
Aku hanya tersipu-sipu mengingat kejadian tadi pagi sambil masuk dan menutup pintu. Hhh.... Menepuk jidat sambil menarik nafas.
Hapeku berdering beberapa kali diatas meja kamar. Dari Hera.
"Ya Hera?"
"Mas, hari ini libur khan?"
"Iya. Ada apa, Her? Ayah gimana keadaannya sekarang? Udah sehat khan?"
"Mas, pulanglah! Kondisi ayah memburuk. Ka Diana dan Intan juga sudah ada disini!"
"Diana? Intan? Sama suami-suami mereka?"
"Iya, mas!"
"Oke, aku kesana sekarang!"
Dadaku berdesir halus. Ayah. Kondisinya memburuk. Aku bergegas mengambil tas ranselku. Memasukkan beberapa stel pakaian, juga dompet.
Setelah berganti baju, aku langsung pergi dengan terburu-buru setelah mencabut selang tabung gas dan menyalakan lampu kecuali lampu kamar.
Ayah tertidur lemah dikamar. Aku memanggilnya dengan suara pelan beberapa kali. Aku menyuruh mas Wawan suami Diana untuk mencarikan kendaraan yang akan kupakai untuk membawa ayah kerumah sakit.
"Ayah! Ini Dika, ayah! Dika datang, ayah! Ayah.... ayo kita kerumah sakit!"
Ayah membuka matanya. Meluncur butiran disudut matanya membuatku ikut terhanyut dan meneteskan airmata.
"Ayah! Ayo kita kerumah sakit. Ayah pasti sembuh. Tuh liat, anak-anak dan mantu ayah kumpul semua. Mereka khawatir dengan kondisi ayah!"
Ayah memegang tanganku. Terasa dingin sekali. Matanya terus melekat menatap mataku. Ayah tersenyum. Aku mengangkat kepalanya. Menyenderkannya didadaku. Airmataku terus mengalir tak henti-henti.
"Diana, ambilkan air minum buat ayah! Yang hangat!" perintahku pada kakakku tapi lebih mirip adikku.
Aku menyendokkan air kemulut ayah perlahan sekali. Tapi mulut ayah tidak bereaksi hingga airnya tumpah kembali kepipi dan dagunya.
"Ayah!.... Astaghfirullahal'adzim! Ayah!Bangun ayah!!! Ayaaaaah!!! Laa ilaaha illallaah Muhammaddarrosulullaaaah..... Ayaaaah! Ayah bangun ayah! Ayah ini Dika ayah! Ayah!...."
__ADS_1
"Ayaaaah....!!!!"
"Ayah jangan tinggalin Dika ayah! Ayaaah... Bangun ayah! Ayaaah...... Ya Allah, jangan jemput ayahku dulu ya Allaaaaah! Aku belum sempat membahagiakannya! Ya Allaaaaah... Aku masih ingin bersamanyaaaaa.... Ayaaaaah......"
Aku meraung menangis mendekap ayah didadaku. Ya Allaaaah.....! Aku ditinggal pergi ayah! Ya Allah!..... Aku seperti mimpi. Aku tak percaya.
Ayah. Minggu lalu ayah masih bersamaku. Kami tidur diranjang ini berdua. Saling berangkulan bahagia. Aku memijat punggung ayah. Aku menyuapinya bubur. Memberinya obat dan vitamin. Ayah sudah lebih baik ketika aku pergi kerja diSubuh waktu itu. Aku ingat betul wajah dan juga staminanya. Ayah terlihat lebih bugar.
Ya Allaaaaah....! Inilah yang disebut jodoh, umur siapa yang tahu. Ayahku telah dipanggil Sang Pencipta saat ini. Sekarang. Disaat aku sedang menikmati bahagianya disayang ayah. Diperhatikan ayah juga dinasehati ayah. Ya Allaaah....... Allah Sang Penguasa segalanya!!! Sungguh hatiku hancur berkeping-keping. Bukan bermaksud marah pada-Mu dan mengingkari takdir-Mu! Tapi aku kaget dan tak menduga. Ayah akan Kau ambil secepat ini, ya Allah! Aku belum siap! Aku belum siap ya Allaaaaah...
Mas Wawan dan Kiyoshi mengangkat tubuhku yang lemah dan basah karena air mata disamping tubuh ayah yang sudah tak bernyawa. Aku histeris dan berontak. Hera merangkulku erat sambil mengucap asma Allah. Kami menangis kakak beradik berpelukan. Rasanya dunia ini ikut runtuh bersamaku karena kepergian ayah.
Aku tidak sadar ramai orang datang berta'ziah. Untuk sesaat aku limpung dan hilang arah. Aku hanya menangis dipojokan. Menjauh dari tubuh ayah yang terbaring diruang tamu dengan bertutupkan kain.
Ayah!... Bawa aku serta ayah!...
Ayah!!!! Bagaimana aku hidup tanpa ayah nanti? Ayah!... Aku rindu ayah. Padahal ayah masih terbaring disini.
"Bangun ayah! Bangun ayah, kita ke rumah sakit! Diana, Hera.... cepat bantu aku gotong ayah! Ayah bisa sembuh! Ayah sehat lagi kalau minum obat. Ayo! Kalian semua lelet banget sih!"
"Istighfar, mas! Istighfar...! Jangan memberatkan langkah ayah! Ayah sudah bahagia bersama ibu, mas!" kata Diana penuh dengan isak tangis menyayat hati.
Dadaku sesak sekali. Rasanya seperti ada batu besar yang menghimpit paru-paru dan jantungku. Ah...Hhhhh..... Ya Allaaah...
Intan memberiku segelas air. Aku meneguknya sedikit sambil beristighfar. Astaghfirullahal'adziiim wa atubu illaihi!
Aku percaya, ayah kini lebih baik. Ayah tak lagi merasakan sakit. Ayah sudah tenang disisi-Nya. Dan kini ia juga bahagia karena telah bertemu ibu. Cinta sejatinya.
Lagi-lagi airmataku menetes. Aku hanya menunduk, kembali terpuruk.
Pemakaman ayah dilakukan hari itu juga. Mas Wawan, aku juga Kiyoshi suami Intan ikut masuk meletakkan tubuh ayah dipembaringan terakhir. Berkali-kali aku menyeka airmata agar tidak terjatuh ketubuh ayah dan memberatkan langkahnya kealam baka.
Aku kini sudah lebih bisa mengontrol emosiku karena kehilangan ayah. Aku mengucapkan banyak terima kasih pada para tetangga dan pelayat yang ikut menghadiri pemakaman ayah sampai selesai.
Satu persatu orang pergi meninggalkan tanah pekuburan. Aku masih duduk terpekur diatas gundukan tanah merah yang masih basah. Wangi bunga melati dan mawar membuatku kembali mengenang masa-masa bersama ayah. Masa kecilku, masa remajaku bahkan masa-masa senang dan sulitku hingga kini. Airmata ini kembali mengalir.
Hera mengangkat tubuhku mengajakku pergi dari makam ayah karena masih ada tamu-tamu dirumah.
__ADS_1
"Pergilah duluan, Hera! Aku masih ingin disini bersama ayah! Tolong urus semuanya dulu. Tolong bilang mas Wawan untuk menghandle semuanya. Aku masih ingin disini!"
Hera meninggalkanku tak bisa membujukku ikut pula bersamanya.
Aku masih ingin bersama ayah. Masih ingin melakukan banyak hal bersama ayah. Bahkan kami sepertinya tidak pernah pergi piknik setelah ibu tiada.
Maafkan anakmu yang tidak bisa membahagiakanmu bahkan hingga akhir hidupmu, ayah! Aku hanya bisa mengusap airmata penyesalan karena tidak pernah bisa membahagiakannya. Bahkan ayah sempat marah padaku dan tak mengakuiku anak ketika perceraianku dan Ranti terjadi. Ayah! Bahkan sampai saat inipun keinginan ayah agar aku kembali pada Ranti tidak terwujud karena mungkin saat ini Ranti sudah resmi menjadi suami Sofyan Ali. Dan hubungan kami terjalin hanya karena ada Jingga.
"Mas Dika!" suara seorang perempuan memanggilku dari belakang. Aku menoleh pelan. Memastikan siapa yang datang dan menemuiku dipekuburan yang telah sepi ini. Makam ayah memang tak terlalu jauh dari rumah. Dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.
Vika???
Vika!
Wanita itu kini berdiri tepat didepanku yang masih jongkok dihadapan pusara ayah. Ia berjalan semakin dekat padaku. Aku segera berdiri dan mundur menghindar.
"Vika!... Maaf, jangan sentuh aku. Tangan dan badanku kotor bau tanah pemakaman!" kataku segera membuat Vika menghentikan langkahnya.
"Mas! Aku ikut berduka cita atas wafatnya ayahmu, mas!"
"Terima kasih Vik! Darimana kamu tahu ayahku wafat?" Vika tidak menjawab. Ia seperti ingin menarik lengan kemejaku tapi segera aku tepis pelan.
"Aku pulang, mas! Tidakkah kamu kangen padaku?" tanyanya membuatku mengusap kepala dan rambutku dengan memalingkan wajah darinya.
Aku menatapnya kembali. Memperhatikannya yang terlihat grogi karena tajamnya tatapanku.
"Hubungan kita sudah berakhir, Vika! Terima kasih kamu sudah datang dan turut berbelasungkawa atas kepergian ayahku kepangkuan Allah. Tapi kini kita tak ada sangkutan lagi. Aku sudah menjalani hukumanku. Dan kamu juga sudah menjalani keputusanmu." kataku pelan. Aku tak punya tenaga untuk marah apalagi membentak Vika.
Hidung, bibir bahkan dada Vika terlihat lebih berbeda. Astaghfirullaah! Allah melaknat penglihatanku. Hhhh.. .
Sepertinya ia operasi plastik agar terlihat lebih wah. Aku tersenyum menyeringai. Menertawakan kebodohanku kenapa dulu aku bisa begitu bodoh tertarik bahkan berputar-putar terus disekitarnya. Hhhh....
Aku berjalan meninggalkan pusara ayah. Aku tak ingin beradu mulut dengan Vika diatas kuburannya. Astaghfirullaah.... aku tak ingin ayah menangisiku bahkan disaat beliau tidak lagi didunia bersamaku.
Vika mengikuti langkahku. Entah apa maunya perempuan ini. Bahkan dengan penampilannya sekarang, kurasa ia bisa memikat lebih banyak pria. Yang muda, kaya dan tampan, tidak seperti diriku.
Bersambung-
__ADS_1