
" Mending balik ke rumah, atau nginep di mbak Nita aja ya?, balik, jangan, balik, jangan. " Racle terus berceloteh seorang diri sepanjang lorong menuju lift, " Ah, ke rumah mbak Nita aja deh, lagian kalo balik rumah juga sekarang mood gue lagi gak enak, apalagi kalo si tua sampe tau gue nggak masuk kantor. " Racle mengambil ponsel yang berada dalam tas, kemudian menghubungi Nita via WhatsApp,
Ting, Racle melangkah masuk kedalam lift menunduk, masih sibuk dengan ponselnya, sehingga tidak sadar dengan apa yang ada didalam lift, " Sayang, hey. " Lelaki itu mencolek lengan Racle.
Racle mendongak, setelah tahu siapa makhluk yang berada satu kotak dengannya, dia memutar bola mata malas, sungguh rasanya dunia yang luas ini terasa sempit bagi Racle, karena dia selalu harus bertemu dengan manusia yang spesies nya tergolong mesum nan cabul ini. " Jangan ngajakin gue berantem dulu, gue lagi gak mood. "
Alex menyerengit bingung, " Yank, emang kapan aku pernah ngajakin kamu berantem? "
" Sekarang juga elo lagi ngajakin gue berantem dengan bilang gue sayang, atau yank. " Racle berkacak pinggang, " Please, gue mohon untuk kali ini, stop dulu, gue lagi kesel. "
" Loh, gak bisa gitu dong yank, aku juga lagi kesel sama kamu, kamu kok baru pulang sekarang sih, ini itu udah malem, ini juga pake baju siapa? aku yakin ini pasti baju cowok tadi kan, ayo ngaku ! yank aku enggak terima ya kamu giniin. "
Racle mengusap wajah kasar, bertemu dengan Alex yang tampan ini membuatnya selalu dongkol, oke, Racle memang mengakui ketampanan Alex, tapi ingat, dia menyukai lelaki yang tipe nya cool abis, bukan seperti apa yang sedang ada dihadapannya ini, menurut Racle Alex ini sudah seperti juragan kontrakan yang hobinya mengomel jika ada yang telat bayar. " Berisik, " Racle berjalan mendekati Alex, " Ini memang baju kak Rico, kenapa emangnya? suka-suka gue dong mau pake baju siapa, toh ini badan juga badan gue, enggak pinjem badan elo kan? "
Sepertinya si Alex ini memang senang mencari kesempatan, buktinya dia malah memajukan langkah saat Racle mendekatinya barusan, hingga oops, ada sesuatu yang dirasa oleh dada kerasnya, bukannya berhenti Alex malah semakin maju hingga Racle pun mau tak mau menjadi ikut mundur dan membentur dinding lift karena dorongan Alex, " Aww, elo apaan sih, sakit tau punggung gue, lagian ngapain coba pake mepet-mepet segala, ini lift masih luas, apalagi isinya cuma kita berdua doang, udah sana minggir. " Racle mencoba mendorong dada kekar Alex.
Alex menyeringai, " Bukannya barusan kamu yang mau deket sama aku yank? buktinya kamu terus maju ke arah aku, aku cuma mempercepat aja, takutnya kamu ngerasa malu kalo nyosor duluan. " Racle melotot, karena bukan itu tujuannya, dia mendekati Alex sengaja karena ingin mengintimidasi lelaki ini, emang dasarnya si Alex nya aja yang mesum, buktinya sekarang, bukannya terintimidasi yang ada malah cari kesempatan seperti ini.
" Rese loh, udah sana dada gue sesek nih. " Alex menunduk menatap apa yang seharusnya tidak dia tatap, " Sayang, dada kamu sesek bukan karena salah aku, tapi salah kamu sendiri. "
" Loh kok salah gue? jelas-jelas disini yang mepet gue itu elo. "
__ADS_1
" No yank, salah kamu, kenapa punya kamu gede banget, jadinya ke teken sedikit aja berontak. "
Racle menganga, sumpah tidak habis pikir dengan makhluk satu ini, tingkat cabul dan mesumnya itu di atas rata-rata, membuat kepala Racle berkedut pusing bila sedang menghadapinya. " Tutup dong yank mulutnya, kalo gitu kesan seksi nya malah bertambah, aku jadi pengen cium kamu. " Ucapnya tanpa rasa malu sedikit pun.
Racle buru-buru mengatupkan bibirnya kembali. Brengsek ini cowok, astaga kenapa juga ini lift lama banget nyampe kebawah, enggak kaya biasanya, gue gak tahan kalo harus lama-lama sama si mesum bin cabul.
" Terserah, udah sana jauh-jauh gue sesek. " Alex hanya tersenyum, kemudian mencondongkan badannya, dia berbisik. " Ingat yank, tubuh kamu ini milik aku, Alex Edden ! Jadi jangan pernah mencoba atau sampai berani memakai barang milik lelaki lain, termasuk baju ini. " Alex meregangkan jarak tubuhnya kemudian menarik kaos oblong yang dikenakan Racle, " Lepas. " perintahnya.
" Enggak bisa gitu dong, gue.. " Perkataan Racle terhenti saat dia melihat wajah Alex yang terlihat serius, bahkan rahang tegas miliknya itu sudah menegang, sorot matanya juga tak kalah tajam seperti elang, Racle menelan ludah, melihat Alex yang seperti ini membuat nyali nya menciut, kini bahkan Racle sudah menunduk. Sial, kenapa dia bisa jadi seserem ini, gue jadi ngerasa takut. ternyata selain sama mama, gue juga bisa takut sama dia. oh god please, don't let this happen. Jerit hati Racle.
Racle mengatur nafas, oke Racle, elo pasti bisa. Dia kembali mengangkat wajah, tapi tidak berani menatap mata Alex, " Terus kalo dilepas, gue pake apa dong? gue enggak mau ya kalo harus pake tank top doang, soalnya gue belum makan takutnya nanti masuk angin. "
Alex menggeleng tak percaya, perempuan yang ada dihadapannya ini memberikan alasan yang konyol, bagaimana bisa Racle beralasan takut masuk angin, kenapa gadis ini tidak berkata kalo dia malu atau risih berpenampilan terbuka, atau apalah.
" Loh, kok ke atas lagi, gue mau pulang. " Rengek nya, bahkan Racle sampai menghentakkan kaki karena kesal, Alex tak menggubris dan masih setia dengan wajah serius miliknya.
" Alex. " rengek nya kembali dengan nada sedikit manja, tapi Alex masih tetap sama bahkan sekarang kini dia melototi Racle, " Sopan sedikit, aku ini lebih tua dari kamu, setidaknya panggil aku abang. "
" Udah tau tua, kenapa masih doyan sama daun muda kaya aku. "
" Racle ! " sentak Alex, dengan mata melotot, sungguh baru kali ini Racle merasa terintimidasi bahkan merasa sangat takut dengan Alex, Yuga saja yang notabene nya seorang yang cool dan tidak banyak bicara, tidak bisa membuat nyali Racle ciut, tapi ini, seorang Alex yang mesum dan pecicilannya luar biasa bisa membuatnya tunduk.
__ADS_1
Gila, lutut gue aja bisa sampe gemetar cuma karena sentakannya doang, gue enggak bisa anggap remeh si mesum ini.
Pasrah, itu yang Racle lakukan, terserah Alex mau bawa dia kemana, asal jangan sampai dibunuh saja, pikirnya. Racle sudah seperti kerbau yang di cucuk hidung, menurut apa yang Alex perintah. Sekarang saja Alex sudah berhasil membawa Racle ke unit apartemen miliknya, tepat satu lantai di atas milik Rico.
" Lepas kaos itu, aku tidak suka kamu memakai barang milik lelaki lain. "
Racle akhirnya membuka kaos yang di pinjami Rico, dan tara, terpampang lah pemandangan indah sempurna, tank top yang sangat minim dengan rok pendek yang kependekan menurut Alex.
Sadar akan tatapan liar Alex, Racle langsung menutup tubuhnya dengan kaos Rico, " Ja jangan diliatin gitu. " gugup Racle, " Kenapa? bukannya ini tujuan kamu memakai pakaian kekecilan seperti ini, untuk memancing hasrat lelaki kan? "
Racle menggeleng, berhadapan dengan Alex yang mode serius ternyata lebih tidak enak dibanding dengan Alex yang mesum, Racle gadis yang pembangkang, dan jago bela diri ini sekarang hanya bisa menjadi kerbaunya Alex, tanpa berani melawan.
" Lalu apa? apa kamu tidak sadar dengan penampilan seperti ini bisa membahayakan diri kamu sendiri Miracle, lelaki jaman sekarang tidak bisa dikasih barang bening dikit aja, imannya sudah melorot, apalagi barangnya sebening kamu, bisa-bisa bukan hanya iman mereka saja yang melorot tapi celana dan bajunya. "
Iya sama kaya elo, gak bisa lihat yang bening dikit. Bukan tidak sadar, Racle bahkan sangat sadar, selama ini dia sudah sangat terbiasa menghadapi lelaki mesum, hanya dengan Alex saja dia risih, karena tingkat ke mesumannya di atas rata-rata.
" Tapi selama ini enggak pernah ada yang berani macem-macem, kalo sekedar ngelirik atau lihat doang sih enggak apa-apa." Jawab Racle dengan nada rendah, bahkan terkesan berbisik. Namun masih bisa di dengar jelas oleh Alex
" Enggak apa-apa kamu bilang? " Brak, Alex menggebrak meja yang ada dihadapan mereka, Racle hanya bisa memejamkan mata meminimalisir detak jantungnya akibat perbuatan Alex.
Alex sudah sangat emosi, apalagi mendengar pengakuan gadis dihadapannya, " Kamu itu bodoh atau apa? jelas-jelas mereka itu sudah melecehkan kamu, apa kamu tahu bahwa imajinasi lelaki itu liar Racle, hanya dengan melihat dan menatap tubuh kamu mereka bisa berfantasi sesuka hati, kamu tau kan maksud aku? "
__ADS_1
Racle mengangguk, ia syok mendengar penuturan Alex, jelas saja pemikirannya tidak sampai sejauh itu, Racle pikir kaum adam yang menatap tubuhnya itu sekadar mengagumi keindahan dan kecantikannya saja, ternyata bisa sefatal itu.