
Pagi yang manis ini berubah menjadi pagi yang sangat menjengkelkan bagi Racle, bagaimana tidak? setelah dirinya dibuat kesal karena harus ikut serta drama telenovela, dia juga harus dengan ikhlas menunggu ban mobil taksinya diganti.
Dalam perjalanan ke kantor, Racle dibuat speechless gara-gara ban taksi yang ditumpanginya bocor, mau cancel tak tega, order yang lain tidak dapat-dapat, mau cari tebengan pun mustahil karena jalanan yang dilalui Racle terbilang cukup sepi, apalagi ini jam-jam nya orang sedang sibuk beraktifitas. Mau tidak mau dirinya harus menunggu sang supir mengganti terlebih dahulu bannya, untung saja Racle tidak harus ikut membantu, kalo sampai itu terjadi, bisa-bisa dia akan mengutuk pagi ini dengan sebutan pagi terburuk !.
Tepat pukul sepuluh pagi, dirinya baru bisa menginjakan kaki di lobi Lee corporation. Menjengkelkan sekali saat melihat bagian resepsionis didepannya, dengan santainya Nita cekikikan bersama teman satu profesinya, lah Racle? dengan wajah kusut dan perut keroncongan harus siap menghadapi amukan sang bos.
" Enak bener hidup situ. " Sindirnya saat melewati bagian resepsionis. Mendapat sindiran seperti itu membuat Nita menjadi kikuk sendiri, bukan karena dia paham dengan apa yang Racle maksud, tetapi dia malu karena mendapat teguran dari atasannya, anggap saja Racle ini satu tingkat di atasnya, sebenernya bukan hanya Nita saja sih yang kikuk, melainkan teman yang ada disampingnya pun sama kikuk nya seperti Nita.
Ting, pintu lift terbuka sempura, huft Racle menarik nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya menelusuri lorong, " Oke, tenang Miracle sayang, elo gak bakalan sampe diapa-apain. " Racle memberi sugesti terhadap dirinya sendiri. Setelah merasa tenang akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan langkahnya kembali.
Brengsek, kurang ajar, gak tau malu, bastard, si mesum, si cabul. Sedikit kata makian Racle dalam hatinya, saat dia melihat ada bule tampan yang dengan santainya sedang duduk di kursi kerja miliknya. Kalau tidak malu dengan situasi dan kondisi sekarang, mungkin Racle akan nangis kejer seperti tadi malam. Tapi ini kantor bung, reputasi Racle dipertaruhkan disini kalo sampe itu terjadi.
Keadaan lorong yang sepi, bahkan tidak terlihat ada orang lain selain dirinya dan tentu saja si bule yang ada didepannya ini, tidak akan menjamin kalau semua gerak geriknya itu tidak diketahui banyak orang, istilahnya di kantor ini dinding yang notabene nya adalah benda mati pun bisa menyebarkan gosip. Perumpamaan untuk mereka, penghuni kantor yang saking tajamnya telinga dan mulutnya.
" Sayang. " lirihnya saat melihat wanita idaman hati sudah berdiri tepat dihadapannya, dengan raut wajah yang penuh penyesalan, Alex memang tidak sedang berakting, Racle bisa menilainya sendiri, lelaki itu pure terlihat amat sangat menyesal sepertinya. Enggan menjawab, bahkan melihat pun tidak ingin, Racle melewati Alex begitu saja dan langsung buru-buru masuk ke ruangan kakaknya.
Mendapati respon Racle yang demikian, yang menganggap dirinya seperti makhluk tak kasat mata, membuat Alex semakin merutuki dirinya sendiri. Dia merasa amat sangat bersalah terhadap kekasihnya ini, wait tunggu !, sepertinya ada yang salah disini, kekasih? yang benar saja.
Tidak sama sekali ! karena malam tadi dirinya dengan Racle sudah resmi berpacaran, bagaimana bisa? tentu saja bisa, kalian ingat dengan sebuah kertas yang Alex sodorkan tadi malam? dalam kertas itu terdapat beberapa poin, garis besarnya saja, disana tertulis bahwa Miracle Lee harus menjadi kekasihnya, mengganti gaya berpakaian, dan gaya bahasanya ketika sedang bersama Alex.
Sebenernya masih banyak, seperti jangan dekat dengan lawan jenis, jangan ini, jangan itu, dan bla bla bla.
__ADS_1
Tidak ada niatan bagi Alex untuk menyusul Racle kedalam sana, bisa makin runyam urusannya jika sahabat batunya ini tahu, dia kesini saja sepertinya Yuga tidak tahu. Karena Alex sengaja tidak memberi tahu, toh tujuannya juga bukan untuk bertemu sang sahabat, melainkan untuk bertemu dengan pujaan hatinya, maka dengan berbesar hati Alex akan menunggu Miracle nya ini kembali menghampiri dirinya. Tepatnya menghampiri meja kerja.
Karena untuk saat ini tidak mungkin juga kekasihnya itu mau bertemu dengannya, setelah apa yang Alex lakukan tadi malam terhadap Racle.
" Eh ? " mendapati ruangan bosnya ini kosong tak berpenghuni, Racle berinisiatif untuk menelepon kakaknya saja, tapi belum juga terhubung Yuga sudah ada nongol di depannya. Kening lelaki itu mengkerut saat mendapati ponselnya bergetar dengan kontak nama orang yang sama dengan yang sedang berada di ruangan nya.
" Buat apa kamu telpon saya? bicara langsung saja, bukannya lebih enak ? " tanya Yuga.
Racle memutar bola mata malas, gue telpon karena barusan elo enggak keliatan ada disini bambang ! kalo tau elo ada di dalam sana mana mungkin gue telpon, emang ya, ada aja perkara cari ribut di pagi yang indah ini.
" Ada apa? " tanya Yuga lagi, mendengar suara bos nya itu membuat Racle yang sedang mengumpat itu akhirnya kembali ke dunia nyata.
" Maaf saya telat." Ucap Racle dengan wajah datar, Yuga tersenyum ramah, perkataan adiknya ini tidak terdengar seperti penyesalan, melainkan terdengar seperti penjelasan.
Aneh, batin Racle. Saat mendengar kalo teman sejawat nya itu tidak masuk kantor tanpa memberi tahunya terlebih dahulu, bukan maksud mau merasa dipentingkan, tapi memang biasanya seperti itu. Jika mbak Jessi nya ini akan cuti, atau ijin, pasti akan memberitahunya. Tapi sekarang? apa jangan-jangan ini buntut dari permasalahan dua minggu lalu? ketika mereka bersitegang di parkiran club, ah sudahlah. Toh itu hak Jessi mau cuti atau tidak.
" Dia sakit ? " tanya Racle, sepertinya dia sedikit khawatir dengan kondisi Jessi. Apalagi akhir-akhir ini baik dirinya maupun Nita seakan memberi jarak tersendiri kepada temannya yang satu itu.
Yuga menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, bingung harus jawab apa? kalau harus jawab iya sakit, dia takut Jessi beneran sakit, di jawab dia kelelahan, Racle pasti memperpanjang urusan. " Emm, dia ada kepentingan pribadi. " Akhirnya Yuga bisa memberikan alasan yang tepat, menurutnya.
Racle terlihat mengangguk-anggukan kepala didepan Yuga, padahal dalam benaknya, gadis itu punya banyak tanda tanya besar. Mana mungkin mbak nya yang satu ini cuti mendadak? apalagi saat melihat tingkah Yuga yang tidak meyakinkan, Racle tahu kakaknya ini sedang berbohong.
__ADS_1
Sudahlah, Racle tidak mau ambil pusing, terserah dua sejoli ini pikir Racle, toh masalahnya sekarang dia harus menghadapai urusan yang lebih bisa membuatnya frustasi, bahkan merasa pusing tujuh keliling, siapa lagi kalau bukan Alex si biang onar.
" Oke, kalau gitu saya pamit. " Racle hendak keluar ruangan, " Tunggu ! kemarin kamu kemana saja Miracle? bukannya kakak hanya kasih kamu ijin untuk masuk siang? bukan berarti kamu bisa bolos seenaknya. "
Racle menatap datar Yuga, " Ada masalah pribadi, sepertinya tidak harus saya jelaskan disini, bukan kah itu kurang etis?. "
Yuga mengangguk pasrah, sungguh bukan itu maksud nya, tadinya dia akan menanyakan bagaimana keadaan Racle dan kemana saja dia kemarin, ditambah saat dirinya mendapat kabar dari sang momy bahwa Racle juga tidak ada pulang hari kemarin. Salahkan saja dirinya sendiri, karena gengsi yang begitu besar, membuat Yuga jadi tidak bisa mengungkapkan kecemasan yang dirasakan seorang kakak terhadap adiknya.
" Kalau tidak ada yang ingin anda disampaikan lagi, saya akan kembali ke meja kerja, karena harus segera menyelesaikan pekerjaan, permisi !"
Yuga kembali mengangguk sebagai jawaban, bukannya tidak ingin berlama-lama dengan sang adik, tapi dia takut salah lagi berbicara seperti barusan. Yang penting sekarang dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau adiknya itu baik-baik saja.
Setelah memastikan Racle keluar ruangannya, Yuga berjalan kembali masuk keruang istirahat. Hari ini malas rasanya untuk bekerja, kalau bukan karena ingin bertemu Racle, dan memastikan keadaannya baik-baik saja, mana mau dia meninggalkan kasur.
" Mas, itu barusan Racle ya? " tanya nya, dengan suara yang terdengar lembut nan merdu ditelinga Yuga.
" Iya, dia menanyakan kamu, sepertinya khawatir. " Yuga mengecup kening sang kekasih. " Badan aku pegel semua. " Adu Jessi manja, dengan bibir cemberut.
Yuga terkekeh geli melihat tingkah kekasihnya ini, diraihnya tubuh polos Jessi, dengan sekali gerakan kini tubuh polos itu sudah berada dipangkuan nya. " Kapan nih aku bisa pake baju, dingin tau ! mana pegel-pegel kek gini. " rajuk nya.
Yuga mengecup pipi kanan, dan kiri kekasih nya itu, gemas rasanya jika melihat Jessi yang kalem ini merajuk seperti anak kecil. " Ini mas peluk biar enggak kedinginan, nanti mas pijitin deh kalau kerjaan mas udah selesai. "
__ADS_1
Jessi mencebikkan bibir mendengar perkataan kekasihnya, " Aku pake baju sekarang aja ya? " Yuga menggeleng kepala, bahkan sekarang bibirnya sudah menempel pada daun telinga Jessi, dia berbisik seksi ditelinga kekasih nya " Jangan ! habis makan siang nanti mas pijitin kamu, tapi pijit plus-plus. " Ucap Yuga komplit dengan senyum nakal yang semakin membuat Yuga terlihat arrrgh perkasa.