AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Rahasia


__ADS_3

Brian kelabakan saat melihat ekspresi Yuga yang sudah benar-benar tidak bersahabat. Aduh kayak nya gue ada salah ngomong nih, tapi omongan yang mana? gue sendiri bingung, enggak tau letak kesalahan gue sebelah mana.


" So-sorry bro, kalo omongan gue ada nyakitin elo, gue gak maksud buat singgung elo sama sekali, beneran sumpah. " Masa bodolah meski enggak tau dimana letak kesalahan gue, yang penting selamat dulu aja.


" Saya jadi tidak yakin kalau kamu itu memang benar-benar sadar dimana letak kesalahan kamu yang sebenarnya. "


Mampus ! " Sadar kok, gue sadar 100% makanya gue minta maaf. "


Yuga diam, dia tidak menanggapi ocehan Brian. Melihat Yuga yang diam saja membuat Brian langsung mengutarakan maksud dan tujuannya datang kesini.


Gue belokin aja kali, supaya si Yuga enggak terus-terusan neken kek gini, udah berasa jadi tersangka korupsi uang rakyat aja, sidangnya alot bener, mana pertanyaannya seputar itu doang lagi. Padahal kan gue lebih suka sidang kaya orang yang maling ayam tetangga, lebih cepat dan bertenaga, laki banget kan jadinya.


Ekhem, Brian berdehem " Ga sorry nih, sebenernya maksud gue datang kesini itu bukan pengen elo sidang begini, gue cuma pengen tanyain kelanjutan elo bareng si Jessi kemaren. "


Twew, sekarang giliran Yuga yang merasa was-was dan gugup. " Kelanjutan apa? memang kamu pikir kisah saya dan Jessi itu seperti sebuah sinetron yang ada istilah bersambung? gila kali. "


Brian mengerutkan kening " Jadi kalian udah pada end nih ceritanya? berarti sia-sia dong usaha gue kemaren buat datengin cewek bohay kesini, padahal gue kira elo sama Jessi itu... " Yuga buru-buru membekap mulut sahabat laknatnya ini, bisa gawat kalau sampai didengar oleh Jessi.


" Diam ! jangan pernah membahas lagi masalah itu disini. " Yuga sedikit berbisik, dalam bekapan tangan Yuga bibir Brian melengkung. Kena loh, sekarang giliran elo yang harus duduk di kursi panas dan gue interogasi. Elo juga harus ngerasain apa yang barusan gue rasain.


Brian mengangguk, setelahnya Yuga langsung melepaskan tangan dari mulut Brian, dia mengambil tisu dan buru-buru mengelap telapak tangannya yang sedikit lembab, karena tak sengaja menyentuh bagian bibir Brian.


" Gue enggak rabies Ga, santai aja kali. " Melihat Yuga yang seakan jijik dengan apa yang baru saja menimpanya.


Yuga mendelik sebal ke arah Brian. " Jangan bicara keras-keras kalau ingin membahas masalah kemarin, soalnya dia disini. " Yuga melirik ke kamar tempat dimana dirinya biasa beristirahat.


Brian menahan tawa, lelaki itu melipat kedua bibirnya kedalam, bahkan kini kulit wajah Brian pun sudah memerah, saking besarnya hasrat dia ingin tertawa tapi masih berusaha dia tahan. Yuga yang melihat Brian seperti orang kejang hanya mencibir dalam hati.

__ADS_1


Apa maksudnya ini? dia berusaha mentertawakan saya? " Berhenti bertindak seperti orang bodoh Brian, lebih baik kamu pulang saja dari pada harus menganggu waktu penting saya seperti ini. "


Brian menarik nafas, " Oke, oke sorry. Gu-gue barusan " Brian kembali mengulangi kegiatannya untuk menenangkan diri, entah kenapa sekarang bayang-bayang Yuga beserta Jessi yang sedang duel terus saja melintas dipikirannya, Brian menduga kalau temannya ini seorang yang hiperseks, buktinya saja sampai detik ini Jessi masih belum dia pulangkan. Atau jangan-jangan malah sebaliknya, Jessi nya yang tidak mau lepas dari kungkungan Yuga ?


" Ga apa elo enggak ngerasa gempor atau nyeri lutut gitu? "


Yuga menyerengit, " Maksud kamu? "


" Alah jangan sok pura-pura polos loh, semalem elo habis berapa ronde? "


Wajah Yuga langsung bersemu merah, seperti anak gadis yang sedang kasmaran dan berhasil melihat pujaan hatinya. " Yaelah Ga, eneg gue sumpah ! itu muka kenapa jadi kaya tante-tante girang yang pake blush on. " Brian tertawa terbahak-bahak, dia sudah tidak bisa lagi menahan tawanya untuk saat ini.


" Berhenti Brian. " Brian tidak menggubris, dia masih saja tertawa terpingkal-pingkal, " Brian stop ! " Sentak Yuga, jatuh sudah kesan cool dan sangar Yuga saat dirinya ditertawakan seperti itu, apalagi melihat tawa Brian yang terlihat begitu nikmat, membuat harga dirinya tergores begitu saja.


" Sorry Ga. " Ucap Brian tenang, karena sekarang dia sudah berhasil mengendalikan dirinya sendiri. " Bosan saya dari tadi harus mendengar kamu hanya berucap sorry, sorry terus. "


Yuga melempar bantal sofa, namun dengan sigap Brian langsung menangkapnya sebelum bantal itu berhasil mengenai wajah rupawan miliknya. " Sudah saya katakan jangan keras-keras ! kurangi volume suara kamu, Jessi sedang tidur. "


Brian menempelkan jari telunjuk dan jari jempolnya membentuk huruf O, isyarat dia mengoke kan perkataan Yuga barusan. " Sorry Ga. " ucapnya sedikit berbisik.


Lagi-lagi hanya kata itu yang Yuga dengar, bosan jadinya kalau setiap menit Brian meminta maaf tapi dimenit itu juga Brian bisa membuat dirinya kesal dan marah secara bersamaan, sebenarnya Brian itu berniat minta maaf atau bagaimana sih? " Kamu mendingan pergi saja, saya masih banyak pekerjaan. " Usir Yuga, tapi nadanya terdengar sangat lembut, tidak ada sentakan sama sekali.


" Kerjaan apa sih Ga? dari tadi juga gue lihat elo enggak ada kegiatan sama sekali. " Brian masih enggan untuk meninggalkan kantor sahabatnya ini, apalagi sampai detik ini dia belum mendapatkan hot news tentang Yuga.


" Tidak semua pekerjaan disini bisa saya perlihatkan sama kamu kan? "


" Biasanya juga elo suka ngobrol sambil kerja, otak elo kan encer Ga, itu yang suka elo bilang ke gue. "

__ADS_1


" Pulang saja, nanti saya ikut kumpul di Cafe milik si Alex. "


" No ! enak aja elo main usir-usir gue kaya gini, udah lupa sama jasa gue kemaren sore, hah? udah main enak-enakan malah jadi makin seenaknya, kacang lupa kulit loh Ga. "


Yuga memijat pelipisnya, " Please Brian, saya ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini. "


Brian memicingkan mata, " Pekerjaan yang mana dulu nih? gue kok jadi curiga elo mau beresin proyek pembuatan anak sama si Jessi ya?"


" Sialan. " Yuga kembali melemparkan bantal sofa, tapi kali ini Brian tidak berhasil mencegahnya, alhasil bantal itu mendarat dengan sempurna di wajah Brian.


Bukan karena kalah cepat atau ada masalah dengan sensor saraf milik Brian, tapi karena Brian sedang merasa kaget, selama berteman dengan Yuga, baru kali ini dia mendengar temannya itu mengumpat. " Perubahan yang sangat signifikan. " gumamnya,


" Apa yang signifikan? " tanya Yuga yang hanya bisa mendengar kalimat terakhir dari sahabatnya. " Perubahan bro, perubahan. " jawab Brian heboh.


Yuga semakin dibuat bingung, kepalanya sudah berdenyut pusing, sepertinya sebentar lagi dia akan meledak jika Brian tidak berhasil dia usir dalam waktu 10 menit ke depan. " Ini ambil, " Yuga menyerahkan ponselnya kepada Brian, " Sekarang cepat pergi ! tunggu jam kerja saya selesai, kita akan kumpul di cafe Alex yang dekat club. "


Semula wajah Brian terlihat bingung, apa maksudnya Yuga memberi dia ponsel? dia pikir Brian ini orang miskin kah? sampai ponsel saja harus disumbang seperti ini, namun saat Yuga menyelesaikan perkataannya, sejurus kemudian wajahnya kembali berseri, dia paham apa maksud dari sahabatnya ini.


" Okay, gue ambil. Tapi inget elo mesti jaga mulut soal yang tadi, jangan sampe Alex tahu. "


Yuga menyunggingkan senyum " Kamu ngancem saya? "


" Hahaha, enggak sama sekali bro. Gue cuma takut ikut keceplosan ceritain kisah cinta elo sama Jessi ke dia. "


Sialan ! umpat Yuga, " Oke kamu tenang saja, rahasia kamu aman selama kamu juga bisa menjaga rahasia saya. " Mau tak mau Yuga harus ikut cara main Brian, daripada dirinya babak belur ditanya yang macam-macam oleh sahabat biksunya itu.


" Nah gitu dong, kan cakep. " Brian berdiri lalu merapihkan bajunya, tak lupa dia juga memasukan ponsel Yuga kedalam saku celana miliknya, " See you. " Brian memberikan kecupan jarak jauh untuk Yuga sebelum keluar dari ruangan.

__ADS_1


Ada untungnya juga malem tadi gue gak berhasil cerita ke si biksu, kalo enggak, bisa habis gue, bisa-bisa si biksu narik sahamnya lagi, mati total gue !


__ADS_2