
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi keluarga Morgan Lee, keluarga yang selalu jadi panutan diluar sana kini sedang berdebat sengit, diruang keluarga terlihat semuanya sedang berkumpul.
"Sudah ayah katakan berkali-kali perjodohan ini tidak bisa dibatalkan Yuga"
"Yah saya mohon, selama ini saya tidak pernah menentang apa mau orang tua, tapi untuk masalah pasangan hidup saya tidak bisa"
"Jangan kurang ajar Yuga, ayahmu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya" bela Ny.Ratih
"Alah yang bener buat perusahaan kali" ucap Racle santai sambil mengorek telinga
Ny.Ratih murka, dia menunjuk tongkat kayu nya ke hadapan Racle "Diam kau anak sialan, tidak ada yang menyuruhmu berbicara"
Racle menegakan tubuh "Hey Nyonya, yang kau sebut anak sialan ini adalah anak dari laki-laki di sebelah mu, kau menghinaku otomatis kau sedang menghina orang tua ku juga"
"Sudah Racle, ayah mohon berhenti membuat keributan" Tn.Morgan mencoba menengahi, namun yang namanya Racle tidak akan gentar sekalipun ayahnya mengancam.
Brak.. Racle menggebrak meja "Ini baru namanya keributan"
orang-orang yang ada di sana tampak melotot melihat perbuatan Racle, mereka tidak habis pikir bisa-bisanya Racle mencari masalah dengan ayahnya dan juga Ny.Ratih.
"Racle sudah nak, sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan dari ayahmu" bujuk Ny.Hyeri
"Apa yang perlu dijelaskan? sudah jelas disini terlihat bahwa orang tua ini" tunjuk Racle pada Tn.Morgan " menjual anaknya demi keuntungan pribadi"
"Cukup Racle, selama ini ayah mencoba menahan diri untuk tidak memarahi mu, namun kali ini kamu sudah kelewat batas"
Racle berjalan menuju tempat duduk Tn.Morgan " Apa yang kelewat batas? ada yang salah dengan ucapan ku?" kompor Racle
__ADS_1
Tn.Morgan berdiri dan melayangkan tangan hendak menampar Racle, semua yang disana tampak syok bahkan Ny.Mela sudah menangis sedari tadi Tn.Morgan memarahi Racle, meskipun dia terlihat membenci Racle, namun tetap saja naluri seorang ibu tidak akan pernah rela melihat anaknya dimaki bahkan sampai disakiti orang lain, namun Racle menangkis dan langsung tersulut emosi " Dengar laki-laki tua, kau tidak ada wewenang sedikit pun untuk menyentuh tubuhku, memang siapa kau hah?
Yuga menarik Racle dan mendekapnya "Sudah Racle kakak mohon jangan seperti ini, biar saya yang menyelesaikan"
"Aku ini ayahmu" Tekan Tn.Morgan dengan nada tinggi, terlihat sekali dia begitu emosi dengan kelakuan putri kesayangannya ini.
Racle melepas paksa dekapan Yuga, dia kembali mendekat ke arah Tn.Morgan dan langsung menunjuknya " Dengar baik-baik kau bukan dia" tunjuk nya kepada Ny.Mela " Yang mengandung dan mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan ku, kau juga bukan mama Dita yang membesarkan dan menafkahi ku selama ini"
"Tapi aku tetap Ayahmu" teriak Tn.Morgan, terlihat orang-orang disana sudah terisak menangis terkecuali Ny.Ratih dan Tn.Morgan
"Kau hanya berjasa dalam proses pembuatan ku, itupun hal yang paling mudah dan paling nikmat bukan, lalu dengan seenaknya kau mengklaim bahwa kau seorang ayah yang berhak atas seluruh hidupku" Maki Racle "Bercermin lah terlebih dahulu sebelum kau ingin dihormati anak-anakmu"
"Anak durhaka, enyah kau dari hadapanku" sungut Ny.Ratih
"Berhenti memakiku dasar PENGASUH tidak tahu diri" teriak Racle
Mereka semua syok, apalagi Ny.Ratih, ia terlihat menegang, hal yang selama ini dia tutupi dari menantu dan cucu tirinya itu sekarang terbongkar sudah oleh Racle orang yang dia benci.
" Kemana nyali mu saat akan menamparku barusan?"
Tn.Morgan menangis, dia sudah tidak kuat menahan sesak "Maafkan ayah Racle, maaf" pintanya lirih
Semuanya tampak diam, ini untuk pertama kalinya bagi mereka melihat Tn.morgan merendahkan diri dihadapan orang lain
"Sudah Racle, sebaiknya kamu pergi ke kamar untuk istirahat" Ny.Mela berbicara dengan nada lembut terhadap Racle.
Racle menoleh ke arah ibunya, Ny.Mela menganggukkan kepala dengan masih terisak, Racle mencoba menahan emosi demi permintaan sang ibu, dia bergegas naik ke atas disusul Yuga.
__ADS_1
Racle membanting tubuhnya ke kasur, dengan posisi terlentang dia menatap langit-langit kamar
Kalau bukan karena ibu, gue enggak sudi berhenti sebelum gue lihat si tua bangka dan si tusuk konde itu bersimpuh dibawah gue, enak aja dia yang cuma una-una doang mau gampar gue, cuma ibu dan mama Dita yang gue halalin nyentuh tubuh gue. batinnya
Terdengar pintu kamar diketuk, Racle yang sedang bad mood hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan aktifitasnya. Astaga penghuni rumah ini rese banget, udah tau mood gue lagi hancur lebur, bisa-bisanya ganggu kek gini. "Rese loh, udah tinggalin gue sendiri" teriaknya dari dalam kamar
Yuga yang mendengar teriakan Racle seketika berhenti mengetuk pintu, "Oke, maaf saya sudah mengganggu, selamat istirahat Racle" pamit Yuga.
Gue jadi pengen balik ke rumah mama Dita, gue kangen suasana sepi disana, disini musuh gue terlalu banyak, please ma telfon gue suruh gue balik, meski itu mustahil, selama ini juga si wonder women telpon gue cuma buat nanyain kabar anaknya doang, nasib gue gini amat sii.
**
Diruang keluarga masih menyisakan ketegangan setelah kepergian Racle, Yuga yang sudah lelah dengan situasi tadi memilih untuk tidak kembali bergabung, dia masuk ke kamar menyusul Racle untuk beristirahat.
"Ibu sebaiknya istirahat ini sudah malam, Yuna ayah minta kamu antar nenek ke kamar" . Yuna yang menerima perintah langsung bangkit dan menuntun Ny.Ratih.
Setelah kepergian Ny.Ratih dan Yuna, Hyeri langsung angkat suara "Bisa jelaskan Mas apa maksud dari perkataan Racle barusan?"
Tn.Morgan kembali menyenderkan punggungnya ke sofa, ia menghela napas panjang "Kita bicarakan ini nanti, saya sedang lelah" jawabnya tegas
"Jangan menghindar" ucap Mela tak kalah tegas
"Sungguh Mela mas benar-benar lelah, beri mas waktu" dengan nada lembut, Hyeri yang melihat perbedaan sikap Morgan terhadap Mela hanya tersenyum miris, inilah yang ia tak suka dari sikap suaminya itu, terlalu mencolok, selama 30tahun lebih Hyeri mendampingi Morgan belum pernah ia diperlakukan selembut Mela, namun Hyeri hanya bisa membatin tanpa bisa protes,
"Lebih baik kalian istirahat juga, ini sudah malam" putus Tn.Morgan sambil bergegas pergi meninggalkan istri-istrinya.
"Mel, apa tidak sebaiknya kamu menyusul Racle?" tanya Hyeri dengan hati-hati
__ADS_1
"Sebaiknya mbak yang menyusul Yuga, saya lihat tadi dia sangat terpukul" jawab Mela
Hyeri menghela napas, sungguh berbicara dengan Mela ini sama persis seperti ia sedang berbicara dengan Racle, sama-sama membutuhkan kesabaran ekstra, kadang Hyeri merasa heran dengan Mela, kenapa ia begitu amat sangat membenci Racle, padahal sikap mereka bagai pinang dibelah dua, bahkan wajah mereka pun sekilas terlihat mirip, hanya saja Hidung Racle lebih mancung dibanding Mela dan mata Racle terlihat agak sipit dan tajam seperti mata kucing, tidak seperti Mela yang bulat sempurna.