
"Wih... fenomena langka nih si bos kuliner bawa cewek kesini, cuma berdua lagi."
"Jangan norak! gue juga sering bawa cewek masuk sini." Bela Alex
Ujung mata gadis itu melirik Alex sekilas, tidak ada minat sama sekali hanya untuk sekedar kepo dengan obrolan para lelaki buaya ini. Baginya Alex sudah tidak memberi aturan yang kurang ajar saja Racle sudah sangat bersyukur.
"Elo kan cuma bawa temen SMA elo yang barbar itu kan Lex, maksud gue ini siapa elo? saudara kah? kalo boleh gue mau kenalan." Teriaknya,
Racle hanya bisa menangkap sedikit suara dari seorang pria yang baru saja tiba di meja mereka, karena dentuman musik yang semakin sini semakin bertambah kencang. Secara garis beras Racle bisa menebak bahwa lelaki dihadapannya ini ingin mengajaknya berkenalan. Racle menyungging senyum tipis, benar-benar kandang buaya pikir Racle.
Lain hal nya dengan Alex, reaksi lelaki itu terkesan berlebihan, bahkan kini rangkulan di pinggang Racle dirasa
semakin mengerat saja. Muak dengan sikap kekanak-kanakan Alex, Racle mencoba memberontak dengan cara halus.
"Miracle" ucapnya, bahkan kini Racle sudah mengulurkan tangan nya kehadapan teman Alex, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada lelaki itu langsung menyambut dengan sigap. "Damian"
Bahkan seusai berkenalan pun lelaki itu belum mau melepaskan telapak tangan Racle, Damian masih ingin berlama-lama memegang tangan dan menatap wajah Racle, karena bagi golongan para buaya disini wajah Racle itu terlihat sangat menawan, bukan hanya sekedar cantik tapi ada kesan tegas dan seksi secara bersamaan. "Perfect girl" ucap Damian spontan.
"Thank" Racle hanya menanggapi seadanya, tidak ingin jumawa atau semacamnya, karena bagi Racle pujian dan rayuan lelaki semacam ini sudah biasa mampir ditelinga nya.
"Lepas Dam, bini gue nih! main sosor aja, cari cewek lain sana, disini masih banyak buaya betina." Tidak ada tindakan tarik tangan seperti pada umumnya, bahkan Alex terkesan cool. Dia tidak ingin keposesifan nya ini terlihat oleh orang banyak, bisa hancur reputasi Alex yang selama ini dia ciptakan. Cukup Racle saja yang kini merasakan remasan bahkan belaian tangan Alex di pinggang nya.
Mendapati reaksi Alex yang santai namun tegas, mau tak mau akhirnya Damian mengalah. Lelaki itu mundur teratur, "Sorry Lex, gue kira dia saudara elo, kalo gitu gue cabut duluan. Have fun Lex." Sebelum pergi meninggalkan meja Alex, Damian sempat menepuk pundak Alex, dan berbisik. " Good job!"
Alex menekan mati-matian rasa cemburu yang sedari tadi berhasil menggerogoti hatinya, setelah kepergian Damian barusan Alex berdiri dan menarik lengan Racle untuk ikut bangkit. "Mau kemana?" Racle sudah cemberut, takut kalau Alex akan membawanya pulang.
Tidak mendapat jawaban dari Alex, membuat Racle semakin mempertahankan posisi duduknya. Melihat reaksi kekasihnya yang tidak menurut, akhirnya Alex menyentak tangan Racle dan meninggalkan Racle begitu saja.
Alex menghampiri meja bartender dan membisikan sesuatu terhadap salah satu bartender yang ada disana. Gerak gerik Alex tidak luput dari perhatian Racle, bukannya apa, gadis itu hanya ingin memastikan bahwa Alex benar-benar pergi meninggalkannya, nyatanya salah! lelaki itu malah kembali menghampiri Racle setelah urusan bisik-bisiknya selesai.
"Gue kira udah bisa bernafas dengan bebas, tau nya cuma di prank sesaat" batin Racle.
Alex kembali mengulurkan tangannya kehadapan Racle, "Kemana?".
Lagi-lagi Racle tidak mendapati jawaban, malas menanggapi sikap Alex yang menurutnya annoying, Racle mendiamkan saja, bahkan kini dia telah memalingkan pandangannya ke danceflor.
Alex sudah berusaha sabar sedari tadi, tapi kini dia sudah tidak bisa menahannya, lelaki itu sedikit membungkuk dan mencondongkan badannya ke dekat Racle. "Ikut atau aku telanjangi kamu disini, sayang!". Setelah membisikan kata-kata barusan, Alex langsung menegakan kembali tubuhnya dan mengulurkan tangannya lagi.
Bola mata Racle membesar, setelah mendengar perkataan Alex tanpa basa basi lagi Racle dengan sigap langsung menerima, baginya ancaman Alex tidak bisa ia anggap hanya bualan semata, lelaki dihadapannya ini benar-benar bisa berbuat nekat.
Mereka beranjak dari meja dan berjalan terus menaiki anak tangga, sebenarnya Racle sudah ingin bertanya kembali, tapi mengingat reaksi Alex yang sedang dalam mode irit bicara ini membuat Racle enggan, akhirnya Racle pasrah saja mengikuti langkah kaki Alex.
Mereka bejalan lumayan jauh, karena Alex terus saja mengajaknya menaiki tangga, ini saja sudah bisa di hitung oleh Racle adalah tangga yang ke tiga, bahkan dentuman musik yang kencang dari lantai bawah kini hanya terdengar samar-samar, Kening Racle mengkerut, "Ngapain kesini?"
Alex menoleh sebentar tanpa mau memberhentikan langkahnya, akhirnya setelah dibuat penasaran setengah mati oleh Alex, Racle bisa bernafas lega setelah mereka berhenti disalah satu pintu dengan nomor ****.
__ADS_1
Racle memberengut kesal, "Kenapa enggak bilang dari tadi sih kalo mau ngajak ke private room, kan gue enggak bakal cape nanya elo yang tiba-tiba bisu."
"Kenapa kita enggak pake lift aja sih bang? lebih praktis tau gak, ngapain juga mesti di buat capek naik tangga kalo fasilitas yang ada juga mempermudah."
Alex melirik sekilas sang kekasih. "Pemanasan" jawabnya ambigu, Racle semakin dibuat kesal oleh lelaki disampingnya ini. "Sumpah ya, sikap kamu itu makin sini makin bikin aku jengkel tau gak sih!". Racle masih tidak habis pikir dengan kelakuan Alex yang terus saja menguji kesabarannya.
"Kalo tau bakal gini jadinya males gue minta tolong." Ucap Racle pelan, tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh Alex, keadaan ruangan yang masih terang dan sunyi, membuat Alex menjadi lebih leluasa memperhatikan tingkah laku kekasihnya ini. "Apa kamu bilang?".
Racle memberengut kesal, bahkan kini lengannya sudah ia lipat dibawah buah dadanya, sontak saja hal itu membuat Alex semakin ingin mengamati lebih lama sang kekasih. "Coba kamu ulangi kata-kata barusan!" pinta Alex. Racle masih dengan ekspresi semula, gadis itu enggan menanggapi Alex.
Cup, satu kecupan Alex berhasil mendarat dengan sempurna. Racle menatap horor ke arah Alex, baru saja dia mau melayangkan protes, Alex sudah terlebih dahulu berbicara. " Hukuman untuk bibir manis ini yang sudah melontarkan kata gue." Jari jempol Alex mengusap dengan intens permukaan bibir kenyal Racle.
Racle langsung memalingkan wajahnya kesamping saat merasa usapan jempol Alex semakin membuat nya tidak karuan, ada debaran asing yang sulit untuk Racle jelaskan dengan kata-kata.
Melihat reaksi Racle, Alex menjauhkan badannya dan kembali duduk santai. Suasana ruangan menjadi hening sesaat diantara keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara, Racle masih sibuk menetralkan degup jantungnya, sementara Alex sedang sibuk menetralkan reaksi kejang yang ada pada dirinya.
Hingga kesunyian itu berakhir setelah adanya dua orang perempuan dengan pakaian ketat yang masuk kedalam membawa beberapa minuman pesanan Alex.
"Anda butuh sesuatu yang lain Mr?"
"No, thanks! kalian boleh pergi." Ucap Alex, kepada dua pegawai yang bertugas mengantar minuman, setelah kedua orang itu pergi, Alex kembali menghadap sang kekasih. "Persis seperti kamu kan?" tanya nya.
Racle yang tidak mengerti dengan pertanyaan Alex, langsung menoleh. Kini mereka saling memandang satu sama lain. "Apanya yang persis?"
"Mereka" Mata Alex menatap intens sang kekasih.
Alex mengangkat bahunya, " Bukannya nyama-nyamain tapi emang beneran sama."
"Jelas bedalah, penglihatan kamu butuh perawatan ekstra kayanya." Racle geram, bagai mana bisa dia disamakan dengan pegawai bar. "Justru karena mata aku masih sehat, makanya aku bisa bilang gitu, memang apa yang beda dari kalian? baju yang kalian pakai aja nyaris sama."
"Enggak! enak aja mau nyamain aku sama mereka, jelas beda! baju yang aku pake branded semua, body aku juga lebih goals dibanding mereka." Racle tersinggung, harga dirinya merasa diinjak-injak oleh lelaki yang berlabel kekasihnya itu.
"Bagi aku kalian terlihat sama, sama-sama bisa bikin lelaki bi***hi."
Double f*ck !! Sungguh baru kali ini Racle mendapati pelecehan verbal separah ini dari lelaki. " Oh yaudah, kalo kita semua sama dimata kamu, kenapa enggak dari dulu aja kamu pacaran sama pel*cur sini, kalo perlu nikahin sekalian. Gak usah ngerecokin hidup aku kaya gini." Racle bangkit dari duduknya, dia sudah muak dengan tingkah Alex. Lebih baik dia pulang dan dimarahi ayah nya, daripada harus mendapat hinaan seperti ini.
Namun sebelum Racle berhasil melangkahkan kakinya, Alex sudah terlebih dahulu menarik lengannya kuat, sehingga mau tak mau membuat Racle kembali duduk. "Mau kemana kamu? bukannya kamu sendiri yang mau masuk kesini? kamu mau minum kan? minum sepuasnya, dan jangan pergi sebelum minuman disini habis." Bentak Alex
Sebenarnya melihat Alex yang seperti ini membuat nyalinya ciut, tapi dia tidak mau terlihat takut dihadapan Alex, bisa-bisa lelaki ini semakin semena-mena terhadapnya, jadi sebisa mungkin Racle akan menghadapi Alex. "Aku mau pulang!"
"Mau pulang? atau cuma mau genit dengan lelaki lain? mau terlihat murahan, hah?"
Racle menarik tangannya yang digenggam Alex, "Kamu kenapa sih? kalo cuma mau marah-marah dan bikin aku kesel mending gak usah lanjut aja, aku mau pulang."
Alex tersenyum sinis, "Gak salah kamu ngomong kaya gitu sama aku? harusnya aku yang bilang gitu, kamu kenapa seneng banget bikin aku MARAH?" Alex menekan kata diujung kalimatnya, menandakan bahwa dirinya memang benar-benar dibuat kecewa oleh Racle.
__ADS_1
"Aku bikin kamu marah? yang bener aja! sikap aku yang mana yang bikin kamu marah? justru sedari tadi kita masuk kesini kamu yang udah bikin aku marah, sikap kamu tuh berlebihan, peraturan kamu itu terlalu konyol. Aku dateng kesini buat bersenang-senang, bukannya malah dikekang gak karuan kaya gini." Racle kembali bangkit, dan berjalan kearah pintu. Tapi dengan sigap Alex langsung menyusul dan memeluk Racle dari belakang kemudian menyeretnya kembali kearah sofa. "Lepas! aku mau pulang, Alex lepasin aku!"
Alex mendudukkan Racle diatas pangkuannya, "Diem! jangan mancing aku untuk berbuat hal yang bakal nyakitin kamu." Alex memeluk pinggang Racle posesif.
"Tapi kamu udah nyakitin aku!" Bentak Racle, "Lepas aku mau pulang."
"Enggak akan ada yang pulang sebelum kita selesain masalah kita." Tekan Alex, "Aku enggak pernah bikin masalah sama kamu, gak ada yang perlu kita selesaikan." Racle masih bersikukuh dengan keputusannya yang ingin pulang.
Alex menghela nafas, mencoba meredam emosi yang sedang membuncah, karena merasa hal ini tidak akan pernah beres jika dia masih tetap terbawa emosi, "Okay! aku minta maaf kalo udah nyakitin kamu, tapi please dengerin aku dulu, aku cuma pengen kamu paham dan ngerti perasaan aku aja Yank." Alex mencoba melunak.
Racle tertawa sumbang, "Kamu jangan pernah ngomong masalah harga menghargai deh! sedari awal kita jadian aja kamu itu udah enggak ngehargain aku, dan sekarang kamu nuntut aku supaya bisa ngehargain perasaan kamu, kamu waras?"
Alex memejamkan mata, dia kembali mengatur nafas agar emosinya tidak kembali terpancing dengan perkataan Racle barusan. "Maaf sayang, tapi sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat." Alex membatin.
"Udahlah dari pada kita berantem enggak jelas
kaya gini mending kamu kasih ijin aku pulang, please!"
"I'm sorry honey." Setelah mengatakan hal itu, Alex kemudian melonggarkan pelukannya, bahkan kini pinggang ramping milik Racle hanya dia peluk menggunakan satu lengan saja, dan yang satunya lagi sudah Alex pindahkan ke belakang, untuk mengusap lembut punggung Racle.
Mendapat perlakuan secara tiba-tiba seperti ini dari Alex membuat badan Racle menegang. Bahkan Alex sendiri menyadari hal itu, "Rileks honey, aku cuma mau bantu kamu meredakan emosi."
Racle geram, pasalnya tindakan Alex ini bukan hal yang bisa meredakan emosi, tapi malah semakin membuatnya ingin meledak. Racle menggerakkan tubuhnya mencoba menghindari setiap sentuhan sensual yang Alex beri. " Kamu tuh bener-bener bikin aku muak tau gak! dari mana belaian kaya gini bisa bikin emosi reda, yang ada tuh malah bikin aku......"
"Bikin kamu apa hem.....? kok enggak dilanjut? lagian abang enggak ada niat belai kamu sayang, abang cuma lagi ngusap halus punggung kamu aja enggak lebih, apa jangan-jangan kamu ngode minta supaya abang belai ya? iya gitu? jadi kamu pengen abang belai." Alex semakin gencar menggoda Racle, apalagi saat merasa Racle semakin menghindari sentuhannya.
"Abang..!!!" Racle menggeram.
"Ya sweety?"
"Kamu nganggep aku bodoh?".
"Abang gak ada ngomong gitu."
"Aku belum selesai ngomong!"
"Yaudah lanjut, abang masih setia buat dengerin."
Racle berdecih "kamu kira aku bodoh sampe enggak bisa bedain mana yang disebut usapan sama belaian, hah? jangan cari kesempatan deh."
Alex memindahkan Racle untuk duduk kembali di atas sofa, namun tetap saja tangan nya masih berlaku posesif terhadap kekasihnya itu. "Denger sayang, pertama abang enggak pernah cari-cari kesempatan, karena kamu sendiri yang ngasih kesempatan itu ke abang. Dan yang kedua abang enggak pernah ada niatan untuk membelai kamu seperti ini..." Alex kembali mendaratkan tangannya dengan sempurna ke punggung Racle. "Karena sedari tadi juga abang cuma usap punggung kamu aja."
"Abang ih stop!" Racle kembali menggerakkan tubuhnya kesana kemari. "Abang please." Racle kemudian membalik tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Alex. "Biar aku kasih tahu perbedaan antara usapan dan belaian." Racle langsung menempelkan telapak tangan nya ke pipi Alex dan mengusapnya. "Ini yang disebut usapan, dan ini disebut belaian." Racle kemudian merubah tempo nya menjadi agak lambat dan terasa lebih halus.
Seketika mata Alex terpejam, lelaki itu sedang meresapi nikmatnya dibelai oleh sang kekasih. Melihat Alex yang sedang lengah, Racle langsung mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Alex, dan berbisik sensual. "Satu lagi." Racle tersenyum mengejek saat melihat ekspresi wajah Alex yang seakan sedang menikmati belaiannya.
__ADS_1
Plak... Racle menampar pipi Alex, tidak kencang dan juga tidak terkesan lembek, rasanya pas. Hanya saja Alex terlonjak kaget, karena merasa ini adalah serangan tiba-tiba. "Itu yang disebut tamparan."