
Ah, lelahnya. Gue kira bakal berujung di atas ranjang terus kawin muda, thanks God, masih mau dengerin permohonan gue, walaupun gue bukan orang baik, tapi dengan amat sangat cepat Engkau kirim malaikat pelindung.
" Brian, nama cowok itu Brian ! " gumam Racle sambil memejamkan mata, dia tersenyum tipis saat mengingat kembali visual wajah lelaki yang sudah menolongnya. Tampan, itu yang tersemat dalam otak dan hati Racle. Gadis itu kini sedang berada didalam sebuah taksi online, setelah berhasil kabur dari unit apartemen Alex, tanpa membuang waktu lagi Racle langsung memesan taksi dan berniat pergi ke rumah Nita. Dengan tujuan menenangkan hati serta pikirannya.
" Sudah sampai mbak, sesuai alamat yang tertera pada aplikasi. " Lamunan Racle buyar, setelah mendengar suara bernada sopan dari pria paruh baya yang ada di depannya. Racle membuka mata, Kok cepet banget, saking asyiknya ngelamunin itu cowok sampe gak tau waktu. " Oh iya pak, terimakasih. Saya bayar cash saja, berapa totalnya ? " tanya Racle sopan.
Setelah sang sopir memberitahu jumlah yang harus dibayar, Racle dengan cepat membuka tas dan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah, " Ini pak, selebihnya tips untuk bapak. Selamat malam. "
Sopir itu tersenyum, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tidak menyangka dimalam yang sudah mulai larut ini, dia diberikan rezeki nomplok, " Terimakasih mbak, semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagian " ucapnya. Racle mengangguk tanpa membalas ucapan sang driver lalu bergegas keluar.
Bukan maksud ingin angkuh atau semacamnya, hanya saja Racle tidak kuat jika harus berlama-lama melihat ekspresi wajah dari driver itu, bisa-bisa Racle menangis kejer lagi. Apa lagi saat mendengar suara lelaki itu bergetar, seperti sedang menahan tangis, membuat hati Racle menghangat, dia seakan bisa melihat pengorbanan seorang kepala rumah tangga yang sedang mencari nafkah sampai larut malam seperti ini, pasti keluarganya sudah amat sangat menanti kepulangannya, pikir Racle. Maka dari itu Racle memberi beberapa kali lipat dari apa yang harusnya dia bayar.
Racle menelepon Nita setelah mobil yang dia tumpangi pergi. " Mbak, gue ada didepan, bukain pager nya dong. " ucapnya to the poin. Dia langsung mematikan sambungan telpon sebelum dapat sahutan dari Nita.
" Rese nih bocah, seenak jidatnya aja nyuruh-nyuruh gue, mana langsung di matiin lagi, gak sopan banget. " Sungut Nita kesal, setelah mendapat telpon dari Racle, tapi tak urung dia langsung melesat pergi ke depan membawa kunci pagar, masih dengan mengomel karena sikap Racle barusan, Nita membuka pintu pagar.
Racle yang mendapati omelan yang panjang kali lebar itu tidak menyahuti nya sama sekali, dia terlalu lelah dengan apa yang sudah menimpanya hari ini. Baginya ini adalah hari yang amat sangat berat, pikirannya benar-benar sangat kacau.
" Mbak, gue mau nginep. " Nita menoleh ke samping tepat dimana Racle berada, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.
" Elo ada masalah apa? " tanya nya setelah mereka sampai dan duduk di ruang tamu. Racle menggelengkan kelapa, kemudian merebahkan dirinya di atas sofa, kebetulan Racle duduk di sofa panjang yang langsung berhadapan dengan Nita yang duduk di sofa single.
__ADS_1
" Ibu kemana mbak? kok sepi? " Nita mencebikkan bibir, bukannya menjawab Racle malah mengalihkan pembicaraan seperti ini. Dengan kesal Nita bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis yang tangah menutup mata. Dia menarik paksa tangan Racle agar gadis itu duduk, " Bangun cepetan, ceritain dulu masalah elo sekarang ! "
Dengan malas Racle bangun dari tidurannya, dan duduk menyandar pada sandaran sofa, mau bagaimana lagi? si Nita ini kalo enggak dituruti, bisa-bisa Racle tidak akan mampu tidur nyenyak, karena akan terus diganggu seperti ini, sebelum jiwa kekepoan Nita diberi makan informasi.
Nita menangkup kedua pipi Racle, melihat lebih jelas wajah gadis yang ada dihadapannya ini " Mata elo sembab gini kenapa? bilang sama gue siapa yang udah bikin elo mewek, hah? ayo bilang ! kurang ajar banget tuh orang udah bikin ade gue yang jelek makin kelihatan jelek. " ucapnya.
Racle yang mendapat perhatian seperti ini malah kembali menangis, melihat gadis dihadapannya menangis Nita berinisiatif memeluk dan mengusap punggung Racle berniat menenangkan, bukannya tenang, tangisihhi Racle malah semakin kencang. " Plak " Nita memukul lengan gadis itu, " Kok gue dipukul mbak? " ucapnya terbata karena masih sesegukan.
" Gak tau di untung banget loh jadi adek, gue berusaha buat nenangin elo, bukan berhenti malah makin kejer. Berisik bego ! ini udah malem, malu sama tetangga. "
" Habisnya gu-gue terharu, m-mbak care banget, gue ngerasa punya keluarga, Hwaa. " Racle kembali menangis.
Gadis itu melepas pelukan Nita, wajah nya memberengut kesal, sungguh orang ini benar-benar menyebalkan menurutnya. Bisa-bisanya dalam situasi yang lagi mengharu biru seperti ini Nita malah ngelawak. " Mbak ish "
Nita terkekeh, dia mengambil tisu dan mengelap pipi Racle yang basah karena air mata. " Udah jangan nangis lagi, elo makin jelek tau gak sih. Ini minum dulu. " Nita menyodorkan botol air mineral yang selalu tersedia di atas meja, jaga-jaga bila ada tamu datang, jadi dia tidak perlu repot-repot membawa air ke dapur.
" Makasih mbak, " Nita kembali mengusap kepala gadis itu, baginya Racle itu sudah seperti adiknya sendiri. Apalagi Nita ini anak tunggal, dia hanya tinggal bertiga dengan ayah dan ibunya.
Nita sebenarnya mendamba seorang adik, tapi kondisi ibunya yang tidak memungkinkan, karena dulu ada sebuah insiden yang mengharuskan ibunya melakukan operasi pengangkatan rahim setelah melahirkan Nita, menjadikan dia mencurahkan kasih sayangnya pada Racle, meski belum mengenal lama, tapi Racle yang bawaannya manja apalagi sering menginap disini, membuat Nita dan orang tuanya kepalang sayang, mereka tidak segan-segan memanjakan Racle bila sedang berada disini.
" Udah tenang? " tanya nya, Racle mengangguk. " Bisa jelasin ke mbak sekarang? " Racle kembali mengangguk, sebelum bercerita, Racle menarik nafas panjang. " Gue mau diperkosa sama si Alex mbak. " jawabnya.
__ADS_1
Mata Nita membulat sempurna, mulutnya pun menganga lebar, saking syok dengan apa yang telah dituturkan adik angkat nya barusan, sesaat kemudian " Plak, plak, plak " Nita malah memukuli Racle, tidak hanya sekali, bahkan dengan beringas dia melakukannya beberapa kali hingga tangan, dan paha putih Racle berubah menjadi sedikit kemerahan.
" Aww, mbak sakit, tega banget sih. Gue aduin ibu baru tahu rasa loh ! "
" Biarin, aduin sono kalo berani, yang ada elo makin tambah bonyok digebukin ibu sama bapak ! Gue udah bilang berkali-kali sama elo, kurangin pake pakean begini, elo orang kaya, masa sih enggak mampu beli baju yang bahannya agak banyakan dikit. Heran gue " Nita berdiri mencoba menormalkan detak jantungnya karena terbawa emosi barusan.
" Kenapa malah jadi nyalahin gue sih mbak, elo sendiri juga suka pake pakean kek gini kan. "
Nita berkacak pinggang, emosi yang sesaat mereda kini kembali naik. " Emang kurang ajar loh ! gue nasehatin bukannya sadar malah ngelunjak, gue emang suka pake pakean yang minim, tapi diwaktu dan situasi yang tepat, enggak kaya elo, every day every time. Masa iya gue dugem pake daster, mikir dong " sungutnya
Cari aman ah, " Iya mbak maaf, janji deh gue enggak bakal gini lagi. " Nita kembali duduk dihadapan Racle, tanpa segan-segan dia menoyor kepala gadis itu " Basi loh, janji-janji besoknya gini lagi, kalo bapak tau bisa-bisa elo diusir dari rumah. "
Brengsek si Nita, gimana kalo gue jadi bego gara-gara kepala gue cedera akibat toyorannya, masa iya cantik-cantik oon, kan sayang.
" Ya jangan elo aduin lah, bapak gak akan tahu kalo enggak ada yang kasih tau, awas aja kalo sampe berani bilang ke ibu sama bapak, gak akan gue ajak lagi clubbing. " Ancam Racle
Nita gelagapan, " Eh jangan dong, gue belum dapet pengusaha kaya, i'm promise, tenang aja pokoknya rahasia aman. " ucapnya sambil mengacungkan dua jari tanda perdamaian.
Cih, so soan mau jadi mbak yang baik, giliran di ancam segitu aja udah lembek, dasar bego ! masa iya mau cari cowok kaya di club, kalo mau cowok bastard emang disana tempatnya, lah ini cowok kaya, heran gue kenapa bapak sama ibu yang baik bisa menghasilkan anak laknat macem dia. Racle memutar bola mata malas.
Bocah laknat, gue kasih perhatian malah balik ngancem. Ah, andai aja gue udah dapet pengusaha kaya. mungkin enggak akan se takut ini sama anceman ini bocah ! Awas aja kalo sampe gue dapet orang tajir, gue siksa lo cel. Batin Nita
__ADS_1