AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Calon bini


__ADS_3

" Kak Alex" sapa perempuan cantik nan langsing dengan begitu riang,


Makin sesek dada gue lihat ini cewek, lo harus sabar Lex, gini-gini juga dia calon kakak ipar . Alex senyum terpaksa, tanpa mau menyapa. " Kak aku sengaja loh pagi-pagi dateng kesini, cuma mau kasih ini ke kakak" Yuna mengulurkan tangannya ke arah Alex.


" Undangan??" tanya Alex bingung,


Yuna mengangguk antusias, " Ini acara birthday aku, aku ngadain dipuncak akhir pekan nanti, dateng yaa, acaranya enggak begitu rame si, cuma buat kumpul keluarga sama temen-temen terdekat aku aja".


Acara keluarga? Racle pasti ada kan? ini kesempatan buat gue biar bisa deket-deket sama dia. Alex menerawang jauh dengan sesekali terlihat senyum tipis dibibir sensualnya, Yuna yang melihat reaksi Alex, sontak saja senang bukan kepalang, dia pikir Alex sedang merencanakan hadiah kejutan untuk dirinya.


Yuna menjadi salah tingkah, terlihat beberapa kali ia menyelipakan anak rambut ke belakang telinga.


" Akan saya usahakan Na, maaf saya sedang buru-buru permisi" Yuna mengangguk, saking senangnya dia kini tidak protes dengan sikap dingin Alex, yaa Alex memang bersikap demikian jika sedang berhadapan dengan para fans fanatik nya, hanya dengan Racle saja dia menjadi diri sendiri.


Dengan bersikap dingin Alex pikir akan membuat para fansnya perlahan mundur teratur, nyatanya Alex salah, semakin dia bersikap dingin, para fans nya semakin menggila, termasuk Yuna, dia gadis barisan terdepan yang menjadi pengagum Alex, bagi Yuna Alex itu orangnya cool, kalem, berkarisma, dia tidak tahu saja kalau ternyata sifat asli Alex itu berbanding terbalik dengan pencitraannya selama ini, aslinya Alex yang pecicilan, genit, dan mesum, hanya teman-teman dekatnya saja yang tahu, tentu saja Racle juga mengetahui sifat aslinya.


Alex yang baru masuk keruangan nya buru-buru merogoh saku celana mengambil ponsel, ia berniat akan menghubungi Brian, tapi tidak ada satu pun panggilan Alex yang dijawab, akhirnya Alex mengirim pesan meminta Brian menemuinya nanti di jam makan siang.


Gue yakin elo bakal nangis darah kalo tau si kembar incaran elo kasih gue beginian, Batin Alex sambil memegang undangan party dari Yuna.


****


" Lo yakin kak? udah nyelidikkin ini sebelum kasih laporan ke gue?" gadis itu tampak mengerutkan kening saat membaca tiap lembar informasi yang diberikan oleh Rico,


" Saya sudah pastikan dengan benar sebelum memberi tahu kamu".

__ADS_1


Racle melihat dengan seksama ekspresi dari Rico, " Elo nggak bohong kan?"


" Saya tidak pernah main-main saat sedang bekerja" tekannya dengan sangat serius.


" Oke oke calm dikit, gue kan cuma nanya" ia kembali membaca kertas dihadapannya itu, Racle menggeleng tak habis pikir dengan apa yang ia baca, " Gila parah, kalo sampe semua ini bener, gak habis pikir gue sama ini orang"


" Justru itu, makanya saya cepat-cepat hubungin kamu, kita harus lebih waspada saat berhadapan dengan dia"


" kak elo udah kasih tahu masalah ini sama si wonder women?". Lelaki itu terlihat menggeleng, " Bagus, untuk sekarang jangan dulu elo kasih tau, bisa ribet urusannya, cukup kita berdua aja, si Jovan juga jangan sampe tau, ngerti?"


" Tapi...", Racle mencebik " Udah nggak usah banyak protes, ikutin aja dulu kemauan gue"


Lagi-lagi Rico hanya mengangguk, " Kak mulai saat ini tugas elo ngawasin kakak gue, kalo perlu buntutin terus kemana pun dia pergi"


" Baik saya paham"


" Boleh minta tidur?" "Hah?" Rico melongo mendapat pertanyaan Racle barusan, ia mengerjap-ngerjapkan mata takutnya dia salah dengar, mau minta Racle untuk mengulangi pertanyaannya lagi dia tidak berani.


Racle yang menangkap keterkejutan di wajah Rico menjadi kikuk sendiri, dia menyadari pertanyaannya barusan begitu ambigu, pantas saja lelaki di depannya ini begitu terkejut.


" Maksud gue, kalo boleh gue mau numpang istirahat, disini ada dua kamar kan? boleh gue minta satu kamar? karena kedepannya kita pasti sering ketemu buat ngebahas masalah ini" jelas Racle.


Akhirnya Rico bisa bernafas lega, setelah mendengar penjelasan Racle, " Boleh, tapi maaf kamar yang bisa saya kasih sedikit sempit"


" Tidak masalah, yang penting ada tenpat tidur"

__ADS_1


" Ada, mari saya tunjukan"


" Eh kak, kalo boleh gue juga minta makan dong, tadi di rumah gue sarapan dikit" pintanya tanpa rasa malu.


Rico menghela napas, Ini perempuan enggak ada jaim-jaimnya, udah minta kamar sekarang dengan santainya minta makan pula. " Kak" Racle menepuk bahu Rico, ia yang mendapat pukulan langsung tersadar " Eh iya kenapa? makan ya? nanti saya belikan, kebetulan saya juga akan pergi ke supermarket di bawah untuk membeli beberapa kebutuhan, saya tinggal dulu" pamit Rico.


Racle memasuki kamar yang tadi dipersilahkan Rico, ia mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur, dia melamun saat mengingat kembali laporan yang Rico berikan, ia masih bertanya-tanya jika memang ini semua benar, maka sudah tidak diragukan lagi dia melakukan semua itu dengan sengaja, kemudian dia mengaitkan kembali dengan ingatannya pada belasan tahun lalu, saat dirinya tidak sengaja memergoki si pelaku sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak begitu Racle ingat wajahnya, bahkan terlihat klise, ah sial, disaat seperti ini ingatan gue malah enggak berfungsi dengan baik. rutuk nya pada diri sendiri.


Tubuh molek nya kini tergolek lemas diatas kasur, sepertinya Racle ketiduran setelah melamun tadi, kurangnya istirahat setelah beberapa malam ini ia sering clubbing, belum lagi memikirkan banyaknya rencana yang harus ia jalankan untuk melindungi kakak dan ketiga ibunya membuat Racle lupa pada kesehatan dirinya sendiri.


Rico yang sudah pulang dari belanja mencoba beberapakali membangunkan Racle, dengan mengetuk pintu kamar, bahkan sampai meneleponnya, tapi sayang Racle yang sudah sangat merasa lelah tubuh dan pikirannya kini begitu lelap, tidak terganggu sama sekali dengan perbuatan Rico. Akhirnya Rico menyerah setelah semua usahanya gagal, dia membiarkan Racle beristirahat.


****


Lain halnya dengan Alex, dia terlihat seperti cacing kepanasan yang tidak bisa diam, bahkan Mr. Edden dibuat pusing melihat tingkah anaknya ini " Lex fokus sedikit, ini tender besar, kalau kamu tidak fokus bisa-bisa kerja keras kita selama ini sia-sia".


" Maaf pah, jujur Alex sedang tidak bisa fokus bekerja"


Huft Mr Edden menghela napas, ia melepas kaca mata yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya " Kamu ini sebenarnya kenapa? tidak biasanya kamu seperti ini."


" Racle pah", lirih Alex, Mr Edden mengangkat sebelah alisnya, " Racle, siapa? teman kamu?".


" No, she is my future wife " Ucap Alex bangga, " Hah? yang bener kamu? nemu dimana?" Alex menatap tajam papanya " Nemu? enak aja, emang papa pikir Racle nya aku buangan apa?",


" Eh, bukan gitu, maksud papa kalian ketemu dimana? maaf Lex barusan papa terlalu kaget, papa pikir kamu nggak bakal punya calon, deket sama perempuan aja enggak pernah, haha" ia menepuk-tepuk bahu Alex, tampak wajah senang Mr. Edden, akhirnya anak semata wayangnya ini sudah punya tambatan hati, ia merasa cemas dengan putranya Alex, apalagi dengan pergaulan bebas anak jaman sekarang, ia sempat berfikir yang tidak-tidak soal Alex, karena melihat Alex lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman pria, bahkan saat clubbing sekalipun, itulah yang membuat Mr edden merasa cemas.

__ADS_1


__ADS_2