AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Alex yang malang


__ADS_3

" Pulang!!" ucap Yuga dingin, dengan masih sesegukan Jessi mengikuti langkah kaki kekasihnya.


"Braak" Jessi terlonjak kaget saat Yuga menutup pintu mobil dengan kencang, Yuga melirik sekilas " Pasang sabuk pengaman".


"Mas a aku"


"nanti saja kita bicarakan di apartemen", potong Yuga. Jessi semakin takut, melihat sikap dingin Yuga seperti ini, rasa bersalahnya pun semakin besar. Maaf mas aku udah bikin kamu kecewa, bukan hanya kamu, tapi juga aku udah bikin Racle sama Nita dalam masalah, maaf atas sikap keras kepala aku. Batinnya.


Alex melihat Yuga memasuki mobil, " Selamat, ternyata dia belum pulang masih bisa numpang sama kakak ipar" dia berlari menghampiri mobil temannya, " Tok...tok" kaca pintu mobil terketuk dari luar, " Mas pak Alex".. Yuga melirik sekilas, bukannya membuka kaca dia malah menginjak pedal gas pergi meninggalkan Alex, " Brengsek loh" maki Alex setelah mobil Yuga melesat jauh meninggalkan nya. Adik sama kakak bener-bener rese nya enggak ketulungan, untung aja elo sahabat gue Ga, kalo bukan abis lo gue hajar.


Alex mengacak rambut frustasi, ia merogoh ponsel, mendial nomor seseorang " Bangs*t, si ujang kemana lagi? telpon gue nggak diangkat, gue pecat baru tau rasa lo jang, masa iya jam segini udah molor". ia melihat pergelangan tangannya, Eh buset ini udah jam dua, pantes aja telpon gue nggak diangkat-angkat.


Ia mendesah pasrah, Masuk kedalem lagi aja lah, siapa tau dapet tebengan, jam segini mana ada taksi online kalo ada juga pasti susah dapet, nasib gue gini amat, untung gue ganteng, tajir lagi, kalo enggak udah mau protes gue sama Tuhan.


Dengan langkah lunglai Alex kembali masuk kedalam club, Gini nih resiko orang ganteng, mata tante-tante pada jelalatan lihat gue, dasar ulat bulu, bikin badan gue gatel aja, coba kalo myKeajaiban yang natap penuh nafsu gitu, pasti udah salto gue guling-guling diatas kasur sama dia.


***


" Astaga apaan nih?" Alex kaget melihat kondisi ruangan VIP sky blue yang sudah tak berbentuk, juga teman-temannya yang sudah teler bahkan ada yang tumbang, tidur dilantai tak beraturan.


Alex kembali terkejut saat melihat Rara yang tertidur diapit oleh beberapa teman lelakinya, cahaya ruangan yang remang membuat Alex kesulitan mencari si biang onar dari kegaduhan ini, mana nih si Brian rese, nah itu dia. Dia berjalan ke arah Brian yang sudah tak sadarkan diri.


"Woy bangun loh, tanggung jawab sama anak orang, ini urusannya gimana?" Alex menepuk keras pipi temannya, bahkan sesekali ia menjitak kepala Brian, mungkin dia sedang berusaha sedikit menyalurkan kekesalan yang sedang dia rasa akibat perbuatan kakak beradik yang rese, Brian yang sudah mabuk berat hanya membuka mata sedikit, kemudian bergumam tak jelas.


Alex menghela napas panjang, rasanya malam ini adalah malam terkacau bagi dirinya, mulai dari masalah Yuga, hingga Racle yang mempermainkan hasrat ke lelakiannya, dan sekarang Brian, kalau bukan lelaki macho sepertinya Alex sudah menangis sesegukan sedari tadi Racle meninggalkannya.


"Rese lo" maki Alex saat Brian tak bisa dia andalkan, dengan sangat berat hati dia menghubungi manajer club untuk menyelesaikan kekacauan yang telah diperbuat Brian dkk, beruntung manajer club adalah kerabat Brian jadi dengan sangat mudah Alex mendapat banyak bantuan, mulai dari akomodasi untuk mengantar Rara, dan pengamanan Ruangan, yaa Alex meminta supaya teman-teman lelakinya itu untuk menginap di ruang tempat mereka party, karena tidak mungkin dia meminta pihak club untuk mengantar satu persatu temannya itu.


Alex kembali keruangan dan menghampiri Brian, dia meraba setiap saku yang ada pada Brian, "Ketemu" ucapnya bahagia, Sorry bro, mobil elo gue pinjem dulu, ntar besok gue balikin, selamat menikmati pesta kawan.


"Thanks bro, udah kasih ijin temen-temen gue nginep, barusan gue udah transfer buat jajan elo" Ucapnya pada manajer club.


" Calm aja men, btw apa enggak sebaiknya gue pindahin ke tempat yang lebih layak Lex?"

__ADS_1


"Gak usah, biar mereka ngerasain suasana party sampe besok, cukup jaga aja ini ruangan, supaya enggak ada yang masuk"


" Oke men, thank buat uang jajannya"


"Sipp". Alex melenggang pergi keluar menuju tempat parkir, Enak banget si Bian, dia yang punya party tapi malah gue yang harus keluarin duit.


**** Apartemen


Mereka terlihat masih betah didalam mobil, baik Yuga maupun Jessi keduanya terlihat kompak, " Mas, kamu mau ikut masuk ke unit aku?" melirik sekilas kekasihnya.


" Saya kecewa " ucap Yuga lirih,


Jessi membalikan badan menghadap Yuga, ia juga memberanikan diri memegang tangan kekasihnya " Maaf mas, aku udah bikin kamu kecewa".


Yuga melepas genggaman tangan Jessi, lalu menatapnya " Sulit bagi saya untuk memaafkan kesalahan kamu Jess".


" Aku sadar mas, perbuatan aku udah bikin kamu kecewa, aku bener-bener minta maaf" ia kembali menggenggam tangan kekasihnya, Yuga hanya merespon dengan gelengan.


Ia semakin kalut saat melihat respon Yuga, apalagi mendengar Yuga sudah tidak menyebut dirinya dengan sebutan mas, Jessi yakin kali ini pasti sulit mendapatkan maaf.


" Ada satu cara kalau kamu ingin saya maafkan, tapi Saya tidak yakin kamu mau melakukannya"


" Mas mau aku lakuin apa? bilang sama aku? aku yakin aku bisa" ucap Jessi dengan senyum lembut, senyum yang selalu membuat hati Yuga luluh, tapi tidak untuk kali ini, Yuga mencoba menahan diri untuk tidak tergoda.


" Sudah lupakan, sebaiknya kamu masuk kedalam, dan tidur"


"Mas kamu belum mau maafin aku, mana bisa aku tidur, kamu mau aku lakuin apa? bilang aja, aku pasti sanggup"


" Kamu tidak akan sanggup, lebih baik turun"


" Nggak sebelum kamu bilang dulu, aku sanggup mas beneran, apapun mau kamu aku pasti lakuin" ucapnya yakin.


"Benar kamu sanggup?". Jessi menganggukan kepala, ia tersenyum melihatkan lesung pipi miliknya, akhirnya ada harapan buat mas Yuga maafin aku.

__ADS_1


" Tidur dengan saya"


Tubuh Jessi kaku seketika mendengar permintaan sang kekasih, wajah yang berseri kini terlihat tegang " Tidur? ma maksud mas?" ucapnya terbata.


" Tidur dengan saya malam ini, maka saya akan memaafkan kamu"


Jessi menggeleng-geleng kepala sungguh konyol pikirnya permintaan Yuga kali ini, " Kamu jangan bercanda mas"


Yuga menatap tajam ke arah kekasihnya, " Apa saya terlihat sedang bercanda?".


" Tapi mas"


" Tidak ada tapi-tapian, jawab saja Ya atau tidak"


Jessi geram, tangannya mengepal kuat, ia emosi dengan sikap Yuga yang dirasa kekanak-kanakan " Mas aku tau aku salah, tapi seharusnya kamu nggak memanfaatkan keadaan, aku memang mau mas maafin aku, tapi enggak gini juga caranya"


" Terserah, turun sekarang". tekan Yuga, Jessi tersenyum kecut " Kamu udah gila mas, minta hal itu sama aku, lebih baik kamu nggak usah maafin aku" Jessi keluar, Braak ia membanting pintu mobil, kemudian bergegas pergi masuk ke dalam gedung apartemen.


Yuga menatap nanar tubuh kekasihnya yang semakin menjauh, entah keberanian dari mana ia bisa dengan lancang meminta hal seperti itu pada Jessi. ia sadar caranya memang salah, tapi dia tidak menyesal telah mengatakannya, karena hanya dengan cara seperti itu dia bisa mengikat Jessi agar tidak pergi meninggalkannya, itulah pikir Yuga. Saya memang sudah gila Jess, gila karena saya takut kamu ninggalin saya, kalau kamu tahu saya sudah dijodohkan, saya tidak bisa jika harus kehilangan kamu.


Lain halnya dengan Jessi, ia tidak habis pikir kemana hilangnya akal sehat Yuga, selama satu tahun menjalin asmara dengannya, ia tidak pernah melihat lelaki itu melewati batas, kalau bukan hanya sekedar cium dan peluk, menurut Jessi itu masih dalam hal wajar.


Tapi malam ini Yuga sudah sangat keterlaluan, Jessi memang sangat mencintainya tapi untuk tidur bersama sebelum menikah, jelas saja ia tak mau.


Hikss, Jessi kembali menangis saat sudah masuk ke unit apartemen miliknya, ia menyender pada pintu apartemen, tubuhnya merosot kebawah, ia merasa sangat kecewa dengan Yuga. "Kurang ajar kamu mas, kamu pikir aku perempuan apa? aku memang salah karena udah berani main ke club, tapi bukan berarti aku bisa seenaknya kamu giniin, aku benci kamu" teriaknya sambil melempar sepatu yang ia kenakan.


****


" Bocah elo yakin mau pulang ke rumah gue?" Nita kembali meyakinkan Racle,


Racle mencebikkan bibir, Songong banget itu mulut, kita cuma beda empat tahun, seenak jidatnya bilang gue bocah, sabar Racle kali ini elo lagi butuh dia, jangan sampe mulut lo keceplosan buat maki, " Mbak, elo udah ngomong gitu sebanyak 3x, dan jawaban gue masih tetep sama"


" Tapi rumah gue enggak segede rumah elo cel"

__ADS_1


Anjrit, dari tadi elo terus-terusan ngebahas hal yang sama, sebenernya elo itu bloon atau budek sih, males gue jawabnya. Racle memutar bola matanya malas, tak menyahut lagi ucapan Nita.


__ADS_2