
Selesai sholat Maghrib tiba-tiba aku jadi ragu untuk meneruskan perjalananku ke rumah Rosa. Allah seperti menegurku untuk tahu diri jika terus menerus menyusahkan Rosa dan mas Anang.
Perusahaan kami baru mulai berjalan. Dan aku dengan sangat tidak profesionalnya justru kabur dari usaha yang baru kurintis bahkan dihari awal kami memulai. Hhh... Sepertinya aku benar-benar jadi orang jahat bila meminjam uang 120 juta untuk keperluan pribadiku sendiri. Memang aku punya andil dan ada sedikit danaku diaset perusahaan, tetapi disaat seperti ini aku berani sekali merengek meminta belas kasihan Rosa dan mas Anang demi membeli rumahku sendiri. Bahkan mungkin perusahaan kami justru kini sedang membutuhkan tambahan modal agar semakin berkembang. Hhhhh...
Aku hanya duduk termenung diteras masjid Istiqlal. Memikirkan langkah selanjutnya lebih dalam seorang diri. Aku terlalu sombong dan percaya diri padahal tak punya uang sama sekali tapi berani menjanjikan bu Hafsah harapan palsu. Hhhh.... Aku terpaksa harus mengecewakan beliau yang sudah kadung senang aku bisa membantunya.
Baru aku mengambil hp dari tas slempangku, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
"Dika?"
Aku mendongak tak jadi membuka resleting tas kecilku.
"Arif??"
Arif Borne ikut duduk lesehan ditembok teras mesjid disampingku.
"Minal aidin walfaidzin ya, mohon maaf lahir bathin... Lusa kita udah masuk Ramadhan, aku minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu!" katanya seraya mengulurkan tangannya menjabat erat tanganku.
"Aku juga, Rif! Aku minta maaf ya atas segala kesalahan dan kelakuan burukku sama kamu. Moga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan hati tenang dan damai."
"Aamiin!!"
"Kamu juga habis sholat disini?"
"Iya. Aku liat kamu dari masih didalam masjid. Mau kutegur dari tadi tapi takut salah."
"Hehehe.... Ga sangka kita jumpa lagi ya!? Alhamdulillah diketemukan ditempat suci, tempat ibadah!"
"Iya, alhamdulillah! Kebetulan tempatku kerja di daerah Lapangan Banteng sini. Jadi sekalian maghriban dulu disini. Rumahku di Bungur, ikut istri. Kamu tinggal dimana sekarang, Dik?"
"Aku di Gunza. Ngontrak bareng teman. Kamu udah berkeluarga lagi, Rif?"
"Alhamdulillah...udah mau 1 tahun. Istriku sekarang sedang hamil 4 bulan. Alhamdulillah! Kamu sendiri, udah tambah anak belum?"
Aku menelan ludah tersenyum getir mendengar pertanyaan Arif. Tambah anak, ya?!? Hhhh...
"Aku sudah cerai dengan istriku setelah keluar dari lapas. Yaaa...gini deh sekarang! Hidup sendirian, luntang-lantung tak karuan! Hehehe..."
"Maaf, Dika! Aku tidak tahu. Maaf!"
__ADS_1
"Tak apa! Jangan terlalu diambil hati. Hehehehe..."
Arif mengeluarkan beberapa permen dari kantong celananya. Ia menawarkan juga padaku. Aku mengambilnya satu. Kami tidak tahu, kenapa kini kami terlihat nyaman satu sama lain.
"Aku lagi belajar melepas kecanduanku merokok. Makanya sekarang jadi sering ngantongin permen. Aku tak mau anak istriku jadi perokok pasif karena aku!" ceritanya mengalir tanpa kutanya lebih dulu.
"Calon ayah yang baik! Hehehe..." Kami tertawa bersama. Semua mengalir begitu saja. Kami saling bertukar cerita ringan tentang pekerjaan kami masing-masing. Layaknya teman yang sudah lama kenal, kadang kami tertawa ditengah perbincangan santai kami.
"Aduh, lupa...! Maaf, Rif, aku telfon Rosa dulu. Pasti mereka nungguin dari tadi!"
"Iya, silahkan!"
Rosa marah-marah menerima telfonku. Katanya sudah hampir satu jam menungguku tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Aku hanya tertawa meminta maaf padanya. Karena tak jadi sowan kerumahnya. Aku juga minta maaf pada suaminya karena suara telfonnya di loadspeaker. Sahabatku yang satu itu memang tak seru bila tak marah padaku. Hehehehe... Justru karena kejujuran hatinya yang kalau marah tidak pernah dibelakangku tapi langsung menghujam jantungku, hubungan pertemanan kami semakin erat bahkan menjadi persaudaraan.
Arif masih duduk menungguku usai menelfon Rosa.
"Ada janji sepertinya dengan bu Rosa dan suaminya ya?"
"Sebenarnya bukan janji. Tapi aku tadinya mau sowan kerumahnya karena ada perlu. Tapi kupikir-pikir lagi, aku tidak jadi. Malu kalau terus-terusan menyusahkan mereka."
"Kamu butuh sesuatu, Dika? Bantuan seperti apa? Kalau boleh aku tahu, mmm... tapi kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa! Maaf, aku cuma kepengen berteman saja denganmu! Aku termasuk orang yang tidak pandai berteman. Agak malu dan risih kalau untuk memulai pertemanan. Hehhehe...!"
"Sebenarnya bukan termasuk masalah sih! Tapiii... mmmmh, aku cuma lagi butuh uang lumayan besar. Tapi pinjam bingung juga buat bayarnya!"
"Uang? Buat apa? Bukannya kamuu...punya mmmm maaf kalau aku terlihat lancang. Maksudku, kamu punya perusahaan khan sekarang? Pak Anjar selalu membicarakanmu dan sangat menyanjungmu atas dedikasi dan loyalitasmu diperusahaannya dulu."
"Sebenarnya uang ini untuk pribadiku. Uang perusahaan aku tak berani. Makanya aku urungkan niatku meminjam uang perusahaan pada Rosa karena kupikir ulang lagi."
"Boleh kutahu detailnya? Semoga aku bisa bantu."
" Hei, aku tidak mau merepotkanmu. Istrimu sedang hamil, pasti kamu juga harus lebih fokus pada biaya persalinan dan segalanya untuk calon anakmu nanti. Lagipula, aku tidak terlalu butuh juga. Sudah, lupakan masalahku! Sebentar lagi masuk waktu Isya. Yuk, masuk!"
Arif tersenyum mengangguk. Kami kembali masuk kedalam masjid besar kebanggaan warga Jakarta khususnya. Air wudhu meresap kepori-pori wajahku membuat hilang semua resahku. Jika Allah Berkehendak, semua pasti Allah mudahkan. Aku percaya kekuasaan-Nya. Bila Ia tak mengizinkan-Nya, berbagai carapun kutempuh, tetap tidak akan terjadi. Aku hanya kembalikan semua kepada-Nya. Allah Subhanahu WaTa'ala.
Kalau memang rumah bu Hafsah rezekiku. Insya Allah akan ada jalannya untuk bisa kudapatkan. Tapi kalau bukan, tidak apa. Mungkin Allah tidak ingin keadaanku menjadi tambah buruk bila harus memiliki rumah dan tinggal bersebelahan dengan Ranti.
Selesai sholat aku dan Arif kembali mengobrol santai sambil berjalan keluar masjid melalui lorong-lorong yang indah dengan pilar besar.
"Aku sebenarnya sedang cari rumah. Yang tak terlalu besar dan harganya sesuai kantongku. Istriku ingin mandiri tapi orangtuanya tidak mengizinkan kami pergi sampai ia melahirkan nanti. Aku bingung. Namanya uang, aku takut kalau terlalu lama disimpan justru akan habis. Aku pikir, rumah kami bisa kami sewakan dulu sekitar setahun. Baru setelah itu kami tempati setelah bayi kami lahir dan orangtuanya mengizinkan! Tapi ternyata cari rumah yang pas sulit juga ya!"
__ADS_1
"Maunya wilayah mana?"
"Istriku pinginnya dipinggiran kota Jakarta. Ya..sekitar Depok, Bojong, Citayam lah. Yang ga terlalu jauh juga dari jalan raya. Kalau ambil perumahan baru, rata-rata agak pelosok lokasinya."
Aku termenung. Apa rumah bu Hafsah sesuai pilihan Arif, ya?! Apa tak apa aku memberitahukannya kalau saat ini pemilik rumah yang kumaksud sedang terlilit hutang dan butuh uang segera.
"Mantan istriku tinggal di Bojong. Rumahnya diwilayah tak jauh dari stasiun kereta api Bojong Gede. Ada tetangganya persis, saat ini mau menjual rumahnya. Butuh uang karena sedang ada masalah. Tadinya, aku ingin kerumah Rosa untuk pinjam uang agar bisa membeli rumah itu. Tapiii..., aku tak enak hati. Mungkin rumah itu cocok denganmu dan istriku."
"Kapan kamu bisa antar aku lihat lokasinya?"
"Sebenarnya besok sekitar pukul 9 pagi aku akan kesana lagi. Aku sudah lama tidak menengok anakku. Kalau kamu mau, bisa bareng aku, Rif!"
"Kamu bawa kendaraan?"
"Aku naik kereta. Pulang pergi bawa motor aku sudah tak sanggup lagi. Maklum, faktor U! Hehehe...!"
"Oke! Aku ikut naik kereta. Nomor hapemu berapa? Biar kusave agar gampang menghubunginya."
"Memang kamu besok ga pergi ngantor?"
"Aku bisa ambil cuti satu hari. Boleh khan aku ikut, Dik?"
"Boleh juga sih!..."
"Aku janji ga akan ganggu pertemuanmu dengan Ranti dan anakmu!" potongnya cepat seperti merasakan ganjalan dihatiku. Secara aku takut Ranti salah faham juga melihat pertemananku yang rumit dengan Arif.
"Berapa kira-kira harga yang ditawarkan pemilik rumah?"
"150 juta, tapi bu Hafsah bilang 120 juta pun dilepasnya. Karena waktunya yang tinggal sedikit lagi untuk bayar hutang."
"Oke, deal! Besok kita ketemuan distasiun Gondangdia. Gimana?"
Aku mengangguk. Kami berpisah tujuan setelah itu. Aku menelfon ayahku mengatakan kalau aku malam ini tidur dikontrakanku di Gunung Sahari. Sementara Arif Borne pulang ke Bungur, tempat istrinya.
Lagi-lagi aku termenung memikirkan lagi pertemuanku dengan Arif Borne. Hhhh.... Kenapa aku gegabah sekali karena langsung terbuka padanya padahal pertemanan kami yang masih bayi. Aku belum tahu Arif lebih mendalam, tapi kenapa aku begitu terbuka percaya padanya. Terlebih, kenapa aku harus menceritakan perihal rumah bu Hafsah yang notabene adalah tetangga Ranti. Bagaimana kalau akhirnya rumah itu jadi milik Arif. Bagaimana kenyamanan Ranti nanti. Ya Allah! Hhhhh.... Aku sungguh sembrono sekali.
Hhhh.... Lagi-lagi nafas panjang ini yang bisa kuhembuskan. Kenapa kehidupanku jadi serumit ini? Kenapa kami seolah terus berada diputaran yang sama. Semua jawaban kucari tapi tak bisa kutemukan. Hanya ada tanda tanya besar. Semua adalah misteri Illahi. Apakah hubunganku, Arif dan Ranti memang harus terus bersinggungan? Lagi-lagi tanda tanya besar.
Bersambung-
__ADS_1