AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Pelajaran Cinta


__ADS_3

Racle bergegas kembali naik ke mobil, setelah berhasil memberi pelajaran pada kakaknya, " Gue masuk siang" ucapnya sebelum menghidupkan mesin mobil. Yuga yang masih berjongkok hanya menganggukkan kepala. dia pergi setelah mendapatkan jawaban


" Pak Agus, bisa tolong antarkan saya kedalam pakai motor?" pintanya, dengan masih menahan sakit Yuga mencoba berdiri dan menegakan tubuhnya.


" Bisa pak bos, sebentar saya ambil dulu kunci ", Agus bergegas mengambil kunci motornya yang tergantung didalam pos satpam, " Mari pak, silahkan naik" ucapnya sopan.


Setelah berhasil naik motor pak Agus, Yuga membuka suara " Pak saya minta bapak jangan bicarakan kejadian barusan terhadap karyawan lain"


" Oalah, tenang aja pak bos, dijamin rahasia pak bos aman" mbak nya keren juga, main hajar bosnya depan kantornya pula, apa enggak takut dipecat ya?


Yuga menepuk pundak Agus sebelum turun dari motor " Terimakasih pak Agus, ingat pesan saya"


" Siap pak bos".


Ia melangkah memasuki lobi kantor, dan berlari menuju lift, Yuga sedang mengejar waktu meeting yang sebentar lagi akan dimulai, saking asyiknya menguping pembicaraan Racle tadi pagi ia hampir lupa jika pagi ini ada meeting penting.


Di dalam lift " Ya ampun, materinya saya serahkan semua pada Racle, bagai mana bisa saya ijinkan dia keluyuran, sementara tugasnya belum selesai," ting pintu lift terbuka, ia buru-buru masuk ruang kerja, mengacuhkan Jessi yang sudah menunggunya sedari tadi.


" Permisi pak hari ini... " Yuga memotong" Bisa diam sebentar, saya akan menghubungi seseorang" ucapnya dingin. Dia mengeluarkan ponsel kemudian mendial nomor Racle " Halo Racle"


" Sudah saya kirim via email semua materi meeting hari ini, saya juga sudah menyelesaikan laporan kemarin, cek email" Racle sudah tahu apa yang akan dikatakan bos nya itu, jadi sebelum Yuga bertanya dia sudah terlebih dahulu menjawab.


Yuga langsung menduduki kursi kebesarannya setelah mendapat pemberitahuan dari Racle, ia mulai membuka laptop miliknya, tak berapa lama terlihat senyum mengembang dari bibir tipis miliknya, senyum yang amat sangat Jessi rindukan, kamu tampan mas. Jessi terus saja menatap Yuga yang sedang serius memeriksa hasil kinerja Racle, tanpa ada niatan sedikit pun untuk mengalihkan pandangannya.


Good job Racle, kamu memang sangat bisa diandalkan, pujinya pada hasil kerja sang adik.


" Maaf pak meeting akan segera dilaksanakan" Jessi mencoba mengingatkan.


" Saya tahu", ucapnya dingin tanpa menoleh ke arah sekertaris nya, dia berdiri kemudian berjalan melewati Jessi begitu saja. Jessi yang sudah tidak terbiasa dengan sikap dingin bosnya itu hanya bisa menunduk dan mengepal tangan, mencoba menguatkan hati, agar tidak menangis.


Jessi menarik nafas, ia memberanikan diri berjalan sangat dekat dengan Yuga, " Mas setelah jam kerja usai, aku mau bicara sama kamu" Jessi kembali memelankan langkahnya agar menciptakan jarak kembali.


Yuga berhenti kemudian membalik badan, memberikan tatapan tajam pada sekertaris nya, " Ini kantor, berhenti berbicara omong kosong".


Yuga sebenernya sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini, apalagi saat melihat Jessi sekarang yang menunduk dan meremas ujung rok yang ia kenakan, rasanya sudah tidak kuat ingin memeluk erat tubuh Jessi yang amat sangat dirindukannya, tapi demi kelancaran sebuah misi, ia bahkan tega selama dua minggu ini bersikap layaknya bos kejam terhadap Jessi. Maaf sayang, mas terpaksa melakukan ini.

__ADS_1


Yuga kembali melanjutkan langkah " Fokus pada pekerjaan mu hari ini, dan jangan membuat kesalahan ", tekannya, sebelum memasuki ruang meeting.


Semua orang yang hadir di ruangan itu seketika berdiri menyambut kedatangan presdir mereka, " Selamat pagi pak" ucap mereka serempak.


" Pagi semuanya, maaf saya terlambat, silahkan duduk". Yuga duduk kursi kebesarannya didepan peserta meeting, tanpa banyak basa-basi ia meminta moderator untuk segera memulai jalannya meeting.


Meeting kali ini berjalan dengan lancar, tanpa kendala yang berarti bagi Yuga, tampak para peserta yang hadir, keluar dari ruangan dengan wajah puas mereka, hanya beberapa orang yang memasang wajah masam, salah satunya Tn.Deni, putra dari Ny.Ratih, tepatnya paman tiri Yuga, ia kecewa karena proposal nya ditolak.


****


Mobil Racle terlihat memasuki gedung apartemen dikawasan elite.


Sementara itu Alex baru saja turun dari unit apartemen miliknya, saat hendak menaiki mobil, matanya tak sengaja menangkap sosok gadis seksi. Itu bukannya myKeajaiban? masa iya mau meeting sama klien di apartemen? wah mesti diselidiki bahaya kalo terjadi apa-apa sama calon bini gue.


" Jang elo tunggu bentar, gue mau ke toilet ".


Alex kembali memasuki lobi mengikuti Racle, " Gue baru sadar dia pake rok pendeknya kebangetan, yaelah gini caranya gue jadi laki dermawan banget bagi-bagi sedekah pagi, mana itu OB sampe melotot segala lihat body bini gue, gak bisa dibiarin ini". Gadis itu tidak sadar jika ada yang mengikutinya, karena terlalu sibuk dengan ponsel miliknya.


Tak lama terlihat Racle sedang mengangkat telpon " Ya halo, ini udah mau masuk lift, tunggu depan pintu aja, biar enggak susah nyari, oke" ucapnya pada sang penelepon, Racle memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Ting pintu lift terbuka, belum sempat Racle masuk, tangannya sudah ditarik dan diseret paksa ke tempat agak sepi, oleh seseorang yang sedari tadi mengikutinya.


" Ngapain kamu keluyuran pagi-pagi gini? "


Alex yang geli melihat ekspresi Racle mencoba menahan tawa, ia melipat kedua bibirnya kedalam, Alex mendekat dan menyentuh dagu Racle berusaha mengatupkan bibir gadis itu kemudian kembali bertanya " Ngapain kamu pagi-pagi gini udah keluyuran?" nadanya lembut, selembut usapan tangannya pada pipi Racle,


Racle yang baru sadar dari keterkejutannya langsung menepis tangan Alex pada pipinya, Apes banget pagi-pagi udah banyak ketiban sial, ini juga kenapa mesti ketemu bule jadi-jadian segala disini.


" Lo ngapain bisa muncul disini? apa jangan-jangan elo mata-matain gue ya? ngaku loh?"


Alex tersenyum, lain halnya dengan dirinya, bagi Alex pagi ini adalah sebuah keberuntungan, dimana dia bisa melihat bahkan menyentuh gadisnya ini " Sayang, gak perlu abang mata-matain kamu juga abang bisa nemuin kamu sekalipun kamu sembunyi, karena radar cinta abang ke kamu itu tingkat ke sensitifannya tinggi".


Racle memutar bola matanya malas, eneg rasanya pagi-pagi sudah mendapat gombalan receh Alex, " ciih... ini terlalu pagi buat elo gombalin gue"


" Yank cinta aku ke kamu itu enggak kenal waktu, mau pagi, siang, atau bahkan malam sekalipun tetep aja cinta abang cuma buat kamu seorang"


" Umur elo itu sebenernya berapa sih?"

__ADS_1


Alex menjawab dengan senyum yang tak luntur " Umur aku 27 sayang, pas banget sama kamu yang masih unyu-unyu, umur segini juga udah cocok kalau harus dipaksa nikahin kamu"


" Waras dikit siapa yang mau maksa elo buat nikahin gue?, inget umur udah tua tapi kelakuan masih aja kaya remaja 17 tahun, geli kuping gue denger gombalan receh elo, udah lepasin, gue lagi buru-buru"


" Ya kamu lah yang bakal maksa aku, lihat aja ntar" Racle memutar bola mata malas menanggapi kehaluan Alex yang terlalu tinggi menurutnya, "Umur boleh tua yank, tapi wajah dan stamina masih seperti remaja, masih tetap hot" bisik Alex mesra, dengan sedikit meniup daun telinga Racle,


Racle yang mendapat perlakuan seperti itu sontak saja bergidik ngeri " Ih udah sana jauh-jauh" ketus Racle sambil mengusap daun telinga yang terasa geli, " Lepas, gue lagi buru-buru banget nih"


" Mau kemana?" tanya Alex dengan serius.


" Ketemu orang" jawabnya malas, " Udah ah buruan lepas, gue lagi gak mood berantem sama elo abang" ejeknya dengan nada menjengkelkan, namun tetap saja terasa merdu bagi Alex apalagi saat mendengar kata Abang. myKeajaiban kamu manis banget, makin pengen gue cium aja itu bibir manyunnya.


Alex yang sedang terlena dengan sebutan abang, tak sengaja membuat cengkraman tangannya mengendur, tentu saja hal itu tidak disia-siakan oleh Racle, dia langsung menepiskan tangan Alex dengan kuat dan berlari begitu kencang, beruntung pintu lift sedang ada yang terbuka, jadi dengan sangat mudah Racle kabur dari jerat Alex. Ah sial, rutuk Alex dalam hati, bisa-bisanya dia lengah seperti itu.


Alex memencet lift lain saat melihat ke lantai berapa Racle pergi, *Gak akan gue biarin dia lolos kali ini, gue mesti kasih pelajaran cinta sama myKeajaiban, supaya enggak berani macem-macem lagi sama gue, abang Alex.


Ting*, pintu lift yang Racle naiki terbuka, dia keluar dan mulai celingukan kesana kemari mencari seseorang, tak lama ia tersenyum saat mendapati seorang lelaki diujung lorong sana melambaikan tangan ke arahnya, berbeda dengan Alex yang baru saja keluar dari lift, ia mengepalkan tangan saat melihat Racle nya itu berlari menghampiri lelaki lain, bahkan sampai masuk kedalam unit apartemennya.


Setelah tahu kemana tujuan Racle, ia kembali turun ke lobi, dan segera pergi meninggalkan gedung apartemen, dengan nafas memburu dan kepalan tangan yang semakin kuat, akibat menahan rasa cemburu. Alex mulai menggerutu dalam hari,


"Bangsat, baru kali ini gue jatuh cinta masa iya udah harus langsung patah hati sebelum cinta gue terbalas, gue gak bisa terima ini, lihat aja Racle, gue pastikan cuma gue yang berhak atas diri elo juga hati lo"


" Jang kita ke cafe dekat Lee corporation dulu, abis itu baru ke perusahaan papa" titahnya pada sang supir, " Siap bos".


Alex menyandarkan punggungnya, tubuhnya terasa begitu lemas, saat melihat Racle nya tadi berlari ke arah pria lain. " Sakit" lirih Alex, sambil mengusap-usap dada.


Ujang melihat sekilas majikannya itu lewat kaca spion " Pak bos masuk angin kali, makanya dadanya ngerasa sakit, tadi juga minta ke toilet dulu kan, pasti mules-mules" timpal ujang sok tahu,


" Jang nyetir aja yang bener, gak usah banyak omong kalo masih pengen kerja jadi supir gue"


" Yaelah pak bos, saya kan cuma apa itu ya disebutnya istilah anak muda sekarang, oh iya, care sama pak bos"


" Jang" Alex melototi supirnya itu, " Iya pak bos siap 86 Ujang diam". Si bos bukannya seneng dapet supir yang perhatian kaya saya, malah marah-marah gitu, gak bersyukur banget.


" Jangan maki gue dalem hati Jang, kalo berani ngomong langsung, biar sekalian gue ada temen duel"

__ADS_1


Eh waduh, ketauan " Eng enggak kok pak bos, mana berani Ujang lakuin itu".


" Cepet dikit jang" perintahnya. Gue udah enggak kuat nahan sesek, pengen cari pelampiasan.


__ADS_2