AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Apartemen Rico


__ADS_3

" Ibu, seharusnya kita tidak usah terlalu lama mengulur waktu, sampai berpuluh-puluh tahun seperti ini. Ibu lihat sekarang, bahkan si Yuga anak ingusan itu sudah mulai membangkang."


" Tapi kita tidak bisa bertindak sebarangan mulai saat ini, apalagi anak sialan itu tahu tentang masa lalu ibu, padahal di rumah ini hanya Morgan saja yang mengetahuinya. "


" Bu, aku sudah cukup bersabar selama ini, tapi apa yang kita dapat? bahkan secuil pun tidak. "


" Sabarlah sebentar lagi, ibu harus menyelidiki dulu anak sialan itu, dari mana dia bisa tahu tentang semua itu. "


" Alah, ibu ini kenapa sih? yang terpenting sekarang adalah Morgan, bukan masalah tentang masa lalu ibu, lagi pula itu semua benar kan, kenapa ibu mesti ambil pusing segala. " sergah lelaki 48 tahun itu, dengan muka yang sudah memerah menahan kekesalan.


" Jangan bicara sembarangan kamu, Deni, " tegas Ny.Ratih. " Ayolah bu, masa hanya gara-gara anak kecil seperti itu rencana kita harus ditunda lagi, aku sudah tidak sabar bu, apalagi saat melihat kelakuan si Yuga di kantor tadi. "


Ny.Ratih menghela napas, beginilah perilaku putra semata wayangnya ini, tidak sabaran dan selalu bersikap sembrono, yang Ny.Ratih khawatirkan saat ini bukan hanya sekedar statusnya saja yang terbongkar, tapi dia takut kejadian di masa lalunya juga ikut terbongkar, " Lebih baik sekarang kamu pulang saja, biar ibu yang memikirkan rencana selanjutnya. "


Deni berdiri lalu merapikan jas miliknya, " Ingat bu, kalau sampai ibu membuang-buang waktu dengan rencana ibu yang sekarang, maka jangan salahkan aku kalau harus bertindak sendiri dalam menyelesaikan ini semua. "


" Jangan pernah berani bertindak sembrono Deni, "


" Ah, sudah lah, aku pamit, sampaikan salam sayang ku untuk anak asuh mu itu. " Deni keluar dari kamar Ny.Ratih, meninggalkan ibunya yang semakin gelisah, takut putranya berbuat nekat. " Lihat anakmu mas, wataknya sama persis seperti kamu, tidak sabaran " lirihnya sambil mengusap poto usang yang selalu ia simpan dibawah bantal.


" Loh Den, kapan kamu sampai? maaf mbak tidak tahu, jadi tidak menjamu. " Hyeri menyapa Deni yang baru saja keluar dari kamar Ny.Ratih, " Tadi mbak, sekitar 30 menit yang lalu, sudah lama juga Deni tidak menjenguk ibu, mungpung hari ini kerjaan hanya sedikit jadi Deni berkunjung kesini. " Dengan senyum yang dibuat seramah mungkin, " Wah, sudah dari tadi rupanya, tapi kok art disini nggak ada yang kasih tahu mbak ya, padahal dari tadi mbak ada di dapur, lagian kamu ini kok kaya orang asing aja, sering-seringlah main kesini. "

__ADS_1


" Kebetulan pas Deni kesini, hanya bertemu dengan satpam di depan saja mbak, tidak berpapasan dengan art satupun, karena sepi jadi Deni langsung saja masuk ke kamar ibu, iya mbak, akan Deni usahakan, kalau begitu aku pamit undur diri saja mbak, sudah hampir malam. "


" Kamu enggak mau makan malam bareng kita? seenggaknya tunggu sampai mas Morgan pulang saja, dia pasti senang kalau tahu kamu main kesini. "


" Lain waktu aja mbak, aku sudah ada janji, sampaikan saja salam ku untuk mas Morgan, aku pamit mbak, selamat malam. "


" Iya, hati-hati di jalan Den, jangan ngebut bawa mobilnya. " Hyeri menyerengit bingung melihat kelakuan adik iparnya yang selalu terlihat terburu-buru jika sedang berkunjung, apalagi kalau sudah membahas tentang suaminya, seperti ada sesuatu, tapi entah, Hyeri sendiri tidak tahu. Sepertinya aku harus tanya mas Morgan, takutnya memang hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Batinnya


Brak, Tn.Deni membanting pintu mobil agak sedikit kencang, dia masih tidak habis pikir dengan ibunya yang masih saja selalu menunda-nunda rencana, " Sebenernya ibu itu maunya apa? kemenangan sudah hampir didepan mata, ini malah mengkhawatirkan yang tidak-tidak. " Deni bersandar pada jok mobil dan memejamkan mata, menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia mengemudi, setelah dirasa tenang barulah Deni menyalakan mesin mobil, lalu pergi meninggalkan kediaman Tn.Morgan Lee.


Uh, Racle melenguh, ia menggeliat meregangkan otot tubuh. " Udah lama enggak tidur senyenyak ini. " Masih dengan memejamkan matanya, Racle meraba tempat tidur berusaha mencari ponsel miliknya, ia membuka sedikit mata melihat jam yang tertera di layar ponsel, " Jam 18.30 " gumamnya, " Hah? " kini kedua bola matanya terbuka sempura, " Jam 18.30, mampus gue, hari ini sampe enggak masuk kantor segala, gila banget sih elo Racle tidur dari jam sepuluh pagi dan sekarang udah hampir mau jam tujuh malem, " Racle geleng-geleng kepala, heran dengan kelakuannya sendiri.


Dengan sedikit tergesa Racle berdiri lalu merapikan barang bawaannya, Racle juga membereskan tempat tidur milik Rico, setelah dirasa rapi, Racle keluar dan membasuh muka di Wastafel dapur.


" Ini, " Rico menyodorkan tisu, " Lap dulu wajah kamu, itu airnya menetes kemana-mana, jadi perempuan kok jorok banget. " Racle melongo mendengar ucapan Rico yang menurutnya panjang kali lebar itu, dengan gerakan cepat ia menyambar tisu lalu mengelap wajahnya, ini laki enggak sesuai sama wajah, gue kira cool eh ternyata mulutnya lemes juga, kaya emak nya si Nita.


" Thanks, " Rico hanya mengangguk, " Blazer kamu mana? tidak baik berpenampilan seperti ini didepan lelaki, apalagi kita hanya berdua, gini-gini juga saya masih normal Cel. " Rico kembali memberi ceramah,


Fix, gue bener-bener salah menilai ini orang, ternyata bawelnya melebihi ibu gue sendiri. " Di kamar, gue gerah kak kalo harus pake blazer, mending elo pinjemin gue kaos. " tawar Racle yang sedang sibuk membuka kotak makan didepannya " Kok dingin. " Racle menatap Rico meminta penjelasan, " Pasti dingin, kan itu jatah makan siang kamu, saya tidak habis pikir bagaimana bisa perempuan seperti kamu tidur siang selama itu, jangan-jangan kamu mengkonsumsi obat tidur? " lelaki itu memicingkan mata menatap Racle, " Sembarangan, kalo gue konsumsi obat tidur, bisa-bisa gue bangun besok paginya, buktinya sekarang gue udah bangun. " Racle mendelik " Kak elo jadi cowok kok enggak pengertian banget sih. "


Rico membatin, kurang pengertian apa lagi saya ini Miracle, kamu mau makan saya belikan, kamu mau tidur saya kasih kamar, bahkan kamu tidur seperti orang pingsan saja saya tidak berani membangunkan . Rico memijat pelipis, ini kali kedua mereka bertemu, tetapi dengan sangat beraninya gadis molek di depannya ini sudah membuat pusing kepala.

__ADS_1


" Kak, seenggaknya elo angetin ini makanan gue pake microwave, lo pasti tau kan orang yang udah tidur siang itu biasanya lapar. " Tanpa banyak bicara Rico merah kotak bento dihadapannya lalu berjalan menuju kitchen set dan memasukannya ke microwave. tidur siang apanya? ini sudah hampir malam, bisa gila saya, kalau sampai gadis ini saya biarkan terlalu lama ada disini.


Ting, Rico segera membuka microwave dan kembali mengambil kotak bento itu kehadapan Racle. " Ini, habiskan, dan segera pergi dari sini,"


" Enggak perlu di usir gitu juga gue bakal pulang kak, oh iya, gue jadi pinjem kaos elo yah, kalo bisa yang warna putih, biar matching sama hills gue. "


Ya ampun ini perempuan, " Iya, saya cari dulu, " dengan tergesa Rico pergi ke kamarnya lalu mencari apa mau Racle, ia tersenyum saat menemukan kaos oblong warna putih miliknya, Rico berlari dan langsung menyodorkan, " Cepat pakai, nanti masuk angin. "


Racle memutar bola mata malas, " Iya nanti gue pake, tanggung makan dulu. "


" Sekarang Racle, kamu tidak kasihan apa, itu mu mengintip saya terus dari tadi. "


Racle melotot saat mengetahui maksud Rico, eh buset ini cowok, kayaknya sebelas dua belas sama si mesum, Racle mengambil kasar kaos itu lalu memakainya, " Kak ini, " ia melihat penampilannya sendiri.


" Yang kamu pakai kan kaos saya, pasti longgar di badan kamu, kalau kamu mau baju yang kekecilan, minta pinjam sana sama anak sekolah dasar. " ucap Rico sinis, sepertinya ia sudah habis kesabaran menghadapi Racle.


Ih ini si Rico ternyata lebih nyebelin dari pada si mesum, Racle mendelik tak suka ke arah Rico. " Gue pulang deh, makasih atas segalanya. " Nafsu makannya sudah tidak ada, padahal tadi Racle sangat merasa lapar, tapi melihat Rico yang menyebalkan membuat mood nya turun. Racle bangkit dari kursi makan kemudian menyambar tas miliknya, lalu berjalan ke arah pintu.


Akhirnya, waktu seperti ini tiba juga. Batin Rico, dengan senang hati Rico menggiring Racle menuju pintu keluar, " Lo seneng banget kayaknya gue pulang. "


Amat sangat senang, " Biasa aja, " dusta nya.

__ADS_1


Racle memicingkan mata, gue tau elo dusta banget, padahal dalam hati pasti udah jingkrak-jingkrak atau malahan udah salto terus guling-guling karena tau gue pulang, rese loh, awas aja, gue bakal kerjain elo lebih dari ini nanti. " Yaudah gue pulang yaa, bye kak Rico tampan. "


__ADS_2