringah dan wajahnya berseri-seri. Aku ikut bahagia melihat Ranti dan Jingga kembali ceria. Sungguh inilah momen-momen manis yang kuharapkan.


Kami menyewa mobil untuk pulang kerumah Ranti. Jingga juga sudah lebih lincah dan bebas bergerak karena infusan ditangannya yang sudah dilepas. Ranti memangku Jingga dipelukannya dengan penuh kasih sayang. Aku yang duduk disampingnya menggenggam jemari mungil Jingga dan sesekali menciumi tangannya. Ada bunga-bunga bermekaran dihati ini. Harum semerbak wanginya menyeruak membuat wajahku tak lepas dari senyuman kebahagiaan.


Ternyata dihalaman rumah Ranti banyak para tetangga menunggu kami. Dan juga, Sofyan Ali. Hhhh..


Wajah lelaki itu begitu cerah bersinar melihat Ranti dan Jingga turun keluar dari mobil yang membawa kami.


"Abiiiiii....!!!" Aku kaget mendengar pekikan Jingga yang terdengar begitu gembiranya.


"Hati-hati sayang!" ucap Ranti pelan melihat respon Jingga yang senang sambil merentangkan tangan pada si Sofyan Ali.


Shit!!!! Lelaki itu tertawa bahagia sambil merentangkan tangannya meraih putri mungilku.


"Boleh abi gendong Jingga?" tanyanya lembut sekali. Dan suwenya Ranti membiarkan dia mengangkat tubuh anakku. Hhhh...


"Hati-hati!" ucapku mengingatkan. Sofyan Ali terlihat sangat lembut menggendong anakku. Membuatku semakin sirik melihatnya.


Kami masuk kedalam rumah. Jingga memekik kegirangan. Rumah Ranti didekor dengan kertas warna-warni. Ada balon-balon juga yang dibentuk sedemikian rupa didinding dan di plafon rumah. Seperti diacara ulang tahun saja.

__ADS_1


"Surpriseeee...!" kata si Sofyan Ali membuat Jingga memeluknya erat.


"Hati-hati Jingga! Nanti perutnya sakit," kataku pelan pada Jingga. Itu hanyalah untuk mengalihkan kegusaran hatiku yang berkobar membara. Terbakar api cemburu yang teramat besar.


Para tetangga bergantian menjenguk Jingga. Mereka ikut senang karena Jingga sudah sehat dan sudah pulang kembali. Ranti sibuk mengucapkan terima kasih pada para tamu sementara aku hanya duduk dikursi memperhatikan Jingga yang masih digendongan Sofyan Ali. Mereka berdua sibuk bercanda dengan balon dan kertas kraf yang bergelantungan.


Fikiranku melayang-layang. Gamang dan tahu harus bagaimana. Andai kuambil Jingga dari gendongan lelaki itu, aku takut respon Jingga yang kecewa padaku.Aku hanya menunggu kesempatan.


"Jingga harus istirahat, yaa...! Ini waktunya Jingga makan, teruuuus...minum obat, teruuuus...bobo siang. Okeeey? Khan katanya pingin cepet sembuh, pingin main ke seaworld! Mau khan sayang?" aku berusaha mengambil perhatian Jingga. Mengambilnya dari gendongan Sofyan.


Sementara para tetangga perlahan satu persatu pamit pulang setelah agak lama berbincang dengan Ranti. Suasana rumah Ranti kembali tenang.


"Saya udah siapin bubur ayam buat Jingga! Itu ada dimeja." Ranti tersenyum manis pada Sofyan Ali membuatku hampir tersedak. Sialan!


"Itu bubur dingin, jangan-jangan udah basi karena kelamaan!" aku menyela.


"Engga' koq mas! Baru saya beli. Baru 20 menitan yang lalu. Sekarang sudah ga panas memang. Biar Jingga makan cepat juga!" Pintar sekali bocah sialan itu mengeles seperti bajaj.


Jingga makan dengan lahap disuapi oleh Ranti. Aku membuka kemasan obat. Dengan telaten mengambilnya satu persatu. Memisahkan dan menaruhnya diatas piring kecil lalu menyiapkan segelas air minum untuk Jingga. Aku harus lebih sigap dari lelaki ini! Jangan sampai ia lebih keren dimata Jingga didepan papanya.


Sejam kemudian Ranti membawa Jingga masuk kekamar. Menidurkannya dengan lantunan lagu yang begitu merdu terdengar. Membiarkan kami berdua saja dengan lamunan masing-masing.


Aku dan Sofyan Ali tidak terlibat percakapan. Aku yang malas ngobrol atau dia yang enggan bicara, entahlah. Masa bodoh dengan fikirannya! Aku hanya akan bermanis-manis kepada Ranti dan anakku. Tak ada urusan dengan lelaki sialan itu!


Agak lama kami berada disuasana canggung ini. Akhirnya aku mencoba mengawali membuka obrolan dengannya.


"Sebetulnya ga harus terlalu heboh juga, menyambut kepulangan Jingga dari rumah sakit. Agak takut Jingga terlalu senang sampai mengganggu lagi kesehatannya!" kataku membuat Sofyan tersenyum menunduk.


"Kamu pasti keluar uang dan waktu yang banyak untuk buat ini semua. Biar kuganti ya?!"


"Ga perlu, mas! Saya suka koq melihat respon Jingga yang bahagia. Ini juga saran dari mama saya. Karena kami tidak bisa menjenguk Jingga dirumah sakit. Ranti melarang kami. Kami tidak bisa berbuat apa-apa!" katanya membuatku mendengus kesal.


"Ternyata mas Sofyan anak mami juga ya! Segala sesuatu harus izin dan saran mama ya! Hehehehe...."


"Hehehehe... keliatan jelas ya mas? Tapi saya setuju koq saran dan nasehat mama adalah yang terbaik bagi saya."


"Iya tapi kayaknya, keliatan kalo situ kurang kuat pendiriannya. Apa-apa tanya mama gimana pendapat mama. Susah kalo buat dijadikan panutan dan pegangan sebagai imam kepala keluarga nanti."


Sofyan Ali hanya diam mendengar ucapan pedasku. Aku memang sengaja. Memancing keributan sehingga keluarlah amarah lelaki ini. Biar Ranti lebih tahu dan lebih kenal calon suaminya ini. Bagaimana responnya jika aku sedikit mengompori soal dirinya yang kurang layak untuk Ranti.


"Maaf, mas Dika...kalau perlakuan saya pada Jingga terlihat berlebihan dimata mas. Itu karena saya tulus menyayangi Jingga. Sekali lagi, maaf!"


"Sejujurnya saya akui, memang saya tak suka dengan tindakanmu itu mas Sofyan! Secara, saya adalah papa kandungnya. Ayah biologisnya Jingga yang lebih berhak memberinya perhatian dan kasih sayang. Meskipun mas saat ini adalah orang terdekat Ranti, mamanya Jingga. Tapi jujur saya tidak nyaman dengan semua perlakuan situ!"


"Maaf, mas!"


"Kalau boleh saya saran, sebaiknya mas Sofyan pulang. Kita bisa atur waktu agar tidak bentrok bertemu dan saling tidak nyaman satu sama lain. Bagaimana?" saranku setengah mengusirnya. Sungguh amarahku sudah mencapai ubun-ubun dan tinggal menunggu Sofyan ali meledakkannya.


Ranti keluar dari kamarnya. Jingga sepertinya sudah tertidur hingga membuatnya meninggalkan Jingga dikamar sendirian.

__ADS_1


Aku dan Sofyan Ali sama-sama diam. Sementara Ranti memandang kami bergantian.


"Apa kalian mau kubuatkan minuman? Kopi atau teh gitu?" tanya Ranti menawarkan kami dengan suara lembut tapi jelas.


"Kurasa mas Sofyan akan segera pulang, Ranti! Aku akan buat sendiri minumannya nanti setelah Sofyan pergi!"


Ranti menatap lelaki itu seperti meragukan ucapanku. Sebal aku dengan kondisi ini.


Hhhh.... Ayo cepat bocah, segera angkat kaki dari sini! Kau membuatku muak ingin muntah melihat gayamu yang sok imut dihadapan Ranti!


"Sebaiknya Abi pulang saja! Aku dan mas Dika agak lelah juga karena mengurus Jingga dirumah sakit. Jadi mohon maaf kalau kami agak sensitif! Terima kasih ya, Abi udah buat Jingga senang! Aku cuma bisa ucapin terima kasih. Juga buat mama, sampaikan salam terima kasihku, bi!"


"Baiklah, Abi pulang ya! Istirahatlah bersama Jingga. Salamnya untuk mamah akan Abi sampaikan! Assalamualaikum..!"


"Waaaah, hebaaat...abi umi! Ternyata kalian sudah semakin dekat ya? Jangan-jangan kalianpun sudah melakukan hal-hal yang lebih jauh lagi!" aku keceplosan karena cemburu yang meledak membuatku lepas kontrol tak bisa mengendalikan rasa cemburuku ini. hhhhh....!!


Plak!!! Ranti berjalan cepat menghampiriku dan menampar pipiku.


Aku meringis. Kaget dan sakit. Rasa panas menjalar diseluruh wajahku yang langsung memerah.


Ranti? Berani menampar pipiku? Rantiku yang dulu begitu lembut dan penurut, kini sudah bisa menamparku???...


"Jaga ucapanmu, mas! Aku memang janda! Orang mungkin bisa bilang, aku janda kesepian. Tapi aku bukan janda gatal yang dengan mudah sembarangan membawa lelaki masuk dan mencoba ranjang tidurku! Aku tidak sebejad itu mas! Camkan itu!" kata-kata pedas terlontar dari bibir Ranti membuatku nyaris tak bisa bernafas. Matanya merah menyala menunjukkan kalau ia sangat marah padaku. Seketika aku menyesal dengan ucapanku yang spontan keluar tanpa kupikir matang-matang.


"Lalu.. kenapa kamu dan Jingga memanggilnya 'Abi' padahal namanya sudah jelas Sofyan Ali'?" kataku membela diri dengan terbata-bata.


"Dengar, ya! Namanya memang Sofyan Ali. Tapi sejak kecil dia sudah biasa dipanggil 'Abi'. Dan Jingga memanggilnya 'Abi' juga tanpa embel-embel om karena dia memang tidak ingin membuat sekat dengan Jingga. Lelaki itu murni ingin berteman dengan Jingga! Bukan karena ia memang sedang menjalin hubungan denganku! Dan asal kamu tau juga, mas.... Tetangga disini mengenalnya dengan baik dan tau dia dari kecil karena rumah yang bercat biru di depan itu dulu adalah rumah keluarganya! Dan kamu, tidak berhak menilai dia dan aku serendah itu. Kamu harus sadar diri dan tau batasanmu! Paham?"


Ranti menerangkan semuanya dengan menyala-nyala. Sementara Sofyan Ali yang sudah berdiri didepan pintu masih terdiam ditengah keadaan ini.


"Abi, maaf....harus melihat dan menyaksikan pertengkaran diantara kami. Ranti mohon, Abi pulanglah!"


"Apa Abi sebaiknya disini? Abi khawatir kalau...."


"Pulanglah! Ranti baik-baik saja!"


Lelaki itu keluar perlahan. Sementara aku masih berdiri dengan kepala tertunduk malu. Aku sibuk dengan diriku sendiri dan penyesalanku.


Gila!... Kenapa aku meledak seperti ini! Harusnya aku lebih kalem dan bermain halus bila ingin mendapatkan hati Ranti lagi. Kenapa jadi begini? Hhhh....Dika bodoooooooh! Bodoh!


"Dan kamu mas Dika! Selama ini aku diam saja. Menerimamu, karena biar bagaimanapun kamu adalah ayah dari anakku. Sampai kapanpun status itu tidak akan berubah. Tapi ternyata, kebaikanku dinilai rendah dimatamu. Mulai saat ini, detik ini... Aku hanya akan mengizinkanmu menjenguk Jingga sebulan sekali saja. Dan tidak perlu berfikir keras untuk memikirkan kehidupan Jingga terlebih aku. Aku senang kamu adalah ayah bertanggung jawab memikirkan biaya hidup Jingga. Aku menghargaimu sebagai ayah yang baik!Tapi asal kamu tau, aku tidak pernah mengharapkannya karena aku merasa masih mampu memberikan kehidupan yang layak untuk anakku. Dan aku rela berkorban, berjuang mati-matian meskipun aku harus banting tulang demi anakku. Aku ikhlas demi anakku!"


"Dan sekarang.... selama aku masih bisa bicara baik-baik padamu, tinggalkan rumahku segera! Aku seorang janda! Aku tak ingin orang bergunjing tentang keburukanku membiarkan seorang lelaki yang tak ada hubungan apapun berlama-lama didalam rumahku! Karena aku sadar diri dan tahu pandangan orang terhadapku! Janda yang kesepian! Dan kau salah satu dari orang yang berfikir buruk itu tentangku! Keluar!"


"Ranti! ....Maafkan aku Ranti! Aku terbakar cemburu! Maaf! Redam amarahmu. Jingga sedang tidur! Maafin aku Ranti!"


"Keluar kataku! Keluar! sekarang!"


Ranti mendorongku keluar dari pintu rumahnya. Menutup dengan keras dan menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2