
Racle beberapa kali mengerjapkan mata saat mendengar suara keributan diluar kamar, Pasti itu ibu lagi marahin bapak.
" Mbak, bangun ! " Racle mengguncang tubuh Nita yang masih terlelap di alam mimpi. Bukannya terbangun yang ada malah Nita memunggungi Racle dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. " B*ngke loh mbak, cepetan bangun ish. Diluar lagi ada perang dunia percintaan noh, udah cepetan. Bisi keburu bapak dianiaya ibu "
" Bentar lagi Cel, gue masih ngantuk " Racle memutar otak, sedetik kemudian dia tersenyum devil saat ide jahil berhasil muncul di kepalanya. " Gue ajak ibu ngemall aja deh, daripada kdrt terus sama bapak. " Racle berbicara sedikit kencang sengaja ingin memancing ratu gratisan disebelahnya.
Dan, gotcha !! Nita seketika bangun dari tidurnya dengan sekali gerakan dia berhasil berdiri tanpa duduk terlebih dahulu, bahkan dia tidak terlihat pusing sama sekali. " Cel ajak gue aja, nih mbak mau siap-siap. " dengan semangat 45 Nita menyambar handuk dan langsung melesat menuju kamar mandi.
' Giliran yang begituan aja gerak cepat loh. " gumam Racle, dia menyusul Nita keluar dari kamar. Matanya melotot saat melihat tas limited edition kepunyaannya sudah teronggok seperti barang rongsokan. Oh my God !! apaan nih, tas gue. Racle mengambil dan memeriksa barang yang ada di dalamnya, syukurlah dompet beserta penghuninya masih ada.
" Bu.. Ibu " Racle celingukan mencari orang, Lah bukannya tadi gue denger ada perang, tapi kok sekarang sepi gini, pada kemana nih orang-orang?
Racle kembali menelusuri rumah sederhana nan asri itu, hingga langkahnya terhenti saat melihat pemandangan dihalaman depan yang membuatnya ingin tertawa, tapi Racle mencoba untuk menahan sebisa mungkin, takut kalau dua insan yang sedang berdrama itu tersinggung.
Bukan tanpa alasan Racle beranggapan demikian, karena saat ini dia melihat bu Yanti sedang memandori pak Damar yang sedang menyapu halaman depan, lengkap dengan roll rambut yang tersemat indah pada bagian depan poni bu Yanti, wanita itu terlihat sedang berkacak pinggang sambil menunjuk dengan mulut monyongnya bagian-bagian yang harus dibereskan oleh pak Damar
" Ibu ! " panggilnya, wanita paruh baya yang sedang mengenakan daster itu menoleh, " Eh anak bungsu ibu, kapan dateng? kok ibu enggak tahu "
" Semalem bu, ibu disini kok sekarang jadi ada tikus ya? " Yanti menyerengit, " Masa sih? ibu kok enggak pernah lihat nak, apa jangan-jangan bapak enggak bersih ya beresin rumah kita ? " tuduhnya pada sang suami. " Eh kok jadi bapak sih bu "
" Lah emang bapak kan yang udah seminggu ini bersihin rumah kita, sebelumnya pas ibu yang bersihin gak pernah tuh rumah kita kemasukan tikus. " Pak Damar hanya bisa menghela nafas, kalau diperpanjang bisa-bisa hukumannya di tambah pula oleh sang istri. " Memang kamu lihat tikusnya dimana ? " tanya pak Damar pada Racle
__ADS_1
" Mm sebenernya Racle enggak lihat langsung sih pak, cuma ini loh, tas Racle yang semalem ditinggal diruang tamu tiba-tiba udah pada bolong kek gini. " Racle menunjukan tas miliknya.
Ibu Yanti menjadi salah tingkah sendiri saat melihat tas mahal milik Racle berwujud seperti itu, sementara pak Damar, dia malah menatap tajam sang istri. " Sudah bapak bilang toh bu " Yanti keburu menimpali perkataan suaminya, sebelum pak Damar selesai bicara " Udah toh pak, enggak usah diperpanjang lagi. Sing penting sekarang bapak beresin sapu-sapu halamannya, biar ibu yang bicara sama anak bungsu. " Yanti membawa Racle kembali masuk ke dalam.
" Ibu kenapa sih ? Racle tadi denger ibu ngomelin bapak loh. " tanya Racle, setelah dia mendaratkan bokong sintalnya pada sofa ruang tamu.
Yanti menatap Racle dan tas nya bergantian, " Nak bungsu, ibu mau nanya. Anu loh, emm itu-itu kamu beli tas nya dimana toh? " Racle mengangkat sebelah alisnya, heran dengan tingkah ibunya yang terlihat seperti sedang melamar anak gadis orang. " Racle beli diluar negri. " makin meringis lah bu Yanti saat mengetahui dimana Racle membelinya, sudah pasti harganya pun tidak main-main, berbeda dengan tas yang sering dia dan anaknya beli, meskipun memiliki brand yang sama, tapi Yanti beserta Nita hanya mampu beli yang kw nya saja.
" Ada apasih bu, coba cerita ke Racle. Atau ibu pengen tas yang kek gini, iya? tapi sayang bu, Racle enggak bisa beliin. Soalnya ini limited edition, jadi cuma ada dikit aja didunia. "
Yanti semakin dibuat tidak karuan, apalagi setelah mendengar penuturan dari Racle, Mati aku, pie iki mas? " Anu nduk, sebenernya, sebenernya ibu yang udah bikin tas kamu seperti itu. " Yanti menutup rapat kedua matanya setelah berhasil mengungkapkan pada sang anak, dia tidak sanggup melihat reaksi dari Racle.
" Maaf nduk, ibu enggak tahu kalo itu tas punya kamu, ibu kira itu punya janda sebelah yang kemaren sengaja kerumah buat nyamperin bapak ! "
Makin syok saja Racle saat sudah mengetahui motif dari tindakan ibu angkatnya ini, Ya ampun, cuma gara-gara cemburu tas gue jadi korban kekerasan ibu, oh my God ! gue gak habis pikir sama kelakuan dua insan ini.
Pak Damar terlihat menyusul istri beserta anak angkatnya itu ke ruang tamu, dengan wajah tegang dia mencoba memberitahu istrinya bahwa di depan ada tamu tak di undang. Sontak saja Yanti langsung menyingsingkan lengan dasternya setelah dia tahu siapa yang datang pagi-pagi seperti ini.
" Nak bungsu, sekarang bukan waktunya bersedih, lupakan sejenak tas jutawan kamu, kita harus melakukan sesuatu yang berguna untuk mempertahankan bapak yang lebih berharga dari pada tas itu. " ucap bu Yanti.
Racle mendengus, dia tidak habis pikir dengan ibu angkatnya yang seenak jidat menyuruhnya melupakan tragedi memilukan ini. " Ogah bu, Racle mau mandi terus berangkat kerja ! "
__ADS_1
" Eits, jangan banyak alasan, cepet temani ibu dulu kedepan, kita hadapi pelakor itu sama-sama. "
What? gue gak salah dengerkan barusan ibu bilang apa, pelakor ?. Yang benar saja, mana ada yang mau sama bapak angkatnya ini, terkecuali ibu Yanti. Karena rasa penasaran membuat Racle jadi menghayukan saja ajakan ibu Yanti. Gue jadi pengen tau kek gimana tampang pelakor yang udah bikin ibu ketar-ketir, sampe tas gue harus jadi korban eksekusi ibu yang gak karuan.
Setibanya Racle dan bu Yanti di teras rumah, membuat sang tamu langsung berdiri, tak lupa juga dia mempersembahkan senyum manisnya dari bibir bergincu merah terang.
Racle terkesima sendiri dengan apa yang dia lihat, pantas saja ibu angkatnya ini ketakutan, toh lawannya janda muda yang masih terlihat segar, wajahnya juga tidak jelek-jelek amat. Racle mengamati penampilan sang janda yang disebut ibunya itu sebagai pelakor, fashionable, lumayan lah pikirnya.
" Oh jadi karena dia, ibu sampe tega ngerusak tas mahal punya aku? " bisiknya pada sang ibu, Yanti menoleh sekilas ke arah Racle kemudian mengangguk, mengiya kan apa yang disampaikan anaknya.
Racle tersenyum mengejek saat melihat wanita yang ada dihadapannya ini celingukan kesana kemari, sepertinya dia sedang mencari pak Damar.
" Cari siapa tante? " Wanita itu langsung menatap horor kearah Racle, See, baru gue sebut tante aja itu mata udah hampir keluar. fix, demi ibu gue rela deh kalo harus main jambak-jambakan atau cakar-cakaran kek kucing.
" Maaf adek ini siapa nya mas Damar ya ? " Tanya nya sok ramah dengan nada yang dibuat mendayu-dayu.
Uweeek, Racle dibuat mual saat suara itu terdengar begitu menjijikan di telinga nya, apalagi saat mendengar wanita itu menyebut mas pada bapak angkatnya. Sebetulnya Racle heran apa yang dilihat janda muda ini pada sosok pak Damar, bukan menjelek-jelekan bapak angkatnya, tapi kalau boleh jujur pak Damar ini bukan termasuk golongan om-om hot, kalau dibandingkan dengan ayah nya jelas saja pak Damar tidak ada apa-apanya.
Harta tidak semelimpah tn.Morgan, wajah juga jauh beda, bapaknya ini tertinggal jauh dibanding sang ayah, tapi mungkin untuk seorang bapak-bapak yang sudah berumur pak Damar termasuk orang yang masih terlihat segar, meskipun tidak semacho tn.Morgan, tapi tubuhnya masih terlihat bagus, tidak buncit seperti bapak-bapak kebanyakan.
" Saya anaknya ! " sahut Racle dengan nada pongah. Wanita di depannya itu terlihat bingung, tahu apa yang sedang dipikirkan sang janda muda, Racle kemudian melanjutkan kata-katanya " Anak ke 2 bapak sama ibu, jadi ada maksud apa nih pagi-pagi begini tante udah bertamu ke rumah orang tua saya? maaf loh sebelumnya, tapi ibu saya enggak jualan nasi uduk. " Sindirnya
__ADS_1