AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
CALLING


__ADS_3

Alex langsung masuk ke ruangannya setelah Nita pergi meninggalkan resto and cafe milik nya, hampir 1 jam lebih Alex dari tadi duduk di kursi pengunjung, sengaja untuk mengunggu Racle datang. Karena menurut karyawan cafe biasanya Racle akan makan siang disini bersama teman wanitanya, siapa lagi kalau bukan dengan Nita.


Tapi hari ini Alex tidak beruntung, Racle tidak datang kesini, sepertinya dia sengaja menghindar darinya, buktinya saja Nita masih ada datang kesini dan membungkus makan siang untuk mereka berdua. It's oke Alex tidak mempermasalahkan, meskipun kenyataannya dia agak sedikit kecewa dengan tindakan Racle.


Alex tidak mau terlalu ambil pusing, toh ada baiknya juga dia tidak bertemu Racle sekarang, kalau mereka bertemu bisa-bisa Alex akan semakin sakit hati mendengar kekasihnya itu minta putus kembali, padahal mereka baru saja jadian tadi malam, kalau dihitung dari jam kemarin mereka jadian, belum juga ada 1x24 jam, intinya belum genap satu hari masa iya Racle langsung minta putus.


Alex duduk di kursi kebesarannya, dagunya bertumpu pada kedua kepalan tangan diatas meja, sedangkan matanya terus saja menatap ponsel miliknya yang dia simpan tepat dihadapan nya, Alex sedang menimang dan menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi Racle. Dia sedang menghitung ketepatan waktu sedari Nita keluar Cafe, terus pergi menyebrang, berjalan ke lobi, lalu menaiki lift untuk sampai di lantai Racle bekerja, kurang lebih membutuhkan waktu 15 menitan.


Alex juga sedang menghitung jumlah waktu yang digunakan Racle untuk menghabiskan porsi makannya, mendengar Nita mengatakan bahwa Racle sangat kelaparan, Alex kira makanan itu akan habis dalam waktu 10 menitan, toh porsinya juga tidak terlalu banyak. Dihitung dari pas tadi Alex meminta nomor Racle, sepertinya ini sudah lewat 30 menit. Itu artinya sekarang waktu yang pas bagi Alex untuk menyapa kekasihnya itu.


Alex menghela nafas, mencoba mengurangi perasaan aneh yang kini sedang melanda hati nya, bukan rasa gugup atau semacamnya, melainkan lebih ke rasa takut, takut kalau Racle tidak akan mengangkat telpon atau malah memblokir nomor ponsel nya.


" Huft, elo bisa Lex, calm boy ! apapun yang akan terjadi pokoknya never give up, never ! " Alex menyemangati diri sendiri, setelahnya dia langsung mengambil ponsel yang sedari tadi dia pandang.

__ADS_1


" Yank, lagi apa? " Alex menulis seperti ini, tapi beberapa detik kemudian tulisan itu dia hapus kembali, lalu mengetik ulang, " Sudah makan? " Alex kembali menghapus nya. Ah sialan ! kenapa bisa begini. Dia mendesah sebal dengan dirinya sendiri, rasanya sangat susah untuk sekedar say hello pun dia tidak mampu.


Akhirnya dia memutuskan untuk langsung menelepon, terlalu sulit baginya jika harus menulis pesan. Tersambung, namun belum ada jawaban hingga panggilan pertama berakhir, Alex tidak menyerah, dia mencoba menghubungi kembali. Tut " Halo, dengan siapa? " tanya Racle disebrang sana.


Mendapati telponnya diterima, bahkan sekarang Alex sudah berhasil mendengar suara Racle saja sudah membuatnya sangat bahagia. Bukannya langsung menjawab pertanyaan Racle, yang ada malah sekarang Alex senyum-senyum sendiri. Yes ! kau memang jagoan Alex, apa gue bilang, elo pasti bisa. Alex membatin jumawa pada diri sendiri.


" Hello ? kalau tidak ada kepentingan saya akan tutup. " Sontak saja Alex langsung bicara, " Jangan sayang, ini abang, maaf abang ganggu waktu kerja kamu. " Ucap Alex sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukan waktu istirahat telah berakhir sepuluh menit lalu.


Tidak mendapati jawaban dari sebrang sana, membuat Alex kembali merasa gusar, Alex lalu melihat layar ponsel miliknya, panggilan masih terhubung tapi kenapa Racle tidak berbicara, ada apa?. Tidak ingin menyerah ditengah jalan, Alex kembali berbicara. " Abang tadi sengaja nungguin kamu di cafe, tapi kamu nya malah enggak ada kesini. Kenapa? padahal tadi abang berencana mau traktir kamu loh yank. "


" Yank, kamu kok eng.. " Tut belum juga Alex menyelesaikan kalimatnya, Racle sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telpon dari lelaki itu. Sedih? tentu saja, kecewa? sudah pasti, marah? iyalah, siapa yang tidak akan merasa marah jika diperlakukan tidak sopan seperti itu. Tapi untuk mengungkapkan semua yang dirasanya itu secara blak-blak kepada Racle rasanya mustahil.


Jika sampai Alex melakukannya, maka sudah pasti Racle akan meminta putus atau berkata " Terima aja sikap aku yang begini. " Alex menatap nanar pada layar ponsel miliknya, " Gue cuma mau nanya, yank kamu kok enggak jawab pertanyaan abang. " Lirihnya.

__ADS_1


Pemberi harapan palsu, mungkin kata itu cocok untuk kondisi saat ini, dimana telponnya di angkat, tapi tidak ada sahutan dari sana. Ternyata diperlakukan seperti ini lebih menyakitkan ketimbang telponnya tidak diangkat, sepertinya Alex akan lebih memilih telponnya di reject saja ketimbang diangkat tapi orangnya tidak bisa diajak bicara.


Alex berjalan lunglai menuju sofa, kemudian dia merebahkan tubuh jangkung nan atletis nya itu disana. Nasib gue gini amat, muka udah cakep kaya Brad pitt aja masih ditolak, duit udah gak akan habis tujuh turunan sama tujuh tanjakan kalo kagak di pake masih aja ditolak. Pacar gue maunya apa sih?


Sementara di perusahaan Lee corporation, tepatnya di lantai 10 tempat dimana Racle berada, wanita itu sedang memberengut kesal. Bahkan kini dia sedang memaki ponsel miliknya sendiri, lebih tepatnya dia sedang memaki photo Alex yang terpampang jelas di profil kontak.


" Kurang ajar ! gak tau malu ! kalo gue tau ini nomor elo gak akan sudi gue angkat walau sedetik pun, apalagi saat tau ternyata itu makanan donasi dari elo, sumpah demi uang lima puluh ribu, eh enggak deh kegedean, lima ribu aja. Iya sumpah demi uang lima ribu, gue gak akan mau makan itu nasi. Kalo bisa gue pengen muntahin lagi sekarang, tapi sayang nya enggak bisa, soalnya gue lagi mager banget buat kemana-mana, apalagi ke toilet. "


Si Nita, argh liat aja nanti, gue akan bikin perhitungan sama elo. Kurang ajar banget loh berani manfaatin kebaikan gue kek gini. Ah sial banget sih gue hari ini. Racle kembali dibuat kesal saat dirinya membuka notifikasi dari kegiatan kartu kredit miliknya, benar saja ternyata makanan itu dari Alex, karena seharusnya dia mengutang ke cafe Alex tapi malah Nita pakai untuk mmengutang di supermarket.


Racle pikir saat tadi ada notifikasi dari pihak bank, tentang pembayaran yang Nita lakukan untuk mengutang di cafe Alex, ternyata bukan.


Sepertinya untuk masalah kibul mengibul Nita memang bukan jagonya, terbukti dari beberapa kebohongan yang selalu dia buat dan rata-rata dari semua kebohongan itu sering terbongkar begitu saja, dan sekarang pun sama seperti yang sudah-sudah. Kalau untuk masalah ini kayak nya Nita yang memang tidak pintar, apa jangan-jangan ini pertama kalinya wanita itu menggunakan apa yang dinamakan kartu kredit ?

__ADS_1


Rasa-rasanya detik ini juga Racle ingin sekali bisa terbang, lalu dia akan langsung terjun bebas menuju lobi kantor, menghampiri Nita kemudian memakinya disana, dia tidak akan peduli lagi dengan etika dan pamornya di kantor ini, yang penting rasa kesalnya terhadap Nita terluapkan. Tapi sayang seribu sayang, semua itu hanya khayalan Racle semata. Karena mana mungkin dia bisa melakukan itu, kalau untuk terjun bebas saja si mungkin dia bisa, tapi siap-siap saja gundukan merah menantinya, karena sekali lagi ditegaskan, ini bukan dunia anime ataupun dunia kartun.


__ADS_2