
Aku tidak tahu lagi, jalan kulalui jalan apa. Hanya terus berjalan cepat kadang setengah berlari mencoba melihat sekitaran kalau-kalau ada Jingga dan Vika disana.
Adzan maghrib pun tak mampu menembus hatiku yang galau karena kehilangan emas permataku satu-satunya.
Handphoneku berdering, langsung kuangkat segera.
"Dika! Jingga dan Vika sudah ditemukan! Mereka sekarang ada di Polsek Kebon Jeruk Jakarta!"
Suara Arif bagaikan air hujan dikemarau yang panjang.
Subhanallaah! Alhamdulillaah! Terima kasih ya Allah! Terima kasih, Arif!... Aku langsung menangis tersungkur dijalan. Aku bersyukur Allah mengirim seseorang sebagai teman dan kini saudara, yang bernama Arif.
Aku menelpon mas Anang!
"Mas, posisimu dimana? Aku disekitaran stasiun Citayam. Jingga sudah ditemukan mas! Sekarang ada di polsek Kebun Jeruk Jakarta! Jemput aku dulu, mas!"
Aku bersorak riang. Anakku sudah ketemu! ******** sundal perempuan bernama Vika itu! Sialan!!! Lihat saja apa yang akan kulakukan nanti jika melihat mukanya!
Aku dijemput mas Anang seperempat jam kemudian. Kami meluncur ke Jakarta. Mencari alamat Polsek Kebun Jeruk untuk segera menjemput Jingga.
Ranti begitu histeris bahagia segera meraih Jingga yang ada dipangkuan ibu Polisi yang tengah menjaganya.
"Jingga sayang, kamu tidak apa-apa, nak?" tanyaku pelan memastikan keadaannya. Jingga menangis keras sambil memelukku dan Ranti. Ia sepertinya shock dengan kejadian ini dan kaget dengan situasi yang ramai begini.
Aku mencium pipi Jingga kiri-kanan.
"Ga apa-apa, sayang! Jingga aman sekarang, sayang! Ada mama, ada papa juga! Cup, cup sayang... anak pintar. Anak hebat! Jingga anak kesayangan papa yang jagoan!" Aku berusaha menenangkan Jingga dengan kata-kata penghiburan sementara Ranti masih terisak tak bisa berkata apa-apa seraya mendekap tubuh mungil Jingga.
Aku bergegas masuk kedalam kantor Polisi dan menemukan "seonggok daging tak berharga bernama Vika". Aku menerobos beberapa Polisi yang ada disana. Menampar pipi Vika beberapa kali dan hampir saja jotosan tanganku melayang kewajahnya "yang penuh tambalan" karena operasi itu kalau tubuhku tidak disergap polisi-polisi itu.
__ADS_1
"Lepaskan aku, pak! Biar aku membunuh dajjal itu didepan kalian! Kalian bisa tangkap aku setelah itu!!" aku teriak kesal dengan amarah sudah dipuncak ubun-ubun.
"Sudah, Dika, sudah! Sadarlah! Yang penting Jingga sudah ketemu!" mas Anang menarik tubuhku keluar. Ini pertama kalinya ia membentakku membuatku menurutinya keluar ruangan interogasi sementara.
"Dia membawa anakku, mas!!!"
"Aku tahu, Dika! Aku tahu perasaanmu!!" mas Anang memelukku. Menepuk pundakku menenangkanku. Aku menarik nafas beberapa kali. Mengucap istighfar didalam hati. Hhhhh... Aku bisa gila dan hilang akan karena kelakuan Vika!
Setelah beberapa menit aku bisa menguasai emosiku, kutemui lagi Vika yang masih didalam ruang interogasi.
"Apa motifmu membawa anakku? Kalau kau ada masalah denganku,... cari aku! Jangan libatkan Ranti apalagi Jingga!! Apa maumu?" tanyaku setengah berteriak membuatnya menangis terisak dengan wajah merah dan basah airmata.
Airmata buaya betina! Kau yang dulu membuat simpati dan iba hatiku karena airmata kepalsuanmu, hingga hancur berkeping-keping rumah tanggaku tak bersisa karena airmata kepalsuanmu itu!
Ingin kuhajar Vika habis-habisan jika tak dihalangi beberapa orang polisi disana.
"Perempuan sundal!!! Tidak tahu malu!!! Sudah kubilang, kita sudah tidak ada hubungan. Kau sendiri yang memutuskannya dulu dan aku menerimanya! Kau sudah gila ya, sampai lupa omonganmu sendiri?"
"Kamu bohong padaku, mas! Kamu bilang kamu tidak punya apa-apa lagi! Padahal kamu justru membangun perusahaanmu sendiri. Kamu bahkan sedang mempersiapkan pabrik baru di Citayam. Jangan bilang kau sengaja membohongiku, mas! Aku sudah mendengar dan melihatnya sendiri!"
"Perempuan setan! Perusahaan yang mana??? Pabrik mana? Bangun woi dari halusinasimu!!! Cari sana pria-pria kaya yang bisa kau poroti uangnya dan kau hancurkan kehidupannya! Kau sudah lihat kehancuranku bukan? Kau sudah mengikutiku hingga aku tenggelam dalam kesengsaraan! Kau masih belum puas menghancurkanku, Vika??? Apa salahku padamu? Apaaaa??? Aku cuma lelaki hina yang sudah menjelang tua! Aku tidak bisa menyenangkan hasratmu yang bergelora! Kau bisa cari lelaki lain yang lebih segala-galanya dariku!!! Kau hanya mempermainkan aku, dan sudah kukatakan aku berhenti dari permainanmu!!"
"Mas, aku mencintaimu, mas! Aku tidak bisa untuk tidak memikirkanmu!!"
"*******!! Membusuklah kau dipenjara, Vika!!!"
Aku pergi meninggalkan Vika diruang interogasi. Aku mengurus laporan penculikan dengan tersangka Vika diruangan berbeda bersama Arif. Ranti sudah pulang membawa Jingga dengan diantar Rosa dan mas Anang.
Aku sangat berterima kasih dengan bantuan Arif dan pihak kepolisian Kebun Jeruk yang sangat sigap hingga anakku Jingga kembali kepelukan kami, Ranti dan aku.
__ADS_1
Aku pulang ke Bojong hanya ingin melihat Jingga. Ternyata putri kecilku itu sudah tidur. Kini aku dan Ranti hanya berdua duduk diruang tamu rumah Ranti.
"Sebaiknya kamu kembali pada Vika, mas!" tiba-tiba Ranti mengeluarkan kata-kata yang membuat emosiku kembali naik.
"Kau fikir bisa semudah itu, Ranti?"
"Aku tidak ingin berurusan dengan Vika lagi! Apalagi kalau sampai ia kembali mengganggu Jingga!"
"Kau cari aman Ranti?? Kau ingin tenang dan damai bukan???... Oooh ternyata kini aku juga tahu hatimu. Kau pun sama sepertiku. Tidak mencintaiku sepenuh hati bahkan ketika kita masih menikah dan Vika belum ada diantara kita!"
"Apa maksudmu, mas?"
"Hahaha....iya! Kau tidak pernah mencintaiku, Ranti! Kau hanya kasihan padaku! Kau hanya iba mendengar kisah sedih kehidupanku, bukan? Kau menikah denganku karena terpaksa oleh keadaan dimana keluarga besarmu mendesakmu menikah karena usiamu sudah 25 tahun. Betulkhan ucapanku?"
"Kamu bicara apa?"
"Aku bicara ngasal? Kalau kau memang mencintaiku, tidak mungkin kamu terus-terusan mendorongku pada Vika, sahabatmu sendiri. Kalau kau cinta aku kau pasti bakalan terbakar cemburu ketika Vika dengan gamblangnya bahkan sampai membecandaimu menukar uangnya denganku yang notebenenya adalah suamimu! Kau tidak akan terus-terusan membiarkan aku dengan kemaksiatanku, kalau kau benar-benar cinta padaku!!!"
"Kau tahu Ranti??? Kau juga ikut andil atas dosa-dosa yang kulakukan dahulu bersama Vika. Kau....yang membuatku melakukan itu!! Tidakkah kau sadar??? Kau tahu, Ranti? Ketika kita ribut sepulang dari kebun Raya Bogor karena kau mengatakan keinginan Vika agar aku keluar dari tempat kerjaku hanya untuk mengurusnya dan uangnya? Kau ingat? Kau tahu aku pasti pergi ke kedai minuman jika aku sedang pusing banyak fikiran! Tapi kau..., kau justru menelpon wanita dajjal itu agar menemuiku ditempat haram itu. Darimana dia tahu aku ada disitu kalau bukan kau yang memberitahukan. Kau menyuruhnya memata-mataiku bukan?? Tidakkah kau sadari, aku dibawah pengaruh alkohol hingga perempuan setan itu membawaku kerumahnya! Rumah yang ia beli dari pinjaman uang tabungan deposito kita, Ranti!!! Kau ingat??? Kau ingat??? Aku akhirnya berakhir diranjangnya. Menyetubuhinya hingga semua setan menari bersamaku seketika, Ranti! Buka mata hatimu Ranti!!! Kalau kau cinta aku, tidak mungkin membiarkan orang lain menyentuhku apalagi memilikiku! Dan kau bilang, kau sudah punya firasat,.... kalau feelingmu memang lebih kuat menginginkanku, kau harusnya bisa melihat betapa seringnya aku memberimu kode-kode agar kita putuskan hubungan pertemanan dengan sahabat tercintamu itu!"
"Satu lagi, Ranti! Kau benar, aku mencintai diriku sendiri dan juga dunia ini. Aku memikirkan kehidupanku agar lebih baik dan lebih baik lagi. Kau benar! Aku gila kehormatan karena sejak kecil aku terbiasa dihina orang. Dibuli orang karena aku miskin. Karena aku anak pasar yang bau dan menjijikkan. Tapi asal kau tahu, Ranti! Sejak aku memutuskan menikah denganmu. Tak sedetikpun kubiarkan diriku berleha-leha apalagi bermain dengan wanita lain, karena diotakku hanya ada kerja. Juga hanya ada kau dan Jingga! Aku bekerja mati-matian meningkatkan taraf kehidupanku, untukmu. Untuk anakku. Untuk kita! Kenapa? Karena aku tak ingin istri dan anakku mengalami kehidupan pahit yang kualami dahulu. Karena aku tidak ingin istri dan anakku dihina karena kita miskin! Karena aku memikirkan masa depan kalian! Kau tahu, Ranti? Kenapa aku tidak protes ketika kita mampu membeli rumah, mobil, motor semua kau ingin atas namamu? Karena aku tahu, itu adalah hakmu dan hak Jingga!!!... Kau bilang aku tidak tahu arti cinta yang sebenarnya!! Apa aku pernah mengeluh padamu, ketika pekerjaan menyiksaku. Ketika aku harus berebut perhatian dan jabatanku dengan beberapa temanku hingga kita saling sikut demi membawa yang namanya keberhasilan, yang dengan bangga bisa kubawa pulang dan kupersembahkan untukmu dan anak kita. Semua untuk masa depan kita!"
"Dan kini meskipun kita sudah bukan suami istri lagi, dengan entengnya kamu menyuruhku menerima wanita pembawa sial itu kembali dikehidupanku! Aku tahu kamu tidak cinta aku! Untuk itu, berhentilah mengurusi kehidupanku! Kau berhak bahagia. Aku tidak bisa memberimu kebahagiaan! Tapi bukan berarti kau terus menerus mendorongku sesukamu. Kamu bisa tinggalkan aku, Ranti!!! Kau padahal bisa bahagia dengan Abimu. Dia lelaki yang baik. Yang bertanggung jawab karena berani mendatangiku 8 bulan yang lalu hanya untuk meminta izinku sebagai papanya Jingga!"
Ranti hanya menangis membiarkanku berkicau meluapkan segala isi hatiku yang kadung lumer tumpah tak tentu arah. Hanya tersungkur diatas meja ruang tamunya.
Lagi-lagi aku menyakitinya. Aku membuatnya menangis, ya Allah!
Bersambung-
__ADS_1