AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Cita-cita


__ADS_3

" Dimana lo? gue udah standby dari tadi, buruan sini gue gak mau kalo enggak ada temen, bisa mancing keributan kalo gini caranya. "


Disebrang sana Alex menyerengit bingung, namun karena penasaran akhirnya dia bertanya. " Keributan apaan maksudnya? emang elo lagi bawa siapa? " Tanya Alex sedikit was-was, dia takut kalau benar-benar akan ada situasi yang tidak menguntungkan yang terjadi di kafe nya.


" Justru karena gue lagi enggak bawa siapa-siapa Lex, makanya gue gak mau ada keributan disini, elo tau kan pesona gue itu susah untuk dielakkan, makanya kalo gue duduk sendiri lebih lama disini, takutnya nanti pengunjung cewek-cewek pada ribut baku hantam memperebutkan posisi buat duduk di samping gue. " Terangnya dengan nada serius.


"B*ngsat ! gue kira apaan, udah gue matiin dulu, ini lagi on the way mau kesana, harap tunggu."


Brian memandang layar ponsel dengan tatapan bingung, "Ini beneran kan no si Alex yang gue telpon?" Brian melihat riwayat panggilan, "Bener kok ini nomornya, suaranya juga emang persis sama kaya si biksu, enggak mungkin juga itu kembarannya si Alex, setau gue dia enggak punya kembaran, tapi kok..." Brian dibuat terheran-heran dengan kelakuan Alex kali ini, biasanya lelaki itu tanpa permisi langsung menutup telponnya begitu saja, kali ini ada yang berbeda dengannya, " Apa nih, kok bulu kuduk gue tiba-tiba berdiri gini, anjrit ! gue bikin merinding sama kelakuan si somplak."


Brian mengguncang-guncangkan bahunya sendiri, berniat untuk menetralkan kembali keadaan tubuhnya, tapi ada beberapa pengunjung disana yang memberi tatapan heran kearahnya, sejurus kemudian Brian langsung mengubah gerakan menjadi memutar, sebelah tangannya disampirkan ke bahu, sengaja untuk memberi kesan bahwa kini dia sedang melakukan peregangan pada otot bagian bahu.


"Gara-gara si Alex gue jadi harus pencitraan gini, padahal tanpa pencitraan pun sebenernya gue udah gak diragukan lagi." gumamnya pelan.


Setibanya Alex disana, dia langsung nyelonong begitu saja duduk di samping Brian tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. "B*ngsat ! kampret ! elo mau bikin gue mati muda sebelum kawin hah? biar apa lo? biar kagak ada lagi saingan terberat dalam hidup lo, iya?" sungut Brian sambil memegang dadanya yang berdetak kencang, sayangnya bukan karena efek jatuh cinta atau sejenisnya, tetapi karena rasa kaget yang dia terima akibat kelakuan Alex.


Alex berdecih, dia menyilangankan tangan dadanya. "Gak usah sewot gitu dong, gue kan cuma mau mengamankan elo biar tragedi baku hantam yang elo bayangin itu bener-bener enggak akan terjadi." Ucap Alex santai.


Brian sudah membuka mulut untuk protes, tapi Alex terlebih dahulu menyalip Brian, " Elo emang enggak usah diragukan lagi soal kegilaan dan kenarsisan yang tingkat dewa, padahal tampang elo cuma kaya kasim di kerajaan si dewa." Alex sengaja menekan kata diragukan yang tadi Brian sebutkan.

__ADS_1


"Wah ! cari gara-gara lo sama gue, mana ada kasim yang mainnya **** sana **** sini." Ucap Brian dengan pongah.


" Alah, main ludah sembarangan aja bangga loh. Nih, yang begini nih yang harusnya elo banggain, original masih segel and fresh banget lah pokoknya, dijamin 100% persen. Kalau enggak puas boleh diulang. " Alex menunjuk kepunyaannya yang sedang bersembunyi dibalik celana bahan berwarna biru navy.


Brian tersenyum sinis, "Lex, yang cocok jadi kasim itu elo bukan gue. Buktinya aja sampe detik ini keperkasaan elo masih diragukan, apa kata dunia sob." Brian tertawa membayangkan apa jadinya jika senjata milik Alex itu benar-benar tidak berfungsi selayaknya.


" Gak perduli apa kata dunia, yang terpenting apa kata Racle nanti. " Jawab Alex santai dengan senyum yang terpatri indah dibibir berisi miliknya.


Sejurus kemudian tawa Brian mereda, mendengar nama Racle membuatnya jadi salah tingkah, meski pandangan Alex lurus ke depan tidak melihat kearahnya, tetap saja Brian merasa kalau Alex ini sedang memberi tatapan tajam kepadanya. Mungkin ini efek dari rasa bersalah yang dia rasa, makanya Brian merasa seolah-olah Alex ini sedang memancing nya untuk berkata jujur.


Brian menggeleng, "Gak, sampai kapan pun gue enggak akan berani cerita sama si biksu, bisa berabe urusannya kalau sampe dia murka. Perusahaan gue bisa dia ratakan serata-ratanya."


" Woy ! ngebayangin apaan loh? sampe gue ngomong elo enggak ada nyahut sama sekali, enggak usah mikir yang macem-macem soal gue, tenang aja bro. Senjata gue berfungsi dengan baik. " Alex menepuk pundak Brian.


" Sorry Lex, gue terbawa suasana. Emang elo ada ngomong apaan?"


Alex beranjak dari kursi yang dia duduki. "Masuk ruangan gue aja, disini banyak tante-tante. Kasian sahabat gue yang satu ini kalo harus banyak berurusan sama golongan wanita-wanita haus belaian." Alex jalan duluan kelantai dua, dimana disana ada fasilitas ruangan pribadi miliknya.


"Gue lebih baik banyak berurusan sama yang kurang belaian dari pada harus berurusan sama elo yang kurang ajar!" Gumam Brian pelan, tentu saja Brian hanya bisa berkata sedemikian pelan, mana mungkin dia mau memancing keributan dengan Alex, apalagi sekarang kondisinya Alex baru saja menanam saham kembali di perusahaan miliknya.

__ADS_1


Brian mengikuti langkah Alex dari belakang, kini dapat dengan jelas dia lihat bahwa mereka sedang jadi target cuci mata kaum hawa yang sedang nongkrong di kafe milik Alex.


Melihat fakta itu, Brian langsung memperlihatkan gerakan merapikan jas dan menabur senyum memukau khas nya, banyak dari pengunjung yang didominasi oleh kaum hawa disana dibuat salah tingkah, Brian taksir umur pengunjung di kafe Alex rata-rata umur 20 sampai 30 tahunan.


Belum juga Brian duduk, Alex sudah mengeluarkan pendapat yang menurut Brian itu lebih ke perintah. "Bro, sebelum si Yuga kesini gimana kalau kita bahas sedikit soal rencana kita yang mau kepuncak akhir pekan nanti. "


"Yaelah Lex, belum juga gue duduk elu udah seenak jidat aja keluarin perintah, kasih minum dulu kek atau apa gitu. Emang bener-bener pelit luh."


Alex tergelak, "Sorry bro, gue kelupaan. Tunggu bentar." Alex mengangkat gagang telpon, "Halo Bob, bisa tolong anterin minuman, tunggu bentar Bob" Alex menjauhkan teleponnya lalu menatap Brian. "Elo mau apa? sekalian sama makanannya biar si Bobi enggak usah bolak-balik sini, time is money."


" Vodka ada enggak?" Alex langsung melotot mendengar perkataan Brian. "Bercanda men, gue kopi pahit aja. Inget men yang pahit ya, karena kehidupan gue udah terlalu manis, sekali-kali boleh lah nyoba kepahitan dalam hidup."


Alex mendengus kesal. "Bob, kopi pahit satu, kalau bisa kasih sianida aja satu sendok, biar temen gue langsung bisa ngerasain kepahitan di neraka sana. Untuk makanannya menu recommended dari kafe kita aja. Oke gue tunggu Bob."


"Sadis bener Lex, gue belum kawin masa iya disuruh mati cepet-cepet."


Alex menggeleng tak percaya, menampik perkataan Brian barusan. "Eh ! elo udah tabur benih dimana-mana masih aja bilang belum kawin? sadar beg* ! yang belum elo coba di dunia ini itu cuma nikah, itu aja enggak lebih, karena selebihnya elo udah pernah coba semua."


"Emang sahabat lakn*t lo Lex, kagak usah so suci depan gue. Itu tangan elo jadi saksi bisu gimana sengsaranya dia harus ngeluarin jutaan bahkan miliaran benih siap tempur elo di dalem toilet." Kini giliran Brian yang tersenyum mengejek ke arah Alex.

__ADS_1


"Sialan ! " maki Alex, mendengar Alex mengeluarkan umpatan, membuat Brian merasa diatas awan karena telah berhasil membuat Alex kalah berdebat.


"Lupakan sejenak soal kawin mu itu Ian, sekarang kita fokus dulu ke cita-cita yang harus kita gapai demi masa depan yang lebih cerah."


__ADS_2