
"Gue gak yakin sama rencana elo Lex, kok rasanya bakal ada yang ganjil gitu."
Alex mendengus kesal, belum juga dia bicara apa-apa sahabatnya ini sudah memberi pernyataan yang sangat menyebalkan. "Denger dulu, kalo enggak setuju baru elo kasih komentar, jangan sekarang elo berkoar, gue juga belum ada ngomong."
Brian nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, memang benar Alex belum berbicara soal rencananya, tapi setahu Brian sahabatnya itu tidak pernah bisa diajak berbicara serius soal yang begini, apalagi kata-kata yang dilontarkan Alex itu selalu terdengar nyeleneh di telinganya.
"Oke ! kami persilahkan kepada saudara Alex untuk menyampaikan pendapatnya." Brian sedikit mengulurkan telapak tangan ke arah Alex yang sedang duduk disebrang Brian, sebagai tanda mempersilahkan Alex untuk berpendapat.
Alex berdiri dan mengancingkan jasnya. "Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih banyak kepada saudara Brian yang sudah berkenan memberi saya waktu serta kesempatan yang sangat berharga ini." Alex membungkukkan badannya ke depan, pertanda memberi rasa hormat kepada Brian, Setelah itu Alex kemudian duduk kembali.
"Alah elo kepanjangan, elo kira kita ini lagi rapat tahunan apa? langsung ke intinya aja Lex." Sergah Brian.
Alex mendelik ke arah sahabatnya. "Kan gue cuma ngikutin alur yang elo buat aja bro, intinya elo jual gue beli." Sewot Alex saat Brian sudah mulai mengatur-ngaturnya. Sementara Brian, lelaki itu tampak memalingkan muka karena tidak ingin Alex salahkan.
Alex yang sedang duduk di kursi kebesarannya langsung bangkit dan berjalan mendekat ke arah Brian, kemudian dia duduk di sofa yang sama dengan Brian.
"Apaan lo deket-deket gue, n*jis ! sono geser dikit gatel gue kalo harus deket banget kaya gini." Brian mencoba mengusir Alex yang sudah kembali mendekat, jarak mereka hanya terpaut beberapa senti meter saja bahkan kini hidung mancung Alex sudah mulai mengenai bulu halus yang berada diarea pipi Brin. "Lex, gue masih normal Lex, jangan kaya gini sumpah gue ngeri banget." Lirih Brian dengan tangan yang masih mencoba mendorong dada Alex.
Plak, Alex memukul bagian paha Brian. "Aduh, elo apa-apaan sih Lex ?" Brian sedikit meringis, apalagi pukulan Alex barusan terasa begitu panas di pahanya, pasti kulit paha miliknya sekarang sudah berubah menjadi sedikit merah akibat pukulan Alex.
__ADS_1
"Elo yang apa-apaan, pake acara dorong-dorong gue segala? ini otak emang harus disapu bersih Ian, pikirannya ya ampun." Alex geleng-geleng kepala, "Demi cintaku pada Miracle, denger nih baik-baik. Gue Alex Edden enggak bakal mendua apalagi sampe main gila dibelakang pacar gue. Dan elo Brian, astaga gue sampe dibuat speechless kek gini sama pemikiran elo yang gila banget, taik loh. Masa iya gue mau main serong sama elo, kagak ada sama sekali minat ataupun hasrat."
Dibuat speechless apaan itu elo nyerocos terus kaya emak gue juga. Batin Brian, dia
lalu menegakan kembali posisi duduknya, karena sebelumnya Brian menghindar dari Alex sampai-sampai Brian mencondongkan tubuhnya kepinggir, hingga hampir jatuh meringkuk di atas sofa. "Kalau enggak ada minat ngapain pake nyosor gue segala, najis loh, bener-bener biksu cabul." Brian tidak terima dengan perkataan Alex yang seakan sedang melecehkan isi kepalanya.
Plak, sekali lagi Alex memukul sedikit kencang bagian kepala Brian. Tapi sekarang tidak keluar suara mengaduh dari bibir sang sahabat, hanya saja mata Brian sedikit terpejam karena sedang meresapi nikmatnya di geplak Alex.
"Gue cuma mau bisikin rencana gue." Terang Alex.
Brian membelalakkan matanya, merasa sedikit kesal dan juga kasihan kepada Alex, kesal karena Alex tidak berkata terus terang apa tujuan dia mendekati Brian barusan, kalau pun Alex jujur mana mungkin Brian akan menghindar dan mendapat dua pukulan sekaligus. Tapi di satu sisi Brian juga merasa kasihan, bisa-bisanya sahabat laknat yang satu ini bersikap seperti anak sekolah dasar yang sedang main rahasia-rahasiaan karena takut kena omel orang tuanya.
Brian menilai sang sahabat cukup begok untuk ukuran orang dewasa yang sedang membahas sebuah projek masa depan, kenapa tidak bicara langsung saja, toh mereka juga hanya sedang berdua, lantas apa maksudnya dia ingin bisik-bisik seperti itu.
"Halah percuma pinter akademik sama teori doang, kalo prakteknya elo masih nol besar Lex, inget nol besar." Brian tersenyum mengejek ke arah Alex, memang benar tidak Brian pungkiri kalau dari jaman mereka kuliah dulu Yuga dan Alex lah yang lebih pintar ketimbang dirinya, tapi sayang menurut Brian hal itu tidak berguna, bahkan Brian menganggap kedua sahabatnya itu sebagai manusia bodoh karena minim pengalaman, bukankah pengalaman adalah guru yang paling berharga? tentu saja pengamalan Brian lebih banyak ketimbang Yuga dan Alex.
Masalahnya pengalaman yang menjadi guru Brian itu adalah pengalaman tentang pdkt, pacaran, penolakan, bahkan mempermainkan perasaan perempuan. Itu adalah suatu prestasi yang Brian banggakan dihadapan kedua sahabatnya.
"Elo cuma menang praktek tidur doang, tapi hasilnya sampe sekarang belum ada yang jadi juga. Bibit elo gue pertanyakan kesuburannya."
__ADS_1
"Sialan lo ! enggak mungkin lah gue bikin bunting anak orang yang jumlahnya aja gue udah lupa, saking udah banyaknya."
Alex mencibir Brian, sepertinya sekarang akan ada babak debat season dua, dan Alex harus memenangkannya, membalas kekalahan tadi sebelum mereka benar-benar akan membahas projek masa depan.
"Cemen, bilang aja elo gak mampu. Elo pasti takutkan bibit yang elo tanam di rahim tiap cewek yang elo tidurin itu layu, secara elo garapnya tiap malem bro ! bayangin entar si Yuna cuma dapet ampasnya doang, mana bisa elo mau harga saham elo melonjak sementara modal yang elo tanam aja gue tau pasti udah dikit."
Kening Brian menyerengit, "Elo bego atau idiot Lex? dapet dari mana lo pelajaran biologi macem gitu, jangan bilang tiap kelas ibu Fransiska waktu SMA dulu elo enggak pernah masuk ?" Brian menunjuk jari telunjuk didepan muka Alex.
Alex menepis kasar, "Enak aja kalo ngomong, mana ada gue main bolos-bolosan, kagak pernah gue kalo bukan karena elo yang ngajak."
"Iya berarti pernah, jangan bilang enggak ada kaya gitu. Mau elo sangkal sekeras apapun tetep aja catetannya ada."
" Tapi kan itu juga karena ajakan dari elo Ian, elo inget kan dulu tiap kali bel istirahat kedua elo pasti ajakin gue manjat pager sekolah cuma buat ngecengin siswi dari sekolah sebelah."
Brian menerawang jauh, mengingat kembali kenakalannya saat remaja dulu, tapi seketika bola matanya membulat sempurna. "Kampret loh ! maksud elo apaan ingetin lagi gue soal kejadian si Bunga waktu itu, elo mau ngejek gue iya ?"
"Enggak ! elo jadi laki negatif thinking mulu heran deh. Gue kan cuma mau ingetin soal kejadian pembolosan yang sering elo ajak-ajak gue, itu aja."
Brian mendengus, "Intinya elo pernah bolos, titik ! terserah judulnya gue yang ngajak kek atau emak elo yang nyuruh, tetep aja elo pernah bolos."
__ADS_1
"Tapi gue gak pernah bolos sendiri, dari semua kebolosan yang gue jalanin tetep biang keroknya elo yang lagi bucin-bucinnya sama si Bunga."
Brian melotot, "Stop bahas kesana, oke, pokoknya untuk ronde ini elo menang ! jadi please stop sampe disitu, sekarang kita lanjut aja pembahasan projek masa depan kita Lex. " Keputusan Brian untuk membiarkan Alex menang ternyata kurang tepat, buktinya sekarang Alex sedang tersenyum jumawa kearahnya, tapi sudahlah dari pada Alex semakin dalam membahas masa lalu yang suram menurutnya, mending Brian pasrah saja ditertawai atau di ejek sekalipun asal jangan sampai membahas tentang Bunga si gadis bangkai menurut Brian.