AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Wanita untuk Yuga


__ADS_3

" Mas aku mau ngomong sama kamu," ia mencekal tangan kekasihnya yang hendak pergi keluar ruangan.


" Saya lelah, lain waktu saja," tanpa berniat melihat air muka Jessi, namun sepertinya Jessi sudah kelewat tak sabar, hari ini ia memberanikan diri membahas masalah pribadi di kantor, dengan berbagai pertimbangan akhirnya ia mengunci pintu ruangan Yuga dan menarik paksa lelaki yang masih setia berdiri didepan pintu itu untuk duduk di sofa.


" Kamu ini apa-apaan? saya sudah bilang jangan bahas apapun, hari ini saya benar-benar lelah".


" Mas !!" sentak Jessi, " Aku minta kamu dengerin aku dulu, aku juga sama cape, cape sama sikap kamu yang kekanak-kanakan seperti ini"


Yuga menatap tajam " Kekanak-kanakan? kamu bilang saya seperti itu, padahal aslinya kamu sendiri yang membuat masalah ini menjadi alot".


" Tapi mas aku enggak bisa, kamu boleh minta apa aja dari aku asal jangan itu," Jessi mencoba menahan air mata, ia mendongak kan kepala ke atas.


" Tapi saya maunya itu" tekan Yuga, tanpa bisa diganggu gugat, Jessi menghirup udara sebanyak mungkin mencari kekuatan, ia sudah bertekad bahwa hari ini permasalahannya dengan Yuga harus selesai, " Baik kalau kamu tetep kukuh dengan keinginan kamu, maka aku juga akan sama seperti kamu, aku mau.." ia men jeda ucapannya, lalu kembali menghirup udara sebanyak yang ia butuhkan " Kita putus" lanjutnya dengan mata berair ia melihat ke arah Yuga.

__ADS_1


Sesaat Yuga terlihat rileks, namun saat mendengar kata putus dari sang pujaan hati, emosinya mulai memuncak, ia pikir hari ini Jessi akan bersedia, ternyata diluar dugaan yang ia kira, kekasihnya ini malah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.


Rahangnya mengeras, bahkan sekarang wajah berkulit putih itu sudah berubah menjadi merah, ia menarik paksa tangan Jessi yang menggantung disisi kirinya, Jessi yang tidak siap dengan reaksi Yuga akhirnya terjatuh duduk dipangkuan sang kekasih.


Sebelah tangan Yuga memeluk erat tubuh kekasihnya sementara yang sebelahnya lagi ia gunakan untuk memegang kedua tangan Jessi yang kecil. " Dengar baik-baik Jessica Maharani, saya Yuga Lee tidak akan membiarkan milik saya hilang apalagi sampai dimiliki oleh orang lain", bisik nya dengan nada seksi, namun terdengar begitu menyeramkan bagi Jessi. " Mas, aku bukan barang, aku ini makhluk hidup, jadi stop mengklaim bahwa aku milik kamu" ia berontak, mencoba melepaskan pelukan Yuga yang semakin erat.


" Berhenti sebelum saya bertindak lebih Jessi, apa kamu tidak merasakan milik saya sudah bangun karena gerakan kamu itu", Yuga menghela nafas frustasi, kekasihnya ini benar-benar menguji iman si junior yang tipis. Jessi seketika diam tak berkutik saat sudah merasakan benda itu menusuk-nusuk bagian bokongnya, " Mas lepas" lirih nya.


" Tidak sebelum kamu menarik kembali keputusanmu ", Yuga menyingkirkan helaian rambut Jessi yang menutupi leher jenjang mulusnya, ia mengendus dan menggesek-gesekkan hidung mancung miliknya, sesekali memberi kecupan kecil tanpa menghisap.


" Sayang" Suara serak Yuga membuat Jessi mau tak mau menoleh ke arahnya, " Saya ingin kamu sekarang" lanjutnya, dengan tangan yang sudah mengusap-usap paha mulus Jessi yang tak tertutup rok, " Mas jangan" isak tangis Jessi justru terdengar sangat merdu ditelinga Yuga yang sudah terbakar gairah.


Yuga tak tinggal diam, kini tangannya sudah mulai naik merangkak ke area bukit terlarang, Jessi kembali berontak saat Yuga berhasil mendaki bukit tersebut bahkan kini ia sudah meremasnya kuat, " Ah, mas tolong jangan seperti ini" Jessi mencoba memelas pada Yuga, namun sayang, sepertinya Yuga sengaja menulikan telinganya.

__ADS_1


Air mata Jessi semakin deras, apalagi saat melihat kondisi Yuga sekarang, matanya terlihat sayu, ia semakin takut. Jessi mencoba peruntungan, ia memberanikan diri memegang pipi kekasihnya itu " Mas, lihat aku" Yuga mendongak, menatap wajah yang sudah basah dengan air mata, untung saja Jessi memakai make up water proof, sehingga tidak menjadikan wajahnya tak berbentuk.


Yuga mengamati wajah sang kekasih, mata yang memerah dan sedikit bengkak, hidung mancungnya pun terlihat memerah di bagian ujung, dan bahkan kini bibir sensual itu terlihat semakin merekah menggoda. namun saat dia menatap lebih dalam mata Jessi, ia bisa melihat ketakutan di diri kekasihnya, " Mas aku mohon, jangan seperti ini " Jessi mencoba kembali menyadarkan Yuga.


Yuga memejamkan mata mencoba mengontrol nafsu birahinya, setelah merasa tenang ia kembali membuka mata, " Turun " perintahnya tegas, Jessi yang sudah sangat menginginkan bebas dari kungkungan sang kekasih langsung berdiri dan mundur menjauh, " Telpon Alex, dan bilang padanya minta Brian untuk membawa salah satu teman wanitanya untuk saya, saya akan menunggu diruang istirahat", Yuga berlalu menuju sebuah ruangan, meninggalkan kekasihnya yang sedang berdiri mematung akibat perkataannya.


Jessi memang polos, namun dirinya bukan wanita bodoh, ia tahu betul apa maksud dari ucapan sang kekasih, lututnya terasa lemas, ia ambruk dilantai sambil mencengkram kuat dadanya yang terasa sakit, ia kembali terisak pilu, tak habis pikir begitu teganya Yuga melakukan hal itu pada dirinya, tega kamu mas, segitu marahnya kamu sama aku, sampai-sampai bikin aku terluka seperti ini.


Sama halnya dengan Jessi, Yuga terlihat menyenderkan badan dibalik pintu, tubuhnya pun melorot kelantai, ia bahkan menjambak rambutnya frustasi, Yuga sadar tindakannya ini membuat kekasihnya sangat terluka, namun ia mencoba egois, hanya dengan cara seperti ini dia bisa mendapatkan Jessi seutuhnya. Yuga menguatkan diri kembali bangkit dan berjalan menuju toilet, dia membasuh wajah dan merapikan sedikit rambutnya yang sempat ia rusak.


Ekhem, Yuga berdehem, ia merogoh saku celana, mengambil ponsel kemudian mendial nomor seseorang, " Saya butuh bantuan, kirimkan satu perempuan kenalan kamu ke kantor saya, harus perempuan yang suka dengan uang", ucapnya tanpa basa-basi, Yuga mematikan sambungan telpon tanpa menunggu respon orang diseberang sana.


***

__ADS_1


" Brengsek" maki Brian pada ponsel miliknya, " Siapa bro?" Alex menatap heran kawannya itu. Ya, saat ini Brian tengah bersama Alex, mereka sedang membahas rencana ngawur untuk mendapatkan sang pujaan hati masing-masing. " Ini si Yuga tiba-tiba telpon minta cewek, mana suruh nyari yang doyan duit lagi", terang Brian, lelaki itu tampak sibuk dengan ponselnya, mungkin sedang mencari target yang dimaksud, " Hah?? buat apaan?" Alex terlihat mengerutkan kening, " Mana gue tau, belum juga gue ngomong dia udah matiin sambungan telpon seenak jidat", sungutnya, terlihat jelas Brian sangat kesal dengan kelakuan sahabatnya itu, tapi mau bagaimana? menolak pun tak sanggup, apalagi Yuga adalah calon kakak iparnya, begitulah pikir Brian. " Gue cabut dulu bro, udah dapet yang di minta si Yuga". Brian bangkit dari duduknya, dengan gesit ia menyambar kunci mobil diatas meja kemudian lari meninggalkan Alex yang terlihat sudah siap untuk mengomel.


Akibat telpon Yuga mereka harus berbesar hati menunda meeting nya terlebih dahulu, demi sang calon kakak ipar, " Ah rese si Yuga, mana si Brian baru dateng juga, gue kan suruh dia nemuin gue pas jam makan siang, ini udah mau maghrib malah baru nongol", omel Alex sendiri, karena Brian sudah berhasil meloloskan diri.


__ADS_2