AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Cuma Kakaknya


__ADS_3

Brian menyeringai, mendapati pertanyaan dari sahabatnya ini. Muak ! kali ini Yuga memang sudah benar-benar dibuat geram oleh tingkah Brian. " Jawab saya ! jangan diam saja seperti itu. " Mata Yuga merah menahan emosi yang sudah sampai ubun-ubun.


Brian menurunkan kakinya lalu berdiri dan berjalan ke arah Yuga, " Santai bro. " dia menepuk-nepuk pelan bahu Yuga, tak diam saja Yuga langsung menepis lengan sahabatnya ini. " Jawab Brian ! " Yuga mencengkram kerah kemeja sahabatnya.


" Wow men, calm down okay ! " Wajah Brian masih terlihat santai, padahal sebenernya dia ini sedang merasa ketakutan, bukan takut dipukuli atau apalah, toh namanya juga lelaki, ya wajarlah kalau memar atau lecet sedikit, tidak masalah. Yang Brian takuti adalah Yuga memberi tahu Alex, itu saja, bisa rumit nanti urusannya.


" Okay, gue jawab, tapi sebelum itu lepas dulu tangan elo. " Dengan sekali hentakan Yuga melepas kasar cengkeraman tangannya, hal itu tentu saja membuat tubuh Brian sedikit mundur kebelakang.


" Duduk dulu bro, gak enak kalo harus ngobrol serius sambil berdiri seperti ini. "


Yuga melengos, tapi tak ayal dia juga menuruti apa yang Brian katakan barusan.


" Jawab ! " Yuga masih terus saja mendesak temannya ini setelah mereka berhasil duduk dengan posisi saling berhadapan satu sama lain.


" Pak bos, elo gak niat kasih gue minum dulu gitu? gimana kalau kopi? " Melihat reaksi Yuga yang datar-datar saja membuat Brian dibuat semakin tak karuan. " Okay, gue minum air putih aja, eh maksudnya air bening. " Brian berdiri lalu berjalan kepojokan sebelah kanan dekat rak buku, disana terdapat dispenser air mineral, dengan sedikit cemberut dia mengambil gelas yang sudah disediakan di bawah lemari dispenser nya.


Asli ini si Yuga, kalo lagi mode nyebelin kaya gini sifat tega nya makin menjadi-jadi. Padahal kalo bukan karena gue mana bisa elo enak-enakan bareng si Jessi, awas aja lo. Sebelum kembali menghampiri sahabat batunya itu, Brian sudah terlebih dahulu membenahi raut wajahnya.


" Ini buat elo, kurang baik apa coba gue jadi sahabat Ga? masalah sepele kaya gini aja gue perhatiin. " Enggak kaya elo, dasar batu ! sambung Brian dalam hati.

__ADS_1


Yuga menegak air minum yang barusan disodorkan oleh Brian, bukan karena ingin menghargai usaha Brian, melainkan memang dirinya sedang merasa haus, " Jawab ! " Yuga masih terus saja menuntut sang sahabat untuk angkat bicara prihal kejadian tadi.


Eh buset, emang sahabat laknat loh, masih aja neken gue kaya gini. Nyesel gue udah ngambil air minum buat elo, tau masih gini, mana mau gue merendahkan diriq serendah-rendahnya sampe harus bawain elo minum segala.


" Jawab Brian ! apa perlu kita berdiskusi bersama seperti biasanya? tanya Yuga dengan senyum smirk yang terlihat amat sangat menyeramkan bagi Brian. Sontak saja Brian langsung menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan. Gila kali Yuga ini, sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri kalau seperti itu caranya.


" Gak usah men, gue rasa si biksu pasti lagi sibuk ngitung duit dari pengunjung kafe. " Ucap Brian dengan wajah pias, ketenangan palsu yang dia buat dari tadi sudah tidak bisa dipertahankan karena mendengar perkataan Yuga barusan.


Mendengar pernyataan konyol dari Brian, membuat Yuga semakin menyunggingkan senyum nya, " Dia itu seorang owner, bukan kasir atau bagian keuangan semacamnya Brian. Jadi saya jamin dia pasti akan bisa datang kesini, mau saya coba hubungi? " Tanya Yuga.


" Ga-gak usah bro, gue yakin si biksu lagi gak mood datang kesini. " Brian memalingkan wajah tidak berani menatap ke arah Yuga. Dia tidak mau Yuga tahu kalau sekarang dirinya sedang gugup setengah mati, padahal tanpa melihat ekspresi wajah dari Brian, Yuga sudah tahu dengan sendirinya.


Yuga berdiri, " Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya bukan? tunggu disini saya akan mengambil ponsel didalam kamar, setelah itu kita hubungi, bagaimana? "


Brian mendelik ke arah sahabatnya, " Gak usah bro, gue akan jawab sekarang ! gak perlu libatkan si biksu sama masalah sepele kaya gini. "


Yuga kembali duduk, " Oke kalau begitu silahkan jawab. " Yuga sudah menyiapkan telinga juga kesabaran ekstra, menghadapi Brian yang ngeyelnya minta ampun membuat dirinya jadi sering mengelus dada sendiri, berbeda dengan Alex, meski terlihat kekeh tapi Yuga masih bisa mengatasi dan bernegosiasi dengan yang satu itu. Tapi dengan Brian, beginilah, dia harus mempunyai cara yang lebih licik untuk menekan si licik ini.


" Tadi itu gue lagi nanyain keberadaan elo sama sekertaris baru itu Ga. " jelas Brian, tentu saja Yuga tahu kalo sahabatnya itu berkata bohong, " Hanya itu? " pancing nya.

__ADS_1


" Iya cuma itu doang, kalo gak percaya tanya aja sana sama sekertaris elo. " Brian masih menyangkal, mulutnya bisa saja lancar berbohong, tapi kegelisahan yang terlihat jelas dari wajahnya sudah membuktikan itu semua bukan sebuah kebenaran, apalagi Yuga tahu kalau Brian berbicara dan kakinya terus saja bergoyang, itu tandanya dia sedang berbohong atau sedang menahan gugup.


Keduanya Yuga pastikan sedang dilakukan oleh sahabatnya ini. Yuga mengangguk-anggukan kepala, " Oke, kalau begitu bagaimana kita ajak Alex ngopi bareng disini? " Yuga masih saja terus memancing agar Brian mau berkata jujur.


**** ! bangsat si batu, gak salah gue sama si Alex ngasih dia nama itu. Apa maksudnya coba bawa-bawa si biksu terus, ah kacau ini. " Elo kenapa sih? ngebet banget kaya nya buat ngajak si Alex kumpul, gue udah bilang dia gak bakalan bisa, kekeh banget kalo dikasih tahu, udah kaya orang ngidam elo Ga. "


Brian sedikit emosi saat Yuga terus saja membawa-bawa nama Alex dalam hal interogasi ini, Yuga mengangkat sebelah alisnya. " Kamu ini kenapa? seperti orang yang sedang datang bulan saja, biasanya juga kamu tidak pernah keberatan kalau kita kumpul bertiga, bukannya kamu sendiri yang akan senang jika Alex datang? itu tandanya kamu bisa makan makanan gratis, seperti biasanya. "


Gue enggak sebodoh itu Ga, gue tau apa yang ada dalam otak picik elo. " Elo mau gue ngomong jujur, iya? okay gue akan jujur sama elo, tapi dengan catatan ini cuma bahasan antara elo sama gue aja, gimana? " Brian mencoba bernegosiasi dengan Yuga.


Karena sepertinya Yuga tidak akan menyerah begitu saja jika Brian terus-terusan mengelak, " No problem " sahut Yuga.


" Gue mau nyium itu cewek di depan. " Akhirnya Brian jujur juga, Yuga langsung melotot tajam ke arah Brian. " Kamu tahu siapa yang ada di depan sana? " tanya nya dingin, bahkan kini ekspresi wajah Yuga sudah kembali terlihat menyeramkan, meskipun begitu Brian masih mencoba menghadapi sahabatnya itu. " Adik elo kan? " .


" Sudah tahu itu adik saya kenapa masih berani untuk macam-macam? bosan hidup kamu? "


" Santai dikit, adek elo aja enggak keberatan tuh gue deketin. Kenapa elo yang cuma kakaknya sensi nya malah ngalahin orang yang kagak mau bayar utang. "


Yuga mengepalkan tangan kuat, hingga membuat buku jari-jarinya terlihat memutih. Apa barusan Brian bilang? cuma kakaknya? jelas saja Yuga menjadi sensi, amat sangat sensi malah. Bagaimana tidak, dia tahu sepak terjang Brian, mulai dari keluar masuk club, check-in di hotel bersama para mantan dan pacarnya, dan satu yang paling membuatnya semakin emosi, yang Yuga tahu selama ini Brian itu mengejar-ngejar Yuna, tapi sekarang dengan seenak jidatnya dia mau nyosor adik bungsu nya itu, yang sudah dilakukan Brian itu sudah kelewat batas.

__ADS_1


" Sepertinya kamu memang benar-benar bosan hidup. "


__ADS_2