AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Main bola


__ADS_3

Yuga membawa Racle ke taman belakang rumah, setelah sampai Yuga langsung melepaskan tangannya dan memasukannya ke dalam saku celana "kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Yuga


Racle yang sadar segera memperbaiki ekspresi wajahnya, "Hah? enggak apa-apa"


"Apa tujuanmu pulang kembali?"


kayanya ini rumah isi wartawan semua deh, hobi banget wawancara gue, berasa jadi aktris kalo gini caranya.


"Bukannya Racle udah jawab ya, yaudah takutnya kakak lupa Racle ulang untuk melindungi yang harus dilindungi" tekan Racle


"Maksudnya? apa mama yang menyuruhmu?"


iya, si wonder women yang maksa, kalo bukan mana mau gue kembali lagi ke istana derita.


"Enggak, pengen aja" dusta banget sih gue,


"Bagaimana kabar mama?"


"Tidak baik, beliau sering nangis saat malam hari, mungkin inget anak-anaknya" jawab Racle dengan lesu


"Sebelum kamu tiba, saya lihat Jovan sedang mengawasi rumah ini, namun belum sempat saya menghampirinya dia sudah terlebih dahulu pergi"


"Jadi kakak tahu Jovan?"


Yuga mengangguk "Saya baru tahu 2 tahun kebelakang"


duuh gemes.. sopan banget, udah gitu ganteng pula , bener-bener nih abang gue bikin panas dingin jadi pengen peluk.. haha


"Kakak tahu dong kondisi mama?"


"Sebagian, karena saya juga jarang bertemu dengan Jovan, saya tahu kamu anak yang baik, terimakasih sudah menjaga mama, dan Maaf"


"Maaf?? ulang Racle


"Maaf atas perlakuan mama selama ini, saya yakin mama tidak benar-benar menganggap mu sebagai orang asing"


Racle tersenyum kecut, ternyata selama ini ada orang yang mengetahui penderitaannya.

__ADS_1


gagal deh gue jadi tokoh wanita tangguh depan orang ganteng, kalo sisi lemah gue keburu terbongkar sebelum waktunya, apes banget, rese banget tuh si Jovan dasar ember, pantes aja dia tahu soal pendidikan gue, jangan-jangan gue jomblo juga dia tahu, duuh tengsin kan gue kalo sampe ketahuan jomblo


"Apa mamah tahu soal perjodohan saya?"


Justru karena itu gue dipaksa pulang bambang


"Si wonder... maksudku mama Dita selalu tahu tentang anak-anaknya" duuh ini mulut hampir aja keceplosan


Yuga tersenyum menanggapi kata-kata adiknya, ada perasaan haru saat mengetahui perjuangan ibunya di sebrang sana, pernah terbersit keinginan untuk menemui sang ibu, namun dia sadar tidak cukup mudah terlepas dari belenggu sang ayah dan neneknya.


Banyak hal yang Yuga dan Racle bicarakan, saking asyiknya mereka tidak menyadari bahwa langit terang kini berangsur berubah menjadi jingga.


Yuga melihat pergelangan tangan "Sudah sore rupanya, pergilah ke atas dan segera bersihkan diri, sebentar lagi jam makan malam akan tiba".


Diusapnya kepala Racle dengan lembut, lalu Yuga bergegas masuk ke dalam rumah.


Untung sebelum berangkat kesini gue keramas dulu, jadi ini rambut enggak malu-maluin pas dipegang cogan, asliiii meleleh gila hati adek bang. Gumamnya dalam hati


Sambil bersenandung ria Racle bergegas menyusul sang kakak masuk kedalam rumah,


Yaelah baru aja ini mood diperbaiki, sekarang udah rusak lagi gara-gara ketemu si nona


"Hemm" sahut Racle malas


"Lo itu cuma orang baru di rumah ini, jadi jangan pernah macem-macem, apalagi sampe lo punya nyali bikin masalah sama gue" tegasnya


"Ya ampun, santai kali non, gue aja baru nyampe tadi pagi, udah langsung dikasih kartu kuning aja, berasa kaya lagi main bola tau gak si"


"lo itu ya, bener-bener nyebelin tau gak"


"Udah lo santai aja non, gue gak akan bikin masalah sama orang yang enggak nyari masalah, udah ah gue mau mandi dulu gerah" Racle mengibaskan rambut panjangnya tepat ke arah wajah Yuna, terlihat wajah Yuna yang memerah, Racle bergegas lari dan melambaikan tangan


Terdengar gelak tawa dilantai atas, Yuna yang mendengar hanya bisa mengepalkan tangan dan memaki Racle dalam hati, kurang ajar, tunggu pembalasan gue!


"Ngidam apa sii.. si wonder women pas lagi hamil tu anak kembar, kok timpal banget sikapnya, gedek banget gue punya kakak cewek tapi enggak bisa diajak main boneka, kayaknya dia lebih suka main bola deh, soalnya dikit-dikit kasih peringatan. rese beda banget sama si babang tampan, dah ah gue mau mandi dulu, takut kena semprot si mak lampir jadi-jadian"


"Racle ayo sini nak, kita makan malam bersama" ajak Ny.Hyeri

__ADS_1


"Iya ibu suri, terimakasih".


Makan malam berjalan dengan cepat dan khidmat, semua anggota keluarga terlihat sedang berkumpul diruang tengah, begitulah tradisi keluarga Tn.Morgan, sesaat setelah makan malam, mereka diwajibkan berkumpul diruang keluarga hanya untuk membahas hal-hal yang menurut Racle membosankan.


ciih menyedihkan, bahkan disaat kumpul seperti ini pun yang dibahas cuma soal uang, ini juga nenek lampir ngapain lihatin gue sampe itu biji bola mata mau loncat, jadi gemes pengen congkel.


"Morgan kamu yakin dengan keputusan mu nak?" ucap Ny.Ratih lemah lembut


"Saya sudah bicarakan masalah ini dengan anak-anak tadi siang, dan mereka juga tidak keberatan bu"


"Bagaimana kalau nantinya malah berdampak buruk bagi perusahaan?" liriknya pada Racle


Ini mak lampir bener-bener yaa bikin gue gemes setengah mampus, gue gabung ke perusahaan buat kerja bukan buat maling, ya gak mungkin lah sampe segitunya. oke tenang aja, kali ini masih gue liatin, kalo kedepannya dia masih ngelantur gue sikat lo sampe bersih, biar enggak negatif thinking mulu sama orang.


"Nyonya tenang saja, saya pastikan kinerja saya akan berdampak baik untuk perusahaan"


"Nyonya?? apa tidak salah kamu memanggil nenekmu sendiri dengan sebutan nyonya?anak yang tidak tahu sopan santun" sungut Ny.Ratih


"Loh bukannya benar ya, setahu saya nenek saya sudah meninggal dunia sebelum saya lahir"


"Kurang ajar, apa selama ini wanita bedebah itu tidak pernah mengajari kamu sopan santun hah?"


"Santai sedikit nyonya, ingat umur, jangan buat tensi darahmu naik dengan cuma-cuma"


"Dasar anak tidak tahu malu, lebih baik kembali saja ke tempat asal mu"


Mereka yang di sana terlihat enggan menengahi perdebatan antara Racle dan Ny.Ratih


"Sudah aku katakan tadi pagi, tempat asal ku disini, otomatis aku kembali lagi kesini ,ke rumah orang tua ku"


"Pantas Mela tidak pernah mau mengakui mu sebagai anaknya, ternyata begini sikapnya, sungguh menjijikan"


prang.... Mereka melonjak kaget melihat meja kaca yang ada dihadapannya sudah pecah berkeping-keping, dengan sekali tekanan kaki, Racle mampu menghancurkan meja kaca yang cukup tebal itu, kini hanya tersisa bagian kaki mejanya saja


"Aku tegaskan kepadamu, Hanya Ibu dan mama Dita yang boleh memakiku, kau hanya orang luar yang tidak berarti apa-apa, jadi berhenti sebelum aku bertindak lebih" Racle pergi dengan amarah memuncak, terlihat dari kepalan tangan yang semakin erat,


Brak... Racle membanting pintu kamar dengan kencang "s*alan, berani bermain api denganku maka tanggung sendiri akibatnya dasar pengasuh"

__ADS_1


__ADS_2