AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Sutet bertegangan tinggi


__ADS_3

Sekembalinya Brian dari ruangan Yuga, lelaki itu di buat bingung melihat meja kerja Racle yang sudah rapi dan layar monitor komputer pun tidak menyala, padahal ini baru jam setengah tiga sore. Kemana dia? apa jangan-jangan Racle malu bertemu dengan dirinya atau kecewa karena tidak jadi mendapatkan kecupan mesra makanya dia kabur, entahlah, yang penting hari ini dia akan mendapatkan berita terupdate tentang teman batunya itu. Jadi untuk masalah Miracle yang raib seperti Jinny itu dia tidak ambil pusing, terserah saja, toh itu hak Racle mau pergi atau tidak.


***


" Ada perlu apa? saya sedang tidak punya informasi untuk sekarang ini. " Wajah tanpa ekspresi itu menyembul keluar dari salah satu pintu apartemen yang terbilang sangat wah ini.


" Kasih masuk sebentar dong, pegel nih kaki, masa iya ada tamu enggak dipersilahkan masuk sama sekali, enggak sopan banget. "


" Kurir saja yang notabene nya punya jasa dan keperluan sama saya tidak saya kasih ijin masuk, lah kamu ? yang tidak ada kepentingan sama sekali kok jadi jatuh nya maksa begini, sudah sana pulang. "


" Bentaran doang ya ampun pelit banget sih. "


" Tidak, hus sana pergi. " Rico mengibaskan tangan didepan wajah Racle, lelaki itu bersikukuh tidak akan mengijinkan Racle memasuki unit apartemennya.


" Bentar kak, please . " Racle sudah mengeluarkan jurus merengek pun tetap saja Rico bergeming, bukan karena kapok disinggahi oleh Racle, meskipun ada sedikit rasa kesal karena tingkah Racle kemarin malam yang membuatnya seperti orang menumpang di apartemennya sendiri, tapi bukan itu yang menjadi alasan utamanya untuk saat ini, ada hal lain yang membuatnya jadi enggan memasukan gadis ini.


" Tidak bisa ! saya sedang tidak berpakaian Racle, atau jangan-jangan kamu ingin melihat saya sedang bertelanjang dada iya? kalau begitu ayo masuk, saya akan membuka pintu selebar-lebarnya. "


Wajah Racle langsung bersemu merah, membayangkan badan Rico yang tegap dan juga argh meski selalu dibungkus dengan kemeja tetap saja masih terlihat tonjolan telur burung unta di lengan kanan dan kirinya, apalagi kalau sampai melihatnya bertelanjang seperti apa yang dia katakan barusan, membuat bulu kuduknya langsung meremang.


" Mmmm.. kakak telanjang ? " Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Racle. Sialan! kenapa bisa keceplosan seperti ini, Racle merutuki dirinya sendiri. Otaknya menjadi mupeng setelah mendengar kata-kata Rico, ah rasanya dia ingin bersembunyi dibawah ketiak Rico untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah tambah memerah karena malu, ngomong-ngomong soal sembunyi, sepertinya Racle lebih ingin menikmati aroma tubuh lelaki itu dan merasakan kerasnya otot Rico, ketimbang menyembunyikan wajahnya ini.

__ADS_1


Bukan hanya Racle yang sedang salah tingkah, ternyata Rico pun sama, lelaki itu terlihat menggaruk alisnya yang masih terlihat sedikit basah karena terkena tetesan air dari rambutnya. Sepertinya Rico baru saja selesai mandi saat Racle bertamu ke apartemennya, lebih tepatnya memaksa masuk, karena kalau benar-benar tamu, Rico pasti akan mempersilahkan dia masuk dan tidak akan mengusir Racle secara terus menerus seperti ini.


" Bukan seperti itu, saya hanya sedang mengenakan handuk saja, itu tidak bisa dikatakan kalau saya sedang telanjang kan ? "


Racle menghela nafas, entah itu karena kecewa atau merasa lega setelah mendengar penjelasan Rico barusan, tapi jika dilihat dari ekspresi wajah Racle apalagi saat melihat bibirnya mengerucut sepertinya gadis ini sedang merasa kesal.


Padahal otak cerdas gue udah traveling kemana-mana, apalagi saat denger kata telanjang, seketika terbayang soal.... ah sial! kenapa mesti diralat segala sih, kan jadinya bete begini. Ini semua gara-gara kak Yuga.


" Mending kamu pulang saja, saya juga akan keluar sebentar lagi karena memang ada urusan. "


Racle semakin dibuat kesal saja, gadis itu mendengus dan menghentakkan kakinya. " Gigih banget kayaknya usaha kakak buat ngusir gue, kenapa sih? mau balas dendam soal kemaren iya? "


" Eh.... " Rico dibuat gelagapan, bukan itu maksudnya, tapi yasudah lah percuma juga dia memberitahu Racle, gadis itu terlalu keras kepala, bisa-bisa dia keburu masuk angin jika harus menjelaskan panjang kali lebar. " Terserah kamu saja. " Blam, Rico menutup pintu apartemen setelah dirasa lehernya sedikit pegal.


" Mati gue ! " Racle memekik kaget saat melihat jam dipergelangan tangan nya, cukup lama ternyata dia menghabiskan waktu beradu argumen dengan Rico, sial ! bisa-bisa dia ketangkap basah lagi oleh Alex, tadinya Racle kesini hanya untuk membawa mobilnya saja, tapi saat mau melajukan mobil keluar kawasan apartemen, tiba-tiba dia teringat tentang blazer dan juga data laporan dari Rico yang tertinggal di unit apartemen lelaki itu.


Niat hati cuma mau mampir sebentar, eh ternyata Rico malah mengajaknya berdebat, ditambah denganl rasa bumbu penasaran yang membuatnya berimajinasi membuat Racle jadi tidak tahu waktu.


Gadis itu buru-buru melangkahkan kaki jenjang miliknya menuju lift, dan tara... Mampus Racle mampus ! mulut Racle terus saja komat-kamit, harapannya sirna sudah seketika melihat lelaki tampan yang berada didalam kotak besi itu, ternyata dunia ini sempit sekali untuk Racle. Alex sedikit gemas melihat mulut kekasihnya itu terus saja bergerak, tapi sejurus kemudian dia jadi teringat tentang kejadian kemarin sore yang membuatnya hampir saja kehilangan kendali.


Alex mengurungkan kembali niatnya untuk menyapa Racle, bukan karena tidak ingin menyapa atau karena kesal, justru sebaliknya dia tidak ingin membuat Racle semakin marah dan kesal terhadapnya, sekelebat bayangan Racle yang sedang mendiamkannya tadi siang langsung bermunculan, tidak dia tidak akan sanggup lama-lama Racle diamkan, oleh karena itu dia lebih memilih mengesampingkan egonya terlebih dahulu, ketimbang harus memancing lagi kekesalan Racle.

__ADS_1


Racle ragu apakah dia harus masuk kedalam lift yang sama lagi dengan Alex seperti tempo hari, atau bagaimana? tapi melihat Alex yang cuek bebek membuatnya sedikit tenang, sepertinya lelaki itu tidak akan mengulang kembali tragedi yang bisa membuat Racle nangis kejer.


Dengan tekad yang sudah bulat, terlebih karena dia juga sudah ketangkap basah, ya sudah sekalian saja pikir Racle, akhirnya Racle memberanikan diri untuk masuk kedalam sana.


Hening seketika, dua insan itu tidak saling menyapa, terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal, hingga tiba-tiba lift berhenti setelah turun satu lantai dari unit apartemen Rico, kegaduhan baru muncul, ada empat pemuda yang langsung masuk dan memepet posisi Racle, sepertinya mereka sengaja melakukan itu.


Melihat kekasihnya sedang dalam situasi yang tidak menguntungkan, mau tidak mau Alex harus mengambil inisiatif sendiri, masa bodo dengan kemurkaan Racle setelahnya, yang penting sekarang dia harus menyelamatkan kulit mulus Racle dari tangan-tangan liar para pemuda yang ada dihadapannya.


" Sini ! " Alex menarik lengan Racle lembut, nada serta mimik wajahnya pun terdengar dan terlihat ramah, tidak seperti Alex yang biasanya Racle temui, yang selalu bikin gaduh dan rusuh.


" Hah? " Racle malah bengong, telat membaca situasi karena sedikit terbuai dengan nada bicara Alex.


" Sini deket abang. " Racle masih bergeming, gadis itu malah menaikan sebelah alisnya sambil menatap Alex heran, tahu akan kebingungan Racle, Alex langsung mengkode dengan gerakan mata. Sejurus kemudian Racle langsung merapatkan tubuh molek nya ke Alex, benar-benar sangat rapat, sehingga Alex dibuat menahan nafas untuk beberapa detik karena kelakuannya itu.


Melihat gadis incaran mereka mundur, membuat para pemuda itu langsung menoleh kebelakang, Alex mencengkram lembut pundak Racle, berniat memberi jarak agar Racle tidak terlalu merapatkan tubuhnya, karena dibawah sana sudah mulai mewarning Alex dengan mengirimkan sinyal yang kecepatannya melebihi five G, buktinya saja baru beberapa detik mereka mepet, tapi Alex sudah berhasil mengunduh beberapa file gambaran tentang keganasannya diatas ranjang.


" Ekhem " Alex berdehem, empat pemuda itu langsung menoleh lagi ke arah depan.


" Jangan terlalu dekat. " Bisik Alex pada telinga Racle, bulu kuduknya seketika meremang, entah kenapa semenjak kejadian gagalnya kejadian kecupan surga dunia dengan Brian, otak Racle menjadi sangat mudah sekali kotor, apa ini efek karena penasaran atau karena Brian sudah berhasil menularkan virus cassanova nya terhadap Racle.


Racle lantas menarik tangan Alex, menyuruh lelaki itu untuk sedikit menunduk, karena tinggi badannya hanya sampai sebahu Alex " Kenapa ? " bisiknya.

__ADS_1


Jangan tanya kenapa untuk saat ini sayang, apa kamu tidak merasakan tegangan tinggi dibawah sana?


__ADS_2