AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA
HILANG DALAM TERANG


__ADS_3

Aku berniat mengantar Ranti pulang setelah acara selesai. Sangat percaya diri karena semua orang terdekatku mendukung usahaku dalam fase mendekati Ranti. Terlebih ayahku. Beliau memang tidak memperlihatkannya dengan jelas. Tapi dari gestur dan tatapannya seolah ayah memberiku izin untuk terus memepet Ranti mendapatkan perhatiannya lagi.


Aku mengantar Ranti dengan mobil kantor yang baru. Ranti duduk disampingku sembari memangku Jingga yang tertidur nyenyak sekali.


Ranti! Mau mampir dulu, makan siang?" tanyaku berusaha memberinya perhatian lebih.


"Terima kasih, mas! Aku masih kenyang, tadi makan bakso dan siomay digerai makanan acara kantormu."


"Mau mampir supermarket dulu? Siapa tahu ada barang yang memang ingin kamu beli gitu?"


"Terima kasih. Jingga sedang tidur. Aku mohon antar pulang kerumah saja, mas!"


Hhhh.... Susahnya bermanis-manis dengan Ranti kini.


"Kamu lihat khan? Nama perusahaan kami, Pelangi Jingga. Kamu suka dengan nama itu?" Aku berusaha aktif mengajukan pertanyaan terus padanya. Karena Ranti terlihat tidak antusias untuk menyambung obrolan denganku.


"Iya. Terima kasih." Itu saja? Itu sajakah jawabanmu, Ranti? Harusnya kamu tersenyum dengan wajah cerah dan mata berbinar. Melanjutkan ucapanmu dengan kata 'kamu hebat, mas! Aku bangga padamu!'.


Hhh....!!!


"Ranti! Setelah perusahaan kami stabil dan terlihat peningkatan diomset penjualannya, maukah kamu pergi denganku? Bersama Jingga juga. Kita ke seaworld. Mau ya? Aku ingin melihat Jingga bahagia setelah melihat ikan-ikan disana."


Ranti menunduk. Memandangku sambil berkata, "Maaf mas! Aku tidak berani berjanji!"


"Kenapa, Ranti? Untuk kebahagiaan Jingga, marilah kita buat suasana yang harmonis juga."


Ranti lagi-lagi diam tak menjawabku. Dia membuka tas kecilnya yang tertindih Jingga. Mengambil handphone dan sibuk membaca pesan yang masuk. Aku hanya menghela nafas. Galau dan gamang.


Ranti asyik dengan hp. Meski satu tangannya menyangga tubuh Jingga, tapi Ranti bisa menggunakan sebelah tangannya lagi untuk mengetik dan menjawab pesan dihpnya.


"Ada orderan ya?" tanyaku berusaha lembut dan juga sopan.


"Bukan."


"Pesan dari teman?" aku agak terkejut karena kata-kata pertanyaan yang spontan keluar dari bibirku. Aku mengumpat dalam hati. Padahal aku sudah berjanji tidak akan terlalu ikut campur kekehidupan Ranti. Aku sangat percaya padanya. Tapi kenapa rasa ingin tahuku terlalu besar untuk kepoin dia.


"Dari Abi."


"A, abi?.. Kalian masih suka chatt-an?" tanyaku terbata-bata.

__ADS_1


"Hubungan kami baik-baik saja, mas!"


"Mmmh...lalu...mmmm, soal kamu meminta aku untuk buktikan cintaku padamu.... itu mmmm serius khan?"


"Hahahaha...apa sih mas? Kamu kayak anak SD deh ngomongnya!" Ranti tertawa cuek.


"Akuuu...serius Ranti! Serius memintamu kembali padaku. Aku mencintaimu. Bahkan kini aku lebih mencintaimu dari sebelumnya. Aku berani karena kini aku percaya diri mengungkapkan semua padamu karena aku juga tidak miskin seperti saat baru keluar dari penjara. Aku punya pekerjaan yang layak. Aku yakin bisa membuatmu bahagia. Mmh?"


"Mas! Kita bicara nanti dirumah. Kamu sedang menyetir. Lebih baik fokus ke jalan raya. Oke?"


Kami sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Aku gugup melihat respon Ranti yang dingin dan datar. Tapi aku yakin Ranti tersentuh dengan ungkapan cintaku yang terbuka dimuka umum tadi.


Hhhh...


Ranti turun dari mobil sambil mengucapkan terima kasih. Aku hanya mengangguk turut ikut turun dan mengekornya. Ranti..... aku menunggu jawaban darimu! Bisik hati kecilku mengharap.


"Kamu ga kembali ke kantor, mas?"


"Hari ini aku sudah selesai. Rosa, mas Anang dan yang lain juga sudah pulang. Besok baru kami baru akan mulai bekerja."


"Kamu mau langsung pulang?" tanyanya kujawab segera dengan tatapan mata. Ranti seperti faham maksudku. Ia mempersilahkanku masuk dan duduk diruang tamu sementara ia membawa Jingga ke kamar untuk menaruhnya diranjang tidur.


"Mas! Aku bangga padamu. Sebagai papanya Jingga, kamu terlihat sempurna dan luar biasa. Selamat ya, atas kerjakerasmu dan kegigihanmu!" Aku tersipu malu. Akhirnya Rantiku mengakuiku. Mengakui keberadaanku dan juga semua yang telah kulakukan untuknya dan untuk Jingga.


"Ranti! Aku kini bisa berdiri tegak tanpa menunduk lagi. Aku sudah punya perusahaan sendiri meskipun kecil dan belum terlihat kemajuannya. Aku, sekali lagi aku ingin meminangmu menjadi istriku. Aku ingin kita memulai hidup baru dengan pribadi yang baru juga suasana yang baru. Mari kita lupakan masa lalu, Ranti! Aku tidak akan pernah jatuh lagi kelubang yang sama, yang membuat hatimu sedih lagi. Aku berjanji padamu, Ranti!"


Ranti menunduk. Memainkan ujung tuniknya tak beraturan.


"Maaf, mas! Aku tidak bisa bersamamu kembali." jawabnya singkat tapi jelas sekali terdengar olehku.


Jantungku serasa berhenti berdetak. Fikiranku seperti berhenti berputar. Ranti, menolakku.


"Kenapa, Ranti? Apa hatimu masih terluka karena aku? Aku akan menyembuhkan lukamu yang telah kubuat, Ranti! Percayalah padaku. Masa depan cerah menunggu kita! Marilah genggam tanganku! Aku akan pegang erat jemarimu. Tak kan pernah lagi kulepas."


"Kamu adalah pria yang baik, penuh kasih dan bertanggung jawab. Kamu juga optimis memandang masa depan. Kamu begitu tekun dan gigih untuk memperjuangkan keinginanmu. Kamu pria sejati yang perfeksionis. Kamu tak berubah sama sekali, mas! Aku salut padamu!"


"Tapi aku telah berubah, mas! Aku telah bermetamorfosis seperti sekarang ini. Rantimu yang dulu lugu, polos, manis dan penurut menurutmu kini sudah mati. Inilah aku mas! Ranti yang sekarang. Yang kritis akan selalu mendebatmu bila satu ucapanmu salah dimataku. Aku lebih egois dari Ranti yang dulu. Aku tidak lagi manis, diam, menunduk, mengangguk, tersenyum dan mengekormu dari belakang seperti seekor pudel kesayangan. Aku takut kamu tidak bisa menerimaku yang sekarang!"


"Aku akan menerimamu, Ranti! Seperti apapun dirimu kini dan nanti. Mari kita saling perpegangan tangan menghadapi semua halangan dan rintangan yang menghadang cinta kita."

__ADS_1


"Kamu tidak berubah, hanya aku yang berubah. Bagaimana jika kamu akhirnya kecewa dan benci diriku, sikapku yang sekarang. Kamu akan kembali terpuruk menyesal. Hingga kembali tergoda melihat rumput tetangga yang lebih hijau. Aku tidak ingin kita lebih hancur lagi, mas!"


"Kita tidak akan hancur lagi, Ranti! Percayalah! Aku dan kamu sudah lebih dewasa pastinya. Dengan pengalaman pahit kita bisa lebih bijaksana menghadapinya." Ranti tetap menunduk tak melihat kearahku.


"Aku tidak bisa dan tidak mau, mas!"


"Kenapa, sayang? Kamu boleh ganti perusahaan Pelangi Jingga dengan namamu. Oper alih semua aset yang aku punya, hanya untukmu dan Jingga. Aku memberimu hak sepenuhnya disana dengan Rosa dan mas Anang. Kamu memiliki hak mutlak. Bahkan kamu bisa bekerja dengan pilihan jabatan yang kamu suka. Bagaimana?"


"Terima kasih kamu sudah menyanjungku dengan begitu tinggi. Terima kasih, mas! Tapi maaf, aku tidak mau menerimamu lagi."


"Kenapa? Perjuanganku masih kurang? Pengorbananku masih sedikit bagimu? Please, Ranti!... Aku akan selalu mendambamu. Aku tidak akan egois memaksamu terburu-buru. Aku tahu kamu butuh waktu. Tidak mengapa, aku menunggumu, sayang!"


"Jangan menungguku, mas!"


"Apa kamu lebih memilih Sofyan Ali?"


"Aku memang masih berhubungan baik dengan Abi. Tapi bukan karena dia juga, aku menolakmu. Aku tidak mau takabur akan jodohku. Tapi aku dengan tegas memohon kepada Allah agar tidak lagi dipersatukan denganmu dalam naungan rumah tangga. Karena bila aku sungguh memilihmu dan menerimamu,.... semua akan kembali sama. Lagi dan terulang lagi. Aku tak ingin alam bawah sadarku mengendalikanku. Aku pasti akan membalas dendam jika kembali bersamamu. Tanpa kusadari, aku akan berani bertindak menyakitimu untuk mengobati juga menghilangkan lukaku. Aku tak mau itu terjadi, mas! Aku tak ingin terkurung dalam dendam yang membelenggu. Kamu faham maksudku, mas?"


"Sudah banyak penderitaan yang kulihat, mas! Dari pengalaman orang-orang sekitar kita,... dari pengalamanmu, pengalamanku sendiri. Aku juga melihat kesedihan yang menyakitkan karena dendam yang terus berkobar meski kadang mati tapi mudah menyala kembali. Kulihat Arif, Vika,.... semuanya hidup penuh dendam hingga saling menyakiti satu sama lain."


"Ranti,... kita berbeda dengan mereka. Kita memiliki ketulusan untuk menjalani cinta."


"Itu dulu, mas! Kita punya ketulusan itu dulu, meski pondasinya tidak kuat. Tapi kini...., aku meragukan ketulusanku sendiri mas! Hatiku ternyata terluka dalam. Hatiku masih fase penyembuhan. Aku tak ingin menjadi jahat padamu demi menyembuhkan luka hatimu karenamu. Aku akhirnya tidak lebih baik darimu bahkan mungkin lebih buruk menyakitimu. Selagi kita masih sama-sama berfikir jernih, mari kita sudahi semuanya dengn baik-baik, mas! Cinta tak harus memiliki. Kamu setuju itu juga khan?"


"Aku sekarang sudah berani berjuang untukmu, Ranti! Harta, semua milikku...semuanya hanya untukmu dan Jingga. Kita bisa bahagia, Ranti! Seiring perjalanan kita, aku yakin lukamu akan cepat sembuh. Aku akan membalutnya dengan cinta yang banyak!"


"Harta tidak menjamin kebahagiaan seseorang, mas! Uang tidak bisa membeli hati seseorang. Memang benar, kami para perempuan terkadang lebih menitik beratkan pada kenyamanan dan keamanan hidup kami dengan mengandalkan uang. Tapi uang juga bukan segalanya untuk kami, mas! Hati kami memang pualam yang mahal dan tidak sembarang orang bisa memiliki. Tapi karena terbuat dari pualam yang indah dan spesial yang Allah ciptakan untuk kami, itu bisa rapuh, pecah dan hancur berserakan. Dan bukanlah seorang bangsawan, hartawan, jutawan yang sanggup memelihara hati pualam kami. Tapi seseorang berhati mulia yang mampu menjaga, melindungi serta merawat kami dengan hati-hati hingga tetap indah berkilauan memukau semua orang. Menjadi kebanggaan pria berhati mulia yang memilikinya, mas! Kami memang suka harta, tapi kami para wanita tidak semua suka kilauannya. Apalagi jika kilauan itu menyakitkan mata terlebih hati pualam kami. Belajarlah lebih banyak tentang wanita seutuhnya, mas! Bahkan agama kita begitu menyanjung perempuan tiga kali lipat dari para pria. Karena wanitalah, negara baik. Meski tak sedikit juga wanitalah yang menjadi penyebab kehancuran dunia. Kalian para prialah yang memiliki hak untuk memilih perempuan yang mana sesuai selera. Dan aku tidak sesuai denganmu yang energik dan ambisius untuk menaklukan dunia. Aku hanyalah wanita biasa, yang suka kesederhanaan dan kedamaian. Tapi kini aku lebih egois dan lebih tegas dalam memilih langkah yang akan kulewati. Aku tidak lagi pasif menerima alur yang Allah beri untukku! Aku percaya, Allah telah mengatur jalan hidupku sebaik-baiknya menurut-Nya. Juga jalan hidupmu, mas!"


Airmataku hanya meleleh mendengar ucapan Ranti yang panjang berisi itu. Aku benar-benar hilang dalam terang. Aku mati dalam keramaian. Aku kalah meski mengerahkan seluruh tenaga dan hartaku sekalipun. Ternyata semua benar-benar sudah hilang tak berbekas bagi Ranti. Semua kenangan manis kami, tak tersisa dimata Ranti. Bahkan walau hanya untuk kebahagiaan Jingga dengan menyatukan kembali kami sebagai pasangan suami istri, papah dan mamah yang tinggal serumah, tidak lagi ada dipikiran Ranti.


"Kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik dariku, mas! Kamu bisa. Mari kita saling mendoakan kebaikan dan membuang semua rasa sakit hati juga dendam yang berkepanjangan. Mari untuk tidak saling menyakiti lebih jauh lagi. Marilah kita bijaksana menjadi orangtua yang dibanggakan Jingga meski kita tak lagi bersama. Aku hanya bisa menawarkan persaudaraan padamu karena Jingga, mas!"


"Ranti!... Inikah ending balas dendam sakit hatimu padaku?"


"Ini bukan balas dendamku, mas! Justru aku menghindari itu dengan tidak menerimamu. Tidakkah kamu memahami kata-kataku, mas? Itu pertanda kamu memang mencintai dirimu sendiri dan dunia ini sepenuhnya karena kecewa dengan jawabanku. Kamu akan terus kecewa dan terluka karena pemikiranmu yang dangkal tentang aku!"


Aku melangkah gontai dengan hati dan fikiran kosong meninggalkan Ranti. Ini adalah pukulan terberat bagiku bahkan lebih berat dari vonis hakim ketika menjatuhkan hukuman penjara 2 tahun potong masa tahanan. Aku lemas seketika. Hanya duduk terdiam dijok mobil dengan mata kosong kedepan. Kuhilang dalam terang.


Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2