
"Kembalikan ponsel saya, saya ada perlu." Yuga menengadahkan telapak tangannya ke hadapan Brian.
"Ga, kok bisa Racle belum tahu? kalo dia enggak dateng gimana? terus gue gimana Ga?" Alex bertanya dengan mimik wajah serius, berbeda dengan Brian yang menatap malas ke arah Alex.
"Elu gak usah kepo Lex, masalah itu udah bukan ranah kita lagi, tapi udah masuk ke pembicaraan keluarga. Gimana entar aja, gak usah worry sebelum waktunya gitu." Sela Brian.
"Mana ponsel saya?" Yuga kembali menengadahkan tangannya ke arah Brian. "Kamu tenang saja Lex, saya usahakan Racle mau hadir di acara itu." Yuga mencoba menenangkan sahabatnya yang terlihat gusar.
"Ini hape elo, sengaja gue silent. Berisik banget soalnya." Brian menyodorkan nya ke Yuga.
Kepala Yuga mengangguk, "Tadi ada telpon dari dia enggak?" tanya Yuga sambil mengedipkan mata, mengirim kode rahasia ke arah Brian.
kening lelaki tampan itu sedikit menyerengit, namun hanya sesaat, setelah dirinya tahu siapa yang sahabatnya maksud. "Oh! iya." kata Brian penuh semangat, karena merasa mengerti dengan apa yang barusan Yuga sampaikan.
"Iya? iya apa? iya ada, maksudnya?"
Brian menggeleng, "Bukan! maksud gue, aduh gimana ya jelasinnya." Brian menggaruk alisnya yang tidak gatal, karena merasa bingung, antara harus menjelaskan dan takut keceplosan.
"Kalian lagi ngomongin siapa sih? kok roman-roman nya kaya ada rahasia di antara kita?" Alex menatap curiga ke arah Brian dan Yuga secara bergantian.
"Tanya saja sama sahabat kamu." Yuga menjawab santai, seakan ini bukan perkara sulit, tetapi tatapan tajamnya menghunus langsung tepat ke jantung hati Brian.
__ADS_1
'Kampret emang si Yuga! maksudnya apa coba ngomong sesantai gitu ke si biksu, tapi itu biji mata udah kaya anak panah yang siap tancep gue. Sialan emang!" Brian mendelik sebal, sahabatnya ini memang pintar memutar balikan fakta, kenapa juga harus dia yang kena.
Masalah 'dia' yang di maksud Yuga menelepon atau tidak pun Brian tidak tahu, toh dia hanya menyita ponsel milik Yuga, bukan berarti dia kepo dengan apa yang ada di ponsel milik sahabatnya itu.
"Mana gue tahu Ga! kan gue cuma bawa hape elo doang, enggak menggeledah isi hape elo sama sekali, lagian juga gue enggak pernah buka atau otak atik hape elo, kecuali ganti mode aja, jadi mode silent. Soalnya hape elo jerit-jerit mulu minta di puasin." Brian menyeringai, melihat Yuga yang memelototinya, sepertinya Brian berhasil menyindir Yuga dengan perkataannya barusan.
"Masa sih? kok gue enggak yakin ya Ga, mana ada seorang Brian menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Terus kenapa juga elo langsung jawab cepat saat si Yuga bilang dia, emang elo tahu yang dimaksud Yuga siapa? jawabannya, mana mungkin elo tahu kalo elo enggak lihat atau ngecek ponsel si Yuga." Alex mencoba memojokkan sahabatnya itu, dia merasa kesal dengan kelakuan Brian dan Yuga yang membahas dia, seolah-olah itu adalah kode rahasia diantara mereka berdua saja.
Brian gelagapan, bukan karena tuduhan Alex yang terbukti benar. Melainkan karena sekarang Yuga sedang menatapnya intens. "Bukan gitu Ga, sumpah gue enggak ada ya main buka-bukaan hape elo. Gue cuma ngecilin volume suaranya doang, lagian masalah kecilin volume juga enggak perlu tekan layar, cukup gue pencet tombol yang ada di samping. Lagian kan elo kasih password itu hape, gue mana tahu password nya apa."
****
Racle menghela napas panjang, baru saja dirinya sampai di ambang pintu kediaman tuan Morgan. Ayahnya ini sudah menanyainya seperti seorang maling yang kepergok, apalagi saat mendengar intonasi dan melihat mimik wajah ayahnya sekarang, tidak terlihat seperti orang yang sedang khawatir sedikitpun, yang ada malah seperti orang yang sedang mengintimidasi lawan bicaranya.
"Ada sedikit keperluan, ponsel Racle lowbat." Jawab Racle singkat.
Ayahnya tersenyum masam, baginya alasan Racle terlalu klasik. "Tapi seharusnya kamu...." belum usai tuan Morgan berbicara, Racle sudah nyelonong masuk begitu saja. Dengan perasaan dongkol dia bergegas melewati ruang tamu dan ruang keluarga tanpa mau menghiraukan orang-orang yang ada disekitar, terlebih ayahnya sendiri.
"Racle ayah belum selesai bicara!" tuan Morgan meninggikan suaranya saat melihat putri bungsu nya itu berlalu begitu saja.
Racle yang baru menaiki undakan anak tangga pertama seketika menghentikan gerakannya, saat mendengar suara ayahnya yang setengah berteriak, tangannya mengepal erat. Ini yang membuat Racle muak, sikap orang rumah yang berlaku seenaknya.
__ADS_1
Tanpa membalikan badan Racle berkata. "Please yah, this time i am really-really tired. Nanti saja kita bicara lagi." Ucap Racle pelan, tapi masih bisa didengar baik oleh tuan Morgan yang sedang duduk diruang tamu sore ini.
Setelah mengatakan itu, Racle kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Tuan Morgan sebenarnya belum merasa puas dengan jawaban Racle, tapi perkataan Racle barusan, membuat dirinya mau tidak mau harus mengalah. Apalagi saat mendengar nada suara Racle yang terdengar lemah, tidak seperti biasanya, yang selalu terdengar tegas dan menggebu, mungkin anaknya itu memang benar-benar sedang lelah, pikir tuan Morgan.
Setelah berhasil masuk kedalam kamar, hal pertama yang Racle lakukan yaitu merebahkan dirinya diatas tempat tidur luas nan empuk. Gadis itu terlihat beberapa kali menarik nafas dan mengeluarkannya secara teratur, sepertinya Racle sedang berusaha meredam emosi yang baru saja merangkak naik keatas kepala. Untung saja dia masih bisa mengontrol dengan baik dihadapan sang ayah. Kalau tidak, bisa-bisa akan terjadi khutbah atau bahkan cekcok antar ayah dan anak.
"Ribet! bikin pusing." lirihnya, kini tangan lentik milik Racle sedang memijit lembut keningnya yang terasa berdenyut.
Kalau tidak ingat dengan apa yang sedang menimpa keluarga nya ini, Racle mana mau pulang ke rumah. Lebih baik dia tinggal di apartemen Rico atau meminta Alex untuk membelikannya.
"Eh ngapain juga gue ada pikiran sampe kesitu." Racle bermonolog, gadis itu menggeleng-gelengkan kepala saat ide gila itu muncul dibenaknya. Alex memang mencintainya, tapi masa iya dia harus memanfaatkan cinta Alex segitu nya. Meskipun dirinya tidak mencintai Alex, setidaknya Racle bukan perempuan jahat yang memanfaatkan situasi.
Lagi pula, masa iya Alex mau membelikannya apartemen, terlebih lagi situasi hubungannya dengan Alex saat ini bisa dikatakan tidak baik. "Gila lo Miracle, bisa-bisanya mikir kek gitu." Gadis itu masih saja merutuki dirinya sendiri.
Tapi ngomong-ngomong soal Alex, apa kabar dia? tumben-tumbenan lelaki itu tidak ada merecoki Racle sore ini, biasanya Alex akan mengirim pesan yang berjibun setiap jam, sekedar menanyakan "dimana dirinya? sudah makan? lagi ngapain?" dan bla-bla-bla.
Racle bangkit dari posisi rebahan yang masih terasa nyaman bagi dirinya, dia buru-buru berjalan menuju almari untuk mengambil baju ganti, menurutnya dia harus cepat-cepat mandi dan mengguyur kepalanya dengan air hangat, sepertinya otaknya sedang butuh rileksasi. Racle merasa pikirannya sedang eror, bisa-bisanya dia memikirkan Alex, lelaki yang notabenenya adalah seorang pengganggu mesum bagi kehidupan Racle.
***
Lain halnya dengan Racle yang mencoba mengenyahkan segala sesuatu tentang Alex. Disini, tepatnya di ruangan kerja milik Alex, lelaki itu tampak gusar. Memikirkan bagaimana jika Racle tidak hadir di acara sabtu malam nanti.
__ADS_1