
" Kenapa juga saya harus menyalahkan Jessi, jelas-jelas disini yang salah itu kamu"
Racle geram dengan Jessi yang diam saja " Mbak ngomong dong, jelasin yang sebenernya gimana? biar cowok elo enggak nuduh gue terus" Jessi yang merasa tersudut akhirnya menangis, ia tidak berani untuk menceritakan yang sebenarnya, takut Yuga akan semakin marah.
Tak tega melihat kekasihnya menangis Yuga langsung membentak Racle " Berhenti menyudutkannya Racle"
"Jangan bentak cewek gue" Alex kembali protes kelakuan Yuga, "Ngomong baik-baik kan bisa Ga, tenang sedikit"
" Enggak usah sok belain gue, ini semua gara-gara elo" melirik Alex sekilas, Eh tunggu ada yang gak beres nih, Racle kembali melihat ke arah Alex, "Astaga" pekiknya kaget saat melihat jarak antara mereka yang begitu dekat " Elo ngapain peluk-peluk gue, cari kesempatan banget loh, lepas" Racle baru sadar bahwa sedari tadi Alex tengah memeluknya, ia menarik paksa coba melepas tangan Alex yang melingkar dipinggang ramping miliknya, bukannya terlepas yang ada Alex malah semakin erat memeluk Racle " Yank nanti kalo abang lepas kamu bisa jatoh, abang ngelakuin ini demi keselamatan kamu loh" sama buat kenyamanan aku.
"Bener-bener laki mesum, lepas gak"
Alex menggelengkan kepala, "Awww" jerit Alex, saat Racle berhasil mencubit lengan berotot miliknya dengan sangat keras, sontak saja Alex langsung melepas pelukannya lalu mengusap bekas cubitan " Yank kita belum nikah aja kamu udah berani kdrt begini sama abang, tega banget sih" ucap Alex memelas melihat bekas cubitan Racle yang memerah.
" Mimpi !! mana sudi gue nikah sama elo, pria mesum bin cabul, udah sana jauh-jauh dari gue" Racle mendorong tubuh kekar Alex, Didorong gini aja abang udah panas dingin, apalagi kamu raba-raba yank.
Alex melamun membayangkan ketika jemari lentik nan lembut Racle meraba tubuhnya, "Aah" desah Alex saat bayangan itu dirasa nyata, Racle yang sedang mendorong tubuh Alex mendengar itu menyerengit bingung perasaan gue dorong dia pelan, " Eh cabul gue cuma dorong elo pelan, ngapain sampe bilang Ah segala, cemen lo jadi laki" Racle sepertinya sudah salah kaprah menyimpulkan ******* Alex, dia kira Alex merasa sakit saat didorong, nyatanya lelaki itu sedang menikmati lengan hangat Racle yang mendorong tubuhnya. Benar-benar mesum sekali bukan si Alex ini.
Akhrinya Yuga turun tangan, ia mendorong paksa tubuh Alex agar menjauh, dia sudah tidak sabar ingin mendengar alasan adiknya yang membawa Jessi ke club.
Alex berdecih, kesal karena imajinasinya dirusak Yuga, " Rese lo Ga, ganggu gue aja" protesnya.
" Diam, dan jangan ikut campur kalau kamu masih ingin melihat Racle" ancamnya.
"Maksud lo apa Ga?", bukannya mendapat jawaban, yang ada malah Yuya menatap tajam dirinya.
__ADS_1
Alex mengangkat kedua tangan pasrah "Oke Ga gue diem" Demi masa depan.
" Kenapa kamu mengajak Jessi ketempat ini?" tanya Yuga dengan nada rendah, ia mencoba menahan amarahnya, supaya bisa dengan cepat mendapat penjelasan.
" Gak ada yang ngajak dia kesini, dia sendiri yang maksa pengen ikut" Racle menjawab tanpa menatap Yuga, bukannya tidak berani tapi ia sudah sangat muak dengan Yuga yang terus memperpanjang masalah.
" Kamu jangan terus-terusan mengelak Racle, semakin kamu menjawab dengan alasan konyol seperti itu, semakin lama pula saya membebaskan kamu"
Dasar kaum bucin resenya enggak ketulungan, kayaknya gue harus libatin lagi mbak Nita, biar masalah ini cepet clear.
" Konyol? gue udah bilang yang sebenernya, tapi elo malah anggap kejujuran gue itu sebagai kekonyolan? bangs*t loh" makinya pada Yuga, Racle sudah tidak bisa menahan kekesalannya, dia memang bukan gadis baik, tapi berbohong tidak termasuk dalam gaya hidupnya.
Yuga terperangah kaget, baru kali ini Racle berbicara sekasar ini padanya, tapi Yuga masih tidak bisa percaya pada kata-kata adiknya ini " Saya lebih tahu Jessi, dia tidak mungkin mau datang ketempat seperti ini kalau bukan kamu yang memaksanya"
"Gue emang bukan gadis baik-baik kaya dia" menunjuk Jessi " tapi gue bukan orang yang suka bohong"
" Sudah, jangan memaksakan diri untuk menjelaskan, mas percaya kamu tidak mungkin mau pergi ke tempat seperti ini" Yuga mencoba menenangkan kekasihnya, ia mendekap tubuh Jessi lalu mengusap lembut punggungnya,
Jessi menggelengkan kepala mendengar perkataan Yuga, Gak mas , aku salah, aku enggak bisa kamu percaya, maafin aku. Batinnya
" Loh gak bisa gitu dong, dia harus tetep ngejelasin yang sebenernya, kalo dia itu yang maksa gue sama mbak Nita buat bawa dia"
" Panggil Nita kesini, saya tidak percaya dengan kata-kata kamu"
Brengsek lo, kalo bukan kakak gue udah gue bogem itu muka.
__ADS_1
Alex pergi memanggil Nita, "Nit elo dipanggil si Yuga, gue minta kali ini elo harus ngomong yang sebenernya, biar masalah ini cepet clear, awas aja kalo sampe bohong kaya tadi"
Nita mengerjap mata, waduh gue ketauan, tapi kenapa enggak negur pas tadi aja ya? kalo tau bakal ditegur kek gini gue lebih baik jujur, rese nih pak Alex, belum nanti gue pasti dapet omelan si Racle.
Nita berjalan didepan Alex " Emang masih belum kelar juga pak?"
"Belum, si Jessi malah mewek, sebenernya Racle udah kasih penjelasan tapi si Yuga enggak percaya, yang ada malah dia nuduh Racle yang bukan-bukan" cerocos Alex seperti emak-emak kompleks.
Kasian juga si Racle. gue harus coba jelasin yang sebenernya, ini semua gara-gara si Jessi, malam huru-hara gue sama Racle enggak berjalan indah. Nita terus saja memaki Jessi dalam hati, ia sudah kepalang kesal pada Jessi, apalagi saat mengetahui kebenaran yang membuatnya patah hati.
"Nih orangnya, mau elo apain Ga?"
Yuga melirik sekilas pada Nita, kemudian kembali menenangkan kekasihnya. " Jelaskan" perintahnya tanpa basa basi.
"Jelaskan apa pak?, saya baru gabung kesini jadi enggak tau duduk permasalah nya" Nita bertanya setenang mungkin, padahal aslinya dia sedang menahan gugup, Pantesan aja si Jessi mewek, emang suasananya mencekam gini, udah berasa lagi sidang kasus pembunuhan, serem.
" Udah mbak jangan banyak ngalor ngidul, cepetan jelasin ke dia, kita enggak salah, tapi ceweknya yang maksa buat ikut kita"
"Kamu diam Racle, saya menyuruh Nita yang berbicara bukan kamu"
Rese, Racle memutar bola matanya, "Udah yank kamu sabar aja dulu, biar cepet beres" bisik Alex ditelinga Racle, kemudian ia membuka jasnya" Nih yank pake, abang enggak mau kamu bagi-bagi jatah abang" Racle hanya melirik tanpa mau mengambil apalagi memakai jas milik lelaki itu.
Melihat Racle yang diam saja, Alex berinisiatif memasangkan nya diatas pundak gadis itu "kamu imut banget", Alex tersenyum saat melihat jas nya yang terlihat kebesaran melekat ditubuh Racle.
Racle tidak memberi respon berarti pada tindakan Alex, hanya saja dia memberi tatapan tajam saat Alex mengatainya imut. " Maaf abang baru sempet ngasih ini, abang terlalu sibuk buat belain kamu, sampe lupa sama penampilan kamu yang begini" ngelesnya, padahal sudah jelas dari tadi mata Alex tengah sibuk menatap keindahan yang melekat pada tubuh Racle.
__ADS_1
Alah bilang aja kalo dari tadi elo sibuk ngeliatin badan gue, emang bener laki mesum loh. Racle yang sudah ogah berdebat hanya ber dehem untuk menyahuti perkataan Alex.