AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Karma?


__ADS_3

" Sesak sayang. " Yang di bawah sana minta lebih bukan sekedar hanya ingin ditempel atau digesek, lanjut Alex dalam hati. Setelah mendengar penuturan dari Alex, Racle akhirnya mau menggeser tubuhnya sedikit, hanya beberapa senti meter, tapi tetap saja hal itu masih membuat yang dibawah sana merekah.


Racle menatap pantulan mereka dari dinding cermin lift yang ada di pinggir dan depannya, dia bisa dengan mudah melihat tatapan liar dari empat pemuda tersebut masih tertuju kepadanya, sontak saja hal itu membuatnya kembali merapatkan tubuhnya terhadap Alex, dengan sedikit terburu-buru atau lebih tepatnya Racle langsung menghentakkan bokong sintalnya


tanpa babibu lagi.


Ah, desah Alex tertahan. Lelaki itu menggigit bibir bagian bawahnya, dia tidak ingin mengeluarkan suara merdunya didepan banyak orang, apalagi hal itu berpotensi mengundang kegaduhan. " Kenapa malah jadi semakin nempel sayang? " bisik Alex terdengar terengah-engah seperti orang yang baru saja menyelesaikan lari maraton.


" Takut. " Cicit Racle pelan, yang hanya terdengar oleh Alex saja, lelaki itu kembali menegakan tubuhnya setelah mendapat jawaban dari Racle, dia merutuki situasi saat ini, kenapa Racle berubah menjadi wanita agresif di situasi yang tidak tepat menurut Alex, andai saja kalau mereka sedang berdua, pasti Alex akan dengan senang hati menerima dan mendesah keras, bukan malah seperti sekarang, dia merasa terhimpit, tersiksa bahkan yang dibawah sana sudah sangat terasa semakin mengeras saja.


" Yank bisa geser ? dikit aja " pinta Alex memelas. tapi Racle langsung menggeleng cepat. Enak aja nyuruh-nyuruh gue maju ke depan, bukannya elo seneng ya gue pepet kaya gini, sok jual mahal banget. Dan sekarang gue lagi berbaik hati mau mepet elo, meskipun kepaska, eh malah dengan tidak tau dirinya so-soan nolak, dari pada harus dipepet sama segerombolan kucing garong didepan mending gue korbanin dikit ini bokong, seenggaknya kalo mepet si mesum gue cuma harus mandi biasa aja buat ngilangin aroma nya, lah kalo sampe dipepet mereka? bisa-bisa gue harus nyuruh ibu buat mandiin gue kembang tujuh rupa selama tujuh hari.


Membayangkan nya saja membuat Racle langsung bergidik antara ngeri dan juga geli sendiri. Ting, akhirnya mereke tiba juga dilobi hotel, namun sepertinya Racle masih bertahan dengan posisi diam ditempat, bukan karena betah tetapi dia sedang menunggu para pemuda barusan keluar terlebih dahulu.


Setelah semuanya sudah keluar, dan hanya menyisakan mereka berdua, barulah Racle melangkahkan kaki pergi meninggalkan Alex yang masih berdiri mematung, sepertinya Alex


masih berusaha untuk mengontrol sesuatu. *F*ck! gue memang seneng dipepet kaya barusan, tapi gue enggak minta untuk jadi pelampiasan. Ah Miracle, kamu memang selalu berhasil membuat kepala seorang Alex menjadi pening."


Huft, helaan napas Alex begitu terlihat, apalagi lelaki itu menghentakkan bahunya sedikit kencang, dirasa sudah bisa menguasai diri sendirinya, akhirnya dia juga mengikuti Racle yang sudah keluar dari tadi.

__ADS_1


See.. Racle menghilang dari jangkauan mata Alex, bahkan sekarang Alex terlihat celingukan kesana kemari mencari sosok yang amat sangat familiar bagi dirinya itu, kemana perginya Racle? kenapa bisa secepat itu dia menghilang? bahkan sepertinya gadis itu tidak sempat atau memang tidak berniat sama sekali berterimakasih kepada Alex.


Menyadari hal itu, Alex tersenyum kecut. Racle tetap lah Racle, gadis dengan tingkat keangkuhan tinggi, tapi tetap saja Alex suka, amat sangat suka, saking sukanya, sekarang perasaan itu sudah berkembang menjadi cinta dan obsesi. Alex bukan golongan orang yang menganut kepercayaan bahwa cinta itu tak mesti memiliki, bohong rasanya kalau sampai dia tidak ada niat dan keinginan memiliki Racle untuk dirinya sendiri.


Makanya dia berusaha sekuat tenaga mendapatkan Racle, meskipun harus beberapa kali menelan pil pahit karena respon yang tidak pernah Alex sangka, dia ditolak beberapa kali, sampai sekarang pun sudah menjadi pasangan kekasih, tetap saja Racle tidak mau melihat ketampanan dan kegagahannya yang terpampang nyata adanya didepan mata.


Masih dalam proses pencarian, Alex berjalan keluar lobi dengan gerakan menoleh ke arah kanan dan kiri, sudah seperti orang yang akan menyebrang jalan raya. Ponsel Alex berdering, sebelum menerima panggilan masuk, Alex bergegas menepi ke tempat yang terbilang cukup sepi untuk bisa leluasa mengobrol dengan orang yang disebrang sana.


" Apaan? "


"........"


" Lambe loh, iya entar gue usahain, udah dulu gue lagi sibuk nih. "


"........"


Klik, Alex memutuskan sambungan telepon tanpa mau mendengar jawaban Brian terlebih dahulu.


" Halah si Brian ini hidupnya emang kagak pernah bisa jauh dari kegiatan senam kasur sama senam bibir, heran gue kok ada ya laki macho kaya gitu, hobi banget gosip, tapi lebih heran lagi gue sih, kenapa juga gue mesti mau sohiban sama manusia yang bentukannya kaya gitu. "

__ADS_1


Dengan langkah sedikit tergesa Alex terus saja mengoceh soal temannya yang satu itu, bahkan tidak sedikit kata makian dia keluarkan untuk Brian sepanjang perjalanan dari lobi menuju basement apartemen.


" Kemana nih si bohay? " Alex melajukan mobil keluar kawasan apartemen dengan sedikit lambat, matanya masih sibuk melihat kanan kiri, berharap semoga masih ada sedikit keberuntungan yang berpihak kepadanya hari ini, " Telpon ajalah, daripada gue dibikin ngebut penasaran. " Sebenarnya istilah itu lebih ke dari pada mati penasaran, cuman ini kan Alex, si biksu bule, mana mau dia dibuat mati penasaran, masih hidup pun dirinya sudah dibuat penasaran terus oleh Racle.


Alex bergidik ngeri saat menyadari tentang kosakata barusan yang dia ganti, membayangkan mati tanpa menikah terlebih dahulu apa kata dunia? bisa-bisa beredar gosip miring tentang dirinya, dengan hastag Mengenaskan ! Pebisnis muda meninggal sebelum menikah, atau *Takdir s*eorang pebisnis tampan yang mengenaskan.


Alex menggeleng cepat, mengusir kehaluan yang mengerikan, bagaimana bisa dia berhalusinasi sedemikian rupa sementara berhalu ria tentang Racle yang bertelanjang dada lebih menggoda? dirinya lalu dengan gesit menepikan mobil, merogoh ponsel lalu mendial nomor dengan nama kontak myWife.


Alex yakin dan berpegang teguh pada istilah setiap ucapan adalah doa, makanya dia menamai kontak Racle dengan sebutan Istriku, karena secara tidak langsung, setiap Alex akan menelpon, mengirim pesan atau bahkan hanya sekedar melihat poto profil kontak Racle, maka dengan spontan dia sering membaca dan mengucapkan nama yang tertera itu


Maka dari itu pula Alex mengganti istilah mati penasaran dengan kalimat ngebut penasaran, toh memang benar keadaannya sekarang dia sedang jalan mengendarai mobil, otomatis kalau tidak berkendara dengan pelan ya pasti ngebut. Alex tidak mau konsentrasinya ketika sedang ngebut terpecah belah karena mencari Racle, karena hal itu bisa memungkinkan dia berpeluang menjadi mati penasaran yang sesungguhnya.


" Halo yank, kamu dimana? abang cari-cari sekitaran apartemen kok enggak ada? kamu udah pulang atau pergi nongkrong dulu? "


" Iya. " Jawab Racle singkat dari sebrang sana.


" Iya? iya apa maksudnya, pulang atau nongkrong? "


" Pulang. "

__ADS_1


" Kamu pul...." Tut, sambungan telpon terputus, belum juga Alex menyelesaikan kata-katanya, Racle sudah main matiin seenaknya sendiri. Alex memberengut kesal, rasanya sungguh sangat membagongkan, mungkin ini yang dirasakan Brian tadi, saat Alex dengan tidak berperasaan nya mematikan sambungan telpon, padahal Brian belum menuntaskan ucapannya. Apa ini hukum karma? Alex menggeleng, tidak terima dengan pemikirannya sendiri.


" Gak mungkin kan? masa iya orang baik kaya gue mesti dapet karma dari si celup Brian. Gak ! gak terima gue, mana mungkin barang orisinil kaya gini harus kena karma dari si celup yang udah berasa hambar, pasti ini cuma kebetulan aja, iya cuma kebetulan doang. "


__ADS_2