
Yuga berlari menelusuri lorong kantor yang sudah sangat sepi dengan pencahayaan yang sedikit karena hanya beberapa lampu yang di nyalakan menambah kesan horor pada malam ini. Tapi karena kekalutan Yuga, membuat dia tidak mengindahkan situasi sekarang, baginya Jessi lah yang terpenting. Masa bodolah dengan mbak kunti atau apapun itu, yang pasti Yuga benar-benar tidak peduli.
Tiba juga Yuga di lobi kantor, dia meraba samping kiri dan kanan tubuhnya berniat mencari kunci mobil yang selalu dia simpan disaku celana, seketika kesadarannya pulih seratus persen, " Ah sial, kenapa saya bisa berpenampilan seperti ini. " Yuga mengacak rambut frustasi, Astaga bagaimana ini, apa saya harus balik lagi ke atas? dengan situasi mengerikan begini? yang benar saja ! Yuga menatap sekeliling, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Kini Yuga merasa takut dengan kondisi perusahaan yang gelap, tak habis pikir bagaimana tadi dia bisa melewati lorong yang gelap hingga bisa sampai dibawah sini.
Mau tidak mau Yuga berlari ke depan kantor, dia menghampiri pos satpam. Untung saja perusahaannya ini mengerjakan beberapa satpam untuk berjaga malam. " Pak ! " seru Yuga.
Merasa ada yang memanggil dua orang satpam yang sedang standby disana kemudian menoleh. Sulit dipercaya, antara kaget dan takut bercampur jadi satu, membuat dua orang satpam ini menjadi diam seketika dengan ekspresi wajah yang memprihatinkan.
Dua satpam itu menoleh satu sama lain memastikan apa yang dilihatnya itu beneran nyata. Yuga yang sudah merasa kedinginan terpaksa berjalan kembali mendekat ke arah mereka. " Pak ! " serunya. Bukannya menjawab mereka malah mengunci pintu tapi matanya masih tetap mengawasi gerak gerik Yuga. Kesal, itu yang dirasakan Yuga sekarang.
Mata Yuga menyipit saat ada cahaya yang menyorot tepat ke wajahnya. " Pak Yuga? " tanya seorang satpam yang baru menyelesaikan tugas patroli. Yuga mengangguk, " Iya ini saya, tolong senternya dimatikan dulu, saya silau "
Mendapat perintah dari bos nya, membuat dia buru-buru mematikan senter dan langsung menghampiri Yuga. " Bapak masih di sini? " tanya nya heran, apalagi saat melihat penampilan Yuga yang tidak biasa. " Iya pak ujang, saya lembur. "
Melihat teman sejawatnya mengobrol, membuat dua satpam yang berada didalam pos langsung keluar ikut nimbrung, dengan cengengesan karena malu mereka meminta maaf. " Maaf pak, tadi kami kira itu bukan bapak. " ucap salah satu satpam. " Jadi maksud kalian saya ini hantu? " keduanya menggeleng serempak, menyangkal tuduhan Yuga, padahal aslinya memang seperti itu.
__ADS_1
Bagaimana tidak, kondisi Yuga yang nyaris telanjang seperti ini ditambah dengan dia keluar dari gedung perusahaan yang gelap, apalagi ini sudah terbilang jamnya orang tidur. Membuat mereka berasumsi yang lain-lain. Ekhem, Yuga berdehem sebelum mengatakan apa tujuannya menghampiri mereka, " Saya minta salah satu dari kalian menemani saya kembali ke dalam " meskipun malu, tapi dengan ekspresi datarnya dia bisa menutupi itu semua.
Mereka bertiga saling melirik, hingga akhirnya Ujang memutuskan untuk mengantar bos nya ini ditemani salah satu rekannya yang lain. Ujang sebenarnya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja dia cukup enggan untuk menanyakan pada bosnya.
" Terimakasih, kalian boleh kembali bekerja. " ucap Yuga setelah mereka bertiga berhasil kembali ke ruang kerja Yuga dilantai atas. " Oh iya, tolong untuk menyalakan semua lampu yang ada di setiap lorong, jaga-jaga bila ada orang yang lembur seperti saya, nanti kalian koordinasikan saja pada bagiannya, bilang saja saya yang suruh. "
Setelah mengatakan itu Yuga masuk dan mengunci pintu. Dia melihat jam yang berada diatas meja telah menunjukan pukul dua dini hari. Pantas saja jika satpam dibawah sana menganggap dia yang bukan-bukan. Malam ini sepertinya saya harus tidur disini, besok pagi baru saya akan pergi ke apartemen Jessi.
Saat memasuki kamar, alangkah terkejutnya Yuga melihat pemandangan yang ada di depannya, " Sayang " Yuga menubruk tubuh ramping Jessi yang sedang berdiri dipinggir tempat tidur, dia memeluk erat tubuh Jessi hingga membuat sang empu memukul punggung Yuga beberapa kali karena merasa sesak. " Mas lepas, aku enggak bisa nafas " mendapat protes dari kekasihnya membuat pelukan Yuga sedikit mengendur, dia membawa tubuh Jessi untuk duduk di atas kasur tanpa melepas pelukannya.
Akhirnya Yuga menurut, dia melepas pelukannya terhadap Jessi, " Maaf " lirihnya, dengan mata yang sudah memerah Yuga menatap wajah cantik yang ada dihadapannya ini.
Jessi tersenyum manis, dia mengusap pipi Yuga yang basah karena air mata. " Kamu dari mana aja? tadi aku nyariin kamu loh, tapi cuma nyari disekitar sini aja sih, karena enggak berani kalo harus keluar ruang kerja kamu, takut. Aku kira kamu bener-bener ninggalin aku, tega banget ! " Ucap Jessi dengan wajah cemberut.
Bukannya menjawab Yuga malah kembali meminta maaf pada sang kekasih. " Maaf sayang " Jessi mengerutkan kening "Minta maaf untuk apa? emang kamu buat salah sama aku? "
__ADS_1
Yuga mengangguk " Maaf karena sudah memaksa kamu untuk... " Jessi membungkam bibir Yuga menggunakan bibir sensual miliknya, hanya sekedar menempel, tidak ada kegiatan ******* dan saling menyecap satu sama lain. " Kamu enggak usah minta maaf mas, ini bukan salah kamu. Tapi aku sendiri yang sudah memutuskan untuk memberikannya sama aku. " ucapnya tulus, tak lupa Jessi memberikan senyum manisnya yang selalu membuat Yuga meleleh.
Selama didalam kamar mandi tadi Jessi sudah merenungi semuanya, menyesal? tentu saja ! tapi Jessi mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Memang benar disini Yuga tidak sepenuhnya bersalah, karena dirinya juga telah ikut andil dengan apa yang terjadi. Biarlah yang sudah terjadi terjadilah, Jessi sekarang hanya mencoba untuk berlapang dada.
Tapi Yuga yang dasarnya lelaki, sama seperti kucing garong di suguhi ikan mana mungkin tidak dimakan. Apalagi setelah mendengar Jessi berkata demikian ditambah melihat senyum manis Jessi, membuatnya menjadi tidak tahu diri. Sudah dikasih hati malah minta jantung. Dikasih kelonggaran malah minta nambah buat ngelonggarin Jessi.
Maka terjadilah kembali, sesuatu yang seharusnya mereka hindari, adegan 21++ ronde kedua baru saja dimulai.
*****
" Bro, menurut elo gue sekarang harus gimana? gue gak rela kalo harus lepasin dia gitu aja. "
" Why? gak rela karena belum nyicipin? " tanya Brian.
" f*ck, bukan itu maksud gue, gue gak rela harus lepasin dia sebelum dia bales cinta gue ! heran gue sama elo, ini kepala isinya gak jauh soal s*langakangan mulu " Alex menoyor kepala Brian.
__ADS_1
" Yaelah kalo udah saling cinta mah mana mungkin mau elo lepasin, yang ada elo malah ajak kawin dia ! Lagian wajar aja dong namanya juga laki, pasti pala gue isinya soal s*langkangan, kalo isi pala gue soal si jantan punya elo baru gak wajar ! gue juga yakin elo bakal sama kek gue kalo udah ngerasain nikmatnya itu s*langkangan. "