AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Kelicikan Yuga


__ADS_3

Tak butuh waktu lama bagi Brian untuk bisa mendapatkan apa yang Yuga mau, kini bahkan dia sudah sampai di lobi kantor milik keluarga Morgan Lee, " Nya, elo duduk dulu di sini, gue mau telpon orangnya bentar", wanita dengan gaun ketat itu lantas menarik tangan Brian yang hendak berdiri " Eh tunggu, elo bener di suruh tuan Yuga? setau gue dia enggak suka cewek, gue jadi takut nih, kita pulang aja yuk, lagian disini juga udah sepi banget", rengek Anya.


Tsk, Brian berdecak kesal dengan tingkah teman wanitanya ini, yang sedikit plin-plan, " Lo gimana sih, katanya pengen duit, ya udah tunggu bentar, kagak usah takut gitu, temen gue bukan kanibal, santai aja. Gue telpon dulu", dengan sangat terpaksa Anya melepas tangan Brian, lelaki itu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karena rengekan Anya.


" Halo bro, gue udah nyampe kantor, ini urusannya gimana? oh, berarti gue langsung naik aja ya, oke. "


Di atas sana Yuga tampak kaget, ternyata Brian cepat tanggap, barusan saja dia sudah menelpon dan mengatakan sudah sampai di kantor. Dia buru- buru merapikan penampilannya lalu keluar menuju ruang kerja.


Klek, suara pintu terbuka, Jessi langsung mendongak menatap tubuh sang kekasih yang menjulang tinggi, sementara Yuga, ia mematung melihat kondisi kekasihnya yang mengenaskan, wajah cantiknya kini terlihat menyedihkan, apalagi Jessi masih setia duduk di atas lantai, Yuga langsung memalingkan pandangan disaat hatinya sudah merasa tidak sinkron dengan otak, ia kembali melangkah melewati Jessi begitu saja kemudian duduk di sofa dekat pintu.


" Bangun, dan segera pergi dari sini, wanita saya akan segera tiba, saya tidak ingin kegiatan saya terganggu karena adanya kamu". Tak lama ada yang mengetuk pintu, sudah pasti itu Brian, pikir Yuga.


" Masuk " teriaknya dari dalam, Brian dan Anya langsung masuk setelah mendapatkan ijin sang empu, " Bro, gue udah bawa yang elo minta, ini temen gue namanya Anya, gimana cakep kan?" ucap Brian lancar, ia belum menyadari adanya Jessi di sana, karena posisi Jessi tertutup oleh punggung sofa yang diduduki Yuga.


Saat ini Yuga maupun Jessi mereka sama-sama memunggungi pintu masuk, jadi baik Brian maupun Anya hanya bisa melihat kepala Yuga saja.


Jessi sudah bisa mengendalikan diri, ia kemudian bangkit lalu berbalik badan, " Eh buset, Jess elo disini? " Brian menjadi salah tingkah saat melihat pacar dari temannya itu, apalagi saat menyadari kata-katanya tadi yang secara tidak langsung mempromosikan Anya, " Jess elo duduk dimana? kok gue enggak ada lihat elo barusan, " tanya nya lagi, masih dengan rasa tidak enak. Namun yang ditanyai tidak merespon sama sekali.

__ADS_1


" Bego loh, udah jelas-jelas itu cewek ada dibawah sana," bisik Anya pada Brian, " Hah? yang bener loh? dilantai?" Brian kembali dibuat terkejut dengan pernyataan Anya, ia menoleh kearah Anya, dilihatnya wanita itu mengangguk sebagai jawaban.


Jessi menatap intens Anya, Brian yang tau akan arah pandang Jessi berinisiatif untuk mengajak Anya pergi keluar, " Mm bro, kayaknya gue sama Anya datang di waktu yang kurang tepat, gue bawa balik lagi aja ya" ucap Brian, sambil sesekali melirik Anya yang sudah salah tingkah ditatap intens Jessi. " Duduk," perintah Yuga. " Hah? bro, gu gue sama Anya pamit aja, " Brian baru sadar ternyata disini sedang ada perang dunia percintaan, pantas saja kondisi Jessi terlihat sangat amat mengenaskan dengan mata bengkaknya, " Jangan bercanda bro, mending nanti kita ketemuan lagi ".


" Saya bilang duduk " Yuga berdiri lalu menoleh kebelakang, menghadiahi Brian dengan tatapan mengintimidasi miliknya, " Ah, rese nih " gumam Brian yang hanya dapat di dengar oleh Anya, yang berada tepat disampingnya, " Ini ada apa sih? gue gugup banget, udah kaya maling yang kepergok gitu," bisik Anya lagi pada Brian, sebelum akhirnya mereka melangkahkan kaki mendekat ke sofa.


" Jadi ini teman kamu? " Yuga memindai penampilan Anya dari atas sampai bawah, " Lumayan " lanjutnya, Anya yang di nilai bukannya merasa senang, tapi malah sebaliknya, ia takut. Brian juga heran kemana perginya sifat Anya yang agresif dan juga berani itu, " Nya elo jangan malu-maluin gue, mana aksi lo, tunjukkin dong" Brian berbicara cukup keras sekarang, sehingga Jessi yang berada disana bisa mendengar dengan jelas ucapan teman kekasihnya itu.


" Mas, " lirih Jessi, ia mengepalkan tangan, dadanya terlihat naik turun, emosinya sudah sangat membuncah, dengan berani Jessi menyeret tubuh tegap Yuga dan membawanya kembali masuk ke ruang istirahat. Yuga dengan sangat senang hati mengikuti kemana Jessi membawanya.


Brak, bunyi pintu yang dibanting kuat Jessi membuat Anya dan Brian yang sedang duduk terlonjak kaget, " Buset, si Jessi diam-diam menghanyutkan, gue kira cewek kalem kayak dia enggak bisa marah, taunya kalo udah marah serem juga, "


" Mas, kamu bener-bener udah bikin aku sakit hati, " Jessi melepas satu persatu kancing kemeja miliknya, " Ini kan yang kamu mau? kamu pikir aku sudi lihat kamu sama perempuan itu." Yuga hanya berekspresi datar, padahal dalam hatinya ia sedang bersorak gembira, karena ini yang dia mau, Jessi, bukan wanita didepan sana ataupun yang lainnya.


Jessi merapatkan tubuhnya yang sudah setengah telanjang itu ke Yuga, " Lakukan, sesuai dengan keinginan mu mas, asal kamu janji, jangan pernah ninggalin aku," ucapnya lirih, emosi yang membuncah itu kini menjadikan seorang Jessica wanita yang cerdas menjadi bodoh seketika, ia tidak kembali berpikir panjang, yang penting Yuga tidak melakukannya dengan wanita sembarang, apalagi Jessi tahu lelakinya ini bukan tipe yang menganut hidup **** bebas.


Jessi yakin seratus persen, ini adalah pengalaman pertama bagi Yuga, begitupun dengan Jessi. Yuga masih terlihat enggan, padahal dia sudah sangat susah payah bernafas, apalagi melihat keindahan gunung kembar Jessi yang tidak tertutupi apapun, jakunnya naik turun, namun bukan Yuga namanya jika ia tidak bisa menyembunyikan keinginan yang sebenarnya.

__ADS_1


" Pakai baju mu, dan segera pergi, kasihan Anya sudah menunggu terlalu lama, " dramanya, ia memunggungi Jessi, " Tidak mas, aku mohon, lakukan saja bersamaku, " Jessi memeluk tubuh Yuga dari belakang, " Bukankah tadi kamu menolak saya? saya tidak akan memaksa kamu kembali Jessi, pergilah. " Yuga berusaha melepas tangan Jessi yang melingkar di tubuh kekarnya, tapi Jessi malah semakin merapatkan tubuhnya, makin terasa saja sentuhan benda kenyal itu pada punggung Yuga, ia semakin menyunggingkan senyum saat dirasa Jessi sudah masuk perangkap, tentu saja Jessi tidak bisa melihat senyum itu, karena posisi mereka.


" Aku mohon mas, lakukan bersamaku " Jessi mengendurkan pelukannya, bahkan sekarang ia melepaskannya, dan sret terdengar suara resleting ditarik kebawah. Hal itu sontak saja membuat senyum Yuga semakin lebar, Jessi berusaha membalikan badan Yuga, dengan sigap Yuga langsung merubah ekspresinya menjadi datar kembali.


" Mas," Jessi menundukkan wajah, terlihat sebelah tangannya menyilang, mencoba menutupi dua aset berharga miliknya, Yuga yakin kekasihnya itu sedang malu, bahkan bisa saja wajah putih kekasihnya itu sudah memerah bak kepiting rebus, " Saya tidak mau jika kamu terpaksa Jessi, lebih baik kamu..." Jessi tiba-tiba saja berjinjit dan ******* bibir tipis milik Yuga, sebelum kekasihnya itu menyelesaikan ucapannya.


Dengan senang hati Yuga membalas ******* Jessi, lembut, sedikit menahan gejolak birahi yang sudah menggunung, Yuga tertawa dalam hati, akhirnya apa yang dia rencanakan selama ini terwujud, tapi sebelum ia bermain terlalu jauh Yuga memutuskan menyudahi ciuman panas itu, lalu mengambil ponsel miliknya, kemudian kembali memunggungi Jessi.


Jessi yang mengartikan bahwa tindakan Yuga barusan adalah sebuah penolakan, apalagi saat melihat kekasihnya akan menelepon seseorang membuatnya menjadi kalut, ia pikir Yuga akan menelepon Brian, dan menyuruhnya membawa Anya masuk kedalam.


Dan benar saja kini Yuga tengah menyebut nama Anya, Jessi yang barusan tidak fokus karena sibuk melamun hingga tidak tahu apa saja yang sedang Yuga obrolkan, ia kembali mengumpulkan keberanian, sudah tanggung menurutnya, jika harus berhenti ditengah jalan, toh Yuga juga sudah melihat hampir seluruh lekuk tubuhnya. Jessi mendorong Yuga ketempat tidur, Yuga yang sedang menelepon itu langsung limbung, akhirnya terjatuh dengan posisi terlentang, belum usai dengan keterkejutannya kini Yuga harus kembali merasa terkejut saat melihat keberanian Jessi yang sudah toples itu naik merangkak keatas tubuhnya, kemudian ia duduk.


" Apa yang kamu lakukan Jessi? "


" Mas, jangan Anya " Jessi memberanikan diri menatap mata kekasihnya, benar dugaan Yuga kini wajah Jessi terlihat sudah memerah seperti kepiting rebus, " Apa maksud kamu? "


" Mas mau nyuruh Anya masuk kesini kan? aku gak mau, pokoknya mas harus lakuin itu sama aku! " protesnya dengan bibir mengerucut, apalagi kini asetnya sudah tidak ditutupi oleh tangan, sepertinya Jessi lupa.

__ADS_1


Yuga tersenyum penuh arti melihat Jessi.


__ADS_2