AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Berdua dalam kamar


__ADS_3

" Terus sekarang gue mesti pake apaan? blazer gue ketinggalan di kamar kak Rico. "


Alex semakin meradang mendengar Racle menyebut kamar Rico, pikiran mesum nya langsung melanglang buana entah kemana. Alex mengacak rambut frustasi.


Racle menyerengit, ini cowok kenapa sih? aneh banget. kemudian Alex menghempas kasar tubuhnya ke sofa tepat disebelah Racle, sontak saja hal itu membuat Racle kaget. Astaga jantung gue, si Alex emang bener-bener ya, hari ini bikin jantung gue olahraga terus sama kelakuan absurd nya dia.


" Cel, " ucap Alex lemah, Racle menoleh dengan raut wajah bingung, ini kenapa sih? tadi ngegas terus, lah sekarang kok loyo gak jelas. " Iya ? " sahutnya.


" Kamu enggak mungkin ngecewain aku kan? "


Terlihat semakin banyak kerutan di kening Racle, " Maksudnya? ngomong yang jelas, kalo bisa langsung ke intinya, enggak usah banyak pembukaan, udah kaya yang mau lahiran aja. "


Alex menggenggam telapak tangan Racle, dia menatap tepat ke mata gadis itu saat akan berbicara. Ajaibnya, kali ini Racle bahkan tidak menepis atau berkedip sekalipun, seakan dia sudah terhipnotis oleh Alex. " Kamu habis ngapain di kamar lelaki itu? "


Racle semakin di buat bingung oleh kelakuan Alex, bahkan sekarang dibenaknya mungkin sudah banyak tanda tanya untuk lelaki ini, tapi kali ini Racle mencoba untuk tidak ambil pusing, dia akan menjawab apa yang Alex tanyakan, agar cepat terbebas dan bisa pergi dari sini, " Tidur. " cukup singkat, padat dan jelas apa yang Alex dengar barusan.


Alex semakin mengeratkan genggaman nya, bahkan Racle bisa melihat perubahan raut wajah Alex, sorot matanya kini terlihat sangat kecewa. " Cel, kamu tahu.. " Suara Alex tercekat, seperti ada sesuatu yang menghalangi tenggorokannya, beberapa kali dia mengatur nafas sebelum kembali melanjutkan perkataannya.


Dengan sabar Racle menunggu, ada sedikit rasa penasaran yang menggelitik hatinya saat melihat perubahan ekspresi Alex barusan, tapi untuk bertanya lebih lanjut Racle merasa sedikit gengsi, dia takut kalau Alex akan jadi besar kepala nantinya, kalau Racle sampai menanyai tentang kondisinya.


" Kalau boleh jujur, untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi untuk pertama kalinya juga aku merasakan patah hati sebelum memiliki. "


Maksudnya apaan nih? kok dia jadi melow gini. Racle menatap intens Alex, gadis ini mencoba menebak sendiri apa yang terjadi dengan lelaki itu, namun nihil, Racle yang belum pernah merasakan jatuh cinta itu tidak bisa menebak. " Lex, eh sorry maksud gue abang. Maksudnya gimana sih? gue enggak ngerti? "


Semenjak melihat Alex emosi barusan, membuat Racle mencoba memanggilnya dengan sebutan abang, meski merasa geli sendiri dengan sebutannya itu, tapi benar apa kata Alex, lelaki itu jauh lebih tua di atasnya, memang sudah sepantasnya Racle menyebutnya kakak atau abang, sesuai dengan keinginan Alex.


" Miracle Lee, apa selama ini kamu menganggap perasaan ku ini hanya sebuah omong kosong? " Racle mengerjap mata, " Eh, jadi ini ada hubungannya sama gue? " tanya nya, sudah seperti orang bodoh. Anggap saja memang begitu, Racle itu terlalu bodoh jika berurusan dengan hal cinta percintaan, buktinya saja di umur yang sudah mau menginjak 22 tahun ini, dia tidak pernah merasakan jatuh cinta, apalagi yang namanya pacaran.

__ADS_1


Racle terlalu sibuk mengejar cinta mama Dita, jadi dia tidak pernah terpikirkan akan hal-hal sepele seperti ini menurutnya.


Alex mengangguk lesu, dia menjatuhkan kepalanya di atas paha mulus milik Racle, " Aduh bang, jangan gini bisa nggak? gue risih. " Racle mencoba mengangkat kepala Alex.


" Abang mohon Cel untuk kali ini, biarkan dulu seperti ini, abang harus menenangkan diri terlebih dahulu. "


Emang udah kelewat cabul ini si Alex, maksudnya apa coba mencari ketenangan dengan tidur di atas paha gue, mana ini tangan udah pegel lagi, dari tadi dia pegang mulu. Racle mendesah pasrah, setidaknya menghadapi Alex dalam mode mesum nan cabul tidak akan membuat jantungnya berolah raga, hanya saja dia harus mengorbankan kepalanya yang akan terasa sedikit pusing, karena harus menghadapi kelakuan lelaki ini.


" Bang ini itu maksudnya gimana? sumpah gue enggak paham sama elo, tadi aja elo bentak-bentak gue, terus sekarang, kok elo malah melow gini? sebenernya gue itu salah apa sih? "


Alex langsung duduk kembali, dia menegakan tubuh lalu menatap sebal ke arah Racle, sungguh wanita liar di depannya ini sedang berpura-pura bodoh atau bodoh sungguhan, pikirnya.


" Yank, kamu bener-bener menguji ke sabaran dan ke keimanan abang ya !, seharusnya kamu sadar dong kelakuan kamu tadi itu yang memicu aku marah sekaligus patah hati, secara berbarengan. "


Gadis itu mencoba berpikir, apa yang menjadi penyebab utama dari kekacauan Alex ini. " Ya ampun bang, cuma gara-gara kaos ini doang kamu sampe segitunya. Gue kan udah lepas ini kaos, bahkan sekarang aja gue setengah bugil depan elo, gitu aja jadi masalah. " ucapnya santai.


" Tapi apa? yang jelas dong kalo ngomong, biar cepet kelar, gue mau pulang bang. "


" Gak usah pulang, kamu nginep aja di sini, tidur bareng abang ! " perintahnya, Alex mulai on mode serius.


" Emang kamar disini ada berapa? " tanya Racle polos, ya gadis ini memang terlihat barbar dan liar, tapi sebenarnya hal itu hanya untuk menutupi sisi lemah Racle, karena sebenernya gadis ini amat sangat rapuh.


" Satu, kenapa emangnya? ada masalah? "


" What? yang bener aja bang, elo nyuruh gue tidur satu kamar sama elo? gila loh, udah bosen hidup hah? " Emosi Racle mulai naik, dia memang suka berpakaian seksi, dan pergi clubbing. Tapi untuk urusan seperti ini, sorry bukan style Racle.


" Loh apa salahnya, tadi juga kamu tidur sama laki-laki itu kan ! " tuduh Alex, sepertinya dia juga sudah tersulut emosi akibat cemburu, Alex tidak terima dengan penolakan Racle barusan, kenapa juga Racle harus menolak, toh dia juga sudah tidur dengan lelaki itu kan, pikir Alex.

__ADS_1


Racle mengangguk-anggukan kepala, kini dia tahu, ternyata ini yang menjadi biang keladinya, cuma ke salah pahaman.


" Sorry bang, senakal-nakalnya gue, gue enggak akan pernah mau tidur satu kamar bareng cowok, apalagi sebelum married."


" Gak usah banyak ngeles, bilang aja kamu enggak mau tidur bareng abang, emang abang kurang apa sih buat kamu? coba kamu lihat baik-baik. Abang tampan, mapan, badan abang juga lebih bagus dari pada lelaki tadi. " sungut Alex.


Yaelah, mulai lagi kan errornya, kok bisa ya dia bercanda kek gitu tapi mukanya keliatan serius banget.


" Bang, emang gue tadi ada bilang kalo gue tidur bareng itu cowok? enggak kan ! gue cuma bilang tidur, itu aja. "


" Abang enggak percaya, pokoknya malam ini kamu tidur bareng abang ! "


" Aaah " jerit Racle saat merasakan tubuhnya melayang, Alex menggendong Racle dan membawanya pergi ke kamar. " Lepas, nggak gue gak mau, enak aja loh samain gue sama cewek ***** di luaran sana, gue nggak gitu bang, beneran sumpah, tadi itu gue cuma numpang tidur aja di kamar kak Rico, lagian dia punya dua kamar. " cerocos Racle, di dalam kekalutannya itu Racle masih mencoba menjelaskan dengan lancar apa yang sebenernya terjadi.


Alex tertegun, tapi sedetik kemudian senyumnya mengembang sempurna. Dia mendudukkan Racle di atas kasur king size miliknya, sementara Alex duduk di atas lantai untuk bisa leluasa menatap wajah gadis nya ini. " Bener apa yang kamu bilang barusan? "


Racle mengangguk, " Sumpah bang, gue enggak bohong, udah yuk kita keluar dari sini, ngobrolnya di ruang tamu aja. " pinta Racle, Alex bisa melihat lutut Racle gemetar, bukannya kasihan dia malah semakin tersenyum lebar, hingga memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapih.


" Kenapa? bukannya disini lebih nyaman ya? kita bisa ngobrol sambil rebahan. " goda Alex dengan senyum menyebalkan.


" Abang, gue serius. "


" Abang malah dua rius Cel, kenapa sih? kamu takut abang unboxing? tenang aja, abang pasti nikahin kamu kok. "


Kini mata gadis itu mulai berkaca-kaca, seburuk apapun Racle, tetap saja takut jika Alex akan benar-benar melakukan itu. " Bang. " lirihnya, bahkan sekarang air matanya sudah meleleh.


Ini baru pertama kalinya dalam seumur hidup, Racle menangis hanya gara- gara seorang lelaki, bahkan dia menangis tepat di hadapan Alex. Biasanya Racle menangis secara diam-diam, agar orang lain tidak menganggapnya lemah, tapi kali ini, sepertinya Alex sudah berhasil membuatnya terlihat lemah.

__ADS_1


__ADS_2