AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Kopi Pahit


__ADS_3

"Emang elo kenapa sih takut banget kayaknya kalo gue ada bahas soal si.."


"Apa? elo udah janji enggak bakalan bahas lagi si bangkai, kenapa sekarang mesti mancing-mancing gue kaya gini?"


Alex nyengir memperlihatkan gigi putih nan rapih miliknya. "Gue kira bakal dapet ikan gede karena umpan barusan, ternyata gue salah. Ikan nya terlalu cerdik untuk menghadapi umpan pasaran kek gitu."


Brian mengambil bantal sofa lalu menimpuk kepala Alex. "Kampret emang lo Lex, bisa-bisanya samain gue sama ikan. Udah mending sekarang kita fokus dulu ke project kita, sebelum si batu sampe kesini."


"Dia janji dateng kesini jam berapa? kita harus ngitung dulu ketepatan waktu antara pembahasan project sama kedatangan dia, supaya pas dia dateng pembahasan kita juga kelar." Tanya Alex dengan mimik wajah yang serius.


Brian berdecih sebal saat melihat ekspresi Alex yang sudah seperti peneliti ulung. "Ribet kampret ! udah sekarang aja elo bahas, enggak usah ngalor ngidul lagi, toh perdebatan kita tadi hasilnya udah seri kan? makanya cepetan sekarang elo bilang aja ke gue rencananya apa. Hidup udah enak gini masih aja elo milih jalan yang sulit, heran gue." Dumel Brian sambil bangkit dari duduk, kemudian berjalan ke arah meja kerja Alex.


"Mau ngapain woy? kok malah jadi jauhan gini, katanya kita mau langsung bahas project nih."


Brian yang sedang meraih gagang telpon melirik sekilas ke arah Alex, kemudian melanjutkan kembali aktifitasnya yang tertunda. "Bob pesenan gue mana? haus nih dari tadi bos elo nyuruh gue buat ceramah terus, iya-iya cepetan gue tunggu." Brian kembali menyimpan gagang telpon setelah selesai berbicara dengan Bobi.


"Emang iya si Bobi kok tumben-tumbenan lama gini, kenapa enggak ngomong dari tadi, kan bisa gue turun dulu ke bawah buat..."


"Apa? mau ngapain loh? udah gue bilang hidup kita itu udah enak, kenapa elo mesti ngambil jalan yang mempersulit diri elo sendiri Lex? sumpah, otak cerdas gue kagak sampe kalo harus nguber cara pola pikir lo."


"Bukan gitu bro, elo tau sendiri kan cafe gue kalo jam segini lagi rame-rame nya, meskipun gue bos nya disini, tapi tetep aja karyawan gue dibawah sana juga lagi kerja keras berusaha melayani pelanggan. Otomatis gue enggak bisa ongkang-ongkang kaki dan bebas nyuruh ini itu semau nya gue dong? intinya jadi pebisnis itu harus pintar-pintar baca situasi, masa iya karena harus menuruti keinginan bos, mereka harus mengabaikan pundi-pundi duit yang udah duduk manis dibawah sana?" Terang Alex panjang lebar.

__ADS_1


"Terserah elo, tau gitu gue duduk dibawah aja tadi." Brin berjalan kembali menuju sofa dimana Alex duduk.


"Permisi." Terdengar suara seseorang dari luar ruangan Alex.


"Nah itu kayaknya si Bobi dateng !" Seru Brian dengan wajah sumringah, akhirnya dahaganya bisa dia lepas dengan secangkir kopi pahit yang sudah sedari tadi Brian idam-idamkan. Apalagi sebelum naik ke ruangan Alex, Brian sudah lumayan lama duduk dibawah menunggu kedatangan Alex, dan tidak sengaja memperhatikan salah satu pengunjung yang sedang meminum kopi pahit seperti orang sedang mendapat kenikmatan yang hakiki. Makanya dia ingin mencoba kopi pahit seperti yang dipesan pengunjung cafe Alex.


"Masuk Bob !" Teriak Alex dari dalam.


Mendengar ijin dari sang bos, Bobi langsung masuk dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat banyak piring-piring kecil berisi dessert, mulai dari puding, cake, salad, dan lain-lain. Tak hanya Bobi saja yang masuk kedalam, ternyata masih ada satu orang karyawan Alex yang datang menyusul membawa nampan, untuk menu yang datang sekarang ternyata makanan yang cukup berat, mulai dari rendang, ayam sambal matah, dan yang paling menggugah selera Brian adalah menu terakhir yang baru saja disimpan di atas meja oleh rekan Bobi, nasi liwet bertabur ikan teri medan.


"Maaf pak agak lama, barusan dibawah rame banget." Jelas Bobi sedikit sungkan, apalagi saat melihat wajah Brian, teman bos nya itu terlihat begitu kesal.


Bobi hanya tersenyum simpul menanggapi celotehan Alex, berbeda dengan Brian yang hampir saja menyemburkan kembali kopi yang baru saja dia sesap.


Bobi dan rekannya langsung pamit undur diri setelah menyelesaikan tugas, mereka tidak bisa berlama-lama di ruangan Alex, apalagi dibawah sana teman seperjuangan mereka sedang sibuk-sibuknya, ditambah dengan kesan tidak bersahabat yang Brian pancarkan saat mereka mengantarkan makanan, membuat mereka semakin ogah untuk berlama-lama.


"Nikmati bro ! selagi hangat, elo tau gak ini kopi gue pesen dan didatengin langsung dari bali, karena katanya kopi sana itu enak banget. Gimana mantep kan?"


Brian yang masih dongkol dengan Alex tidak memberi komentar yang berarti, "Semua kopi sama aja Lex, warnanya item kalo enggak di mix sama susu, rasanya pahit kalo enggak dikasih gula atau di tambah krimer, mau kopi dari bali kek, toraja kek, atau dari luar negri sekalipun kopi ya tetep kopi."


Kepala Alex mangut-mangut, bukan untuk membenarkan perkataan Brian, melainkan dirinya sedang mencerna apa yang baru saja Brian katakan. "Bagi elo yang bukan pencinta kopi sejati, atau istilah remaja sekarang kopi lovers, menurut gue pendapat elo sah-sah aja sih, tapi bagi pencinta kopi kaya gue misalnya, itu enggak bisa dibenarkan bro. Apalagi di indonesia, tiap tempat itu punya kopi andalannya masing-masing. Seperti...."

__ADS_1


"Stop !" Brian mengarahkan telapak tangannya tepat kehadapan wajah Alex. "Gue disini itu mau ngorek informasi dari si Yuga, dan elo" tunjuk nya pada Alex, "Ngajak gue buat bahas soal project kita bersama sebelum si Yuga dateng, bukan buat bahas soal kopi elo yang pahit ini kampret." Brian menyimpan kasar gelas kopi ke atas meja, membuat isinya goyah dan tumpah sedikit sehingga mengenai jari tangan Brian yang belum sempat melepas cangkir kopi.


"Astaga.." pekik Brian saat merasakan panas pada jari tangannya.


Alex sigap mengambil tisu dan langsung mengelap jari Brian yang terkena tumpahan. "Elo hati-hati dong, gue jadi berasa lagi momong anak TK gini caranya."


Brian yang tak terima dengan perkataan Alex langsung saja menggeplak kepala sahabatnya itu dengan tangan yang satunya lagi. "Aduh, rese emang. Bukannya bilang makasih karena udah gue kasih sesajen, ini malah di geplak, bisa bodoh gue kalo kebanyakan cidera bagian kepala." Gerutu Alex yang masih sibuk mengelap jari tangan Brian.


"Kalo bukan karena kepahitan lidah elo gue juga gak bakal kaya gini."


Alex yang baru selesai mengelap tangan Brian langsung mendongakkan kepala, keningnya berkerut. "Lah kok jadi nyalahin gue? jelas-jelas disini itu yang salah elo, udah tau kopi pahit masih aja di pesen tanpa gula, elo juga kalo naro itu cangkir bener enggak mungkin isinya bisa tumpah kaya gitu."


"Pahit kopi ini gak seberapa dibanding dengan kepahitan lidah elo Lex, maksud elo apa tadi ngomong ke karyawan elo bawa-bawa soal gratisan. Elo kira gue gak mampu bayar apa? gue gak semiskin itu kali." Sungut Brian berapi-api.


"Ow-ow, jadi ceritanya disini itu lagi ada yang ke sindir nih?" Tanya Alex dengan senyum jahil yang sangat menyebalkan.


Melihat senyum Alex yang dirasa sedang mengejeknya, Brian langsung berdiri berniat akan menghajar sang sahabat, tapi gerakannya ter pause seketika saat mendengar suara yang dirasa tak asing lagi di telinganya.


"Wah romantis sekali dua sejoli ini."


Brian dan Alex, Mereka sontak saja langsung menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2