AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Tidak bermuka dua


__ADS_3

" Sayang aku minta maaf atas kejadian semalem, please jangan hindari abang kaya gini. " Alex memelas, kalau ini cerita dalam serial kartun atau anime, sepertinya Alex sudah pasti akan menampilkan puppy eyes lengkap dengan binar prihatin untuk menarik perhatian Racle. Sayangnya ini dunia novel, jadi Alex tidak bisa melakukan hal itu, otomatis Racle malah menjadi muak sendiri melihat ekspresi wajah Alex yang terlihat seperti orang sedang menahan boker, mengenaskan !.


" Minggir, gu- aku mau kerja ! " hampir aja keceplosan, God please gue gak tahan kalo harus beramah tamah sama makhluk ciptaan Mu yang satu ini, bibir gue rasanya hampir kejang-kejang, saking susahnya memfilter bahasa.


" Yank, udah dong marahnya, abang gak mau kamu cuekin lama-lama, apalagi sampai dianggap tak kasat mata begini. " Racle seakan tuli, dia tidak menanggapi rengekan Alex. Bukan ingin balas dendam dengan apa yang sudah Alex lakukan tadi malam terhadap dirinya, tapi sumpah kali ini mood nya memang benar-benar sedang tidak baik, tahu sendiri, Racle kan orang nya moody.


Alex mengusap wajah kasar, dia frustasi jika harus Racle diamkan seperti ini, lebih baik melihat Racle dalam mode marah dan memaki dirinya, ketimbang melihat kekasihnya ini ada dalam mode silent. Apalagi sedari tadi Alex ajak bicara Racle, tidak pernah sekalipun gadis itu melihat atau menatap wajahnya, hanya sekali Racle menatap wajah Alex, yaitu saat Racle baru saja tiba, itupun sepertinya Racle tidak sengaja dan hanya beberapa detik saja, setelah itu Racle memutuskan untuk memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam ruangan Yuga.


" Abang harus lakuin apa supaya kamu enggak cuek seperti ini lagi sama abang? paling enggak kamu jawab kek permohonan maaf abang. Please honey, jangan siksa abang dengan mode bisu kamu. "


Bukannya kasihan mendengar rengekan Alex, malahan sekarang gadis itu terlihat sangat santai menyenderkan punggungnya pada pintu masuk ruangan Yuga, dia sedang sibuk menatap, meniup dan menggosok-gosokkan kuku lentik miliknya itu ke lengan kemeja panjang yang ia kenakan. Racle mengulangi kegiatan itu sampai beberapa kali, mungkin dia mencoba menyibukkan diri sendiri ketimbang harus meladeni Alex.


" Yank jawab dong ! jangan mempermainkan kesabaran abang seperti ini, kamu mau abang menjadi khilaf seperti tadi malam? enggak kan. Makanya jawab ! abang harus lakuin apa? "


Mendengar nada bicara Alex yang sudah naik satu oktaf, membuat Racle langsung menegakan tubuhnya, dia menatap datar lelaki yang sedang duduk di kursi kerja nya. " Aku mau abang robek perjanjian itu, dan kita putus. "


Alex menggeleng tak percaya, bagaimana bisa Racle mengatakan hal seperti itu kepada dirinya. Tidak tahu kah Racle, kalau semalam Alex dibuat tidak bisa tidur karena saking bahagianya dia bisa berpacaran dengan sang pujaan hati, tidak tahu kah Racle, Alex tadi malam tidak bisa berlama-lama berada di dalam club karena rindu dengan wangi parfum Racle yang menempel pada sprei kasur miliknya yang berada di apartemen. Tidak tahu kah Racle dengan semua itu? tentu saja tidak ferguso ! mana bisa Racle tahu, orang dia tidur nyenyak di kamar Nita, setelah cape dibuat nangis kejer oleh Alex.

__ADS_1


" Tidak untuk yang satu itu sayang. " Alex kembali memelankan suaranya, dia mencoba menahan gejolak marah dan kecewanya dengan sikap Racle ini. " Yaudah terima aja sama perlakuan aku, gak usah banyak protes. Minggir aku mau kerja !. "


Racle menarik lengan Alex agar lelaki itu mau bangkit, dan sepertinya kali ini Racle berhasil. Bukan karena the power of Racle, melainkan Alex sengaja membuat tubuhnya ini untuk mengikuti keinginan Racle, kalau Alex tidak melakukan itu atau bahkan menolak tarikan Racle, mana bisa Racle membuat Alex bangkit hanya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.


Setelah berhasil menyingkirkan Alex dari kursinya, Racle langsung saja duduk dan mengoperasikan komputer miliknya, dia tidak mempedulikan lagi Alex yang terus saja menatapnya dari samping, memang sedari tadi juga dia sudah tidak peduli dengan makhluk yang satu ini kan.


Alex menghela nafas, mengontrol emosi yang sesekali bisa saja meledak karena tidak kuat Racle acuhkan, Alex mencondongkan tubuh jangkung miliknya, cup dia mencium sekilas kepala Racle, tapi Racle tak bergeming sama sekali dengan apa yang sudah Alex lakukan. Hingga membuat Alex menjadi berani berbuat lebih, dia nekat memeluk tubuh molek Racle. " Abang sayang kamu, jangan pernah mencoba untuk pergi dari hidup abang. "


Setelah berhasil membisikan kata-kata manis yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya melting, tapi tidak dengan Racle. Alex langsung membenahi jasnya dan melenggang pergi meninggalkan kekasihnya itu.


Huft, Racle menghembuskan nafas kasar, sebenernya dia kasihan dengan Alex. Racle tahu betul lelaki itu memang mencintainya, bahkan sangat memuja dirinya, tapi mau bagaimana? kalau hatinya sendiri selalu menolak keberadaan lelaki itu. Tak terkecuali dengan satu orang, yang sudah berhasil menyita perhatian dan waktu luang Racle.


***


" Tumben elo makan di kantin? biasanya juga tiap gue ajak suka nolak, alasannya ini lah itu lah. " Cibir Nita, " Jangan di aduk-aduk terus kek gitu, noh lihat itu kuah sotonya udah tumpah sana-sini, ih elo mah jorok. " Nita mengambil tisu lalu mengelap meja yang terkena tumpahan, dirinya terus saja mengomeli Racle, sudah seperti emaknya kalau sedang ada di rumah.


" Mbak, elo stop deh jangan ngoceh mulu, kepala gue serasa mau pecah tau gak sih, dengerin ocehan elo yang udah kaya emak-emak komplek. " Racle mendelik sebal melihat kelakuan Nita, kalau sekiranya Nita tidak ikhlas untuk membersihkan meja, lebih baik jangan deh. Racle tidak mau kuping nya menjadi korban kekerasan suara Nita. Toh nanti juga akan ada office girl atau office boy yang melakukannya.

__ADS_1


" Ish, elo itu ya kalo gue bilangin kali-kali nurut kek, jangan suka ngejawab mulu kaya gini, gak sopan tau gak sih. "


Ya ampun, harus dengan cara apalagi Racle menghadapi Nita, perempuan yang satu ini memang selalu bisa membuat mood dirinya jungkir balik, " Nih gue tambahin sekalian, biar elo puas. " Racle dengan sengaja mencipratkan kuah soto berwarna kuning itu menggunakan sendok, maka tercipta lah pemandangan yang semakin membuat Nita eneg.


" Cel, maksud gue bukan kaya gini, gue sengaja lap ini meja supaya nafsu makan gue enggak hilang. Lah sekarang? elo malah bikin gue gak mood makan, malahan elo udah berhasil bikin gue eneg Miracle. " Nita mendorong nampan makanan miliknya yang ada di hadapannya untuk menjauh.


" Ya bagus dong, bukannya mbak pengen banget diet tapi susah buat ngurangin porsi makan? sekarang gue udah bantu, bilang makasih dong sama gue. "


Nita memberengut kesal, Racle ini sungguh menyebalkan, apalagi dia tadi pagi tidak sempat sarapan karena menunggu jalannya sidang ibu dan Racle. Dan sekarang, Nita harus kembali merelakan jam makan siangnya hangus seketika, karena perbuatan adik angkat durjana nya ini.


" Cel kita makan di kafe sebrang aja yuk, gue bener-bener laper soalnya tadi pagi gak sempet sarapan. "


Racle memutar bola mata malas, Emang elo pikir gue sempet gitu buat sarapan? gue juga sama, boro-boro dapet jatah sarapan yang ada malah gue harus ngeluarin tenaga ekstra buat ngadepin itu kelakuan janda gatel " Ogah gue, elo aja sendiri yang kesana. " Nita langsung menampilkan wajah memelas ala-ala " Please Miracle sayang adek nya mbak, mau yaa? kalo mbak sendiri yang kesana, nanti yang bayarin siapa? tau sendiri makanan disana pada mehong-mehong. "


Racle menatap horor ke arah Nita, bisa-bisanya mbak yang satu ini memuji dirinya hanya karena ingin di traktir makan. Ya ampun Nita ini memang luar biasa, pikir Racle. Tapi inilah yang dia suka dari Nita, perempuan ini selalu jujur apa adanya, bahkan terkesan sangat vulgar jika menyangkut hal gratisan, tidak pernah menjilat apalagi sampai bermuka dua, jika sedang ada mau nya.


Sebenarnya juga Racle tidak nafsu jika harus makan makanan yang ada di kantin kantor, tapi mau bagaimana lagi? pergi ke sebrang sana sama saja dengan bunuh diri. Racle kan sedang menghindari segala sesuatu yang berbau Alex, tahu sendiri kafe yang terletak di sebrang sana itu milik siapa? siapa lagi kalau bukan milik pacarnya, Alex. Racle jadi dibuat merinding dengan kelakuannya sendiri, bisa-bisanya dirinya mengakui Alex sebagai pacar.

__ADS_1


Sepertinya otak Racle sedang tidak beres. " Nih, kartu kredit gue. " Racle mengeluarkan black card miliknya dan menyimpannya di atas meja. " Mbak boleh pesen yang mbak mau, tapi gue minta mbak bungkusin 1 porsi nasi liwet buat gue, jangan pake lama. Kalau bisa mbak juga di bungkus, gue gak mau mati kelaparan karena nungguin elo selesai makan. " Racle bangkit lalu meninggalkan Nita yang sudah terlihat berbinar menatap black card yang ada dihadapannya. " Oke Racle, tunggu mbak. " teriaknya.


__ADS_2