
" Itu kan ? " Alex buru-buru bangkit dari duduknya saat dia mengenali seorang wanita yang baru saja masuk ke cafe and resto miliknya, Alex menghampirinya dan langsung tersenyum ramah. Sedangkan wanita itu malah sebaliknya, dia malah mendelik saat melihat Alex sudah berada tepat disampingnya.
" Nit, Racle mana? " tanya Alex to the poin. " Ngapain pak Alex nanyain dia? jangan berani macem-macem lagi sama Racle ya, awas aja kalo bapak sampe ngulang hal kemaren, saya laporin sama pak Yuga. "
Alex gelagapan sendiri setelah mendengar ancaman dari Nita, bukan nya apa-apa, karena kalau sampai Yuga tahu, bisa panjang urusannya, mana hubungannya dengan Racle belum membaik sama sekali, ditambah dengan perisa identik rasa Yuga. Oh no ! Alex tidak akan mau berurusan dengan teman batu nya itu.
" Santai dong Nit, emang gue ada tampang mesum atau semacamnya gitu? kan enggak! " Alex berusaha mencairkan suasana, meskipun dia merasa kikuk sendiri dihadapan Nita, sepertinya Racle sudah menceritakan semuanya tentang kejadian kemarin malam.
Nita memutar bola mata malas. " Tampang bapak emang enggak kelihatan mesum sama sekali. " Alex kembali tersenyum saat mendengar pujian dari Nita, " Lebih tepatnya, tampang bapak ini kelihatan seperti pedofil ! " Nita melengos begitu saja setelah mengatakan itu, wanita itu langsung duduk di kursi dan memanggil waiters untuk mencatat semua pesanannya.
Sementara Alex, dia masih berdiri di dekat pintu masuk cafe nya, senyum yang barusan sempat mengembang kini menjadi layu seketika. Aish, bener-bener ini si Nita, gue kira bakal muji gue, ternyata ujung-ujungnya cuma buat maki. Sialan !.
Tanpa rasa malu, atau mungkin Alex mencoba bermuka tebal demi mendapatkan informasi tentang kekasihnya itu, dia kembali lagi menghampiri Nita yang sedang duduk.
Nita yang sedang sibuk chatting dengan Racle pun langsung mendongakkan wajah menatap ke arah Alex. " Ngapain bapak duduk disini? " ketus Nita. Alex mencoba kembali untuk tersenyum ramah, meski sedikit dipaksa kan.
" Suka-suka gue dong mau duduk dimana aja, ini cafe juga kan cafe punya gue. " Sombongnya
" Iya ini emang cafe punya bapak, tapi bukannya pembeli itu adalah raja? jadi bisa dong bapak minggat dari sini, terus cari meja kosong yang lain untuk diri bapak sendiri. Jujur saya terganggu soalnya, bisa-bisa nafsu makan saya hilang karena lihat tampang pedofil depan saya."
Alex berdecih, " Nit, gue bukan pedofil ! selisih umur gue sama Racle itu cuma beda enam tahun doang, mana bisa elo kasih cap gue seorang pedofil, lagian dalam dunia pacaran jaman sekarang wajar aja kalo gue sama Racle ngelakuin itu. " Bela Alex. " Umur Racle itu udah pas buat anu, gak bisa lah dia elo kategorikan anak kecil, apalagi bodynya juga subur makmur kek gitu, masa iya elo anggap anak dibawah umur. Mana ada anak di bawah umur aduhai nya udah kaya model victoria secret. "
" What ? " Nita benar-benar syok mendengar penuturan Alex barusan, pacaran ? yang benar saja. Pasti lelaki yang ada dihadapannya ini cuma mengada-ngada doang, apalagi semalam Racle juga tidak bercerita kalo dirinya sedang menjalin hubungan dengan Alex.
__ADS_1
" Bapak jangan ngadi-ngadi deh ! "
" Gue enggak mengada-ngada Nita, sumpah beneran ! gue sama Racle itu udah jadian, tadi malem. "
Nita melihat gelagat Alex, tidak mencurigakan pikirnya, apalagi saat ini wajah Alex terlihat serius, sangat meyakinkan sekali. " Tapi tetep aja tindakan bapak itu salah, kalo mau begituan " Nita merapatkan kedua telapak tangan dan mengerakkan ke atas ke bawah. " Harusnya bapak nikahin dulu itu si Racle, ya minimal tunangan lah. " Saran Nita yang seperti orang benar padahal ujung-ujungnya menyesatkan juga.
Alex memijat pelan pelipisnya. " Gue bukan enggak mau nikahin dia, mau banget malahan Nit, makanya gue sampe nekat ngelakuin itu supaya dia mau nikah sama gue. Tapi tetep aja Racle kekeh sama pendiriannya yang enggak mau gue nikahin. Kurang apa coba gue ini Nit. " Ucap Alex memelas.
" Apa karena gue kurang ganteng? atau enggak tajir? apa jangan-jangan karena jabatan gue bukan sebagai CEO perusahaan terkenal, iya? " Alex merendah dengan tampang yang dibuat se prihatin mungkin, untuk menarik simpati Nita.
Nita menggeleng sebanyak tiga kali, tanda kalau dia tidak setuju dengan apa yang barusan Alex sampaikan. " Bapak ganteng kok, soal tajir atau enggak nya jelas kelihatan dong ! harta bapak enggak akan habis tujuh turunan sama tujuh tanjakan. Memang sih bapak bukan CEO perusahaan besar, tapi bapak punya banyak restoran, cafe, resort, hotel dan semacam nya. Itu udah lebih dari cukup. "
Sepertinya Nita sudah terbawa suasana, dia jadi lupa dengan misi nya semalam untuk membela Racle. Emang dasar si Racle nya aja yang bego ! udah gue bilangin harusnya dia manfaatin situasi, meskipun dia anak sultan sekalipun, tapi tetep aja dia harus cari laki yang tajir, kaya pak Alex ini. Batin Nita.
" Tapi kenapa dia selalu nolak gue Nit, alasannya apa coba? masalah cinta? elo bisa lihat sendiri kan Nit, gue itu cinta mati banget sama Miracle Lee. "
Alex tersenyum smirk saat melihat Nita yang sedikit-sedikit menjadi luluh, Alex harus pintar memanfaatkan situasi. Saat Nita akan menatapnya kembali, buru-buru Alex mengubah raut wajahnya menjadi memelas. " Nanti saya omongin lagi deh masalah ini sama Racle, lagian itu anak maunya apa coba? masa iya seumur hidup maunya cuma pacaran doang. "
Gotcha, ini yang Alex inginkan, dukungan orang terdekat, sepertinya Alex sudah berhasil mempengaruhi Nita. " Iya Nit, coba elo kasih nasihat sama Racle. Kali aja dia mau dengerin omongan elo. "
" Iya nanti saya coba. " Bener-bener ya si Racle, coba aja posisinya gue yang jadi cewek beruntung dapetin pak Alex, gue gak akan nunggu dia perkosa gue, karena udah pasti gue perkosa duluan nih laki. Nita terus saja merutuki kelakuan Racle dalam hati, hingga akhirnya kegiatan itu harus di pause dulu, karena pelayan sudah datang dan membawakan pesanannya.
" Saya bayar pakai ini ya. " Nita menyodorkan black card milik Racle, tapi Alex langsung mendorong kartu itu, demi kelancaran misi, dia harus membuat Nita terkesan dengan nya. " Enggak usah Nit, ini semua biar gue yang bayar. "
__ADS_1
Senang? tentu saja, siapa yang tidak akan senang mendapat traktiran cuma-cuma seperti ini. " Eh? enggak usah pak, biar saya aja yang bayar, ini mas. " Nita kembali menyodorkan kartu itu pada pelayan. Emang pinter banget Nita ini soal akting berakting.
" Enggak usah Nit, beneran. Nih pake kartu punya saya aja. " Alex mengeluarkan kartu yang sama dengan punya Racle dan memberikan pada pegawainya. Melihat kebingungan dari wajah pegawainya ini, Alex langsung bertindak. " Udah bawa aja, kalo tidak mau bonus kamu saya pangkas habis. "
Dengan sigap pelayan itu mengambil kartu Alex lalu membawanya ke bagian kasir, mana mau dia mengorbankan bonus bulanan demi drama yang barusan dia tonton.
" Aduh saya jadi gak enak ini pak, nanti Racle marah lagi kalo saya terima pemberian bapak. " Ucap Nita so-soan memikirkan Racle, padahal dalam hati dia sudah bersorak gembira hore, di otaknya pun sudah tersusun rencana licik untuk menghabiskan uang Racle sesuai dengan budget tagihan resto.
Lima ratus ribu, lumayan kan kalo gue beli cemilan pasti dapet banyak. pokoknya setelah ini gue mau ke supermarket.
" Gak apa-apa Nit, santai aja. Oh iya gue boleh minta nomor Racle enggak? soalnya tadi malem pas kita lagi berantem dia hapus kontak sama semua riwayat pesan dan panggilan gue. " Dusta Alex. Padahal aslinya dia belum punya sama sekali nomor Racle. Anggap saja Alex ini orang bego sedunia.
Mana ada pacar yang tidak punya nomor pacarnya sendiri, jelas saja tentu ada. Buktinya si Alex ini, dia sama sekali tidak memiliki nomor ponsel Racle, bahkan akun ig, twitter, dan teman-temannya yang lain, Alex tidak tahu. Karena Alex ini tipe orang yang tidak suka bermain media sosial. Lalu bagaimana bisa selama ini dia mengawasi Racle? jawabannya karena orang-orang terdekat Alex yang selalu memberikan informasi.
Seperti para pegawai di cafe nya, di mall tempat Racle nongkrong, pokoknya di setiap tempat yang Racle datangi dan selalu saja kebetulan tempat yang didatangi itu milik Alex, pasti dia punya seseorang yang melaporkan kegiatannya, termasuk di dalam club. Kalau untuk urusan club bukan karena itu milik Alex, melainkan dia memiliki koneksi tersendiri.
Tanpa ragu atau menaruh rasa curiga sama sekali, Nita langsung saja menyodorkan hp miliknya ke arah Alex. Beginilah dia, di kasih gratisan dikit aja langsung sangar nya hilang dan digantikan dengan ke ramah tamah an yang luar biasa. " Ini pak, silahkan catat sendiri. "
Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung mengeluarkan ponsel dan mencatat nomor Racle. " Cantik " gumam Alex pelan, saat melihat photo profil dari WhatsApp Racle. " Apa pak? " Nita yang tidak mendengar dengan jelas gumaman Alex bertanya.
" Hah? " Alex tidak sadar karena ucapannya terdengar oleh Nita, meskipun tidak jelas. Alex kira dia berkata dalam hati saja, ternyata sampai terbawa dalam dunia nyata. Sungguh pesona gadis berwajah sedikit oriental ini mampu meluluh lantahkan hati nya.
" Yaudah pak saya balik kantor lagi ya, kasian yang udah kelaparan dari tadi, takut keburu marah. " Pamit Nita.
__ADS_1
" Oke, hati-hati dijalan Nit, apa perlu gue suruh karyawan cafe buat bantu elo sebrangin ke sana? "
" Yaelah, gak usah pak! udah biasa kali saya bolak balik sini. Tenang aja saya wanita mandiri. Bye pak Alex. " Nita melenggang pergi meninggalkan cafe milik Alex dengan membawa satu kantong makanan, yang isinya lumayan banyak.