
Alex dan Brian melirik satu sama lain, mereka seolah sedang berbicara lewat tatapan mata.
"*Gara-gara elo banyak bacot jadinya gini Lex. Si batu keburu dateng kan."
"Jangan nyalahin gue, ini semua enggak akan terjadi kalo bukan karena elo yang mancing gue terus Ian*."
Mereka saling melemparkan tatapan menyalahkan satu sama lain, saling memelototi, bahkan bibir Brian sudah komat kamit karena rasa kesalnya sudah naik ke ubun-ubun.
Yuga yang sudah mendudukkan dirinya di sofa singel didepan mereka, menyerengit bingung, memperhatikan kelakuan dari kedua sahabatnya ini.
"Kalian kenapa sih? tadi pegang-pegang an tangan, sekarang malah saling tatap-tatapan gini? kok rasanya jadi canggung." Yuga memegang tengkuknya, mencoba menetralkan rasa ganjil yang sedang menderanya.
Brian yang menangkap akan adanya prasangka Yuga yang seolah-olah mengatakan bahwa mereka sedang melakukan hal-hal yang tidak senonoh pun langsung menyangkal, dia menceritakan kejadian yang sebenarnya dari A sampai Z, tentu saja Brian menyensor bagian yang membahas adik-adik Yuga alias project mereka, bisa bahaya kalau Yuga sampai mendengar hal yang bersangkutan dengan masa depannya itu.
Kepala Yuga manggut-manggut, paham dengan penjelasan Brian. "Jadi dia masih sama aja pelitnya seperti dulu?" Tunjuk nya pada Alex.
"Eh, jangan sembarangan ngomong lo Ga, enak aja ngatain gue pelit." Alex yang tidak terima dikatai seperti itu memilih langsung berdiri dan menghampiri meja kerjanya. "Bawa makanan sama minuman terbaik di kafe kita kesini, saya tunggu, jangan lama !"
Melihat Alex yang kebakaran jenggot membuat senyum Brian merekah, "Gila ! gak sangka gue, ternyata omongan si Yuga yang nyelekit itu ada hikmahnya juga."
Yuga melirik tajam ke arah Brian, sahabatnya yang satu ini benar-benar bisa membuat mood nya amburadul. Baru juga sakit kepala Yuga mereda akibat tingkah Brian dikantornya tadi, sekarang lelaki didepannya ini sudah mulai memancing sesuatu yang akan membuat Yuga merasakan migren yang tidak berkesudahan.
"Rese lo !" Alex melempar kertas yang sudah dia remas terlebih dahulu, dan tepat mengenai kepala Brian, Lelaki itu tak sempat mengelak, karena matanya masih tertuju pada Yuga.
__ADS_1
"Apaan sih, elo cari perhatian gue sampe segitunya Lex. Biasa aja kali, enggak usah cemburu gitu gue perhatiin si Yuga." sewot Brian.
Yuga yang sedari tadi datang memperhatikan bagaimana absurdnya interaksi antara kedua sahabatnya itu hanya geleng-geleng kepala, tidak habis pikir, kenapa dua pria dewasa di depannya itu bisa bersikap seperti anak sekolah dasar.
Sebelum mereka berdebat lagi, dan melakukan hal-hal nyeleneh lainnya, lebih baik Yuga segera mengakhiri sesi pertemuan ini. Dia sudah tidak sanggup jika harus dibuat sakit kepala oleh kelakuan mereka, menghadapi Brian saja dia sudah pusing tujuh keliling, sampai-sampai Jessi harus memijatnya dengan paket komplit pijat plus-plus, baru rasa pusingnya mereda.
Apalagi sekarang dia harus menghadapi dua serigala pembuat onar sekaligus, entah harus dengan pijat seperti apalagi Jessi meredakan sakit kepalanya nanti.
"Kalian mau ketemu saya seperti ini, mau ada bahasan apa memang? saya tidak mau buang-buang waktu jika tidak ada hal penting." Tegas Yuga, lalu menatap Alex dan Brian bergantian.
"Yaelah, jangan so sibuk gitu Ga, rileks aja kali, santai dulu. Gue liat juga kerjaan elo lagi enggak banyak kan? gue aja yang seorang CEO sesungguhnya enggak seserius elo." Jawab Brian.
"Ini bukan masalah siapa yang CEO, tapi ini masalah tanggung jawab, kalaupun saya seorang office boy sekalipun, tetap saja tanggung jawab itu ada."
"Ga, sorry nih. Gue sama Alex ngajak elo kumpul kaya gini tuh karena kita kangen nongkrong bareng elo."
Alex yang tidak merasa pun melayangkan tatapan protes ke arah samping, dimana Brian duduk. Tahu dengan apa yang Alex maksud, bukannya merasa bersalah karena telah menyeret Alex ke dalam urusannya, yang ada Brian malah menginjak kaki Alex yang sebelah kanan, matanya melotot, mengisyaratkan Alex untuk diam saja.
"Kalo gue sama Alex kan kita sering pergi bareng, nongkrong bareng, lah sementara elo? elo itu udah kaya yang enggak satu paket lagi sama kita, seolah-olah elo itu ngebuang kita gitu aja. Jadi kalo pun gue ada nongkrong sama Alex, rasa nya tuh cuma kaya paketan ayam sama nasinya doang, enggak pake ada minum nya, enggak komplit Ga !"
'Kurang ajar si celup ! udah bawa-bawa gue segala, mana ada gue ngomong kangen sama si batu, kalo kangen sama adiknya si batu baru iya, iya kangen pake banget malah.' batin Alex
"Bener gak Lex?" tanya Brian, mencoba meyakinkan argumennya barusan, tapi yang ditanya malah sibuk dengan lamunannya sendiri. Merasa di abaikan Brian akhirnya menepuk paha Alex.
__ADS_1
Alex yang baru saja mendapat kesadarannya kembali akibat tepukan Brian, langsung menoleh kesamping. "Bener gak Lex?" ulang Brian.
Alis Alex mengkerut, merasa tidak paham dengan apa yang baru saja ditanyakan Brian, tapi berhubung sahabatnya itu sudah meremas pahanya dia tahu apa yang harus dia lakukan, biarlah dia selesaikan urusannya dengan Brian nanti, sekarang yang terpenting menghadapi Yuga terlebih dahulu.
Alex langsung melihat ke arah Yuga. "Bener Ga." Ucapnya serius, bahkan saking seriusnya Brian sendiri tidak bisa membedakan itu sebuah kebohongan atau hanya drama semata.
'Bener apaan juga gue kagak tau, masa bodo lah, yang penting damai aja dulu. Awas aja lo Brian, kalo kata-kata gue barusan bikin situasi lebih keruh, gue sikat elo sampe bersih ke akar-akarnya.' batin Alex, sesekali dia melirik tajam kearah Brian yang sekarang sedang berbincang santai dengan Yuga.
"Ga, adek elo ngadain party di puncak ya? kalo enggak salah tadi gue baca itu alamatnya di villa yang waktu dulu kita liburan bareng kan?" tanya Brian.
Yuga mengangguk, "Iya benar, Yuna kemarin meminta ijin untuk merayakan ulang tahunnya disana. Kebetulan keluarga kita juga sudah lama tidak liburan bersama, apalagi sekarang sudah ada Miracle. Sekalian pesta sambutan juga." terang Yuga
'Gaya nya pake istilah garden party segala, emang dia pikir dia remaja SMA apa.' Alex ngedumel, tentu saja hanya dia utarakan dalam hati. Mana berani dia mengomentari adik sahabatnya itu tepat dihadapan kakaknya langsung, ditambah dengan adanya Brian, yang Alex sebut dengan fans fanatiknya Yuna, bisa berabe urusannya.
Mendengar Yuga menyebutkan nama seseorang, membuat sudut bibir Alex sedikit terangkat. Entah kenapa hanya dengan mendengar nama nya saja sudah bisa membuat Alex bahagia. Sebenarnya Alex sendiri merasa geli dengan kondisinya sekarang, kenapa bisa se murahan itu dia sekarang. Mengejar-ngejar gadis yang bahkan sudah mentah-mentah menolaknya.
Mungkin ini yang orang sebut dengan istilah love is blind, sudah tau di tolak bahkan di caci pun, tetap saja cinta dan terus berjuang.
"Berarti Racle gue ikut dong?" tanya nya.
Yuga dan Brian yang mendengar kata gue tersemat di belakang nama Racle membuat mereka langsung melirik satu sama lain. Berbeda dengan lirikan Yuga yang terkesan mengintimidasinya, Brian malah terlihat seperti anak ayam yang meminta perlindungan terhadap induknya.
"Em untuk masalah itu sebenarnya Racle sendiri belum tahu sama sekali." Terang Yuga dengan nada yang terdengar seperti tidak yakin.
__ADS_1