AKU DISINI " Miracle"

AKU DISINI " Miracle"
Sky


__ADS_3

" Kamu sedang apa?"


"Menurut elo gue lagi ngapain?" jawab Racle sedikit jutek.


Yuga menaikan sebelah alis nya, " Maksud saya, kamu ngapain ngintip-ngintip seperti itu? sudah seperti maling di rumah sendiri."


"Cih, rumah sendiri. Ngawur nih orang." Gumam Racle pelan, nyaris tak terdengar sama sekali oleh Yuga.


"Rencananya gue emang mau maling, eh salah! bukan maling, lebih tepatnya mengambil secara paksa hak gue yang udah direnggut secara cuma-cuma."


"Kamu sehat Cel?" Yuga kemudian melangkah mendekat kearah Racle yang masih sibuk celingukan tidak jelas.


" Ngapain pegang-pegang gue? gue lagi gak mau main dokter-dokter an yaa sorry. Stay away from me !"


Racle menghentak kuat telapak tangan Yuga yang beberapa detik lalu telah berhasil mendarat dengan sempurna di keningnya. "Saya cuma mau memastikan keadaan kamu saja, siapa tahu kamu memang sedang tidak sehat." Kelakarnya santai.


"F*ck! pers*tan dengan apa yang elo maksud babang." Batin Racle


Bukan tidak tahu maksud sang kakak, hanya saja untuk sekedar bermain dokter-dokter an atau melawak sekalipun dirinya sedang sangat ogah.


"Whatever ! udah sana loh masuk kamar aja, berisik tau gak, udah kaya emak komplek yang suka ngerecokin urusan orang lain."


Terdengar helaan nafas Yuga sebelum dirinya menuruti apa mau Racle, tapi sesaat sebelum masuk kedalam kamar Yuga sempat berbalik dan berkata kepada adik nya ini jangan sampai berbuat onar.


Bukannya menjawab, Racle malah mengibas-ngibaskan tangan di hadapan Yuga, agar lelaki itu cepat masuk kedalam kamarnya. "Rese banget orang-orang disini, bisa mati muda gue kalo penghuni sangkar emas pada kolot kaya dia." Gerutunya.


"Aman kali yaa, kalo gue keluar sekarang. Kayanya si selir sama raja juga udah pada masuk kandang." Masih celingukan sana sini, Racle berjalan dengan berjinjit pelan menuruni anak tangga, tak ayal high heels yang harusnya menjadi pijakan kaki mulusnya itu ia dekap dengan erat di bagian depan tubuhnya.


Racle sudah bisa bernafas lega, setelah dirinya berhasil menyelusup masuk kedalam garasi mobil kediaman tuan Morgan.


"Oh God !! it's like crazy, ini emang sendalnya yang kurang fungsi, atau emang gue nya yang really crazy sih, Ngapain juga gue mesti beli mahal-mahal ini sendal, toh kalo ujung-ujung nya gue mesti nyeker kek gini." Racle meraih tissue basah yang ada di dashboard mobil miliknya, sambil mengelap telapak kaki, dia terus saja merutuki tindakannya barusan yang menurut dia amat sangat weird.


Ternyata perjuangan Racle tidak sia-sia, dirinya bisa dengan amat sangat mudah lolos keluar dari kediaman sang ayah begitu saja, tanpa adanya introgasi terlebih dahulu oleh satpam yang berjaga diarea gerbang depan.


"Have fun Racle !" teriaknya menggema di dalam mobil. Racle mengendarai mobilnya dengan santai, sesekali terlihat jari lentik bercat kuku merah itu menekan-nekan tombol mencari lagu yang enak untuk dia dengar.


"Gue ke rumah mbak Nita, atau langsung tancap ke lokasi aja yaa?" Racle melihat jam dipergelangan tangannya, "Belum malem juga si, gue yakin dia pasti belum tumbang, tapi...... enggak ah, gue takut ketemu ibu sama bapak. Apalagi tadi pagi keadaannya enggak kondusif, bisa-bisa nanti giliran sendal gue yang ibu mutilasi, no no !"


Setelah pergulatan batin yang cukup singkat, akhirnya Racle memutuskan untuk pergi ke tempat tujuan tanpa Nita, toh nanti juga dirinya disana akan mendapatkan teman, pikir Racle. Daripada dia harus menjemput Nita dulu, yang kemungkinan besarnya adalah malah ditahan oleh ibu dan tidak diberikan izin untuk keluar lagi.


***********


"Okay Racle relexs, time to party. But sebelum party, gue mesti..." Racle mencari tas slempang mini yang dia bawa tadi. "Mana nih, kok gak ada? perasaan tadi gue bawa. Apa jangan-jangan jatoh pas gue lagi bawa sendal ya? tapi masa sih sampe gak sadar kalo beneran itu tas jatoh."


Masih dengan rasa penasaran yang tinggi dia akhirnya menyalakan lampu mobil dan menggeledah isi nya, bahkan Racle sampai harus membungkuk mencari ke bawah jok mobil tapi hasilnya nihil.


"Ya ampun Miracle, masa iya gue harus balik lagi ke rumah. Mana bisa masuk kalo dompet lo aja enggak ada, k*mpret emang." Racle mendesah, rasanya sungguh nano-nano, antara kesal dan sedih terasa bersamaan. Mau marah juga tetep kesalahan mutlak ada padanya karena begitu ceroboh.


Racle memutar otak, kepada siapa dia harus minta tolong. Karena pulang kerumah adalah hal mustahil, susah payah dia lolos mana mau kembali secara sia-sia seperti ini, tanpa kesenangan sama sekali. Minta Nita untuk kesini juga hal yang paling tidak mungkin.


Didalam kekalutannya ada secercah harapan semu saat mengetahui ada benda pipih yang bergetar dikantung jaket miliknya. "Kok bisa lupa ada kamu sih." Rcale langsung bersorak girang saat mengetahui ternyata ponselnya tidak tertinggal didalam tas.


Tertera gambar pesan masuk "Saya menemukan tas kamu di dekat tangga"


"Akh.. bener kan jatoh, kok bisa sih gue enggak sadar sama sekali." Racle tertunduk lesu, "Gak mungkin balik lagi, sia-sia dong perjuangan gue tanpa hasil."


Ponselnya kembali bergetar, tapi kali ini Racle tidak seantusias seperti sebelumnya. Tanpa melihat nama kontak yang tertera disana Racle langsung mengangkat sambungan telpon. "Hmmmm..."


"Belum tidur?"


Mendengar suara yang tak asing lagi baginya, Racle refleks menegakan kembali duduknya. Sebelum menjawab pertanyaan orang disebrang sana, Racle memastikan terlebih dahulu benar apa salah dugaannya, tapi setelah dilihat panggilan masuk itu dari orang yang Racle maksud akhirnya dia menjawab.


"Belum" Awalnya Racle malas meladeni, tapi setelah ada iklan ide cemerlang melintas di benaknya, maka Racle memutuskan untuk sedikit mengalah demi ego nya.

__ADS_1


"Racle mau minta tolong." Akhirnya perkataan itu lolos begitu saja dari bibir sensual bergincu merah terang.


Senang? tentu saja, siapa yang tidak senang jika dirinya merasa dibutuhkan oleh orang spesial, saking senangnya Alex bahkan sampai harus menahan napas sejenak sebelum kembali berbicara.


"Bang, Racle mau minta tolong !" belum sempat Alex menjawab disebrang sana sudah kembali terdengar suara yang bernada sedikit tinggi. "Mau gak sih bantu Racle? lama banget jawab nya!"


"Iya sayang, mau minta tolong apa?" akhirnya Alex menjawab, dengan bibir yang tersungging senyum yang cukup lebar, Alex berlapang dada bahkan rela amat sangat rela dimintai tolong seperti ini oleh Racle, meskipun nada yang ia dengar dari kekasihnya itu terkesan seperti memerintah bukan memohon pertolongan, tapi tidak apa. Baginya Racle sudah mau membutuhkannya pun itu adalah kemajuan yang amat sangat luar biasa.


"Dateng sini ke sky sekarang! aku mau masuk tapi dompetnya ketinggalan."


Senyum Alex luntur seketika, " Yank, kamu ngapain si malem-malem kaya gini kesana?"


"Mau enggak nolongin Racle? Racle tunggu, jangan lama !"


Tut... tanpa menunggu persetujuan Alex, Racle langsung memutuskan panggilan sepihaknya. "Gue jahat gak sih? manfaatin anak orang segitunya?" gumam Racle. "Tapi dia sendiri kan yang bilang mau nolongin gue, toh gue cuma bilang minta tolong aja, gak maksa sama sekali. Elo gak jahat Miracle enggak!" Racle terus saja bermonolog dengan dirinya, faktanya dia memang bukan tipe orang yang gemar memanfaatkan orang lain secara cuma-cuma. Intinya Racle bukan orang yang dengan tega memanfaatkan kasih sayang dan cinta seseorang demi kepentingan pribadi, bukan style nya. Tapi untuk sekarang dia memang sangat butuh pertolongan.


*********


Alex membanting ponselnya ke atas tempat tidur, setelah mengetahui Racle memutus telponnya. "Akh sial, gue kira dia mau minta tolong gue kelonin, ternyata cuma mau masuk club doang, sampe kiamat pun gue gak akan pernah mau nolongin, sama aja gue masukin Racle ke kandang buaya."


Alex menyisir rambutnya kebelakang, kemudian dia ikut menyusul ponselnya berbaring di atas kasur. Untuk beberapa saat Alex bisa menenangkan pikirannya dan memejamkan mata, tapi tak sampai satu menit dia langsung bangkit kembali dan masuk walk in closet.


"Br*ngsek emang itu bini! mana bisa tenang gue kalo dia sampe ikut masuk ama laki buaya lainnya. Haish.......suami macam apa gue ini, masa iya ngedukung bini main keclub." Alex bergegas mengganti kaosnya dengan kemeja lengan panjang potongan slim, amat sangat ngpres dengan body kekarnya.


Setelah dirasa penampilannya cukup paripurna, Alex langsung menyambar kunci mobil. Dia sudah tidak mau berlama-lama, pikirannya sudah mulai worry, apalagi kekasihnya itu bisa dikatakan masuk kedalam golongan wanita idaman para lelaki, mulai dari parasnya yang menawan, postur tubuhnya, apalagi liukan-liukan dibeberapa bagian yang menjadikan semua itu nilai plusA bagi wanita.


Alex mencoba kembali menelepon Racle, dalam satu percobaan Racle sudah ada menjawab, tidak seperti biasanya yang mengharuskan Alex beberapa kali menelpon baru Racle angkat atau bahkan langsung di tolaknya. Mungkin ini yang dinamakan kebutuhan mendesak, Racle butuh Alex sebagai akses untuk masuk kedalam club.


"**Kamu dimana? abang lagi on the way, paling 10 menitan lagi nyampe."


"Parkiran"


"Jangan keluar dari mobil sebelum abang jemput kesana, paham?"


"Hmmm apa? ngerti enggak?"


"Iya, bawel banget sih. Cepetan aku udah bosen."


"Iya sabar sayang, jangan matiin telponnya. Biar abang bisa langsung nemuin kamu disana."


"Okay**!"


Tepat 10menit yang Alex janjikan, lelaki itu sudah membelokan mobilnya masuk kedalam area parkir mobil.


"Yank, bunyiin klakson kamu, abang udah sampe."


Racle yang mendapat perintah langsung menurut, tak lama setelah klaksonnya dibunyikan. Alex terlihat sedikit berlari kearahnya, dilihat penampilan Alex yang bisa dikatakan oke, perfect, mengenakan kemeja hitam pas body dengan kedua lengannya digulung sampai sikut.


Alex berdecak kesal, kekasihnya ini sungguh batu, sama seperti kakaknya. "Abang kan udah bilang jangan keluar dari mobil sebelum abang jemput."


Gadis dihadapannya ini terlihat memutar bola mata. "Aku juga baru keluar barusan pas lihat abang lari kesini."


"Ya tetep aja kamu mestinya nunggu abang dulu."


"Udah sih bang gak usah ribet, masa iya sekarang aku harus masuk lagi ke mobil terus abang mundur lagi ke belakang sana biar kondisinya sesuai sama yang abang mau. Ogah banget !" Sewotnya.


Alex menarik nafas, Tenang Lex tahan ! resiko elo bucin sama ini cewek. Batinnya


"Abang kasih kamu ijin masuk kedalam, tapi dengan syarat...."


"Aku enggak butuh ijin abang, yang aku butuhin kartu keanggotaan abang itu aja." Dengan gaya arogan nan seksi nya Racle memotong perkataan Alex dengan seenaknya, bukannya marah yang ada Alex malah dibuat b*****hi melihat tingkah Racle ini.


"Oh yaudah, kalo gitu abang pulang aja kalo kamu gak mau ikut aturan abang." Alex berbalik berniat meninggalkan Racle, tapi gadis itu langsung menahannya dengan memegang lengan kokoh Alex. "Ehh abang...ish, masa baru nyampe udah maen pergi aja."

__ADS_1


Alex enggan menanggapi, bukan karena apa-apa, tapi rasanya baru dipegang tangannya oleh Racle saja sudah membuat tak karuan begini. Racle yang Melihat Alex tak bergeming sama sekali, mau tak mau Racle sepertinya harus mengalah kembali demi bisa masuk ke sky.


"Fine! Racle ikut aturan abang." terpaksa deh, daripada gue pulang dengan jiwa hampa tanpa dosa, mending nurut dulu aja, yang penting bisa masuk kesana.


"Okay, hapus lipstik kamu atau abang yang hapusin."


"Abang tapi....."


"No debat sayang, tinggal nurut aja apa susahnya sih."


"Okay!" Jawabnya ketus, Racle lagi-lagi mengalah, dia membuka pintu mobil dan mengambil tissue basah miliknya. "Udah selesai, ayo masuk!"


Racle menarik tangan Alex yang masih ia pegang, tapi Alex sepertinya masih enggan meninggalkan area parkir.


"Apa lagi? kenapa diem aja? ayo masuk."


"Yang barusan baru satu larangan abang, kedua kamu jangan dance, jangan jauh-jauh dari abang, jangan minum !"


"Oh my God! abang gimana sih, terus tujuan kita kesini apa kalo ini itu gak boleh, hah?"


Alex mengedikan bahu, "Tujuan abang cuma mastiin kamu selamat sayang gak lebih." jawabnya santai.


Racle melepas genggaman tangannya, double br*ngsek loh mesum! Astaga kalo tau gini mending gue balik aja.


"Abang please." Kali ini Racle mengiba, bahkan intonasi suaranya pun terdengar sangat lembut dan rendah. " Minum doang deh, Janji!"


Alex menggeleng, " Please abang. Kalo perlu abang pegang aja tangan Racle, biar Racle enggak kelayapan kemana-mana."


Alex terlihat sedang menimbang. "Peluk." jawabnya singkat.


"Hah??"


"Peluk, atau kita pulang."


Dasar buaya, emang bener ya sekali buaya tetep buaya, gak bakal berubah jadi kadal atau cicak. Elo mau cari kesenangan diatas derita gue loh, hah? d*rjana banget elo k*mpret.


"Okay peluk ! puas?"


Alex menyunggingkan senyum tipis, dia sengaja menyembunyikan kesenanganya didepan Racle, baginya malam ini adalah kemenangan mutlak untuk Alex.


"Amat sangat puas sweety."


Tak menunggu waktu lama, Alex sudah merengkuh pinggang ramping milik sang kekasih. Mereka berjalan menuju pintu masuk Sky.


Setelah melewati pemeriksaan, akhirnya Racle bisa masuk juga ke dalam nirwana semu ini.


"Sini duduk aja gak usah ganjen, abang udah minta si Doni buat nganter Wine ke sini."


"Kok Wine?" harusnya kan abang tanya dulu ke Racle, Racle gak mau minum itu Rac......."


Alex menyumpal b*bir sensual yang sedari tadi sudah mengundang bi****hi nya itu dengan bibir miliknya, apalagi Racle terus saja mendebatnya yang mau tidak mau gerakan bibir itu semakin terlihat menangtang bagi Alex.


Racle mendorong bahu Alex, berupaya agar lelaki itu mau menyudahi c*mbuannya. Tapi sepertinya Alex enggan untuk hanya beristirahat dan mengambil nafas.


Racle terus saja berusaha memisahkan diri dari Alex, melihat kekasihnya sudah kehabisan nafas, barulah Alex melepas c*mbuannya.


"Abang......" Hendak melayangkan protes, tapi Alex bergerak cepat, kembali mengecup singkat b*bir yang terlihat semakin menggoda akibat kelakuannya itu.


"Kamu bawel sayang." Bisik Alex, melihat Racle yang diam saja membuat Alex semakin menjadi, dia bahkan berani mengecup dan m*njilat daun telinga Racle.


"Abang ih...." Sudah habis batas kesabaran Racle kali ini. tangannya sudah mengepal kuat ingin meninju wajah tengil kekasihnya ini.


"Apa? mau protes? sekali kamu protes, abang tarik kamu ke lantai atas." Ancamnya.

__ADS_1


Gue emang apes atau apasih, kok bisa ketiban sial sampe kebangetan kaya gini. Nyesel gue minta tolong sama buaya k*mpret kek dia.


__ADS_2