
" Mas, apa tidak sebaiknya kita telpon anak-anak? aku takut jika terjadi sesuatu terhadap Yuga maupun Racle, tumben-tumbenan loh mereka jam segini belum pada pulang. " Ny.Hyeri sesekali mengecek ponselnya, memastikan kalau Yuga ada mengirim pesan atau semacamnya, tapi sayang anaknya itu sampai detik ini tidak mengabarinya sama sekali.
" Sudahlah mbak, enggak usah terlalu khawatir seperti itu, lagian mereka sudah dewasa, maklumi saja, mungkin memang sedang bertemu klien atau menghadiri jamuan makan malam kan tidak menutup kemungkinan. "
" Benar apa yang dikatakan Mela barusan, kenapa kamu harus secemas ini, Yuga lelaki dewasa, saya yakin dia bisa menjaga dirinya dan juga menjaga Racle dengan baik. "
" Tapi mas, perasaan ku enggak tenang banget. "
" Kamu ini terlalu lebay Hyeri, ibu kandungnya saja tidak seperti itu. " angkuh Ny.Ratih, begitulah dia, kalau pawangnya sedang tidak ada maka dia bisa dengan seenak jidatnya berbicara tanpa filter. Sementara jika sedang ada Racle, dia akan berubah menjadi nenek tua yang pesakitan, sepertinya hanya karena Racle saja aplikasi filter dan percantik nya bisa dipakai.
" Bu, aku memang bukan yang mengandung dan melahirkannya, tapi aku yang telah mengurusnya sedari dia bayi, jadi aku bisa merasakan jika terjadi sesuatu yang tidak baik untuknya di luaran sana, ikatan batin kami terlalu kuat. "
Ny.Ratih menyunggingkan senyum mengejek, " Tahu apa kamu soal ikatan batin, hah? punya anak saja tidak ! "
Hyeri menggeleng tak percaya dengan apa yang telah didengarnya barusan, bagaimana bisa ibu mertuanya ini menjatuhkan martabat seorang wanita tepat di depan anggota keluarga nya sendiri, dimana hati nurani sesama wanita miliknya?.
" Mas, aku ijin pamit ke kamar terlebih dahulu. " Dengan senyum di paksakan Hyeri masih mencoba menyapa anggota keluarga yang lain, termasuk Ny.Ratih " Mari semua, selamat malam. " Wanita paruh baya itu pergi setelah mendapat anggukan dari sang suami sebagai jawaban, mereka tau Hyeri sedang tidak baik-baik saja, terlihat dia beberapa kali menarik nafas, mencoba menekan rasa nyeri pada hatinya, Hyeri masih menghargai Tn.Morgan, maka dari itu dia lebih memilih menghindar dari pada harus berdebat dengan ibu mertuanya ini.
__ADS_1
" Ibu, jangan terlalu keras terhadap Hyeri, setidaknya hargai dia karena sudah membesarkan dan merawat cucu ibu dengan baik. " Tn.Morgan mencoba menasehati ibunya, bukannya sadar yang ada Ny.Ratih malah makin menjadi. " Oh, begini sikap kamu terhadap ibu sekarang? lebih mementingkan perasaan orang lain ketimbang perasaan ibu sendiri, iya? " mata yang kini sedikit terhalangi kulit keriput itu terlihat melotot tajam, mengintimidasi lawan bicaranya.
Gue jadi kangen si Racle deh kalo lihat si nenek tusuk konde lagi mode on fire kaya gini, malahan sekarang gue berharap itu anak cepet pulang, biar bisa bikin ini nenek keladi mingkem, paling-paling si Racle bakal lakban itu mulut kalo dia enggak berhenti nyerocos. Batin Yuna
" Kamu pergi ke kamar dan istirahat ya sayang, " ucapnya lembut, sambil mengelus rambut hitam legam milik Yuna. " Ibu enggak mau kalau kamu jadi telat bangun nanti pagi, gara-gara dengerin obrolan kurang berfaedah ini. " sindirnya,
Mela sedikit melirik ke arah Ny.Ratih, meskipun hubungannya dengan Hyeri bisa di bilang tidak akrab, tapi tetap saja sebagai sesama wanita, dia tidak terima jika Hyeri diperlakukan seperti tadi.
" Kurang ajar kamu Mela, pantas anak mu itu tidak tahu sopan santun, rupanya dari sini asal muasal nya. "
Mela terkekeh, " Apanya yang lucu hah? apa aku terlihat seperti badut di matamu? " Tn.Morgan memberi kode lewat kedipan mata terhadap istri ketiganya itu, supaya tidak memancing di air keruh. Bukan tidak melihat, hanya saja Ny.Mela sudah terlalu muak dengan sikap arogan mertuanya ini.
Tanpa menunggu persetujuan, mereka sudah melenggang pergi terlebih dahulu meninggalkan ruang keluarga, Yuna cekikikan sendiri melihat tingkah jenaka ibunya itu, " Ibu kok bisa sih berani banget kaya barusan? " tanya nya, setelah mereka berhasil masuk ke dalam kamar milik Yuna.
Mela tersenyum, " Selama ini ibu diam bukan berarti takut, tapi ibu mencoba menghindar dari masalah. Hanya saja sekarang nenek mu itu sudah keterlaluan, bagaimana pun Mami Hyeri itu adalah menantunya, apalagi kita sesama wanita, seharusnya bisa saling menjaga perasan satu sama lain. "
" Ih, itu bukan nenek Yuna ya, Yuna udah kasih sama Racle dan kak Yuga. " ucapnya manja, " Yuga mungkin masih mau menerima, tapi Racle, ibu yakin 100 bahkan 1000% dia pasti menolak mentah-mentah. " Mereka tertawa bersama setelah mendengar pendapat Ny.Mela tentang Racle.
__ADS_1
Begitulah Ny.Mela, dia akan berubah bak malaikat tak bersayap jika sedang dengan Yuna, sementara dengan Racle? ah sudahlah, hanya Ny.Mela yang tahu alasannya kenapa dia mesti menjadi red devil jika bersama anak kandungnya.
****
" Lepas !! " Alex menggeleng, bahkan kini Racle sendiri sudah sulit bergerak, karena Alex mengunci pergerakan kaki dan tangannya.
" Tarik kata-kata kamu, baru abang lepaskan! " Racle menyerengit bingung, " Kata-kata yang mana?" Bukannya menjawab, Alex malah semakin membebankan berat badannya kepada Racle, " Ah, abang berat, aku gak bisa nafas. Cepet lepas !! "
" Tarik dulu. " Racle menatap sebal Alex, " Abang ini bego atau apa sih ? Racle jadi curiga kayanya abang enggak pernah ngerasain bangku sekolah. "
Alex melongo mendengar gadisnya ini meragukan soal kapasitas otak miliknya, meskipun dia termasuk orang mesum, tapi jangan salah, buktinya pas jaman kuliah dulu, Alex selalu mendapatkan nilai ipk tinggi, meskipun tidak bisa mengalahkan Yuga, tapi setidaknya dia termasuk dalam golongan orang-orang berotak encer. " Sembarangan kalau ngomong, gini-gini abang udah lulus S2 ya, masalah kepintaran sudah jangan diragukan, pokoknya abang yakin kita bisa menghasilkan anak generasi milenial dengan kecerdasan diatas rata-rata. "
S2 ??..eS Serut maksud loh, edan bener ini orang, mau mencetak generasi bangsa yang good quality dengan cara tanam saham secara paksa dan cuma-cuma? sadar woyy, ini bukan lagi jaman penjajahan Belanda, brengsek emang. Seenggaknya beliin dulu gue apartemen kek, atau kasih gue wedding party ala-ala crazy rich gitu. Dasar bule kere, pengen gratisan! Eh, jangan-jangan si Alex bule keturunan Belanda? makanya sistem anak aja harus ada istilah kerja rodi. Racle bergidik ngeri.
" Kalo emang abang lulusan strata dua, pasti tau kan, kata-kata itu enggak ada yang bisa ditarik, secara mereka keluar aja tanpa berbentuk, mana ada yang bawa tali? bentuk aja udah enggak ada. "
Alex sudah gemas bercampur kesal dengan gadis ini, dengan gerak cepat dia hap, melahap lalu ******* bibir yang berceloteh barusan. " Emm " Racle mencoba melepaskan ******* Alex, tapi tidak berhasil. Hingga terdengarlah bunyi bel pintu unit apartemen Alex.
__ADS_1
Thanks, siapapun kamu, dan apapun tujuan mu gue amat sangat berterimakasih. Batin Racle, sesaat setelah Alex memberhentikan kegiatannya saat mendengar bel, tanda kalau akan ada orang yang bertamu.