AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Hari yang melelahkan


__ADS_3

Akhirnya Racle bisa bernafas lega setelah melewati sesi tanya jawab bersama Nita, yang tentu saja hanya membahas seputar masalahnya dengan Alex tidak lebih, karena mana mungkin Racle mau membocorkan aib keluarganya sendiri.


Kini Racle dan Nita sedang berbaring diatas kasur, mau tidak mau mereka harus berbagi tempat tidur, karena kondisi rumah Nita yang bisa dibilang sederhana ini hanya memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, ruang tv, dapur dan satu kamar mandi.


" Mbak, gue pinjem baju elo dong yang bahannya adem. "


" Udah sono gih mandi dulu bawa handuk nya sekalian, ntar gue siapin bajunya buat lo. " Nita bangkit lalu berjalan menuju lemari, mencari baju yang Racle mau " Hey, cepetan mandi gue gak mau cium bau si Alex di kamar gue. " ucap Nita yang masih sibuk mencari baju.


Mendengar nama Alex disebut membuat mood Racle anjlok kembali, " Mbak ishh, jangan sebut nama si bastrad depan gue ! "


" Yaudah sono mandi, apa jangan-jangan elo suka ya sama bau parfum si Alex yang nempel di badan elo ? "


Racle melotot, lalu mengendus badannya sendiri, benar apa kata Nita barusan. Badannya kini didominasi wangi parfum maskulin milik Alex. Sial ! kok bisa enggak sadar gini, ternyata badan gue yang wangi udah terkontaminasi sama bau si mesum.


Racle buru-buru berdiri dan menyambar handuk yang menggantung di belakang pintu, handuk khusus untuk Racle yang selalu Nita sediakan bila adik kurang ajarnya ini menginap. Racle berjalan keluar kamar, karena di rumah ini hanya memiliki satu kamar mandi yang letaknya di dekat dapur.


Tak butuh waktu lama untuk Racle membilas bau wangi Alex yang ada pada tubuhnya, gadis itu kembali ke kamar. " Mbak, elo gak salah nyuruh gue pake baju beginian? " Racle merentangkan baju yang telah disiapkan Nita.


" Elo mau nya yang berbahan adem kan? nah itu tuh adem banget Cel, nyaman pokoknya. "

__ADS_1


" Tapi mbak, gue bukan ibu. " protes nya tak terima.


" Emang gue ada bilang kalo elo itu ibu hah? enggak ya, udah gak usah banyak protes pake aja, tuh ****** ***** beserta kawannya punya elo. " tunjuk nya pada atas nakas.


Jangan heran, kenapa bisa ada daleman Racle disini. Ini bukti dari saking seringnya Racle menginap tidak hanya daleman, bahkan beberapa baju miliknya juga ada disini, bersarang di lemari Nita.


Tanpa malu ataupun canggung Racle memakai baju dihadapan Nita, sama halnya dengan Nita, tidak terlihat ada ekspresi terkejut sama sekali di wajahnya, karena baginya sudah biasa melihat tubuh polos Racle seperti ini.


" Elo udah cocok jadi ibu muda Cel. " Ledeknya saat melihat Racle mengenakan daster selutut tanpa lengan pemberiannya. " Ah, gue jadi nyesel Kenapa si Alex enggak berhasil perkosa elo sih. "


Mulut Racle menganga, sumpah demi apapun ingin rasanya menghajar orang yang telah menampung nya ini, bahkan kini tangannya sudah mengepal kuat. " Mbak jenis apaan loh, yang rela adik nya diperkosa sama orang asing, emang dasar sinting loh mbak. "


" Gue sejenis manusia yang suka memanfaatkan situasi sebaik mungkin, enggak kaya elo, udah di kasih situasi enak, dapet orang tajir melintir, tampan pula. Kenapa enggak mau kasih suka rela aja sih? "


" Whatever " jawab Racle. Dia membanting kasar tubuhnya ke atas kasur tidak ingin lagi meladeni Nita yang menurutnya semakin lama semakin ngelantur tak karuan. " Gue tidur duluan, jangan ngomong apapun lagi untuk malam ini cukup sekian, selamat malam. "


Nita yang masih memiliki sedikit rasa toleransi mencoba untuk diam, menuruti apa mau Racle. Sesekali dirinya melirik ke sebelah melihat Racle yang sudah memejamkan mata dengan nafas yang sudah teratur. Buset, udah ke alam mimpi aja nih anak, salut gue. Gue kira elo bakal nangis histeris atau seenggaknya gak bisa tidur kaya orang trauma gitu, eh ini mah boro-boro. Tapi bagus lah, ini yang gue harap. " Selamat tidur Racle, mimpi indah adek nya mbak. " gumamnya.


*****

__ADS_1


Jessi terbangun saat dirinya merasa ingin ke kamar mandi, dia menyingkirkan tangan Yuga yang memeluk erat perut rata miliknya, setelah merasa cukup sadar, Jessi kemudian mendudukkan diri dan menyandar pada kepala ranjang, dilihatnya sang kekasih yang masih tidur terlelap di samping nya.


Jessi membelai wajah Yuga yang terlihat begitu tenang, " Tampan " gumamnya pelan, Dia mengambil ponsel milik Yuga yang berada di atas nakas, lalu menekan tombol on off, niat awal hanya ingin melihat jam tapi kini niatnya menjadi berbelok setelah melihat beberapa notifikasi yang muncul dilayar ponsel.


Klik Jessi memberanikan diri membuka pesan dari seseorang yang namanya tertera disana dengan sebutan Mom, Jessi berdecak takjub dengan banyaknya pesan berisikan tentang perhatian Ny.Hyeri kepada Yuga, anak tirinya. Jessi memang sudah mengetahui kondisi keluarga Yuga sebulan setelah mereka berkomitmen untuk pacaran.


Bukan Jessi yang kepo atau dengan sengaja mencari informasi tentang keluarga kekasihnya ini, Jessi mana berani? dia cukup tahu diri. Apalagi statusnya hanya sekedar baru pacar, bukan tunangan apalagi istri, Yuga sendirilah yang membeberkan semuanya, termasuk masalah siapa, dan dimana ibu kandungnya itu berada.


Bukan tanpa alasan Yuga berani berterus terang seperti ini, karena dia sudah benar-benar serius dengan hubungannya bersama Jessi. Oleh karena itu Yuga mencoba berterus terang tidak ingin menutupi apapun dari kekasihnya ini , mereka pun sudah sepakat untuk saling terbuka satu sama lain. Hanya masalah perjodohan saja yang Yuga belum berani membicarakannya kepada Jessi, dia masih merasa takut, takut kalau-kalau Jessi meninggalkannya.


Bagi Yuga, Jessi bukan hanya sekedar pacar biasa, tapi sudah merangkap menjadi teman dimana dirinya berkeluh kesah. Jangan diragukan untuk masalah cinta dan sayang, karena Yuga sudah dibuat bertekuk lutut sejak pertama kali Jessi bekerja di perusahaan milik ayahnya ini. Tepatnya sejak tiga tahun silam, hanya saja Yuga baru berani mengungkapkan perasaannya setelah dua tahun Jessi mengabdi menjadi sekretarisnya itupun karena Alex yang selalu memanas-manasi.


kalau saja waktu itu dia tidak terbawa emosi dengan kelakuan Alex yang selalu saja menjodohkan Jessi kepada para kolega Alex, besar kemungkinan sampai saat ini Yuga hanya bisa mengagumi Jessi dalam diam.


Untung saja Alex peka dengan situasi sahabatnya itu, sehingga membuat dirinya berinisiatif untuk memancing Yuga mengungkapkan perasaannya. And finally, sekarang Yuga bukan hanya sekedar berhasil mengungkapkan perasaannya saja, tapi dia juga berhasil memiliki Jessi bahkan mencicipinya.


Jessi menyibak selimut lalu mengambil kemeja milik Yuga yang tergeletak di atas lantai. Setelah berhasil mengenakannya, Jessi mencoba berdiri, " Aw, sakit banget. " lirihnya, dia memaksakan diri untuk berjalan ke kamar mandi meski harus berpegang pada dinding, karena ada sesuatu yang semakin mendesak meminta untuk segera di tuntaskan.


Mendengar suara gemericik air membuat tidur Yuga terganggu. Masih dengan mata terpejam lelaki itu meraba tempat disampingnya, seketika matanya terbuka sempurna saat mendapati tempat disebelahnya sudah kosong.

__ADS_1


" Sayang " panggil Yuga, dia masih tidak sadar dengan keberadaan Jessi di kamar mandi, tidak mendapat sahutan dari sang kekasih karena Jessi tidak mendengarnya sama sekali membuat Yuga berteriak seperti orang kesetanan. Dia takut Jessi meninggalkannya setelah adegan 21+ itu, dia takut Jessi marah, dan pergi menghilang. Tidak, Yuga tidak akan bisa hidup tanpa Jessi.


Dia buru-buru mengenakan bokser miliknya, dan langsung keluar dari kamar khusus tempatnya beristirahat tanpa mengecek ke dalam kamar mandi terlebih dahulu.


__ADS_2