AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Siapa Kurnia?


__ADS_3

Racle menghampiri tukang sayur yang sedang mangkal di pertigaan jalan komplek perumahaan bu Yanti, " Permisi bapak saya mau tanya, tadi lihat pak Damar lewat sini enggak? "


Bukan nya mendapat jawaban, yang ada mereka alias si tukang sayur dan emak-emak komplek menatap Racle dengan heran. " Aduh si eneng geulis, jangan panggil bapak atuh, panggil saja Aa atau ayang juga enggak apa-apa " canda tukang sayur, mungkin mencoba mencairkan situasi yang sudah berubah menjadi tidak kondusif.


Racle menanggapi dengan senyum sedikit dipaksakan, " Maaf atau dari ibu, eh maksudnya tante-tante disini ada yang lihat bapak saya? "


Sontak saja para gosip lover yang mendengar perkataan Racle menjadi gaduh seketika, " Walah gak nyangka yo, ternyata pak Damar gitu-gitu juga punya bini muda ! " julid nya salah satu emak berdaster batik.


Tahu akan ke salah pahaman dalam komunikasi, Racle langsung mengklarifikasi, takut kalau dibiarkan akan merembet kemana-mana, namanya emak komplek kan ya, tahu sendiri. Dari sini nya setitik nyampe sono bisa-bisa jadi se lautan.


" Maaf tante, sepertinya disini ada kesalahan teknis " Racle masih mencoba tersenyum manis, meski dalam hati dia sudah mengumpat dan memaki kelakuan emak komplek yang senang bergosip. Niat hati bertanya tadinya ingin dapat clue biar bisa buru-buru menyusul sang bapak, eh yang ada sekarang Racle harus beramah tamah yang tak perlu menurutnya.


" Sebenernya saya itu saudarinya ibu Yanti, cuma karena kondisi saya yang sering main bahkan menginap disini, kebetulan umur saya juga dibawah mbak Nita, jadi ibu Yanti sama bapak Damar sudah menganggap saya sebagai anak. Istilahnya saya ini anak angkat nya gitu. " Terang Racle dengan senyum yang tak ikhlas, tapi tetap saja terlihat cantik.


Emak-emak biang gosip terlihat mengangguk-anggukan kepala, seolah paham dengan apa yang sudah Racle katakan barusan. " Maaf loh dek, tante kira kamu itu anak dari istri keduanya pak Damar. Habisnya akhir-akhir ini pak Damar lagi banyak tingkah dek. " Ucap emak berdaster tadi.


Nah, apakan Racle bilang, emang emak-emak itu begini hobinya bergosip ria. " Iya enggak apa-apa tan, ngomong-ngomong ada yang lihat bapak enggak? lewat ke arah mana gitu, soalnya tadi pas saya mandi bapak saya di culik janda tante. " kompor Racle tak mau kalah dengan emak berdaster.


Racle tersenyum kecut melihat keaktifan emak berdaster ini yang terus saja melontarkan opininya sedari tadi, sepertinya dia ketua tim hore gosip komplek sini. Dari adanya emak-emak yang sedang berbelanja, hanya dia yang paling aktif, sudah seperti Feni mawar pembawa acara gosip setajam cutter.


" Diculik gimana maksudnya? tadi sih saya memang lihat pak Damar sama si neng Kurnia kesana " kata si emak daster sambil menunjuk arah jalan ke rumah sang janda. " Sepertinya pak Damar mau mengantar neng Kurnia yang nangis. " Lanjutnya lagi.

__ADS_1


Haduh, gue ladenin juga enggak bakal beres sore ini mah, bisa-bisa besok paginya lagi baru kelar. " Tapi kata ibu saya nama jandanya itu Asih, bukan Kurnia tan. " Apa jangan-jangan bapak gue banyak fans jandanya ya? bisa-bisanya yang nyamper si Asih, eh yang di anterin malah si Kurnia. Awas aja loh pak! Batin Racle.


Emak daster and the geng beserta tukang sayur itu malah tertawa, Racle tidak ambil pusing, sambalado lah eh maksudnya sembodo mau dirinya yang jadi bahan tertawaan se komplek pun dia tidak peduli, yang terpenting sekarang dirinya bisa dengan cepat menyeret paksa pak Damar untuk kembali pulang ke habitat awal.


" Si eneng cantik mah ngalucu ih, puguh si Asih teh pan sarua eta-eta keneh si Kurnia. " Jawab tukang sayur. Racle menyerengit bingung, tak mengerti dengan apa yang sudah disampaikan oleh pedagang sayur yang ada di depannya


" Aduh pak bisa minta tolong enggak, bicara nya pake bahasa indonesia full, saya enggak paham. "


" Jadi gini dek, Asih sama Kurnia itu sama, lah wong nama nya juga Kurniasih. Tapi disini enggak boleh ada yang panggil dia Asih, harus panggil Kurnia aja. Biar kaya orang kota mungkin, iya enggak ibu-ibu. " Serunya,


Alah persetan sama si Kurnia atau si Asih, intinya pelakor kek gitu mesti gue hajar lagi. " Rumahnya sebelah mana ya tan? soalnya saya lagi buru-buru ini, takut makin kesiangan ke kantornya. "


Udah pasti viral ini mah si Asih, apalagi gue dianterin si emak daster nih. Gue yakin ini emak enggak bakalan pergi gitu aja sebelum dapet hot news, masa bodo lah.


" Ini dek rumahnya. " Mereka berhenti tepat di depan rumah bertingkat dua bergaya minimalis lengkap dengan pagar kayu yang menjulang tinggi. Boleh juga nih si janda !


" Hati-hati loh dek, jangan mau punya masalah sama dia, pengawalnya pada garang ! " Racle mengangkat sebelah alisnya. Buset ini janda di komplek kek gini aja pake jasa bodyguard segala.


" Makasih loh tante udah mau nemenin Racle kesini. " Emak berdaster itu mengangguk " Sama-sama cantik, yaudah tante pamit. " Racle tersenyum menyahuti perkataan si emak, tapi sedetik kemudian senyumnya luntur seketika saat melihat kelakuan si biang gosip.


Racle kira si biang gosip pamit itu mau pulang atau kembali belanja sayuran, ternyata dia pamit itu cuma buat mundur beberapa langkah ke belakang Racle. Tepatnya sekarang dia sedang duduk di bangku depan pagar rumah orang.

__ADS_1


Racle mendelik, Gue pastiin emak berdaster itu bakal puas sama bahan gosip yang akan dia sebar nanti, lihat aja ntar. Masih berani macem-macem enggak si Asih sama bapak gue, kalo udah jadi bahan gunjingan satu komplek.


Ekhem, Racle berdehem terlebih dahulu untuk mengecek keadaan pita suaranya, meski terbilang masih pagi, tapi mau bagaimana lagi? tuntutan dari sang ibu yang mengharuskan dia bersikap anarkis. " Asih keluar lo " Teriak Racle kencang.


Tidak mendapatkan respon membuat Racle kembali berteriak, bahkan kini dirinya sudah menggedor-gedor pagar rumah orang dengan menggunakan batu, mana mau Racle membuat tangannya lecet secara cuma-cuma hanya karena menggedor pintu.


Krak, dreeet. Racle yang mendengar suara kunci pintu pagar dibuka, langsung mundur memberi jarak, tidak lupa dirinya juga langsung membuang batu yang digunakan untuk menggedor pagar barusan, bukan hanya pintu pagar saja yang terbuka ternyata kini pagarnya pun sudah dibuka selebar mungkin. Senyum miring tercetak dibibir Racle saat dirinya melihat apa yang tertutup pagar barusan. Mau pamer loh? sayang, elo salah pilih saingan gini caranya, baru punya pajero aja songongnya udah minta di jitak, apa kabar sama yang udah punya lamborgini plus ferrari. Eneg sendiri gue liatnya, mana belom sarapan lagi.


" Asih mana ? " tanya Racle to the poin pada lelaki bertubuh jangkung yang ada di depannya.


" Maaf neng ini siapa? ada perlu apa, sampai harus teriak-teriak seperti barusan. " Tanya nya sopan.


" Panggil Asih " Rupanya Racle sudah tidak sabar untuk menyeret sang bapak pulang, atau jangan-jangan dia sudah tidak sabar untuk menjitak kepala Asih? entahlah hanya Racle yang tahu.


" Maaf neng tapi disini tidak ada yang namanya Asih, disini adanya bi siti, kang Badru, terus saya padri, sama non Kurnia. "


Racle mendongakkan kepala nya ke atas, dia mencoba mengatur emosi yang sudah hampir meledak. " Peduli setan mau namanya Kurnia atau Asih, pokoknya panggil kemari ! "


" Tapi non... " Racle yang sudah geram akhirnya menendang tempat sampah kaleng yang ada di pinggir jalan. Brang " Enggak usah banyak ngomong, opsi elo cuma ada dua, yang pertama panggil si Asih, yang kedua biar gue sendiri yang nyeret dia buat kesini. " Ancam Racle


Wajah Pardi menjadi pucat pasi saat melihat tamu majikannya ini sudah seperti orang yang kesetanan, Pardi tidak punya pilihan lain saat ini, selain memanggil majikannya itu.

__ADS_1


__ADS_2